Selamat Jalan Suster Eusthocia, Pahlawan Bagi Para Korban Kekerasan Seksual

Kepergian aktivis perempuan Suster Eusthocia begitu menyesakkan banyak orang. Suster Eusthocia adalah pahlawan bagi para korban kekerasan seksual

Jarak antara Larantuka yang lumayan jauh ke Kota Maumere, membuat saya kemudian harus singgah dulu ke Hokeng, tepatnya di biara SSpS Sanctissima Trinitas Hokeng

Suasana sekitar gelap, pohon-pohon tinggi dan lampu hanya ada beberapa di sekitar biara, maklum malam sudah sangat larut, jam 23.30. Di situlah saya pertamakali bertemu dengan Suster Eusthocia.

“Pulang besok saja, Nona, karena ini sudah jauh malam dan sulit mencari angkutan umum,” kata seorang suster menyambut di depan pintu, yang kemudian saya kenal sebagai suster Eusthocia Monika Nata, SSPs. Cara bicaranya lembut, namun penuh keberanian, menawari saya untuk tidur di biara sampai besok

Pertemuan tersebut terjadi di tahun 2000 atau 21 tahun lalu, ketika saya selama 2 minggu punya kesempatan untuk ke Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT) melakukan peliputan soal kondisi perempuan di sana ketika saya masih bekerja di Jurnal Perempuan.

Setelah itu saya sering bertemu dengan Suster Eusthocia dalam berbagai kesempatan, di Jakarta dan di sejumlah pertemuan, namun tidak pernah bisa ngobrol secara panjang. Terakhir, di awal pandemi bertemu lagi dalam konferensi pers kekerasan seksual yang terjadi sebuah gereja di Depok. Bicaranya selalu tajam dalam memberikan solusi persoalan

Senin, 8 November 2021 Suster Eusthocia meninggal di usia 78 tahun. Dalam rasa sakit yang menderanya, suster masih beraktivitas kemana-mana.

Desti Murdijana, aktivis perempuan dan mantan Komisioner Komnas Perempuan yang lama tinggal di NTT bercerita, Suster Eusthocia masih melakukan aksi untuk stop trafficking di Nusa Tenggara Timur/ NTT bersama anak-anak muda disana sekitar 2 hari sebelum ia meninggal. Ia kemudian kelelahan dan dilarikan ke Rumah Sakit Santo Gabriel Kewapante dan akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya di Rumah Sakit Santo Gabriel Kewapante.

Suster Eusthocia Monika Nata, SSPs, lahir di Ende, 26 Desember 1943 dan selama 56 tahun hidupnya dihabiskan menjadi suster. Dalam ibadah misa bersama keluarga di biara SSPS Maumere yang diikuti Konde.co secara online, semua mendoakan untuk Suster Eusthocia dalam suasana duka

“Semoga Engkau anugerahkan kehidupan baru untukmu di surga,” demikian doa dan pujian yang dilakukan bagi Suster Eusthocia

Desti Murdijana mengatakan, Minggu malam, 7 November 2021, Suster masih hadir dalam acara salah satu keponakannya setelah melakukan aksi. Dalam rasa sakitnya, beberapa kali berobat ke Jakarta, Surabaya, suter selalu bilang: saya disembuhkan oleh Tuhan dan ini karena tanggungjawab saya banyak di dunia ini

“Selalu semangat dan berani mengambil resiko,” kata Desti Murdijana pada Konde.co

Suster Eusthocia banyak menyelesaikan persoalan di NTT, persoalan kekerasan seksual, Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT), perdagangan orang dan kasus-kasus yang menimpa banyak perempuan dan anak. Ia sangat dekat dengan masyarakat karena Suster Eusthocia selama ini adalah harapan bagi banyak orang.

Aktivis Kupang, Elcid Li yang selama ini banyak bekerja dengan suster Eusthocia mengatakan, dalam banyak hal Gereja Katholik identik dengan elemen patriarkat. Di dalam stereotype semacam itu lah Suster Eusthochia telah tumbuh menjadi batu marmer di dalam gereja maupun masyarakat untuk melindungi perempuan dan kelompok marginal yang teraniaya dan menderita. Tembok biara adalah tempat perlindungan terbaik yang ia dan komunitasnya berikan selama sekian dekade.

“Namanya harum hingga jauh. Menyebut namanya seolah sudah menjadi garansi integritas, bahwa korban akan dilindungi dan hak mereka akan dipenuhi,” kata Elcid Li pada Konde.co, 8 November 2021

Jika pemerintah, aparat keamanan, bahkan pengadilan menjadi tempat permainan, maka pada Suster Eusthochia dan komunitasnya selalu menyatakan bahwa kata tetap lah kata yang didaraskan dalam doa untuk turut melepaskan beban yang menderita. Kata bukan untuk dipermainkan, tetapi untuk dijalani dengan semua konsekuensi.

“Jika mampir ke biara, pertanyaannya singkat dan padat. Instrumen verifikasinya sederhana. Jika sudah dirasa cukup ia behenti dan katakan ‘baik’. Setelah itu semua seolah sudah siap dijalani, seperti doa yang ia biasa daraskan: “Terjadilah padaku menurut perkataanMu,” kata Elcid Li menuturkan pengalamannya menyelesaikan kasus bersama Suster Eusthocia

Hampir dua dekade, nama Suster Eusthochia adalah nama yang tidak lepas dari jejaring para perempuan tangguh di Timur. Mereka bekerja, mereka berdaya, dan  selalu siap menolong.

