Ingin Pulang: Kisah Para Perempuan Terjerat Radikalisme

Mendapatkan informasi dari medsos soal Suriah sebagai negeri negeri Islam yang diberkati Tuhan, Dhania akhirnya berangkat ke negeri di Timur Tengah itu. Tak ada kedamaian seperti yang diceritakan di medsos. Kondisi yang kontras itu, membuat Dhania hidup di bawah tekanan dan ingin pulang ke Indonesia.

Nur Dhania, perempuan yang pernah membujuk 26 anggota keluarganya untuk pindah ke Suriah di bawah Negara Islam, sempat percaya bahwa di Suriah itu, warganya penuh kesejahteraan. 

Ia mengaku menemukan informasi dari Facebook Fanpage. Sekitar tahun 2013 itu, dia membaca kisah perempuan yang sudah lebih dulu berangkat ke Suriah dan menceritakan terjaminnya kehidupan di sana dan keindahan negeri yang diberkahi Tuhan. 

Sampai titik ia membandingkan dengan keadaan di Indonesia. Hal paling tampak, dalam hal keadilan misalnya, kala itu, dia berpikir koruptor selama ini menerima hukuman yang tidak setimpal dengan perbuatannya. 

Kemudian ia membagi temuannya ini kepada keluarga intinya, dan kerabat lainnya seperti paman dan sepupu, bahkan membacakan dalil-dalil jihad kepada neneknya yang saat itu berusia 70 tahun hingga akhirnya tertarik berhijrah ke sana. 

Di pikiran Dhania saat itu, tempat itu akan memberikan keluarganya kehidupan yang tercukupi karena semua kehidupan mereka akan sejahtera. Pokoknya, siapapun bisa menjadi apapun, sejahtera dan penuh keadilan. 

“Bumi Syam yang diberkahi, yang dinaungi sayap-sayap malaikat. seperti nabi jaman dulu dan sahabatnya,” ujar Dhania dalam cerita yang dibagikannya melalui Youtube TEDx Jakarta (15/7/2019). 

Akhirnya tibalah masa, Dhania bisa mengumpulkan sebanyak 26 orang anggota keluarganya. Bukan hal yang mudah memang, sebab berbagai cara Dhania lakukan sampai hal yang ekstrim sekalipun. Hingga akhirnya, orang tuanya luluh. 

“Karena mereka tahu, salah satu anaknya ini bonek, bocah nekat, takut kalau misalnya saya pergi sendiri,” kata dia. 

Pada tahun 2015, Dhania sekeluarga akhirnya berangkat. Mereka berangkat ke Turki sampai menuju sebuah negeri, yang menurut orang ‘diberkati’ itu.

Ada beberapa keluarga yang harus kembali ke Indonesia, namun ada yang bisa masuk, termasuk Dhania karena ada yang membantu menyelundupkan. 

“Saya langsung sujud syukur, negeri yang diberkahi, senang akhirnya masuklah kami di sana,” ujarnya. 

Sesampainya di sana, ternyata di pos pemeriksaan, mereka harus menyerahkan seluruh barang elektronik dan paspor. Mereka pun harus dipisah antara laki-laki dan perempuan. 

Dhania dan perempuan lainnya dibawa ke asrama perempuan. Mereka berasal dari berbagai belahan dunia. Di titik itulah, sebetulnya dia sudah mulai merasakan kejanggalan. 

“Di dalam hati, kok beda sama yang saya lihat di media saat itu, mulai yang simpel aja, masalah kebersihan, di situ kotor,” ucapnya. 

Saat itu, Dhania juga menyaksikan beberapa tingkah dan kelakuan orang-orang di sana yang menurutnya tidak mencerminkan kerukunan dan kedamaian. Hanya karena masalah sepele misalnya, mereka ada yang berantem sampai mau melempar pisau. 

Di asrama perempuan yang Dhania tempati, penghuninya rata-rata adalah perempuan dengan status single, janda dan perempuan yang menikah. Di tempat itu fighter-fighter ISIS kemudian datang dan meminta istri kepada pimpinan asrama. Pimpinan itu lalu memberikan rekomendasi merujuk pada list data-data perempuan sesuai dengan keinginan fighter-fighter ISIS. 

Selain itu, Dhania juga mendapatkan sebuah realita bahwa perempuan disana diperlakukan secara tidak baik dan hanya dinilai sebagai objek saja. Salah satunya perempuan di sana dijadikan sebagai ‘pabrik’ anak. 

Usai berbulan-bulan itu, akhirnya Dhania baru bisa bertemu dengan anggota keluarganya yang laki-laki. Senang karena bisa berjumpa, namun juga sedih, karena menerima kenyataan bahwa di antara saudaranya itu, ada yang ditahan karena melawan kala akan diterjunkan di medan perang. 

