Kisah Sedih Buruh Resto: Jam Kerja Tak Masuk Akal, Gaji Rawan Dicekal

Dengan beban pekerjaan yang berat, buruh resto masih diwajibkan untuk menerapkan hospitality yang sempurna. Jika ketahuan mengeluh, siap-siap diejek sebagai orang yang lemah dan manja.

Satu malam di Surabaya pada tahun 1994. Jam kerja sudah lama lewat, namun Sri Rejeki masih belum juga diizinkan rehat. Masih ada setumpuk persiapan untuk operasi restoran esok hari yang harus dikerjakannya. 

“Gak ada istirahatnya. Dulu ya kalau mau tidur masih harus disuruh ngupas kulit kerang, jadi udah waktunya pulang itu masih disuruh ngupas sama ngurusin printilan-printilan lain itu, ngupas bawang atau bukain cangkang kerang,” ujar Sri mengenang pengalamannya.

“Berat banget, makanya cuman bertahan 2 minggu aja, karena liburnya juga gak jelas, kayak-kayak gak boleh libur, harus kerja terus. Bukanya emang sore, dan tutup malam, tapi pagi sama siang hari tetap aja harus nyiapin bumbu-bumbu dan bahan makanan, kan ya sama aja gak istirahat,” imbuh Sri yang kini sudah pensiun dari restoran seafood di Surabaya itu. 

Sri adalah salah satu dari banyak buruh restoran perempuan yang tak kuat dengan ritme pekerjaan tak manusiawi. Sri mengatakan, jika ia bertahan di sana itu lebih karena teman-temannya. Namun Sri akhirnya menyerah karena tak kuat menahan beban kerja yang timpang itu.

Kisah Sri ini terjadi di tahun 1994 ini ternyata dan masih berlangsung hingga hari ini. Pembagian pekerjaan yang berat tak seimbang dengan waktu istirahat, dan upah yang kecil masih menjadi permasalahan utama yang harus dihadapi buruh restoran. 

Sovi misalnya, ia harus sudah berada di stand satu setengah jam sebelum restoran tempatnya bekerja buka. Meski diwajibkan hadir lebih awal untuk melakukan berbagai persiapan, waktu satu setengah jam itu tak masuk hitungan jam kerja. 

Job desk resmi Sovi adalah kasir, akan tetapi membersihkan lantai, menata meja, dan menyiapkan beberapa alat makan adalah bagian dari pekerjaan yang juga harus ditanganinya.

“Datang ya harus lebih awal buat prepare, karena harus bersih-bersih, dan nyiapin ini itu. Harus pastiin semua itu siap, botol saus gak boleh ada yang kosong dan kotor, nyiapin uang kembalian juga, termasuk kertas-kertas billing, jadi ya lumayan makan waktu lama kalau prepare,” terangnya pada konde,co pada  (19/10) lalu.

Meski mengaku tak keberatan, tak bisa dipungkiri wajah Sovi tak bisa menyembunyikan kelelahan yang amat. Ia mengaku tak ingin dianggap lemah dan banyak mengeluh, sebab jika ketahuan sambat (mengeluh, red), secara otomatis ia akan diejek oleh rekan sekerja terutama rekan laki-lakinya. 

Dengan beban pekerjaan yang berat tersebut, pekerja resto masih diwajibkan untuk menerapkan hospitality yang sempurna, mampu menerima kritik dengan baik, dan bisa lekas menemukan problem solving jika ada masalah. 

Risiko mengalami pelecehan seksual secara verbal, kecelakaan kerja yang mungkin menimpa  menambah daftar panjang yang mengisi paket penderitaan buruh resto. 

Pedihnya, masih banyak buruh resto yang tidak mendapatkan perlindungan yang cukup dari semua risiko kerja itu. Tak semua buruh resto mendapat perlindungan jaminan sosial (BPJS) baik jaminan ketenagakerjaan maupun kesehatan. Bahkan, dalam banyak kasus, mekanisme upah pada buruh restoran masih jauh di bawah UMK.

