Film ‘Eternals’ Banjir Kritik Dan Dukungan: Yang Jelas Ini Film Inklusif

Banjir kritik dan dukungan datang untuk Film ‘Eternals.’ Walau kritiknya banyak, film ini juga menghadirkan keberagaman lewat tokoh-tokohnya: ada perempuan dan representasi penyandang disable sebagai hero. Ini merupakan hal penting yang harus dicatat dalam Eternals.

Tak lama setelah dilaunching, banjir kritik dan dukungan datang untuk film Eternals. Kritik dan dukungan sama banyaknya untuk film yang diproduksi Marvel ini.

Kritik terhadap film ini datang dari para kritikus film Amerika. Seperti dilansir CNBC, yang menyebut bahwa film produksi anak perusahaan dari Walt Disney Studios itu dianggap terlalu padat isinya

Film yang disutradarai oleh pemenang Academy Award, Chloe Zhao ini memperkenalkan 10 karakter baru, anggota ras makhluk abadi yang telah menghabiskan 7.000 tahun di Bumi untuk melindungi Bumi dari ‘binatang buas’ yang dikenal sebagai Deviants.

“Anda berjalan keluar dalam kesadaran yang menyedihkan bahwa Anda baru saja melihat salah satu film paling menarik yang pernah dibuat Marvel, dan  yang paling tidak menarik yang pernah dibuat Chloe Zhao,” tulis Justin Chang dalam ulasannya untuk The Los Angeles Times seperti dikutip CNBC

Pendapat yang sama dari kritikus film lainnya menyatakan hal serupa.

“Serius, (Eternals) sungguh membosankan. Baru memenangkan Oscar untuk Sutradara Terbaik untuk ‘Nomadland,’ Chloe Zhao malah membuat salah satu film terburuk MCU,” kata Johnny Oleksinski dalam ulasannya untuk New York Post.

Namun pujian terhadap film ini juga tak kalah banyaknya. Ada pujian yang menyatakan bahwa lewat Eternals, Chloe Zao sepertinya ingin menggaungkan isu inklusivitas atau keberagaman

Lihat saja, kesepuluh pahlawan super di film ini tidak hanya direpresentasikan oleh laki-laki bangsa Arya kulit putih, tetapi juga oleh perempuan dan kelompok yang selama ini dianggap marjinal dalam film, seperti munculnya penyandang disable

Pilihan aktor pemeran yang datang dari beragam ras dan isu di dunia menguatkan pesan bahwa Walt Disney ingin keluar dari zona nyaman, dan menghadirkan isu inklusivitas dalam film.

Kelompok pendukung menyatakan, ini merupakan salah satu pesan penting dalam film ini

Seperti Apa Gambaran Film Eternals?

Film Eternals dibuka dengan penampakan planet Bumi pada 5000 tahun sebelum Masehi. Seorang nelayan dan anaknya sedang mencari ikan di sebuah pantai.

Pakaiannya compang-camping. Dari air laut di dekatnya, sesosok makhluk yang sekilas tampak seperti Arthropoda raksasa kemudian disebut dengan Deviants, tiba-tiba muncul, mengaum, dan memakan laki-laki dewasa.

Dalam kondisi tersebut, ada anak yang diselamatkan oleh kesepuluh Eternals, pahlawan super dari Olympia.

Para Eternals ini dipimpin oleh Ajak seorang perempuan yang kemudian menyerahkan tongkat komandonya kepada Sersi. Baik Sersi maupun Ajak mencoba menghentikan perusakan lingkungan hidup yang selalu berdalih “kepentingan lebih besar”. 

Lewat film ini, sang sutradara Chloe Zao sepertinya ingin menggaungkan inklusivitas atau keberagaman. Keberagaman itu tak hanya mewujud dalam tokoh-tokohnya, tetapi juga pada pilihan Zao pada para aktor yang memerankan para super hero yang datang dari beragam ras di dunia.

Di Eternals, kesepuluh pahlawan super itu tidak hanya direpresentasikan oleh laki-laki bangsa Arya kulit putih bertubuh atletis. Eternals dipimpin oleh seorang perempuan bijak bernama Ajak (diperankan oleh Salma Hayek–seorang aktris keturunan Meksiko-Amerika) yang kemudian digantikan oleh Sersi (Gemma Chan, aktris Inggris-Asia).

Zao sebagai sutradara memilih perempuan sebagai pemimpin, menggoyahkan anggapan selama ini bahwa “kekuatan” hampir selalu dihadirkan di layar kaca dalam bentuk maskulin.

