Cangkir Kopi yang Tak Sama: Trauma Relasi Toksik yang Sulit Hilang

Kisah trauma kali ini berasal dari korban relasi toksik bernama Sasa. Ditemui Konde.co, Sasa dengan ditemani sahabatnya, Sindy bercerita tentang peristiwa trauma yang pernah dialaminya. Cerita Sasa tentang trauma relasi toksik yang dilakukan mantan pacarnya- ditulis dari sudut pandang Sindy

Memperingati Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan, Selama 4 hari yaitu 22-25 November 2021, Konde.co menayangkan artikel khusus tentang trauma dan perlawanan korban “Trauma Korban: Tribute untuk Korban Kekerasan dan Pelecehan Seksual.” Upaya ini dilakukan agar para korban bisa bercerita, menuntaskan persoalan dan traumanya.

Sasa, bukan nama sebenarnya, suatu hari mengajakku bertemu.

“Ngopi, yuk?”

Ia akan kasih undangan dan mengabarkan rencana perkawinannya dengan Ben.

Sebagai sahabatnya, ajakan ngopi ini tak pernah bisa ditolak, karena selalu ada kabar buruk dari Sasa di balik setiap ajakan ngopi.

Tapi ajakan ngopi kali ini kayaknya beda. Sebulan lagi Sasa akan menikah di kota di mana kami sama-sama dibesarkan. Kota besar yang penuh gairah anak muda, kota dengan udara panas dengan banyak laut dan pantai, rawon yang enak dan teh manis tubruk di pagi hari. 

Tentu saja aku akan datang untuk melihat kebahagiaan Sasa. Lagipula itu akan jadi liburan yang sempurna buatku. Trala. Pulang kampung!

“Doakan aku ya, semoga ini bukan keputusan yang buruk,” begitu Sasa dalam pesan pendeknya. Suaranya terdengar ceria.

Tak mudah untuk sampai pada fase ini bagi Sasa, karena keputusannya ini akan menjadi sebuah pertaruhan baru buat hidupnya. Menikah.

Trauma masa lalunya gak pernah bisa ia lupakan. Sasa selalu gagal masuk ke babak relasi barunya karena ia sulit menghilangkan masa lalunya yang buruk.

Pacarnya pernah melakukan hubungan toksik, yaitu selingkuh, dengan teman yang ia kenal dengan baik. Teman kami berorganisasi.

Sasa pernah melaporkan pacarnya ini ke women crisis center, ia juga punya pendamping korban pro bono di women crisis center itu, mendatangi pacarnya sampai membuat pertemuan dengan ketiganya agar semuanya tuntas, karena Sasa tahu, pacarnya sudah mengatur semua ini sehingga Sasa dan perempuan teman kami yang menjadi pacar kedua itu tidak pernah tahu soal relasi ini.

Dengan ditemani pendamping korban pro bononya, Sasa menuntaskan relasi toksik yang dialaminya.

“Usaha yang lumayan gigih di tengah isu perempuan yang belum banyak jadi isu penting waktu itu,” begitu selorohku padanya. Itu terjadi sekitar 20 tahun lalu di mana Indonesia masih di masa Orba, baca buku feminis gak boleh, diskusi feminis diawasi polisi.

“Lumayan juga usahamu, nih untuk memperjuangkan hak sebagai pacar.”

Sasa hanya tertawa. Aku pikir dia sudah lega melihat pacarnya keok. Tapi ternyata enggak.

Dalam banyak sekali pertemuan berikutnya, aku bisa melihat bahwa hidupnya tak pernah baik-baik saja, lebih tepatnya sulit untuk melupakan masa lalunya.  Trauma yang sudah bertahun-tahun ia rasakan ternyata sulit hilang.

Kami sering ngopi sambil baca di toko-toko buku loak di kota yang membesarkan kami itu. Ternyata peristiwa itu terus membekas di kepala Sasa.

Peristiwa perselingkuhan, pacar yang pura-pura gak bisa dihubungi, internet jelek, mesti pergi rapat mendadak, tak bisa pergi bareng secara tiba-tiba, ternyata selingkuh. Toksik banget. 

Dan, Sasa menyadari setelah setahun relasi di antara mereka. Jadi bayangkan saja, relasi toksik itu sudah terjadi selama setahun dan Sasa gak curiga apa-apa.

“Pura-pura gak bisa dihubungi, internet jelek, mesti pergi rapat mendadak, tak bisa pergi bareng secara tiba-tiba, ternyata begini kejadiannya,” kata Sasa pada tim Konde.co.

Awalnya, aku menganggap itu terjadi karena Sasa terlalu baik, tapi bodoh. Maaf ya, Sa. Tapi seiring berjalannya waktu, persepsiku tentang ini jadi berubah ketika aku membaca buku-buku feminisme dari rak buku di rumah Sasa. Ternyata itu bukan karena Sasa yang baik tapi bodoh, penyebabnya ya karena laki-laki pacarnya itu yang gak bener, yang selalu berperilaku toksik.

