‘Rumah Bukanlah Rumah Aman bagi Kami!’: Transgender Bergandeng Tangan Pulihkan Trauma

Sebagai minoritas gender, Echa dan Tamara seringkali menjadi 'sasaran' kekerasan dan diskriminasi secara berlapis. Mereka disingkirkan dan ditolak oleh orang terdekat yang semestinya membangun 'ruang aman' bagi mereka.

“Lu bikin malu keluarga! Kalau gue tau itu duit haram, gue gak bakal mau terima!”

Echa menangis terisak. Air matanya tak terbendung. Emosinya tampak masih meluap-luap meski ia berusaha menahannya. 

Ia mengambil selembar tissue di meja, mengusapkannya ke pelupuk matanya. Ia juga menyeka bekas basah di pipi.  

Echa yang awalnya terlihat ceria dan banyak tertawa berubah menjadi lebih sendu. Suaranya mulai parau. Kata-kata yang keluar dari mulutnya pun terdengar jadi lebih berat saat mengingat kejadian tahun 2015 itu.

Di sebuah kafe bilangan Kalibata, Pancoran, Jakarta Selatan, dua pekan lalu, kami bertemu. Dia baru saja pulang dari kantor tempatnya bekerja. Dia datang bersama seorang teman yang juga transpuan, Tamara.

Meski waktu sudah menunjukkan pukul lima sore, Echa masih tampak segar dengan bubuhan make up natural. Rambutnya terurai bergelombang, berwarna coklat gelap. Tampak begitu serasi dengan gaun yang dia kenakan: nuansa hitam dan coklat keemasan.  

Seperti Jakarta yang sore itu sedang gerimis diselimuti mendung, begitulah tampaknya suasana hati Echa saat menceritakan apa yang ia alami enam tahun silam. Perempuan transgender itu mengalami kekerasan justru dari keluarga dekatnya. Itu yang membuatnya trauma selama bertahun-tahun. 

Waktu itu ia dipukul oleh kakak laki-lakinya. Abangnya tidak setuju dengan ekspresi gender Echa. Apalagi usai dia mengetahui Echa sempat menjalani profesi sebagai pekerja seks. Amarah sang kakak meluap. 

Ia memukuli Echa, yang merupakan bungsu dari enam bersaudara, di depan kakak-kakaknya. Bagi Echa, sakit akibat peristiwa itu tak hanya fisik. Echa mengalami luka batin yang membuatnya selalu menangis ketika mengingat masa-masa itu. 

“Sudah tau (dari Echa kecil), tapi dia diam-diam, akhirnya memuncak dan terjadilah pemukulan,” cerita Echa saat berbincang dengan Konde.co pada Kamis (25/11/2021).

“Kalau diingat lagi. Ada sakit hati. Kesal. Digebukin kayak maling gitu. Dibilang uang ‘haram’. Dibilang bawa sial. Dibilang bikin malu keluarga,” kata Echa sembari menepuk-nepuk dadanya, pelan. Itu adalah gesture yang sangat jelas bahwa peristiwa itu begitu membekas dan menyakiti hatinya.    

Kakak Echa yang lainnya saat itu berusaha mencegah pemukulan itu, tapi tidak berhasil. “Jangan Lu digebukin, itu adik Lu, nanti dia mati,” kata Echa menirukan ucapan kakaknya yang lain.

Saat itu hati Echa benar-benar hancur. Dia sempat membayangkan seperti apa perasaan orang tuanya seumpama masih hidup melihat anaknya dipukuli oleh saudaranya sendiri. 

Echa yang kalut memutuskan minggat dari rumah hari itu juga. Dia kemudian mengontrak sepetak rumah sederhana yang lumayan jauh dari kediaman awalnya. Terpenting dia bisa pergi dari rumahnya itu. 

“Itu di sepanjang jalan dari rumah, sambil nangis, karena kan gak ada orang tua, gue ngadunya ke siapa?” kata Echa. 

Tamara, sahabat Echa yang sama-sama transpuan, juga mengalami hal serupa. Hatinya begitu sakit saat orang terdekatnya sempat tidak menerima ekspresinya sebagai transgender perempuan, pada 2017 lalu.

“Pas coming out (melela) sebagai transpuan, dulu aku sering banget, intens, sebulan sekali ke rumah kakak. Pada saat penampilanku berubah, aku agak kaget pas kakakku bilang di telepon ‘kalau bisa mah kamu jangan main ke rumah teteh ya’. Itu kakakku sendiri,” cerita Tamara kepada Konde.co.

“Kalau ngomongin ini, aku suka kesal pastinya. Sedih juga,” lanjutnya. 

Perlakuan buruk tak hanya datang dari lingkungan terdekatnya. Tamara, yang pernah menjadi pekerja seks, juga pernah mendapatkan perilaku tak manusiawi dari pelanggannya.

Ia pernah dilempari batu dan dilempari air kencing. 

“Dari 2010, pasti orang ada yang transphobic. Gak ada sebab, itu orang bisa mukul,” kata Tamara.   

