Para Perempuan Membalas ‘Dendam’ di Film ‘Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas’

Dua perempuan Iteung dan Rona Merah bekerja sama membalaskan dendam mereka yakni dengan membunuh para lelaki yang menyakiti mereka, Itulah sekelumit kisah di film Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas. Film sarat kritik terhadap nilai patriarki dan ketidakhadiran negara dalam memberikan keadilan pada perempuan korban kekerasan.

Film Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas pertama kali diputar pada Agustus 2021 lalu di Festival Film Locarno ke-74. Di festival film bergengsi ini, Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas memenangkan penghargaan tertinggi yakni Golden Leopard for Best Film.

Segala peristiwa dalam film ini berpusat pada “burung” atau penis Ajo Kawir —tokoh utama yang diperankan Marthino Lio— yang tidak bisa berdiri. Kondisi ini sangat mempengaruhi psikis dan karakter Ajo. Hampir di sepanjang hidupnya, Ajo menutupi kelemahannya dan berjuang membuktikan kejantannya dengan menjadi jagoan yang suka bertarung.

Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas merupakan film drama aksi tentang dua jagoan yang jatuh cinta di bawah rezim Orde Baru yang penuh dengan kekerasan–juga terhadap perempuan. Film yang disutradarai oleh Edwin ini didasarkan pada novel Eka Kurniawan dengan judul yang sama.

Di dalam novelnya, Eka Kurniawan menarasikan upaya Ajo untuk “membangunkan” burungnya dengan kata-kata. Di dalam film, upaya-upaya itu ditunjukkan melalui dialog-dialog para tokohnya.

Saat bertemu dengan Iteung (Ladya Cheryl)–jagoan perempuan yang melindungi musuhnya–Ajo Kawir yang jatuh cinta pun khawatir tak bisa memberikan kepuasan fisik kepada perempuan itu. Ia pun sempat menghindari Iteung sebelum berkata jujur pada perempuan itu. Alih-alih mundur, Iteung justru bersedia menikahi laki-laki yang penisnya tak bisa berdiri.

Iteung kemudian melawan “standar moral” orang-orang kebanyakan. Ia bukan perempuan yang patuh dan setia (secara fisik) pada suami, dan jujur tentang apa yang ia butuhkan: seks dengan penis.

Sayangnya pengalaman berhubungan seksual Iteung dengan laki-laki lain tak sepenuhnya menyenangkan. Ia melakukannya dengan Budi Baik (Reza Rahadian) yang terus-menerus merangsangnya dengan cerita yang sebetulnya traumatis: bagaimana Iteung dilecehkan oleh salah satu gurunya saat masih di bangku sekolah.

Seks pun lantas menjadi alat pembebasan sekaligus penjara bagi Iteung. Karen itu ketika bercinta dengan Budi Baik, sepanjang percintaan Iteung harus terus menerus menutupi wajah Budi Baik dengan tangannya. Setelahnya jagoan perempuan itu malah muntah-muntah.

Kekerasan-kekerasan terhadap Perempuan di Era Orde Baru

Melalui film besutan sutradara Edwin ini, penonton bisa melihat bagaimana maskulinitas yang begitu dekat dengan kekerasan dilanggengkan oleh Negara di bawah rezim Orde Baru.

Dalam salah satu scene, Paman Gembul (Piet Pagau) yang merupakan seorang jenderal, mengaku merasa bersalah karena membiarkan penembak misterius (petrus) mengeksekusi suami Rona Merah. Gara-gara itu, Rona Merah kehilangan kewarasannya. 

Petrus beroperasi sekitar 1983-1985 dengan korban –diduga para preman– mencapai ribuan orang. Film ini pun mengingatkan kita bahwa kekerasan yang dilakukan negara dengan dalih “menjaga kedamaian” tidak hanya berdampak pada laki-laki.

Perempuan dan anak-anak juga bisa atau bahkan yang paling merasakan menjadi korban, karena kehilangan suami atau ayah mereka.

Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas, sukses menyajikan dampak yang dirasakan perempuan akibat kekerasan Orde Baru. Bagaimana Rona Merah, sepeninggal suaminya, menjadi korban kekerasan berlapis. Setelah suaminya dibedil, ia yang tinggal seorang diri di rumah, diperkosa oleh dua tentara.

Ajo Kawir yang saat itu masih kanak-kanak, tertangkap mengintip kelakuan bejat kedua tentara tersebut. Ia lantas dipaksa memasuki Rona Merah. Scene tersebut sekaligus kritik terhadap lembaga negara yang kerap kali menyalahgunakan wewenang.

Alih-alih menjadi contoh bagi anak laki-laki, kedua tentara malah melakukan kekerasan pada Ajo dengan memaksanya memasuki Rona Merah. Akibat peristiwa itu, Ajo mesti mengalami trauma berkepanjangan, sehingga penisnya tak pernah bisa ejakulasi.

Demikian pula Iteung, yang saat masih sekolah dilecehkan oleh salah satu gurunya, Pak Totok. Pelecehan ini dinarasikan oleh dialog-dialog antara Iteung dengan Budi Baik dan antara hantu Rona Merah dengan Ajo Kawir. Peristiwa traumatis ini yang kemungkinan mendorong Iteung berlatih bela diri untuk membalas dendam–meski pada saat yang sama traumanya mengutuknya mengenal seks lebih cepat dari perempuan-perempuan lain.