Pasca-menyelesaikan kasus dengan pacarnya, Sasa setelah itu juga pernah dekat dengan Tom, kawan kami yang lain, tapi mereka batal jadian, karena Sasa selalu menaruh curiga pada Tom yang dipikirnya akan selingkuh di belakangnya. Hubungan mereka bubar, gak jadi pacaran.

Bukannya Sasa tidak patah hati. Menurutku itu pernah jadi hari patah hati sedunia bagi Sasa untuk yang kedua kalinya. Tapi gimana lagi, relasi itu akan terus memburuk kalau Sasa gak bisa menghilangkan traumanya, dan itu juga akan membuat buruk hidupnya Tom.

“Kalau gak yakin, aku gak akan ambil keputusan jadian sama Tom ini Sin,” kata Sasa waktu itu

“Sebegitu banget sih kamu, Sa. Inget ya, semua laki-laki gak sama Sa, bisa beda. Siapa tahu dia laki-laki yang beda Sa.”

“Beda lebih buruk atau beda jadi paling buruk, ya?.”

Sulit memang menghilangkan trauma Sasa. Aku menyarankan Sasa ke psikolog, walau di tahun-tahun kami dulu, masih sedikit psikolog yang bisa diakses dengan mudah dan murah, sesuai dengan kantong mahasiswi tentu saja. Sasa memilih bercerita tentang apa yang dialaminya ini ke pendamping pro bononya dulu.

Itu yang bikin trauma Sasa makin menjadi-jadi. Dalam perbincangan kami tadi ketika Sasa memberikan undangan perkawinannya, beberapa kali ia bertanya pendapatku: apakah menurutku ia telah siap meninggalkan seluruh traumanya yang buruk?

Aku terenyuh melihat air matanya masih menetes. Hanya gara-gara pacarnya pernah toksik di masa lalu, hidupnya jadi sangat berantakan sampai sekarang.

Perselingkuhan itu sudah terjadi kira-kira 10 tahun lalu sebelum ia bertemu Ben, kawan kami yang akan menikah dengan Sasa bulan depan. Tapi trauma masa lalu masih terus dirasakannya.

Berulangkali kami kawan-kawan dekatnya kasih tahu bahwa tak semua laki-laki akan melakukan hal yang sama, banyak laki-laki baik di dunia ini loh, Sa. Tapi entah kenapa, buku-buku yang dibacanya semakin mengentalkan hatinya untuk meyakini bahwa semua laki-laki itu buruk dan toksik.

Dulu, banyak kawan kami yang mendampinginya agar Sasa bisa healing dan menerima ini sebagai bagian dari masa lalunya. Tapi tentu ini tak mudah baginya. Siapa yang akan dengan mudah mengakhiri relasi yang dulu awalnya baik? Begitu selalu keluh Sasa.

“Inget gak kamu, dulu hampir setiap hari kita ketemu di sini, minum kopi di sini? Aku setiap hari menceritakan mantanku yang buruk dan kita pulang sampai larut malam?” ujar Sasa tiba-tiba.

Kami ketemu sambil ngopi beberapa hari setelah ia menulis pesan dan ia memberikan undangan perkawinannya secara langsung

“Tentu saja aku ingat,” kataku.

Sasa selalu menghabiskan kopi 7 gelas. Ia suka kopi dingin karena menurutnya akan menyegarkan otot-otot kepalanya. Ia juga suka kopi panas karena akan menghangatkan badannya. Kepedihannya melampaui musim hujan dan kemarau.

“Sudah 7 cangkir Sa, ayo kita pulang, ada kafein yang tinggi di situ,” begitu kataku selalu.

“ Lumayanlah, aku sudah pindah ke kopi dan tak minum obat tidur lagi khan sekarang?” ujar Sasa.

Perkawinan Bukan Jawaban Trauma

Menikahlah Sasa dan Ben. Tapi perkawinan ternyata bukan jawaban buat Sasa, malah ia makin menjadi-jadi traumanya.

Sering cek handphone Ben, suaminya, sampai sehari harus telepon Ben 5 kali untuk memastikan agar ia tahu Ben ada di mana

“Lagi di mana? Lagi ngapain? Sama siapa?.”

Awalnya Ben gak curiga, ia merasa Sasa pingin memberikan perhatian lebih saja, tapi lama-lama komunikasi ini jadi gak enak, karena setiap menelepon Ben, sebenarnya Sasa hanya ingin memastikan bahwa hidupnya baik-baik saja dan Ben tidak sedang selingkuh.

