Film ‘Story of Dinda’: Bagaimana Perempuan Bisa Lepas dari Hubungan Toksik

“Story of Dinda: Second Chance of Happiness” adalah film tentang bagaimana perempuan keluar dari relasi toksik. Film ini dibuat dari sudut pandang perempuan. Film adalah kelanjutan dari Film “Story of Kale" dan Film “Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini.”

Coba simak adegan ini! Dinda berada di sebuah bar untuk merayakan kenaikan jabatan teman baiknya sejak kecil, Nina. 

Ia harusnya bahagia, tapi malah resah. Handphone-nya tak berhenti bergetar. Di layar HP, tertera nama Kale, pacarnya, yang memanggil-manggil lewat pesan yang dikirim secara beruntun.

Dinda tak kunjung mengangkat telepon Kale, juga tidak menolaknya. Ia tidak tampak takut, hanya enggan. 

Dinda sedang bertemu Nina. Kale tahu bahwa Nina adalah teman baik Dinda. Namun sejak awal mereka pacaran, Kale tidak suka Dinda bertemu dengan Nina karena Nia adalah  adik mantannya Dinda, Argo.

Padahal pertemanan Dinda dan Nina telah terjalin jauh sebelum Dinda mengenal Argo. Keberlanjutan pertemanan keduanya pun tak ada hubungannya dengan Argo.

Namun, Kale yang posesif tidak mau menerima argumen itu. Yang ia tahu dan inginkan hanyalah Dinda tidak usah bertemu dengan Nina sama sekali. Titik. 

Itu yang menyebabkan Dinda tidak mau mengabarkan pada Kale kalau hendak pergi menemui Nina, demi menghindari pertengkaran yang tidak perlu. Ia pun enggan merespon panggilan telepon Kale.

Apakah adegan di atas terasa dekat denganmu?

Jika iya, kamu mungkin harus waspada (atau bersyukur) karena sedang (atau mungkin telah melalui) hubungan pacaran yang beracun/ toksik atau toxic relationship.

Adegan di atas adalah cuplikan dari Film “Story of Dinda: Second Chance of Happiness” yang disutradarai oleh Ginanti Rona dan diproduseri Tersi Eva Ranti dan diproduksi oleh Visinema Pictures. Story of Dinda merupakan bagian dari Film “Story of Kale” dan Film “Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini.” 

Story of Kale dibuat dari sudut pandang laki-laki, sedangkan Story of Dinda dibuat dari sudut pandang perempuan. Film diperankan oleh Aurelie Moremans (Dinda), Abimana Aryasatya (Pram) dan Ardhito Pramono (Kale) 

Dari film Story of Kale, yang juga bagian dari dunia film Nanti Kita Cerita tentang Hari Ini (NKCTHI), kita telah diajak berkenalan dengan Kale. Kale bukan tipe laki-laki toksik yang melukai fisik perempuan, tapi Kale melakukan kekerasan psikis, ia posesif memperlakukan Dinda seolah barang miliknya yang tidak boleh diambil oleh orang lain. 

Kale adalah laki-laki yang melakukan mansplaining kepada Dinda. Ia merasa berhak memiliki dan mengatur Dinda, bahkan Kale juga merasa tahu apa yang terbaik untuk Dinda. Ini tergambar dari cara Kale mendikte Dinda 

Kale tidak memandang Dinda sebagai manusia dewasa yang, sama seperti dirinya, punya perasaan, pikiran, dan keputusan-keputusan yang bisa Dinda pertanggung-jawabkan sendiri. 

Di “Story of Dinda”, saat Dinda berusaha mengabaikan telepon Kale itulah, ia berkenalan dengan Pram, teman pacar Nina yang bekerja di salah satu perusahaan modal ventura. 

Pram menyarankan Dinda mengangkat telepon Kale dan bicara jujur. Setelah melakukan saran Pram, penonton seperti kembali melihat adegan menyebalkan di mana Kale agak menarik paksa Dinda keluar dari bar, tentu saja sambil marah-marah. 

Selanjutnya, Dinda-Pram bertemu baik secara sengaja maupun tidak. Lewat pertemuan itu, penonton diajak berkenalan dengan Pram yang berada dalam hubungan pernikahan yang tak kalah rumitnya. 

