Pemikiran Penting Karl Maria Kertbeny: Orientasi Seksual Tak Pernah Tunggal

LGBT tak boleh teralienasi dari masyarakat dan dikecam di media sosial. Karl Maria Kertbeny sudah sejak 200 tahun lalu menemukan bahwa orientasi seksual tidak pernah tunggal. Ada homoseksual dan heteroseksual yang bisa hidup berdampingan

Karl Maria Kertbeny adalah orang pertama yang mengenalkan istilah homoseksual. Ia adalah seorang jurnalis, memoiris dan pejuang hak asasi manusia.

Karl Maria Kertbeny adalah orang yang menciptakan istilah heteroseksual dan homoseksual. Karyanya meliputi penerjemahan puisi dan tulisan Hongaria ke bahasa Jerman, termasuk beberapa tulisan yang membela hak homoseksual

Hal ini semakin memperjelas bahwa orientasi seksual tidak pernah tunggal. Maka tidak semestinya LGBT teralienasi dari masyarakat, kondisi mereka juga rawan menerima kecam, ancam di media sosial

Catatan Kelam 12 tahun Persekusi LGBT yang dirilis oleh Arus Pelangi pada 2018 mencatat gerak masif ujaran kebencian serta diskriminasi dari masyarakat dan aparat penegak hukum tak hanya terjadi di offline atau dunia nyata, tapi menjalar ke dunia maya. 

Dua elemen tersebut bisa dikatakan menjadi pemicu utama munculnya persekusi yang dialami oleh LGBT. Arus Pelangi memaparkan selama kurun waktu 12 tahun, terhitung sejak tahun 2006 hingga 2018, terdapat 1.850 korban persekusi LGBT.

LGBT merupakan salah satu entitas yang ada dalam masyarakat. LGBT, Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender, sebagai sebuah kelompok minoritas yang teralienasi dari masyarakat, sangat rawan menerima kecam, ancam dan atau sejenisnya. Hal tersebut terealisasi dengan baik dalam dunia nyata maupun maya. Seolah-olah menjadi LGBT adalah perbuatan dosa, mereka tidak mendapatkan ruang yang setara.

Marginalisasi LGBT tidak hanya terjadi dalam ranah sosial, namun juga berkembang di hampir semua aspek kehidupan. Bahkan, sosial media sudah menjadi salah satu ruang publik yang turut mengancam kebebasan berekspresi LGBT. Masyarakat maya banyak yang menganggap kelompok LGBT buruk serta merta melakukan diskriminasi dan intimidasi melalui media massa. 

Kenyamanan masyarakat dalam mengecam LGBT via sosial media adalah dampak dasar atas hasil dari konstruksi masyarakat. Kesepakatan kolektif serta primordialisme terhadap norma yang diberlakukan masyarakat pada kehidupan sehari-hari menjadi faktor pendukung marginalisasi LGBT skala maya dan nyata.

Ada teori tentang konstruksi sosial yang diusung oleh Peter L. Berger dan Thomas. Konstruksi sosial menurut ilmuwan tersebut adalah hubungan dialektis antara individu dengan sosial budaya melalui tiga tahap, yaitu eksternalisasi, objektivasi, dan internalisasi. Munculnya konstruksi baru yang paling dasar adalah ketika masuk di tahap eksternalisasi, karena dalam tahap inilah kesepakatan kolektif masyarakat melahirkan konstruksi baru mengenai sebuah objek terjadi. 

Konstruksi yang terbangun dapat berupa asumsi dan stigma. Asumsi dapat diartikan landasan yang dianggap benar. Sedangkan stigma selalu identik dengan anggapan mengenai sesuatu yang buruk. Posisi LGBT kerap berada pada situasi stigmatisasi.

Ragil Mahardika adalah salah satu tokoh LGBT yang berdomisili di Jerman dan terang-terangan mengungkapkan orientasi seksualnya di sosial media. Dalam setiap postingan yang dilayangkan pada sosial medianya, dapat dilihat dengan jelas persentase hujatan yang diterima olehnya. Dengan berbagai macam dalih, masyarakat mayoritas penolak LGBT melakukan cyberbullying seolah-olah Ragil pantas mendapatkannya. 