Absen karena sakit, siap-siap gaji dipotong

Saya pernah bekerja di restoran pizza di Surabaya, dalam minggu pertama kami harus pulang jam 02.00 pagi, karena harus mengikuti evaluasi.

Dalam evaluasi ini tak jarang saya harus menerima cacian dari pemilik resto karena dianggap tak bisa bekerja dengan baik. Sedangkan jam 08.00 pagi kita harus tepat waktu, dan melakukan rutinitas yang melelahkan itu. 

Belum lagi jika ada barang-barang resto yang hilang atau rusak, seperti sendok atau garpu yang hilang, mereka harus menggantinya dengan uang. Padahal sering sekali bukan mereka yang merusaknya. Banyak kejadian, tamu-tamulah yang merusak atau menghilangkannya. Tapi dasar nasib, buruh restolah yang menggantinya, gaji mereka dipotong

Buruh resto juga tak boleh sakit, jika ia terkena penyakit yang mengharuskannya bedrest atau menjalani istirahat total, maka besar kemungkinan ia juga akan kehilangan pekerjaannya. Label “manja” dan “lemah” sering disematkan pada pekerja atau pegawai yang sakit karena jam kerja yang upnormal.

JIka saya mengajukan cuti selama beberapa hari, sebagai kompensasi saya harus menggantinya dengan hari libur. Kalau tidak, maka saya tidak boleh protes jika gaji saya dipotong. Peraturan ini juga berlaku jika saya jatuh sakit dan tidak masuk kerja.

Ungkapan “dapur hanya untuk orang kuat” kadang sering mengganggu para buruh resto, sebab itu adalah normalisasi diskriminasi yang sengaja diterapkan pada buruh. Upah yang sangat jauh dari Upah Minimum Kota/ UMK juga menjadi salah satu kendala yang selalu dihadapi buruh restoran dari waktu ke waktu. 

Padahal pendapatan restoran tiap harinya tak bisa dikategorikan sedikit. Berdasarkan pengalaman sebagai kasir merangkap waitress, dengan kondisi ramai pembeli, sebuah restoran pizza dengan harga jual berkisar Rp 35-50 ribu per porsi, dalam sehari bisa didapatkan pendapatan kotor sebesar Rp6-10 juta. 

Dalam sebulan pertama restoran ritel itu bisa meraup pendapatan belasan hingga puluhan juta rupiah. Namun, income yang diberikan pada masing-masing pekerja pada saat itu hanya sebesar Rp1.6 juta rupiah per bulan. Padahal di tahun itu, UMK di Surabaya tercatat sebesar Rp 4,2 juta per bulan.

Tak ada jaminan kesehatan. Pun tak ada harapan naik jabatan bagi buruh perempuan. Sebab, hanya laki-laki saja yang boleh menjadi kapten restoran.

Sayangnya, hingga kini buruh resto harus berjuang sendiri-sendiri. Kesadaran buruh restoran untuk membentuk serikat buruh juga sangat problematik, pengetahuan ada yang masih sangat minim atau bahkan belum ada, padahal untuk membuat serikat pekerja juga tak mungkin dengan kondisi kelas buruh resto yang selalu diabaikan atasan atau pemilik resto.

Padahal Jika serikat pekerja restoran tak segera dibentuk, bisa jadi masa depan buruh restoran akan tetap sama di tahun-tahun yang akan datang. Bahkan puluhan tahun setelah tulisan ini ditayangkan

(Tulisan ini Merupakan Bagian Dari Program “Suara Pekerja: Stop Kekerasan dan Pelecehan di Dunia Kerja” yang Mendapat Dukungan Dari “VOICE”)

Reka Kajaksana

Penulis dan Jurnalis. Menulis Adalah Jalan Ninjaku

Let's share!

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on email