Tak Mudah Jadi Waria, Apalagi Jadi Waria Pekerja Seks

Susahnya hidup sebagai waria atau transpuan dialami oleh Shinta. Lebih susah lagi hidup jadi waria yang juga pekerja seks.Pertanyaan-pertanyaan tentang kenapa memilih hidup sebagai waria atau sebagai waria pekerja seks selalu memenuhi kepala Shinta. Padahal itu pertanyaan yang sulit ia jawab.

Shinta berlinang air mata. Dia sedang membeli gorengan di jalan akibat lapar yang dia rasakan, namun tak ada sepeserpun uang di kantong. 

“Berilah aku makan,” ucap Shinta kepada penjual gorengan. 

“Ini sedang musim pandemi, aku tidak memiliki penghasilan, lokalisasi ditutup,” lanjut Shinta yang merupakan seorang waria atau transpuan itu. 

Penjual gorengan itu menatap Shinta, seolah mendengus kesal. Ia menghitung sudah berapa kali Shinta berhutang di warungnya. 

“Hutang mu saja belum lunas. Kau masih mau nambah lagi? Bagaimana kau ini, apa kau tak ada uang sama sekali?.”

Perkataan itu menusuk hati Shinta. Tapi, dia tak kehabisan akal. Dia berjanji, kalau dia telah dapat uang dari pekerjaannya, bisa segera melunasi. 

“Aku akan melunasinya. Setelah nanti lokalisasi Pasar Kembang dibuka dan aku dapat melacur lagi,” kata Shinta.  

Penjual gorengan itu pun memaklumi. Bahkan, dia kemudian menambahkan nasi berkat dan diberikannya pada shinta. Shinta lalu pulang dan menangis, ia menyesali diri, bahwa hari ini ia tidak dapat uang dari pekerjannya sebagai pekerja seks.

Dalam menjalankan pekerjaannya, Shinta pun sering dibuat bingung dengan ‘harga’ yang dipatok untuk pelanggannya. Selama ini, harga jasa dari pekerja seks waria seperti dirinya, selalu menjadi perdebatan oleh teman teman sesama pekerja seks. Karena masing masing memang berbeda. Ada yang sampai banting harga bila tamu tak kunjung dapat. 

Dari hati, sebetulnya dia tak bermaksud, menjadi pekerja seks waria. Awalnya dia pikir, ia akan mudah mendapat pekerjaan, namun memang susah. Karena apa? Karena identitasnya yang waria itu. 

Ia menangis kembali. Di kamar, ia mengingat masa kecilnya. Ia selalu diolok olok sebagai “banci”. Kata-kata itu benar benar aneh didengar di telinga konon setelah dewasa ia mengerti artinya itu adalah “bandule cilik” Ia juga sering disebut wandu. Wanita dudu artinya bukan wanita. 

Betapa menyakitkan ya mengenang itu. 

Anehnya, ia justru merasakan perubahan jiwanya saat itu. Shinta muda lebih suka berkumpul bersama perempuan, perasaannya halus bagai benang sutra yang mudah terurai. Namun mudah putus. Dan luka itu kembali menganga kembali. 

Shinta akhirnya dijuluki wandu. 

Ah, nama yang menyebalkan pikirnya waktu itu. Namun itulah kenyataannya. 

Shinta kembali sadar akan dunia nya. Ia adalah seorang waria, yang memiliki penis. Shinta pandai sekali memasak. Semua jenis makanan, selalu saja sedap rasanya jika shinta yang meraciknya. Ia juga pandai merawat hal hal terkecil dari dirinya. 

Hanya saja, Shinta malu jika ia dihina sebagai perempuan berpenis. Namun tak jarang, perasaan malu itu, ia bungkus dengan ketegaran. 

Keesokan harinya Shinta selalu kembali bekerja. Namun, lokalisasi masih tutup. Tak habis akal ia mencari tamu lewat Facebook live. Di situ, ia mendapat langganan yang mau memakai jasa seksnya. 

Singkat cerita, mereka bertemu di hotel. Shinta terkaget-kaget karena laki-laki yang menggunakan jasanya itu berseragam polisi. Meski ada perasaan takjub, dia juga takut. Takut bila ia dijebak, dan takut bila nanti polisi itu menahannya karena tak patuh aturan pada masa pandemi. 

Kemudian, Shinta bertanya:

“Kenapa kau menikmati seks denganku” ? 

Laki-laki berseragam polisi itu menjawab, “Karena mukamu seperti ibuku.” 

Shinta mengernyitkan dahi tak percaya dan terbelalak. 

Dijawab Shinta sopan, “Ah kau bercanda. Jangan bawa bawa nama orang tua dalam pembicaraan kita.”