“Kami sempat protes tapi tak ada balasan, bagaimana agar keluarga kami gak dibawa ke pertempuran, akhirnya ada satu rumah kosong di bawah tempat kami, dan kami menyewanya untuk menempatkan yang laki-laki (menyembunyikan),” terangnya. 

Sehingga dalam masa itu, kata Dhania, perempuan lah yang menjadi banyak keluar rumah. Pernah suatu waktu, tante Dhania mengalami intimidasi dari polisi syariah. Padahal, saat itu tantenya hanya menyampaikan kritikan, namun responnnya negatif. 

Di saat yang lain, tante Dhania juga pernah ditangkap polisi syariah karena dianggap berpakaian tidak sesuai syariah setempat. Sehingga, mereka memaksa tantenya untuk membeli pakaian yang mereka jual dengan dibanderol begitu mahal. 

Berbagai rentetan tekanan dan ancaman pun hilir mudik. Tak ada kedamaian seperti yang diceritakan di sosial media. Kondisi yang sangat kontras itu, sempat menjadikan Dhania merindukan tanah air. 

“Pas itu puasa ramadhan, kalau di Indonesia dibanguninnya pakai kentongan, kalau di sana dibanguninnya sama bom, itu kami jalani,” katanya. 

Upaya Melepaskan Jerat Radikalisme

Selama dua tahun dia terjebak di Suriah bersama keluarganya, dan mengalami beberapa perjalanan yang sulit seperti dituding munafik, dikejar, ditembaki. Dhania dan keluarga pun, akhirnya memantapkan diri untuk bisa kembali ke Indonesia. Meskipun, sama sekali tidak mudah. 

Rencana keluar dari wilayah itu, harus mereka lakukan secara sembunyi-sembunyi. Tak terhitung berapa ribu dolar uang mereka lenyap akibat kena tipu saat upaya melarikan diri. Barang berharga seperti tas dan handphone mereka pun terpaksa mereka juga relakan.

Setahun lamanya proses itu, hingga nyaris membuat Dhania dan keluarganya frustasi dan menyerah. 

“Alhamdulilah di balik orang-orang licik, Tuhan masih menyisakan orang baik, kami ada kesempatan untuk bisa keluar. Dibantu seorang kakek dan teman-temannya, menuju faksi lain di Suriah yang merupakan sekutu AS,” katanya. 

Meskipun ternyata tak mudah juga masuk ke wilayah itu, sebab Dhania dan keluarganya harus memanjat jembatan yang sudah hancur dibom. Juga melewati sungai dan berupaya keras menghadapi penembakan. Hingga akhirnya, mereka berhasil keluar dari wilayah faksi sebelumnya. 

“Di sinilah kami menjadi pengungsi internasional (UNHCR), selama dua bulan di sana, Agustus 2017, kami bisa menginjakkan kaki kembali ke Indonesia,” ucap Dhania. 

Dari kejadian yang menimpanya, Dhania belajar untuk bisa lebih hati-hati dalam menerima sumber informasi. Dia juga sadar, untuk tak lagi menelan mentah-mentah ‘janji manis’ yang nyatanya berkebalikan. 

“Beginilah ketika dulu, tidak mau mendengarkan pendapat org lain. Beginilah, ketika dulu tidak mau mencari second opinion. Tidak mau check berita,” tegasnya.

Pengalaman lepas dari lingkaran yang mengarah ke radikalisme, pernah pula dialami oleh Rosidah, bukan nama sebenarnya. Pada saat menjadi siswa di madrasah, Rosidah sering menggelar liqo’ bersama teman-temannya di divisi rohis organisasi siswa (Osis). 

Saking terobsesinya dengan ‘ajaran Islam’ kala itu, Rosidah bersama teman-temannya bahkan pernah membuat grup kajian bernama ‘The Noordin M Top’, salah seorang pelaku pengeboman yang juga pernah bergabung dalam gerakan bawah tanah Jemaah Islamiyah (JI). 

“Favorit banget, karena itu sosok jihadis,” kata Rosidah dalam WGWC Talk Seri 12 pada 1 Oktober 2020 lalu. 

Di momen itu pulalah, dirinya kala itu siswa sekolah menengah atas, seringkali bergabung dengan teman-teman liqo’ dari kalangan mahasiswa. Di sinilah, awal mula, salah seorang senior mahasiswa itu menghubungkan Rosidah pada kelompok kajian yang itu adalah Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). Sebuah organisasi massa (ormas) yang oleh pemerintah telah bubarkan pada 2017 karena dianggap anti-pancasila. 

Sebagai mahasiswa rantau yang jauh dari keluarga, Rosidah yang kala itu jadi mahasiswa baru, kemudian menghubungi rekomendasi dari seniornya saat liqo’ saat SMA dulu. 

