Thanksgiving Bisa Jadi Momen Diaspora Indonesia Ucapkan Terimakasih

Thanksgiving atau Hari Bersyukur yang dirayakan setiap 25 November tak hanya dirayakan warga Amerika. Diaspora Indonesia di Amerika juga merayakan thanksgiving untuk ucapkan terimakasih pada teman dan keluarga

Tahun ini, kebiasaan pulang kampung atau berkumpul bersama keluarga dan orang-orang yang dicintai untuk merayakan hari bersyukur itu, sudah berbeda dengan masa pandemi di tahun lalu. Ini karena banyak anggota keluarga yang sudah divaksinasi dan boleh bepergian

Perayaan Thanksgiving atau Hari Bersyukur tahun 2021 akan kembali diramaikan masyarakat Amerika di tanggal 15 November dengan berkumpul bersama orang-orang yang mereka cintai.

Jutaan warga diperkirakan akan berkendara, memenuhi bandara dan stasiun kereta api untuk pulang kampung. Termasuk di antaranya, Edward Martua bersama istrinya, Christy Dyer Gultom, dan putra mereka Elliot yang masih berusia sembilan bulan.

Thanksgiving pertama bagi Edward setelah berkeluarga kali ini menjadi sangat berbeda karena kehadiran bayi pertama mereka. Mereka pindah dari kota New York pada Thanksgiving tahun ini kemudian menetap di Tennessee di mana Christy dibesarkan. “Ini pertama kalinya Elliot juga akan merayakan Thanksgiving bersama dengan keluarga di Tennessee,” ujarnya.

Di California, Lianna Quick, keturunan Indonesia dan Australia merasa senang. Pada Thanksgiving kali ini ia akan dapat kembali berkumpul bersama saudaranya yang tinggal di beberapa negara.

“Kami terbang untuk bertemu satu sama lain di hari Thanksgiving, untuk berkumpul dan merayakan kehidupan indah yang kami miliki serta bersyukur karena masih sehat dan bisa berkumpul bersama keluarga,” tukasnya.

Kepada VOA, perempuan kelahiran Jakarta yang gemar berolahraga itu menguraikan bahwa Thanksgiving dimaknai warga AS dengan berbagai alasan berbeda, baik sebagai perayaan atau pun berkabung.

“Bagi banyak penduduk asli Amerika dan pendukungnya, Thanksgiving adalah peringatan tentang pembantaian jutaan warga pribumi dan pencurian tanah milik mereka serta serangan terhadap budaya penduduk asli Amerika,” imbuhnya.

Akan tetapi perayaan Thanksgiving telah mengalami perubahan selama bertahun-tahun. Kini Thanksgiving bermakna untuk sepenuhnya bersyukur, memberi kembali kepada orang di sekitar.

Karena itu, Lianna tak lupa menambahkan berbagi makanan juga dilakukan di meja makan bersama keluarga dan organisasi amal bagi mereka yang kurang beruntung seperti tunawisma di California.

Tentu saja, hidangan khas Thanksgiving selalu tersaji di tengah meja makan mereka. Biasanya ayah Lianna yang bertugas mempersiapkan hidangan kalkun, sementara sang ibu memadukan makanan Indonesia, seperti bakwan jagung, dan pomelo salad atau selada jeruk Bali.

Di Tennessee, Edward bersama keluarga istrinya selalu menikmati hidangan khas Thanksgiving yang dimasak sendiri oleh nenek Christy.

“Kita akan memakan makanan khas Thanksgiving dinner yang akan dia masak seperti roast turkey. Ada juga turkey stuffing, mashed potatoes, gravy, green beans, corn, roti, cranberry sauce, pumpkins pie,” kata Edward.

Sementara itu Firyaal, mahasiswi Indonesia yang sedang menjalani program pertukaran pelajar dan tinggal dekat kampus di UC Davis, akan merayakan Thanksgiving pertamanya lebih awal.

“Kita mengadakan potluck, banyak makanan Thanksgiving yang lain juga dan makanan dari negara-negara lain, misalnya teman-teman (mahasiswa) internasional bisa membawa makanan favorit mereka sendiri.”

Tepat pada hari Thanksgiving, yang tahun ini akan jatuh pada 25 November, Firyaal akan berjalan-jalan dan mengunjungi kota San Francisco bersama mahasiswa Indonesia dan mahasiswa internasional lainnya.

Perayaan Hari Bersyukur juga bakal dialami oleh Verina Clearesta yang mendapat kesempatan belajar di UC Davis sebagai penerima Indonesian International Student Mobility Award tahun ini. Mahasiswi Ilmu Keperawatan asal Jakarta itu akan menikmati jamuan makan Thanksgiving pertamanya bersama keluarganya sendiri yang sudah 10 tahun menetap di Los Angeles.

Tahun ini, Thanksgiving tidak lagi hanya sebatas cerita yang didengar atau film yang ditonton bagi Verina, melainkan pengalaman yang akan langsung ia rasakan dan syukuri.

“Saya bersyukur bisa mendapatkan kesempatan untuk belajar di salah satu universitas terbaik di AS. Saya juga bersyukur untuk keluarga dan teman-teman yang sudah menjadi support system yang membantu saya beradaptasi, tinggal di lingkungan dan negara yang baru,” ujarnya.

Tiba pertama kali di AS pada September lalu, Firyaal mendapati bahwa masyarakat Amerika, yang semula ia dengar bersifat individualis, ternyata dapat berkumpul merayakan Hari Bersyukur bersama.

“Saya terpesona, walaupun stereotip yang sering kita baca terkait orang AS bersifat individualis tetapi mereka itu sebenarnya masih merayakan sesuatu (Thanksgiving) bersama keluarga,” ungkap Firyaal.

Untuk dapat berkumpul bersama keluarga merayakan Thanksgiving di tengah pandemi COVID-19, Lianna dan Edward mengemukakan kepada VOA bahwa mereka bersama keluarga tetap menjaga protokol kesehatan, termasuk divaksinasi.

“Kita tahu bahwa kita juga mesti tetap menghindari risiko tertular, untuk tidak terinfeksi COVID-19. Tapi, kita berharap this year would be better than last year,” harapnya. [mg/uh]

(Sumber: Voice of America)

Metrini Geopani

Jurnalis Voice of America (VOA)

Let's share!

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on email