Dia kemudian menimpali, “Meskipun ini ‘amoral’ aku menikmatinya.”

“Dan kau tahu? Yang ku suka darimu adalah, kau berpenis besar, dan pandai dalam variasi seks diranjang,” ujar laki-laki itu kepada Shinta lagi. 

Shinta malu sekali dengan perkataan itu, namun Shinta itu tak menggubris sampai menyelesaikan hubungan seksual dengan laki-laki itu. Dia lalu membersihkan badannya dengan sabun pewangi beraroma mawar di kamar hotel. Setelah itu, meminta bayaran dan kemudian pulang. 

Shinta bergegas mengganti harinya dengan melakukan perawatan tubuh yang biasa dipakai. 

Keesokan paginya, shinta sudah tampak berjalan menuju seorang perempuan yang berjualan gorengan. Di sana, Shinta kesal sekali, saat beberapa kali ada saja orang yang menggunjingkan waria dan kehidupannya.

Mereka mengatakan macam macam gosip bahwa waria seharusnya balik ke kodrat, dan akan lebih tampan jika ia menjadi laki laki. 

Itu menyebalkan. Shinta tak membalas hanya diam saja ketika itu dibicarakan. 

Sampai, satu celetukan yang begitu membakar emosi Shinta. Ada yang bilang kalau perempuan berpenis itu bersetubuhnya bagaimana ya? 

Seorang laki-laki itu terang-terangan bertanya pada ibu bersanggul saat membeli makanan di warung itu. Shinta lalu menumpahkan es teh manis ke kepala orang itu. 

Pertanyaan melecehkan, pikir Shinta.  

Dia menegaskan, memang tidak semua waria itu menyesuaikan kelamin dengan operasi. Tapi, jika ada laki laki yang memilih waria sebagai pasangan seks artinya laki laki itu memilih, memilah, memikirkan matang matang apa yang harus dilakukan ketika berhubungan seksual. 

Berhubungan seksual dengan waria bagi shinta, juga tidak sama dengan berhubungan seksual sesama laki laki. Karena shinta merasa yakin waria itu perempuan. 

Setelah puas menyiramkan air. Shinta langsung pulang ke kontrakannya dan melihat laki-laki itu masih terkaget-kaget melihat Shinta nekat melakukan itu. 

Keesokan harinya, desas-desus atas apa yang terjadi pada Shinta kemarin itu, tersebar di warung ibu bersanggul. Shinta dikatakan nekat marah dan menuangkan es teh kepada seorang laki-laki. 

Sekarang semakin banyak sekali, orang-orang yang jajan di warung itu yang akan menatap tajam Shinta. Situasi yang membuatnya menjadi semakin merasa bersalah. Meski, ada pula perasaan puas di Shinta, bahwa dia telah berani melakukan hal yang melecehkannya. 

Suatu hari, polisi yang telah menjadi langganan shinta untuk memuaskan kebutuhan seksualnya, mengabari untuk mengajaknya bertemu. 

Shinta lalu berdandan cantik untuk berkencan bersama polisi yang tampan itu. Mereka kemudian bertemu, dan akhirnya saling nyaman menjadi teman bercerita. Dia memang sempat merasa apa yang dilakukannya salah, namun pertemanan baik dari polisi itu tidak akan dilewatkan nya begitu saja. 

Di tengah pertemuan itu, Shinta merasakan tatapan yang tajam bak busur panah. Dia kemudian melihat sosok perempuan yang berjalan bergegas menuju ke arahnya dan polisi itu. Firasat buruk kemudian datang padanya.

Tiba tiba perempuan itu bilang, “Kau memang memalukan bagaimana mungkin kau bisa berselingkuh dengan seorang waria?” 

Pukulan mendarat ke pipi polisi. Polisi berusaha menenangkan adegan dramatis yang terjadi. 

Shinta terdiam. Ia pergi untuk menyelamatkan diri. 

Di sepanjang perjalanan pulang shinta menangisi dirinya sendiri. Ia menyesali kenapa dia menjadi waria? Kenapa seolah menjadi waria itu memalukan? Karena dipertanyakan terus-menerus moralitasnya? Dan yang paling parah, bahwa seolah-olah waria harus menjadi individu yang tidak diinginkan? Dan ia telah melukai perempuan istri polisi itu?

Pertanyaan-pertanyaan itu memenuhi kepada Shinta. Namun, dia tidak ingin menjawabnya. Dia hanya ingin menangis saja.

Jessica Ayudya Lesmana

Penulis Waria Autodidak dan Kontributor Konde.co

Let's share!

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on email