Sebagai minoritas gender, Echa dan Tamara mengaku seringkali menjadi ‘sasaran’ kekerasan dan diskriminasi secara berlapis. Mereka disingkirkan dan ditolak oleh orang terdekat yang semestinya menjadi ‘rumah aman’ bagi mereka. Ada kekerasan dari masyarakat dan menghadapi aturan-aturan yang diskriminatif dari negara.

Diskriminasi Naik Kala Pandemi

Tak mudah menjadi transgender di negeri ini. Selain mendapat kekerasan dan diskriminasi berlapis sejak mengekspresikan pilihan gendernya di lingkungan keluarga, mereka pun kerap ‘dipinggirkan’ secara sistematis. Terlebih saat pandemi. Kondisi ekonomi yang memburuk membuat mereka semakin rentan.

Echa dan Tamara mengatakan, pandemi membuat hidupnya makin sulit akibat pemutusan hubungan kerja (PHK). Disusul dengan pengusiran dari kontrakan karena ia tak mampu membayar uang sewa. Itu menambah trauma yang dialaminya.

Laporan Studi Dampak COVID-19 terhadap Situasi Sosial, Ekonomi, dan Hukum Kelompok Keragaman Seksual dan Gender di Indonesia,” oleh Konsorsium CRM menyoroti kondisi kelompok LGBTQ yang semakin terhimpit oleh problem multidimensi, baik secara ekonomi, sosial dan hukum. Termasuk kekerasan.

Berdasarkan hasil survei tersebut, 94 responden (31.3%) menyatakan pernah mengalami kekerasan psikologis/emosional selama enam bulan terakhir. Dibandingkan kekerasan lain, jenis ini yang tertinggi. 

Sebanyak 7 orang (44%) responden mengaku, pelaku kekerasan terhadap mereka adalah pasangannya sendiri. Sebanyak 6 orang (38%) mengatakan pelaku kekerasan adalah anggota keluarga intinya. Artinya, mayoritas pelaku kekerasan fisik adalah orang dekat.

Echa kini menjadi pendamping bagi transpuan di Jakarta Raya. Ia menceritakan, banyak teman-teman transnya yang mengalami trauma. Salah satunya adalah seorang transpuan yang menyaksikan temannya dibakar hidup-hidup, April 2020 lalu. Transpuan bernasib nahas itu bernama Mira.

Saat itu teman Echa tersebut bersama Mira saat terjadi kekerasan itu. Ada enam orang yang tak hanya melakukan persekusi, tapi juga membakar Mira karena dituduh mencuri. Teman Echa itu berusaha membantu tapi tak bisa menyelamatkan nyawanya.

Usai api disulut para pelaku, saksi itu sempat berteriak kepada para pelaku untuk bertanggung jawab. Namun nihil, prasangka negatif para pelaku bahwa Mira mencuri hingga dimungkinkan ada kebencian terhadap transgender (transphobic), menjadikan para pelaku gelap mata. 

Mira meninggal dunia pada keesokan harinya setelah sempat dibawa ke rumah sakit. Peristiwa itu membuat teman Echa itu ketakutan dan depresi. 

“Dia sampai mau bunuh diri. Dia hubungi aku, Echa, aku mau bunuh diri,” kata Echa menirukan pengakuan teman trans-nya itu.

Sebagai pendamping, Echa juga terdampak oleh cerita-cerita memilukan para korban yang didampinginya. Kasus kekerasan hingga kematian yang menimpa teman-temannya juga memicu trauma bagi dirinya. 

Salah satu yang membuat Echa terpukul adalah saat satu kawan transpuannya ditemukan meninggal dunia. 

Layaknya menjadi tujuan teman-temannya ketika ada masalah, Echa seolah juga harus siaga sepanjang hari. Nyaris tak ada waktu istirahat. Sebab kasus kekerasan dan diskriminasi terhadap trans bisa kapan saja terjadi. 

Kebanyakan dari mereka, kata Echa, juga menanggung luka trauma dan membutuhkan penguatan. “Echa jadi pendamping dan sekaligus ‘psikolog’ bagi dia,” kata Echa. 

Kanzha Vinaa, seorang pendamping yang juga koordinator di Sanggar Swara, menceritakan, pandemi banyak memicu trauma bagi para transpuan.

Kata Kanzha, ada transpuan yang mengalami persekusi hingga pengusiran akibat dituduh menyebarkan virus. Ada juga yang ‘terusir’ akibat tidak mampu membayar uang sewa kontrakan.  

“Akhirnya muncul inisiatif dari teman-teman yang tadinya mereka tinggal sendiri-sendiri, menjadi beberapa orang yang tinggal bersama,” ujar Kanzha saat dihubungi Konde.co, Rabu (30/11/2021).

Satu peristiwa pendampingan yang membuat hati Kanzha teriris adalah saat salah seorang trans ditemukan meninggal dunia. Awalnya tidak terlihat selama tiga hari. Saat pintu kontrakannya didobrak, dia sudah ditemukan tidak bernyawa.

“Kamu bayangin, di sampingnya itu ada nasi sama telor ceplok yang baru disendok sedikit, tapi dia gak makan. Itu aku ngerasa ini kayak mungkin dia masih mau hidup tapi gak sanggup makan aja. Ini bikin aku patah hati,” kata Kanzha.