Sosial media selaku dunia maya, juga merupakan ruang berekspresi. Ketika hal serupa didapatkan oleh Ragil yang lain, bayangkan berapa banyak orang yang hidup dalam tekanan orang lain? 

Diskriminasi yang dialami oleh LGBT juga berdampak pada pemenuhan HAM mereka dari pemerintah sebagai pemangku kewajiban. Hal ini tidak lepas dari stigma terhadap LGBT yang dianggap menyimpang dari norma sosial dan mempengaruhi pendapat publik melalui media arus utama serta regulasi yang dibuat oleh pemerintah. Oleh sebab itu, sosial media juga turut menunjang ancaman hidup aman dan nyaman  LGBT. 

Hal terpenting yang perlu di garis bawahi adalah, bahwa kelompok LGBT berasal dari semua jenis kelamin, tidak hanya salah satu. Kita perlu menghargai kelompok LGBT atas dasar kesetaraan gender dan HAM. Kita perlu bersama-sama menggaungkan toleransi tinggi terhadap kelompok-kelompok marginal apapun, tidak terkecuali LGBT. Pengakuan atas nama Hak Asasi Manusia pun telah didukung oleh perundang-undangan nomor 39 tahun 1999 yang berbunyi “setiap manusia bebas dari perlakuan diskriminatif atas dasar apapun”. 

Negara seharusnya bersikap aktif dalam hal ini, karena orientasi seksual layaknya sebuah agama, pemerintah hanya perlu menghargai dan menghormati setiap keputusan individu di negaranya. Jika terjadi ancaman pada suatu kelompok atau bahkan individu, perlindungan HAM terhadap semua manusia harus dilakukan. HAM adalah milik semua manusia, tanpa pengecualian. 

Jika kita menilik status LGBT di luar negara Indonesia, salah satunya datang dari keputusan American Psychiatric Association (APA) tahun 1987 yang menyatakan bahwa LGBT bukan penyakit, melainkan wujud orientasi seksual seseorang. 

Tokoh Karl Maria Kertbeny adalah orang pertama yang mengenalkan istilah homoseksual. Hal tersebut semakin memperjelas bahwa orientasi seksual tidaklah tunggal.

Perjuangan kelompok LGBT dalam menyetarakan hidupnya turut didukung oleh  tokoh publik yang terang-terangan membuka identitas seksualnya karena merasa tidak nyaman hidup dalam batasan awam. Misalnya Stasyabwar, Julia Robex, Gebby Vesta, dan masih banyak lagi lainnya. 

Poin utama yang bisa disorot dari pernyataan orientasi seksual tersebut adalah bahwa orientasi seksual tidak mempengaruhi profesionalitas kerja, karya, atau bahkan apapun yang menyangkut kehidupan sosialnya dengan masyarakat. Orientasi seksual, identitas gender, atau juga agama bukanlah aib yang perlu disembunyikan, karena itu pilihan. Bukan juga hal yang membutuhkan persetujuan orang lain dalam merealisasikannya di hidup masing-masing. 

Dunia maya yang dihuni oleh banyak kepala manusia, merupakan ruang utama penyaluran ekspresi diri. Apapun keputusan postingan dari orang lain adalah haknya. Masyarakat perlu mengetahui seberapa besar batas perilakunya agar tetap berada di tahap toleransi. 

Setiap kepala adalah kehidupan, LGBT juga membutuhkan kehidupan yang aman, nyaman, dan tentram seperti pengguna sosial media lainnya. Jangan lupa bahwa sosial media juga kehidupan.  Dalam rangka menyuarakan kesetaraan dan menghapuskan stigma terhadap kelompok LGBT kita bisa berpartisipasi dalam forum diskusi seputar LGBT atau mengkampanyekan kesetaraan gender melalui platform apapun.

Maka, kesetaraan gender juga bisa dijunjung, didukung, dan direalisasikan melalui media-media yang kita punya!  

(Foto: Wikipedia)

Estu Farida Lestari

Jurnalis di Pers Mahasiswa Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Dimensi, UIN Sayyid Ali Rahmatullah, Tulungagung.

Let's share!

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on email