7 Film Feminis yang Menambah Makna Tahun Barumu

Menemani libur akhir tahunmu, Konde memilihkan 7 film yang mengisahkan persahabatan tunawisma dan binatang piaraannya, kisah korban kekerasan seksual, atau kisah perjuangan perempuan di dunia maya.

Momen pergantian tahun saatnya melakukan kontemplasi. Bagi kamu yang ingin memanfaatkan libur tahun baru untuk tetap rebahan santai di rumah sambil merenungkan perjalanan sepanjang 2021, sembari menyusun rencana di tahun depan, bisa banget buat nonton film seru feminis dari dalam dan luar negeri yang Konde.co telah rangkum berikut ini. 

Jadi tak kudu pergi ke luar kota atau destinasi wisata. Apa saja temanya, mulai dari kisah persahabatan tunawisma dan binatang piaraannya, kisah korban kekerasan seksual, atau kisah perempuan di dunia maya. Jadi, langsung simak. Gimana kalau sendiri? Tetap bisa dan dijamin happy

1.Love Hard

Love Hard adalah salah satu perwujudan kemurah-hatian para ‘dewa’ Netflix untuk menghadirkan lusinan komedi romantis bertema liburan di tahun ini. Di film ini kamu akan menonton setiap orang dengan minuman panas di tangan. 

Film ini mengisahkan Nina Dobrev sebagai Natalia, seorang jurnalis Los Angeles yang entah bagaimana tidak dapat menemukan pasangan yang tepat. Sampai ia bertemu Tag (Darren Barnet dari Never Have I Ever) di aplikasi kencan. 

Merasa menemukan pasangan impian, Natalia pun memutuskan untuk terbang ke Lake Placid untuk merayakan Natal  sekaligus memberi kejutan untuk Tag. Tak disangka, Tag ternyata adalah Josh yang slebor. Tapi mungkin sebenarnya cukup manis juga ya. Jadi kalau ingin tahu bagaimana ending hubungan Natialia dan Tag, saksikan film ini sampai habis. Ringan, menghibur dan tak perlu banyak mikir

2.A Gift from Bob 

Kisah liburan ini sebenarnya sudah ditayangkan perdana di Inggris tahun lalu, tapi A Gift from Bob baru diputar di Amerika Serikat pada Desember ini, dan akhirnya tersedia di jaringan streaming jelang pergantian tahun 2021. 

A Gift from Bob yang disutradarai Charles Martin Smith dan James Bowen adalah sekuel dari A Street Cat Named Bob, cerita best seller yang pernah popular bertahun silam. Luke Treadaway, Anna Wilson-Jones, Kristina Tonteri-Young, dan Bob The Cat menjadi pemeran di film ini. Film ini sangat cocok untuk ditonton oleh pencinta kucing.

Bob adalah seekor kucing oren yang viral pada 2016 dan mati pada pertengahan 2020 lalu. James Bowen, pemilik kucing menuliskan kisahnya dengan Bob dalam  ‘A Street Cat Named Bob”. 

A Christmas Gift from Bob adalah film untuk mengenang kisah kucing oren bernama Bob milik James Bowen ang begitu menginspirasi banyak orang. Bob merupakan kisah nyata kehidupan James Bowen, seorang tunawisma di London, Inggris. Ia juga seorang pecandu heroin. Sewaktu mengikuti rehabilitasi, James bertemu dengan Bob. Petang hari ketika dirinya sedang mandi, suara berisik datang dari dapurnya. James sempat mengira itu suara perampok, dan ternyata hanya seekor kucing oren yang lapar. 

James dan Bob kemudian berteman dan saling memiliki. Keadaan James berubah sejak ia menemukan Bob. Rasa memiliki dan bertanggung jawab memupuk sejak ia menjadikan Bob sebagai sahabatnya. James dan Bob melewati masa-masa sulit bersama. Merasakan dinginnya London tanpa penghangat ruangan, makan seadanya, dan tidak mandi untuk beberapa hari karena tak mampu membayar tagihan listrik. 