Kekerasan lain yang diangkat adalah pemaksaan keluarga berencana yang ditampilkan secara nyata dalam salah satu scene. Scene itu menggambarkan Iteung disensus oleh seorang petugas perempuan. Sebagai latar, dari radio terdengar pengumuman bahwa pemerintah akan menerapkan kebijakan keluarga berencana, di mana setiap keluarga diharapkan tidak memiliki lebih dari dua anak.

Petugas perempuan itu pun mengeluh karena selama ini perempuan lah yang lebih banyak terlibat dalam penggunaan alat kontrasepsi demi mengurangi angka kelahiran. Kontrasepsi bisa jadi alat kekerasan terhadap perempuan ketika penggunaannya dipaksakan atau sebagian besar penggunaannya dibebankan kepada perempuan.

Sebaliknya, laki-laki tidak dituntut memiliki peran ataupun pengorbanan apapun dalam program ini.

Perempuan-Perempuan yang Membalaskan Dendam

Seperti Dendam, Rindu Harus Dibalas Tuntas menjadi menarik karena tidak hanya menampilkan penderitaan-penderitaan perempuan akibat kekerasan yang dilanggengkan oleh Negara. Film ini juga menampilkan perempuan-perempuan yang melawan trauma serta memperjuangkan keadilan. Ini tampak dari bagaimana Iteung dan Rona Merah melakukan pembalasan dendam.

Iteung membalaskan dendam pertama-tama kepada Budi Baik yang telah membuatnya hamil hingga pernikahannya dengan Ajo berantakan. Setelah keluar dari penjara karena membunuh Budi Baik, ia pun menewaskan dua pensiunan tentara yang sempat memaksa Ajo memasuki  Rona Merah.

Melalui aksi pembunuhan kedua tentara itu, Iteung secara tak langsung ingin membuktikan bahwa ia sebetulnya hanya mencintai Ajo.

Di samping itu, pada akhir film, hantu Rona Merah juga menghabisi Paman Gembul, si jenderal yang sebelumnya mengaku menyesal karena membiarkan suami Rona Merah ditembak Petrus.

Pesan terkait solidaritas antara sesama perempuan juga disisipkan dengan begitu halus dalam film ini. Hal ini tampak dari bagaimana Iteung beberapa kali meletakkan sesajen di rumah mendiang Rona Merah. Sesajen juga menjadi alat komunikasi keduanya untuk bekerja sama melakukan pembalasan dendam.

Jika didalami, cara kedua perempuan ini membalaskan dendam mereka–dengan membunuh para lelaki yang menyakiti mereka– dapat dilihat sebagai kritik terhadap ketidakhadiran negara dalam memberikan keadilan pada perempuan yang menjadi korban kekerasan. Saat ini banyak perempuan masih kesulitan memperoleh keadilan dari negara setelah menjadi korban kekerasan. Beberapa perempuan bahkan dilaporkan balik dengan tuduhan pencemaran nama baik. Ketika negara tak hadir, Iteung pun menggunakan “hukum rimba”: menghakimi sendiri orang-orang yang telah melukainya.

Sementara itu, Ajo Kawir pun turut dalam perlawanan para perempuan itu. Setelah keluar dari penjara akibat membunuh si Macan, ia memilih tidak lagi melanggengkan maskulinitas rapuh yang menggunakan kekerasan untuk dapat menjadi lelaki sesungguhnya. Ia memilih menjadi pengemudi truk lintas provinsi dan berhenti berkelahi sama sekali.

Pada akhir cerita, Ajo pun tidak lagi mempermasalahkan apakah burungnya mau ngaceng atau tidak–ia akan tetap mencintai Iteung. Saat pulang kepada Iteung, Ajo pun meminta maaf. Mungkin ia menyadari tindakannya meninggalkan Iteung termasuk egois, karena ia hanya melihat kehamilan Iteung dari kacamatanya sendiri yang cemburu.

Lewat film Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas ini, Edwinsang sutradara jugabegitu lihai menghadirkan realisme magis khas tulisan Eka ke layar kaca. Barangkali karena Eka Kurniawan sendiri yang menulis naskah film ini. Adegan-adegan perkelahian yang krusial pun digarap dengan apik.

Hanya saja, bagi saya terdapat satu hal kecil yang mengganjal. Yakni bagaimana bahasa yang digunakan dalam dialog kurang konsisten. Sebagian besar dialog memang telah menggunakan Bahasa Indonesia yang baik dan benar, tapi sebagian lainnya masih menggunakan bahasa percakapan santai yang sepertinya digunakan di tahun 2000an.

Namun demikian, secara keseluruhan film ini seharusnya menjadi pengingat tentang bagaimana negara pernah–dan mungkin masih–berkhianat dari cita-citanya: melindungi segenap bangsanya. Film ini seharusnya menjadi pengingat bahwa pemerintah Indonesia punya banyak pekerjaan rumah untuk meminta maaf atas kekerasan-kekerasan yang ia lakukan terhadap warganya–terutama perempuan, menegakkan keadilan, dan menghentikan kekerasan terhadap perempuan. 

Sanya Dinda

Sehari-hari bekerja sebagai pekerja media di salah satu media di Jakarta

Let's share!

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on email