“Kalau sudah sampai Jogja harus menghubungi, di semester dua saya mulai memberanikan diri menghubungi mereka. Awalnya liqo’ karena saya belum tau organisasinya seperti apa,” kata Rosidah. 

Meski belum sampai masuk jauh ke organisasi masa itu, Rosidah dalam setahun di sana, sempat mengikuti halaqah hingga konferensi yang Hizbut Tahrir Indonesia/ HTI adakan.

Hingga suatu waktu, dia mengalami pergumulan karena apa yang disampaikan oleh HTI itu rasanya mulai bertentangan dengan apa yang selama ini dia pelajari dari bacaan buku ataupun materi kuliah. 

“Karena saya di kuliah membaca ke-Pancasilaan,” katanya.

“Dan saya melihat kok bukunya (HTI) hanya bicara soal bagaimana menjadi muslim. Bagaimana mendirikan negara. Ketika saya baca buku, itu HTI tidak melihat konteks Indonesia,” imbuhnya. 

Rosidah akhirnya memantapkan diri untuk keluar dari HTI. Dia pun tidak sempat disumpah. 

Kisah Rosidah, mirip dengan apa yang dialami oleh Tiara, bukan nama sebenarnya, yang sudah sejak kelas  2 SMA mengenal HTI. Bedanya, Tiara keluar dari HTI akibat perasaan kecewanya karena cara-cara dakwah HTI yang terbilang ‘keras’ dan tidak sesuai dengan ekspektasi Tiara yang semula ingin mendalami agama.  

Perkenalan Tiara dengan HTI, berawal saat Tiara mempunyai salah seorang teman sejurusan beda kelas, yang bibinya adalah anggota HTI. Rasa penasaran dan keinginan untuk belajar agama lebih dalam, menjadikan Tiara menerima tawaran Bibi itu untuk masuk ke HTI. 

“Awalnya rasa penasaran dan karena gak pernah mengalami (seperti) anak-anak lain yang sekolah di pondokan, yang spiritualitasnya terpenuhi, dan saya merasa sebagai orang yang krisis spiritualitas waktu itu,” ujar Tiara dalam diskusi WGWC Talk Seri 12 pada 1 Oktober 2020 lalu. 

Tiara belum sama sekali mengetahui organisasi HTI itu seperti apa, namun dia menerima ajakan temannya karena dinilai pendekatan yang mereka gunakan, cenderung lebih personal dan menyasar kepada apa yang dibutuhkannya. Sehingga, psikologis Tiara pun mudah luluh. 

‘’Awalnya si saya tidak menemukan kejanggalan atau apapun ya, karena mereka sangat baik kepada binaan-binaannya, menjadi teman curhat dan kita dibantu kalo ada pelajaran yang susah. Jadi kita merasa kedekatan personalnya itu kerasa banget,” katanya. 

Seiring intensnya komunikasi Tiara dan anggota HTI lainnya, dia pun mulai terbuka untuk menyanggupi dirinya mengikuti halaqah. Ini berguna sebagai persiapan sebelum seseorang menjadi binaan organisasi HTI itu. Setidaknya terdapat 12 pertemuan yang membahas kapita selektanya, qoda qadar, hingga seluk beluk HTI. 

Dari serangkaian kegiatan tersebut, Tiara memperoleh pemahaman bahwa HTI itu adalah ormas yang untuk bergabung di dalamnya memang tak mudah. Sebab, ada persyaratan menjadi anggota yang relatif berat karena harus bisa menamatkan 3 kitab wajib dan 1 kitab tambahan pilar-pilar.

Selain itu, anggota HTI juga mesti bersumpah untuk menjaga ketaatan pada amir atau pimpinan HTI. Di samping, juga harus menjaga loyalitas kepada organisasi. 

Dalam kurun waktu sekitar tiga tahunan, Tiara menjadi anggota HTI. Hingga  kemudian, dia memantapkan diri untuk meninggalkan organisasi itu pada tahun 2015. Dua tahun sebelum pelarangan HTI oleh pemerintah. 

Semasa menjadi anggota HTI, Tiara diharuskan menjadi penanggung jawab untuk ‘berdakwah’ di tempatnya tinggal. Dia menyetujui itu dan sempat menjadi binaan di HTI yang menurutnya kala itu seolah seperti partai politik yang memiliki visi misi tertentu. 

Selain cara HTI yang cukup ‘keras’ dalam berdakwah. Berjalannya waktu, Tiara juga merasa otonomi atas keputusan dan pilihan hidupnya direnggut oleh ormas itu. Banyak pula aktivitas-aktivitas seperti liqo’ dan hafalan-hafalan kitab yang harus Ia ikuti. 

“Selama saya di HTI, saya merasa tidak memiliki diri saya sendiri. Karena memang seluruh waktu saya itu diforsir untuk kegiatan-kegiatan organisasi, sehingga saya tidak bisa melakukan aktivitas, tidak bisa melakukan hobi saya. Itu alasan terkuat kenapa saya meninggalkan HTI,’’ ujarnya. 