James membawa Bob mengamen di jalanan untuk mendapatkan uang. Terkadang James juga menjual surat kabar dari The Big Issue, di London. Karena suatu masalah, James pergi mengamen tanpa Bob. James paham ketika Bob tidak ingin keluar rumah. Namun, saat James pulang ia mendapati kucing kesayangannya muntah sangat banyak dan terlihat lemas. 

Beruntung Bob bisa diselamatkan. Pada natal sebelum Bob akhirnya meninggal pada usia 14 tahun. Bob mendapatkan banyak kado natal dari pecintanya di seluruh London. Bahkan James terhindar dari dirampasnya Bob oleh Badan Kesejahteraan Hewan London melalui banyak surat, email, dan petisi online yang dibuat oleh Moody kawannya.

3.27 Steps of May (2019) 

Sejak hampir tiga tahun usai dirilis, saat ini film 27 Steps of May sudah bisa disaksikan di Netflix. Film ini menyorot tentang trauma pemerkosaan yang awet dan bersifat depresif.

Film ini bercerita tentang May (Raihaanun) yang pada suatu malam usai menikmati wahana perahu kora-kora di pasar malam, mengalami pemerkosaan sekelompok pria berbadan besar yang tiba-tiba menyeret May ke sebuah gudang. 

May kala adalah seorang perempuan berusia 14 tahun yang masih menggunakan seragam sekolah kala kejadian menyedihkan itu terjadi. Kedua tangan dan kakinya diikat ke kaki-kaki meja tempat May secara paksa dibaringkan. Hingga kemudian para pelaku itu bergantian memerkosa May. 

Delapan tahun usai kejadian pemerkosaan itu, May mengalami trauma berat. Dia bahkan tidak pernah mengucapkan sepatah kata pun. Saat rumah tetangganya sedang kebakaran pun, dia tidak mau keluar kamar.

4.Mona Lisa Smile (2003)

Film “Mona Lisa Smile” adalah film tentang gambaran seorang dosen feminis, yang memperjuangkan agar mahasiswanya keluar dari cara berpikir feodal yang kadang tak membuat mereka bahagia

Kisah ini terjadi dalam kehidupan perempuan dosen sejarah seni bernama Katherine  Ann Willis (Julia Roberts) di kota Wellesley bersama para mahasiswinya, Betty (diperankan Dunst), Joan (Stiles), Giselle (Maggie Gyllenhaal), Connie (Ginnifer Goodwin) dan Amanda yang diperankan Juliet Stevenson di Wellesley College pada tahun 195, tahun dimana terjadinya Perang Dunia ke-2 di sana.

Tak banyak yang mau menempuh jalan seperti Katherine, yang “sendirian” mendobrak tabu. Keberanian, dedikasi Katherine adalah hal yang tak banyak ditempuh orang lain disana. Di sinilah kekuatan Katherine sebagai seorang perempuan dosen dan menjadi kekuatan Mona Lisa Smile, menularkan keberanian di tengah arus yang tak berpihak padanya. 

Film ini juga begitu tampak realistis dalam menggambarkan kehidupan perempuan di Amerika pada saat itu. Sejauh perempuan di Whellesley College mendapatkan akses pendidikan yang sama, namun nyatanya dalam kehidupan sehari-hari mereka masih belum mencapai posisinya setara.

Film Mona lisa Smile memperlihatkan bahwa upaya merekonstruksi identitas perempuan adalah proses panjang. Sehingga, jika sebuah konsep baru ditanamkan dalam struktur masyarakat, ini bisa menjadi pengetahuan baru bagi masyarakat

5.Pink (2016)

Film Pink mengangkat pesan penting tentang para perempuan yang berjuang demi keadilan. Tiga perempuan bernama Minal, Falak dan Andrea yang menjadi korban kekerasan seksual dari seorang pria bernama Rajveer.