Film Eternals yang skenarionya ditulis Matthew K. Firpo dan Ryan Firpo ini juga menghadirkan pahlawan super dari kelompok yang selama ini dipinggirkan, yakni disable tuli dan sosok gay lewat Makkari (diperankan oleh aktris tuli Lauren Ridloff) dan Phastos (Brian Tyree Henry).

Anggota Eternals lainnya adalah Gilgamesh (Don Lee, aktor Korea-Amerika yang bertubuh gempal), Sprite (diperankan oleh aktris usia 16 tahun, Lia McHugh), Kingo (Kumail Nanjiani, aktor Amerika-Pakistan), dan Thena (Angelina Jolie). 

Hanya Ikaris (Richard Madden) dan Druig (Barry Keoghan) yang tampak seperti pahlawan super Marvel kebanyakan: laki-laki bangsa Arya kulit putih bertubuh atletis.

Representasi keberagaman yang dihadirkan Zao menjadi penting, karena Amerika Serikat–sebagai bangsa yang beragam, juga tempat orang-orang dari seluruh penjuru dunia mengejar mimpi—saat ini sedang menghadapi masalah nasionalisme sesat yang membuat masyarakat kerap disetir untuk mendiskriminasi warga pendatang keturunan kulit berwarna. 

Setelah memperkenalkan kesepuluh pahlawan super yang beragam, Eternals kemudian berlanjut ke masa kini, di mana Sersi dan Sprite hidup bersama di London.

Setelah menghabisi Deviants pada 1521, Ajak meminta para Eternals yang tidak bisa menua untuk berpencar dan membaur dengan manusia di Bumi. Sersi pun menjadi seorang guru sejarah dan berpacaran dengan manusia penjaga museum, Dane Whitman, setelah sebelumnya ditinggalkan oleh kekasihnya, Ikaris.

Isu baru yang muncul: kesehatan mental

Dari cara Gilgamesh menjaga Thena, Chloe mengajak penonton untuk menjadi tahu bahwa orang dengan masalah kesehatan mental seperti Thena, bisa hidup secara maksimal apabila ia mendapatkan cukup dukungan dari orang-orang terkasihnya.

Pada akhir cerita, sutradara Zao pun menunjukkan keberpihakannya pada orang-orang dengan kondisi mental khusus melalui bagaimana Thena menghabisi Deviants Kro.

Saat menemui Gilgamesh dan Thena yang sedang dalam masa pemulihan akibat trauma dari serangan Deviants, Sersi menyadari bahwa ingatan Thena tidaklah salah. Mereka memang pernah hidup di planet lain sebelumnya untuk membasmi Deviants di sana, tapi ingatan tersebut mesti dihapus. Saat itulah Sersi kembali berkomunikasi dengan Arishem yang menjelaskan bahwa tugas Eternals sebetulnya adalah menjaga manusia sampai populasinya cukup untuk “the emergence” atau kelahiran “anak” celestial.

Jadi, setiap celestials seperti Arishem menanamkan benih di planet yang tersebar di seluruh dunia. Benih-benih ini memerlukan energi dari populasi asli setiap planet yang cukup besar untuk bisa lahir. Namun, kelahiran celestial yang berukuran besar itu bakal menghancurkan Bumi beserta seluruh isinya.

Upaya melestarikan alam

Film ini juga memperlihatkan Sersi yang tidak bisa menerima cara Arishem yang ia nilai sebagai kekerasaan. Sosoknya mengingatkan saya pada perempuan-perempuan yang berani menentang “pemegang otoritas” untuk mempertahankan tempat tinggal dan sumber penghidupan mereka. 

Pemegang otoritas seperti Arishem ini kerap kali menggunakan alasan “untuk kepentingan lebih besar” saat hendak mengeksploitasi alam dan menggusur paksa penghuninya. Arishem sendiri mengatakan kehancuran Bumi diperlukan guna kelahiran lebih banyak planet lagi.

Bagian ini memberikan perspektif baru karena sebelumnya penonton terbiasa melihat pahlawan super yang menggunakan kekerasan untuk menang. Keberhasilan Sersi bisa jadi merupakan dukungan Sutradara Zao pada upaya melestarikan Bumi yang diorganisir perempuan.

Jadi, walaupun banjir kritik, namun dukungan pada Eternals tak kalah banyaknya dan tak kalah menariknya. Mereka menyatakan ini sebagai salah satu cara untuk menghadirkan keberagaman dalam film.

Sanya Dinda

Sehari-hari bekerja sebagai pekerja media di salah satu media di Jakarta

Let's share!

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on email