Jualan Sarapan dan Bertahan Hidup: Yang Bisa Dilakukan PRT Saat Pandemi

Gegara pandemi Covid, saya diberhentikan secara sepihak dari pekerjaan saya sebagai PRT. Dalam kondisi seperti ini, suami dinyatakan positif Covid-19 sehingga harus menjalani isoman. Untuk menyambung hidup, saya berjualan menu sarapan. Dengan kesabaran dan solidaritas sesama PRT saya mampu bertahan.

Memasuki tahun 2021 suasana semakin mencekam. Setiap hari berita korban Covid-19 semakin bertambah. Kasus Covid-19 terjadi di mana-mana, baik yang meninggal maupun yang harus dirawat di rumah sakit. Rumah sakit penampungan pasien Covid pun penuh.

Untuk mengatasi wabah ini pemerintah menerapkan protokol kesehatan. Warga dilarang berkumpul, dilarang keluar rumah jika tidak ada keperluan mendesak.

Sekolah-sekolah diliburkan, kantor-kantor, pasar, mal dan tempat umum lainnya juga ditutup. Mereka yang bepergian harus memakai masker, mencuci tangan dengan hand sanitizer.

Sebagai rakyat, saya menjadi takut dan cemas.Tapi kami para pekerja rumah tangga (PRT) tidak menyerah. Kegiatan dalam organisasi PRT tetap dilakukan walaupun tidak dengan tatap muka secara langsung. SPRT Rumpun Tangerang Selatan (Tangsel) misalnya, mengadakan kegiatan secara online.

Kami tetap mengikuti kegiatan yang diadakan oleh JALA PRT dan Kegiatan dari Serikat Rumpun Tangsel seperti misalnya kelas wawasan, pengorganisasian, kesetaraan gender, perkawinan anak, PRTA dan lain-lain diadakan secara online melalui WhatsApp grup.

Kampanye di media sosial (medsos) secara online tetap berjalan. Kami juga mengikuti pertemuan zoom bersama para jejaring membahas Rancangan Undang-undang Perlindungan Pekerja Rumah Tangga (RUU PPRT) dan Rapat JALA PRT yang dilakukan 3 bulan sekali.

Kami juga mengadakan diskusi-diskusi secara online. Sesekali diadakan kuis, bagi peserta yang menang akan mendapatkan hadiah menarik. Kami juga aktif menyalurkan bantuan sosial (bansos) bagi PRT yang terdampak Covid-19. Saya selalu mengikuti kegiatan di organisasi dengan semangat.

Kena Pemutusan Hubungan Kerja

Saya bekerja sebagai PRT pada sebuah keluarga yang tinggal di sebuah perumahan berlokasi daerah Pondok Cabe, Tangsel.

Tugas saya adalah bersih- bersih rumah, mencuci dan menyeterika baju. Saya mulai bekerja pukul 08.00 pagi sampai pukul 15.00 sore. Gaji yang saya terima sebesar Rp 1,2 juta per bulan.

Sampai saatnya di bulan puasa, tepatnya tiga hari sebelum libur hari raya Idul Fitri saya diberi libur. Ibu majikan berpesan kalau saya disuruh masuk bekerja kembali seminggu setelah hari raya.

Seminggu berlalu, senang rasanya kembali bekerja setelah libur seminggu dan badan terasa segar kembali. Saat akan berangkat kerja teleponku berdering, ternyata ibu majikan yang meneleponku.

Buru-buru kuangkat ponselku. Dan, betapa terkejutnya aku yang saat itu sedang bersiap-siap akan berangkat kerja. Ibu majikanku bilang, “Hari ini libur dulu ya bu sampai nanti ibu dihubungi lagi untuk bekerja.”

Ternyata ibu majikan memberhentikan saya lewat telepon secara sepihak. Tanpa ada kesalahan yang saya lakukan. Saya sempat kaget mendengarnya.

Walaupun sakit yang saya rasakan tetapi saya harus bisa menerimanya. Untuk mempertahankan hidup dan memenuhi kebutuhan sehari-hari saya berjualan sarapan pagi.  Ada lontong, berbagai gorengan seperti bakwan, tempe goreng, tahu isi dan risoles, martabak telur, donat dan kue-kue lainnya.

Walaupun jualan saat pandemi kurang ramai tetap saya jalani dengan sabar. Saya juga mencoba melamar pekerjaan sebagai PRT lagi.

Musibah Datang Kembali

Saat itu di pertengahan bulan Juli 2021. Awalnya saya sedang mengikuti training perempuan pembela HAM secara daring. Baru hari pertama training, akhirnya saya batalkan karena suami sakit. Sudah 3 hari ia batuk dan panas tinggi. Sudah diberi obat tetapi belum sembuh juga.

Malam berikutnya, demam semakin tinggi sampai mengigau dan menggigil, dada terasa sesak. Saya mulai curiga jangan-jangan ini Covid karena gejalanya mirip dengan Covid-19 seperti yang saya baca di media. Ada rasa takut menjalari hati, karena saat itu daerah saya sedang mewabah Covid-19.

Akhirnya saya putuskan membawa suami ke Puskesmas. Walaupun nanti hasil tesnya buruk, saya harus bisa menerimanya. Setelah menjalani tes swab, suami saya dinyatakan positif terkena Covid-19.

Sesuai anjuran dokter, suami harus menjalani isolasi mandiri (isoman) di rumah. Kami mendapat panduan dari dokter melalui whatsApp untuk perkembangan kondisi pasien dan cara perawatannya.

Saya menjadi takut tapi juga jadi lebih waspada. Setelah suami dinyatakan positif Covid-19 ada rasa takut dan was-was dalam hati. Karena di lingkungan rumah banyak tetangga yang meninggal, jumlahnya bisa dua sampai tiga orang setiap harinya.

Dengan diketahui hasil test swab ini saya lebih hati-hati merawat suami yang menjalani isoman. Baik perawatan, obat, makanan dan kebersihannya. Untuk anak-anak juga, saya harus selalu menjaga jarak dan menggunakan masker dan hand sanitizer.

Setelah sepuluh hari dalam perawatan, akhirnya suami berangsur-angsur sembuh dan setelah 14 hari dokter menyuruh cek kembali dan alhamdulillah suami dinyatakan negatif.

Semua saya jalani dengan perjuangan, keikhlasan dan doa. Akhirnya semua berlalu dan saya pun dapat pekerjaan lagi.

KEDIP atau Konde Literasi Digital Perempuan”, adalah program untuk mengajak perempuan dan kelompok minoritas menuangkan gagasan melalui pendidikan literasi digital dan tulisan. Tulisan para Pekerja Rumah Tangga (PRT) merupakan kerjasama www.Konde.co yang mendapat dukungan dari Jaringan Nasional Advokasi Pekerja Rumah Tangga (JALA PRT)

Dewi Korawati

Aktif di Serikat Pekerja Rumah Tangga (SPRT) Tangerang Selatan

Let's share!

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on email