Salah seorang perempuan bernama Minal, sempat melawan Rajveer saat dia melakukan pemerkosaan. Mina memukul keras yang mengakibatkan luka yang serius. Saat ketiga perempuan itu membawa kasus pemerkosaan ke pengadilan, seorang pengaca yang juga tetangga mereka memang membantu para perempuan itu. 

Namun, kondisi masyarakat sekitar yang masih begitu misoginis dan patriarki menjadi masalah lain. Perempuan dalam kasus kekerasan seksual, lagi-lagi disalahkan. Mereka menganggap perempuan yang keluar malam adalah pekerja seks hingga pemerkosaan yang mereka alami seolah adalah kesalahan dari perempuan.

6.Yuni (2021)

Meski sudah tayang di bioskop dari awal Desember 2021 lalu, film Yuni tetap layak untuk ditonton di momen tahun baru 2022. Film Yuni bercerita tentang kegamangan tokoh utama bernama Yuni (diperankan Arawinda Kirana), remaja perempuan berusia belasan tahun yang akan segera meninggalkan bangku Sekolah Menengah Atas (SMA).

Di tempat tinggal Yuni masih kental mitos-mitos untuk perempuan. Jika sampai menolak lamaran lebih dari dua kali, kata orang-orang sekitarnya akan sulit mendapat jodoh. 

Melalui Yuni, akhirnya kita mendapatkan representasi kehidupan remaja perempuan yang tidak berbahasa lor-gue. Yuni tinggal di Cilegon, Banten, dan sehari-hari menggunakan bahasa Jawa-Sunda Banten.

Film Yuni berusaha mengingatkan kita bahwa perkawinan anak masih menjadi “pekerjaan rumah” di Indonesia. Dalam film ini, perkawinan anak erat kaitannya dengan budaya patriarki sebagai bagian dari menjaga moralitas hingga melanggengkan konservatisme Islam. 

Lingkungan yang masih melanggengkan patriarki ini menganut paham, bahwa Perempuan itu begitu “istimewa”. Perempuan kemudian dianggap perlu dijaga nilai dan nama baiknya. Namun, caranya malah seringnya justru dengan merenggut kebebasan perempuan. 

Bahkan dengan mengikis kemampuan dan kepercayaan diri perempuan dalam menentukan pilihan hidupnya sendiri. Begitulah yang terjadi pada Yuni. 

7.Penyalin Cahaya (2021)

Sutradara Wregas Bhanuteja dalam film Penyalin Cahaya ini, dengan apik bisa mengangkat isu tentang kekerasan seksual. Melalui medium film, Wregas ingin menyuarakan bahwa kekerasan seksual saat ini sudah begitu darurat.

Kekerasan seksual seringkali disepelekan oleh masyarakat. Bahkan, para korban seringkali mendapat stigma negatif dan tidak mendapat dukungan. Padahal, korban rentan mengalami depresi hingga trauma. 

Untuk membuat film ini, Wregas diketahui telah melakukan riset dari berbagai macam berita tentang kekerasan seksual dan cerita-cerita orang disekitarnya. Dia juga terinspirasi pula kisah Baiq Nuril yang justru dituntut balik karena melaporkan kasus kekerasan seksual yang menimpanya. 

Kisah itu diperankan oleh Sur (Shenina Cinnamon) yang melawan sistem yang tidak mendukung penyintas dalam mengungkapkan kebenaran. Saking kerennya, Penyalin cahaya masuk dalam program kompetisi utama New Currents di ajang Busan International Film Festival (BIFF) 2021. 

Jadi, tunggu apa lagi? Yuk segera tonton!

Nurul Nur Azizah

Bertahun-tahun jadi jurnalis ekonomi-bisnis, kini sedang belajar mengikuti panggilan jiwanya terkait isu perempuan dan minoritas. Penyuka story telling dan dengerin suara hujan-kodok-jangkrik saat overthinking malam-malam.

Let's share!