Telpon-telponan sehari 5 kali ini lama-lama melelahkan karena Ben merasa tidak nyaman, merasa sering diawasi. Ben sudah ribuan kali menenangkan dan memastikan bahwa ia tidak akan selingkuh, namun Sasa masih sulit untuk percaya.

Perkawinan 7 tahun jadi hal berat buat Sasa, tiap hari ia mesti belajar untuk mempercayai orang, mempercayai suaminya. Di istilah teman-teman kami, ini namanya sleeping with the enemy atau tidur dengan musuhnya. Menikah, tinggal serumah sama Ben, tapi gak percaya sama Ben.

Sasa sampai gak tahu, kapan ia bisa mengakhiri semuanya ini.

“Sudah 17 tahun Sin, kapan ini bisa hilang? Aku gak enak banget sama Ben.”

Tujuh tahun yang buruk lama-lama bisa dilalui Sasa. Ada banyak peristiwa baru, fakta baru, yang gak terkait sama sekali sama relasinya yang kemudian menggugah hati Sasa untuk berubah, pergi dari traumanya.

“Kayaknya hilang karena waktu ya, ada banyak peristiwa baru, orang-orang baru yang harus ditolong yang membuat aku sadar, harusnya aku jangan lama-lama jadi korban (trauma), karena harusnya aku jadi survivor yang menolong orang lain. Banyak orang  lain yang membutuhkan aku.”

Yang membuatnya akhirnya bisa melupakan ini adalah ketika ia mulai menjadi guru pengajar untuk anak-anak miskin kota.

Disitu Sasa kemudian banyak melihat kemiskinan dimana-mana, mendampingi anak-anak korban belajar, bertemu dengan korban gusuran, buruh yang dipecat, kemiskinan yang dia lihat hampir tiap hari.

Dia merasa bahwa apa yang terjadi dengan hidupnya itu bukan apa-apa, ia merasa bahwa yang dialaminya hanya butiran debu yang jauh dari persoalan korban yang ia temui tiap hari. Mbak Yati yang butuh beras, Maryam yang di PHK, Santi yang melahirkan anaknya dan gak punya uang.

Di titik itulah kesadarannya untuk pergi dari trauma yang dirasakannya mulai tumbuh. Ia merasa membutuhkan dan dibutuhkan oleh korban dan anak-anaknya. Ia merasa bahwa sudah saatnya ia menghilangkan masa lalunya, karena banyak orang yang membutuhkan perhatiannya. Di luar itu, hidup memang harus terus berjalan, Sin. Itu kata Sasa.

“Jadi ternyata caranya adalah menghadapkan korban dengan korban. Ketika dihadapkan dengan korban lainnya, kita kayak bisa berkaca bahwa hidup ini harus terus diperjuangkan,“ kata Sasa pada Konde.co.

Sasa sendiri tidak menyangka bahwa ini bisa jadi jurus jitu untuk menghilangkan masa lalunya, yaitu dengan memikirkan orang lain dan berhenti memikirkan dirinya sendiri. Menganggap hidup orang lain penting dan harus segera ditolong.

Rasa trauma memang mesti diatasi, jika dibiarkan begitu saja akan membuat terus berkembang dan menciptakan rasa depresi. Dalam rubrik dosen psikologi tertulis salah satu cara untuk menghilangkan trauma yaitu menghindari tempat atau obyek yang bisa jadi trauma, maka banyak orang yang mengalami trauma harus pindah tempat tinggal atau kota.

Lalu yang kedua, selalu berpikir positif, menyibukkan diri dan selalu berpikir bahwa semua akan baik-baik saja. Jika bisa mengelola ini secara terus-menerus, maka pikiran buruk akan hilang pelan-pelan.

Bisa jadi tips ini tidak berlaku umum atau tidak semua orang punya penanganan yang sama, buktinya Sasa, ia harus melihat kehidupan orang lain yang buruk untuk memastikan bahwa hidupnya baik-baik saja dan ia bisa berbuat sesuatu untuk menolong orang lain.

Butuh waktu sangat lama bagi Sasa, lebih dari 17 tahun. Aku percaya ini bisa terjadi pada banyak sekali perempuan di dunia ini.

“Mau minum kopi lagi, Sa?” tanyaku pura-pura mengingatkannya pada masa lalu.

Ia mengangguk.

“Yakin?” kataku

“Doakan ya, cangkir kopi ini gak pahit kayak yang dulu.”

Aku doakan untukmu Sa, semoga kita tak lagi bertemu hanya untuk menghabiskan kopi seperti dulu. Banyak perempuan seperti Sasa di dunia ini. Hidupnya penuh dengan pertaruhan, termasuk menghilangkan traumanya.

Kupeluk Sasa.

Semoga cangkir kopi yang ini tak lagi sama dengan yang dulu.

Sindy

Sahabat dan Pendamping Korban (Bukan Nama Sebenarnya)

Let's share!

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on email