Story of Dinda seperti hendak menunjukkan bahwa relasi beracun itu bisa terjadi dalam waktu yang lama. Relasi tidak sehat ini sebetulnya berkaitan dengan patriarki yang menempatkan laki-laki sebagai “pemeran utama” dalam kehidupan sosial masyarakat.

Di bawah patriarki, Dinda sejak kecil menginternalisasi peran perempuan sebagaimana yang ia lihat dari ibunya: sabar dan tabah meski dipukuli oleh ayahnya. 

Namun Story of Dinda tidak lagi bercerita tentang Dinda, Kale, ataupun Pram, yang berputar-putar di dalam hubungan beracun. Alih-alih, film ini menceritakan bagaimana Dinda belajar tentang hubungan yang sehat. Ia belajar bahwa ia tidak boleh menjadi seperti ibunya yang tabah dan bersabar menghadapi sikap kasar ayahnya.

Dinda belajar bahwa ‘kekangan’ dan ‘melukai fisik’ bukan bagian dari tindakan-tindakan cinta.

Pram sedikit banyak berperan dalam proses belajar Dinda. Laki-laki ini memiliki pengalaman dalam hubungan romantis yang lebih banyak dari Dinda. Pram pun membagi pendapatnya tentang bagaimana hubungan yang sehat membutuhkan komunikasi yang baik, yang didasarkan pada rasa saling percaya, saling menghormati, dan menganggap pasangan setara. Dari Pram pula, Dinda secara tidak langsung belajar bahwa “membersamai orang lain” tidaklah mudah.

Awalnya, saya pikir film ini akan berakhir ‘receh’ dimana Dinda menyetujui ajakan Pram–yang telah bercerai karena istrinya menyatakan selingkuh–untuk pergi ke Jerman. Namun ternyata tidak begitu. Sebelum masuk ke ending, Dinda sempat berjalan sendirian di pantai.

Senja dan deburan ombak melatari kesendirian Dinda yang damai. Senyum tipis pun mengembang di wajahnya. Scene ini seolah menggambarkan pilihan Dinda untuk menyambut kebebasannya dan memeluk keberdayaannya.

Story of Dinda: Second Chance of Happiness secara jelas berpihak kepada perempuan, terutama yang pernah berada dalam hubungan beracun. Dinda dan ibunya hanya dua contoh dari 4.530 kasus kekerasan dalam rumah tangga di ranah personal yang tercatat oleh Komnas Perempuan pada 2020. Dalam film ini, Dinda pada akhirnya memilih kebahagiaannya sendiri—yang tentunya diambil setelah proses yang mungkin membuatnya frustasi.

Barangkali film ini jadi terasa begitu utuh dan dekat karena disutradarai oleh perempuan.

Sutradara laki-laki bukannya tidak bisa mewakili suara dan pengalaman perempuan, loh. 

Salah satu contoh yang berhasil adalah film “27 Steps of May” yang disutradarai oleh Ravi L. Bharwani. Pada bagian akhir film tersebut, May digambarkan berani melangkah keluar rumah–setelah sekian lama berjibaku dengan traumanya.

Sementara di film lain, beberapa sutradara laki-laki seperti ‘tergelincir’ sehingga mewakili secara paksa suara dan pengalaman perempuan. Film-film seperti itu pun terjebak dalam stereotip patriarkis tentang perempuan yang sudah usang, terasa hambar, dan sekadar mengeksploitasi kesulitan perempuan.

Di dunia yang patriarkis, laki-laki memiliki privilege untuk bersuara. Mereka semestinya menggunakan privilege itu untuk menyuarakan dengan benar suara-suara orang-orang yang biasanya mesti bungkam. Bukan malah semakin menyudutkan mereka.

Pada bagian akhir Story of Dinda, pertanyaan penonton tentang alasan Dinda meminta putus dari Kale pun terjawab. 

Dari Kale yang sempat menggenggamnya, juga Pram yang menghadapi permasalahan rumit di dalam pernikahan, Dinda belajar bahwa ia perlu memegang kendali penuh atas hati, pikiran, dan pilihannya sendiri, sebelum membagi ruang hidupnya dengan orang lain. 

Namun demikian, film ini tak cuma diperuntukkan bagi perempuan. Melalui sosok Pram, penonton laki-laki juga diajak belajar untuk menjadi laki-laki yang menghargai keputusan perempuan

Sanya Dinda

Sehari-hari bekerja sebagai pekerja media di salah satu media di Jakarta

Let's share!

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on email