Perempuan dalam Cengkeraman Radikalisme adalah Korban

Kerentanan posisi perempuan dalam lingkaran radikalisme itu pun, juga terjadi pada para pendamping. Pengalaman Nuraini pendamping Lapas Perempuan Kelas II A Tangerang misalnya. Dia mendampingi Ummu Absah yang merupakan temannya sendiri dan berasal dari satu kampung. Meski begitu, potensi ancaman pun bukan berarti tidak ada sama sekali.  

‘Ini satu kampung, dia tahu rumah saya, tahu keluarga saya. Apabila saya terjadi perselisihan dengan yang bersangkutan otomatis kan ada rasa dendam, makanya saya berusaha untuk membangun hubungan yang baik dengan yang bersangkutan’, tuturnya pada acara Diskusi daring WGWCseri ke 7 (27/8/2020).   

Ummu Absah menurutnya juga begitu sentimentil. Dia kadang baik, kadang marah sampai pernah mengancam Nuraini. Ancamannya seperti “Haram kalau saya nyentuh ibu, malahan darah ibu itu halal buat saya. Saya bisa bunuh ibu”.

“Loh kok tiba-tiba bunuh saya? Emang kenapa saya?,” Ujar bu Nuraini.

 ‘’Karena yang namanya thaghut itu wajib untuk dimusnahkan,” Jawab Ummu Absah suatu ketika. 

Suci Winarsih, pendamping Lapas Perempuan Kelas II A Bandung yang mendampingi  Dian Yulia Novi juga mengalami hal serupa dengan Nuraini.

Selama menjadi pendamping napiter terdapat terror via WhatsApp yang mereka terima. Dia pernah mendapat ancaman terror hingga ancaman seperti dikirimi file-file yang berisi tentang doktrin khilafah dari nomor tersebut.

Posisi rentan untuk terpapar doktrin ekstrimisme juga bisa dialami oleh para perempuan pendamping. Terlebih jika, upaya deradikalisasi ini bisa dikatakan tidak berjalan dengan mudah dan penuh tantangan.

Pendampingan Nuraini misalnya, sampai napiter keluar lapas pun masih belum berubah keimanannya. Hanya berubah cara sikap terhadap sesamanya mungkin kepada keluarganya, tetapi cara pandang keberagamaannya belum berubah sampai dia keluar, bahkan ada cita-cita untuk mengebom kembali. 

Hal serupa juga dialami oleh Suci yang mendampingi napiter perempuan selama 3 tahun. Walaupun sudah ada perubahan, namun belum ada deradikalisasi keimanan. Jadi, keimanannya belum tersentuh, bahkan sampai menjelang 3 tahun ini masih tidak mau mengikuti pembekalan keagamaan.

Maka dari itu, perlindungan bagi para perempuan dalam cengkeraman radikalisme ini perlu menjadi perhatian. 

Komisioner Komnas Perempuan, Imam Nahe’i menekankan, perempuan-perempuan napiter yang masuk dalam lingkaran radikalisme tidak serta merta bisa disebut sebagai pelaku. Namun, mereka adalah korban. Ini dikarenakan, menurutnya perempuan Napiter melakukan sesuatu tetapi mereka masih punya amir-amir dan punya abi. 

“Karena konteks besarnya ada bukan hanya relasi sosial tapi juga relasi keilmuan, perempuan itu mengikuti Amirnya dan suaminya, dengan konsep kepatuhan yang tanpa batas itu. Nah ini sesungguhnya walau dia sebagai pelaku namun hakikatnya adalah korban,’’ ujarnya dalam WGWCseri ke 7 (27/8/2020).  

Menurutnya, ketika berbicara peran dan keterlibatan perempuan dalam kelompok radikal ini, sekalipun secara kasat mata perempuan bertindak sebagai pelaku pengeboman namun kondisi lainnya yaitu perempuan tidak lepas dari ketimpangan relasi yang dialami.

“Seperti ketaatan terhadap perintah suami hingga berujung pada indoktrinasi ideologi ekstrimisme sehingga perempuan bisa disebut korban dari situasi yang berat ini,” pungkas dia. 

Penulis: Reni Eka Mardiana, Zaskia Andini Ramli, Sofia Farzanah, Annisa Syam Fatonah, dan Dinita Ayu Novela.

(Artikel ini merupakan kerjasama Konde.co, The Asian Muslim Action Network (AMAN) dan Girls Ambassadors for Peace yang didukung UN Women dalam program Girl’s Camp 2021)

Girls Ambassadors for Peace

Girl Ambassadors adalah duta perdamaian hasil program Girl's Camp 2021 yang didukung UN Women, The Asian Muslim Network (AMAN) dan Konde.co.

Let's share!

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on email