Berbagai peristiwa tragis yang menimpa temannya itu membuat Kanzha sempat membuat mentalnya breakdown

Pengalaman sama dialami oleh Amek Adlian, dari Cangkang Queer dan Transman Indonesia. 

Menangani ratusan kasus korban kekerasan dan diskriminasi secara intens, menyebabkan secondary trauma (merasakan trauma korban) hingga menjadikannya harus melakukan upaya pemulihan juga. 

“Aku memutuskan untuk istirahat tiga bulan. Tapi kan gak semua orang punya kemampuan, ‘OK aku istirahat’. Karena kan kita dididik untuk (seolah) kerja terus. Jadi superhero, ada ekspektasi orang,” ujar Amek saat dihubungi Konde.co, Kamis (2/12/2021). 

“Tapi aku butuh (istirahat), karena seandainya aku membiarkan, justru akan berdampak ke kawan-kawan lainnya,” imbuhnya. 

Bergandeng Tangan Pulihkan Trauma 

“Rumah bukanlah rumah bagi kami.” Itu adalah sepenggal kalimat yang menurut Amek bisa menggambarkan masalah krusial bagi minoritas gender seperti transgender. Selama ini, terlebih saat pandemi, mereka banyak mendapatkan kekerasan dan diskriminasi di rumah mereka sendiri. 

Dari berbagai pendampingan kasus, Amek menangkap pola kekerasan dan diskriminasi pada transgender sebetulnya memiliki akar yang sistematis. Dia menerangkan, ada perbedaan yang terlihat dari transpuan dan transpria secara struktural yang berdampak pada trauma yang khas. 

Pada transpuan, kata Amek, pria yang kemudian mengekspresikan gendernya sebagai perempuan ini dikonstruksikan secara sosial sebagai sosok laki-laki yang harus maskulin dan cenderung lebih bebas mengekspresikan dirinya. Kecuali tidak boleh kemayu ataupun menangis. 

Sementara para transpria mengalami pengalaman sebagai perempuan yang seringkali harus tampil feminin dengan banyak standar sosial. Mereka tidak boleh berekspresi terlalu bebas dengan berbagai bentuk aturan. Menurut Amek, ini yang menjadikan mereka mengalami trauma berlapis-lapis saat menjadi transpria. 

Inilah sebabnya, kata Amek, transpuan cenderung akan lebih ‘muncul’ dan relatif cepat berjejaring dibandingkan transpria. 

“Kalau gerakan transpuan itu kan di awal 60-an, sementara transpria baru muncul sekitar tahun 2014. Jadi itu juga mempengaruhi keberadaan teman-teman (terbuka mengekspresikan identitas gendernya),” ujar pendiri Jaringan Transgender Indonesia itu.

Lalu, bagaimana peran komunitas transgender dalam pemulihan trauma? 

Echa dan Tamara merasakan sendiri pentingnya dukungan komunitas bagi penguatan secara psikologis. Termasuk mengatasi trauma yang selama ini mereka alami sehingga akhirnya mampu membantu sesama transgender.

Selama ini komunitas biasanya menyediakan layanan konseling akses psikolog profesional jika memang membutuhkan. Di samping itu, kata Echa, peran utama komunitas adalah menjadi ‘ruang aman’. 

Kepercayaan di antara mereka itu tumbuh karena mengalami kesulitan yang sama. Inilah sebabnya mengapa banyak kasus transgender yang ditangani Echa dan Tamara. Mereka lebih nyaman bercerita dengan sesama komunitasnya. 

Kanzha menambahkan, komunitas trans yang dipimpinnya juga pernah menyelenggarakan kelas mental health issues sampai sesi sharing. Tujuannya, agar satu sama lain saling menguatkan dan paham apa yang perlu dilakukan jika sedang tidak baik-baik saja. 

“Temen-temen tuh, kayak ada jargon karena hidup kita sudah sulit sekali. Jadi kalau ngomongin mental health itu kayak apa sih, kayak udah kebal gitu loh! Teman-teman kayak malu atau sungkan gitu, kalau ngomongin kecemasan, karena dari kecil emang hidupnya dipenuhi kecemasan,” jelas Kanzha. 

Kata Kanzha, banyak transpuan berusaha menertawakan masalah yang membuatnya trauma. “Itu salah satu bentuk release (pelepasan) sebenarnya,” katanya. 

Selain upaya-upaya edukasi dan menyediakan forum berbagi di komunitas, kata Kanzha, support system per orang selama ini cukup jadi cara andalan. Itulah yang dilakukan bila mereka enggan bercerita untuk melepaskan traumanya.

(Artikel ini merupakan program fellowship Trauma korban yang diselenggarakan Deutsche Welle (DW) Akademi, Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia dan Kementerian Luar Negeri Jerman).

Nurul Nur Azizah

Bertahun-tahun jadi jurnalis ekonomi-bisnis, kini sedang belajar mengikuti panggilan jiwanya terkait isu perempuan dan minoritas. Penyuka story telling dan dengerin suara hujan-kodok-jangkrik saat overthinking malam-malam.

Let's share!

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on email