“Ibarat bulir-bulir Rosario, Suster Eusthochia adalah titik perhentian peristiwa. Mengenangnya membuat kita merenung. Dalam sekian ketidaksempurnaan perjalanan manusia, manusia yang berdosa dan lemah pula yang berdiri membantu mereka yang lemah dan tak berdaya. Dalam tubuh yang menua, tidak pernah ia merasa tua untuk bersuara. Turun ke jalan sekali pun tetap ia lakukan untuk mengingatkan mereka yang lupa pada kenyataan.”

Desti Murdijana menyatakan, Suster Eusthocia adalah sahabatnya. Sebagaimana dikutip dari floresa.co di mulai di tahun 1999, ketika Desti Murdijana mendapat tugas dari kantor lembaganya untuk  mengadakan semacam pemetaan untuk melihat kelompok masyarakat apa saja yang bekerja untuk isu perempuan di Maumere. Di suatu sore, para aktivis perempuan dari berbagai kalangan di Maumere berkumpul, salah satunya adalah Suster Eusthocia yang datang dengan sandal jepit dan selembar kertas serta pensil naik angkutan kota (bemo). Waktu itu Suster baru saja kembali mengantarkan bantuan untuk pengungsi di Timor Timur, dan dengan segala daya upayanya dia berhasil melalui hadangan para milisi untuk bisa bertemu dengan para pengungsi

Bekerja untuk mendukung para pengungsi Timor Timur inilah yang rupanya mempertautkan Desti dengan suster lebih jauh. Ketika hasil referendum membawa rakyat Timor Timur mendapatkan kemerdekaannya, kekerasan dan konflik berlanjut semakin parah

“Suster itu cerdas, selalu punya konsep yang clear soal kesetaraan gender dan hak asasi manusia yang diletakkan dalam satu frame, berpikir cepat dan jelas, argumentasi yang jelas, sehingga lingkungan biara respek dengan semua alasan yang dikemukakan suster dalam menyelesaikan persoalan kekerasan disana,” kata Desti Murdijana ketika dihubungi Konde.co melalui sambungan telepon pada 8 November 2021

“Suster sangat berani membuat terobosan, kasus kekerasan seksual dan KDRT banyak terjadi dan gereja tidak memperbolehkan ada perceraian, maka suster kemudian membuat terobosan, ia mendatangi pelaku dan menyatakan bahwa, kamu baru boleh kembali ke rumah jika kamu sudah berubah, kalau kamu tidak berubah, maka kamu bisa dilaporkan ke polisi. Cara-cara ini menurut agama boleh dilakukan, tapi harus memperbaiki perilakunya dan mempertanggungjawabkan perbuatannya, dan ini dipakai untuk menyelesaikan persoalan disana.”

Kantor Tim Relawan untuk Kemanusiaan/Truk F di NTT juga pernah diserang, energi keberanian ini selalu menular diantara teman-temannya karena suster sangat tenang, berani dan bisa menyelesaikan persoalan di tengah semua orang yang sedang takut ketika kantornya dilempari

“Kita hadapi saja, kita tidak usah takut, hadapi saja,” kata Desti menirukan jawaban Suster Eusthocia

Rasa kehilangan juga dirasakan banyak aktivis perempuan dan HAM di Indonesia. Yolanda, salah satu aktivis yang berasal dari Flores menyatakan suster sebagai seorang sosok yang kuat dengan pemikiran yang merdeka.

Di tengah gereja Katolik yang hirarkis dan patriarki apalagi dalam konteks gereja katolik Flores, suster dan tim Truk F, konsisten melakukan pendampingan hingga advokasi, serta membuka shelter (rumah aman) bagi perempuan dan anak korban kekerasan, baik korban KDRT maupun sindikat perdagangan orang. Suster juga mampu menggerakan berbagai elemen masyarakat dan pemerintah untuk mengeluarkan kebijakan yang pro pada perempuan korban.

“Tahun lalu saya berbincang dengan suster dan Truk-F mereka sharing tentang penanganan kasus kekerasan perempuan berbasis komunitas yang diintegrasi dengan program desa dengan dukungan pembiayaan dana desa,” kata Yolanda pada Konde.co

Anik Wusari, aktivis dari Indonesia untuk Kemanusiaan (IKa) menyatakan Suster Eustochia lah, yang memberikan usul untuk dibangunnya Pundi Perempuan, sebuah gerakan donasi untuk perempuan korban kekerasan seksual di Indonesia.

“Aku kenal ketika kami yang di IKa, mulai mengelola Pundi Perempuan sejak 2003. Setelah itu aku sering melihat “Mama Suster” di pertemuan-pertemuan Komnas Perempuan. Suster yang hebat, dialah perwujudan iman kepada Allah yang sesungguhnya,” bisikku lirih setiap kali aku melihat sosoknya.

Kepergian Suster Eusthocia semakin menusuk ketika terakhir suster melakukan aksi membela para korban trafficking. Sampai akhir hidupnya, ia terus membela para korban.

Selamat jalan Suster Eusthochia, berdoa dengan mata terbuka tidak bisa dilakukan oleh semua orang, tetapi suster adalah satu dari sedikit yang mampu untuk itu: menolong yang lemah, memberikan ruang bagi yang membutuhkan.

(Foto: Beritanasional.id)

Luviana

Setelah menjadi jurnalis di media mainstream selama 20 tahun, kini menjadi chief editor www.Konde.co dan menjadi dosen pengajar paruh waktu di Jakarta. Pedagoginya dalam penulisan isu media, perempuan dan minoritas

Let's share!

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on email