Buku ‘Ada Serigala Betina dalam Diri Setiap Perempuan’: Stop Menjinakkan Perempuan

Seperti serigala, perempuan punya indra yang tajam, intuisi kuat, kepedulian terhadap sesama, keberanian, kemampuan beradaptasi. Namun sayangnya ini semua kerap dijinakkan oleh sistem patriarki.

Serigala betina. Frasa ini yang terus terngiang-ngiang dalam kepala selepas saya menamatkan buku Ester Lianawati yang berjudul Ada Serigala Betina dalam Diri Setiap Perempuan (EA Books, 2020)

Di dalam buku yang dibungkus sampul berwarna ungu itu, Ester mewartakan sesuatu yang benar-benar dibutuhkan masyarakat dewasa ini: rasa aman, kepedulian, kepekaan, dan upaya-upaya lain terkait pembebasan perempuan. Misi utama buku itu jelas: mendobrak sistem masyarakat yang masih patriarki.

Sekilas, mungkin frasa serigala betina itu terdengar ‘galak’. Saya sendiri saat kali pertama membacanya, menduga, frasa itu berujung pada sesuatu yang berkonotasi negatif. Padahal, yang dimaksudkan Ester justru sebaliknya. 

Serigala betina yang dijelaskan Ester justru berada di koridor positif. Kalau diusut, frasa itu Ester ambil dari buku Women Who Run With the Wolves karya penulis Amerika sekaligus psikoanalis Jungian, Clarissa Pinkola Estes.

Menurut Ester, sejalan dengan penuturan Clarissa, ada kesamaan antara perempuan dengan serigala betina. Ester melihat, keduanya sama-sama memiliki indra yang tajam, intuisi kuat, kepedulian terhadap sesama, keberanian, kemampuan beradaptasi dalam berbagai situasi dan kondisi, serta kekuatan, dan daya tahan. Sayangnya, naluri dari serigala itu selama ini ditekan oleh nilai dan sistem yang ada di masyarakat. Sekian lama budaya patriarki berupaya menjinakkan perempuan. Perempuan hidup dalam ketakutan untuk bertindak dan mengambil keputusan (halaman 115).

Ketakutan itu menjelma menjadi kekhawatiran-kekhawatiran. Nilai yang mengungkung itu kadung diaminkan masyarakat terhadap para perempuan. Bahwa setiap tindakan, keputusan, dan pilihan-pilihan yang hendak diambil perempuan, masih tidak bisa sepenuhnya lepas dari bayangan keluarga atau masyarakat di sekitarnya. 

Padahal, nilai-nilai itu sering menjelma sesuatu yang mengikat, yang membatasi gerak, yang mengkerangkeng jalan dan kebebasan menentukan arah hidup.

Parahnya lagi, dalam banyak masyarakat di dunia, nilai-nilai itu sudah ada sejak berabad-abad yang lampau. Ester mengelaborasi bagian ini dalam uraian soal sisi patriarkis yang ada pada bidang psikologi dan sejarah umat manusia. 

Di koridor sejarah, ia menjabarkan tentang eksistensi figur yang disebut “penyihir perempuan”. Adapun dalam bidang psikologi sendiri, Ester mengupasnya secara khusus di bab pertama bukunya, Psikologi Feminis: Apa dan Bagaimana. Di bab ini, Ester memfokuskan bahasan pada psikologis feminis. 

Ester menjabarkan bahwa aspek-aspek psikologi selama ini masih diwarnai oleh nilai-nilai yang patriarkis. Ia lantas membandingkan antara psikologi laki-laki dan perempuan. 

Penjelasan yang paling banyak mengenai topik bahasan soal psikologi tersebut, selama bertahun-tahun ini memang tidak terlepas dari sangkutan teori-teori yang dikemukakan oleh ahli psikoanalis yang hidup di Austria abad ke-19 itu, yakni Sigmund Freud.

Membedah Pemikiran Freud: Benarkah Misoginis? 

Dari uraiannya, Ester mengajak pembaca merenungi kembali bahasan pelbagai teori Freud yang, di satu sisi terbaca misoginis

Kita akan mendapati beberapa anggapan misoginis Freud bahwa psikis perempuan kurang stabil dibandingkan laki-laki, atau dengan kata lain mereka cenderung histeris atau temperamental (berubah-ubah). 

Di sisi lain, perkara alat vital dalam anatomi tubuh manusia pun tak terlepas dari pijakan analisisnya. Freud menganggap, anak perempuan seperti anak laki-laki yang tidak normal, aneh, yang tidak punya penis karena penisnya telah dipotong. Ada yang “kurang” dari diri anak perempuan (yaitu penisnya) sementara anak laki-laki “sempurna” karena ia tidak kehilangan apapun karena penisnya tetap ada. 

Perkembangan psikis anak perempuan juga dianggap sebagai penyimpangan dari perkembangan psikis anak laki-laki yang, meminjam istilah Simone de Beauvoir, Freud melihat perempuan sebagai the other, yang liyan, atau sebagai seks yang kedua. (Hal. 44)

Kendati begitu, dalam telaah berikutnya, Ester menunjukkan dialektis yang mengkaji ulang benar atau tidak sosok Freud ini sebagai seorang misoginis. Hal itu dia jabarkan misalnya, bisa dilihat dari buku Freud on Woman (1990) karangan Elisabeth Young-Bruehl yang berisi teori-teori Freud yang disusun sedemikian rupa untuk menunjukkan evolusi dari pemikiran-pemikiran Freud. 

Di situ, kita akan mendapati bahwa sejalan dengan pendapat Laufer (2014), yang mengajak kita untuk tidak serta-merta menelan pemikiran Freud yang dipandang misoginis. Sebab, bagaimanapun, pemikirannya menjadi respons atas nilai-nilai yang dikandung masyarakat pada masa itu. 

Dari situ, bisa dikatakan, Freud memiliki pandangan yang sama dengan Simone de Beauvoir, bahwa “kita (perempuan) tidak terlahir perempuan, tetapi kita menjadi perempuan”. 

Dalam kalimat itu, ada peran nilai-nilai dan campur tangan masyarakat yang membentuk atau menciptakan jalan, pemikiran, dan batasan seorang perempuan  hingga mereka menjadi “apa”, bukan terlahir sebagai figur yang memiliki kendali diri.

Kontruksi ini, lebih lanjutnya, dielaborasi  oleh Ester di bab kedua, yakni Psike Perempuan: Semesta yang Tak Terlihat, yang membabarkan ihwal sebutan Serigala Betina yang disinggung di awal tadi. 

Poin utamanya, betapa kekuatan dan keberdayaan perempuan selama ini ditekan, sehingga membuat tidak semua perempuan dapat mengekspresikan suara dan kecenderungan-kecenderungan “sifat Serigala Betina” mereka. Tentu, yang bermasalah adalah masyarakat yang patriarkal, sebab dalam masyarakat seperti ini gender menjadi variabel yang signifikan dalam membentuk inferioritas perempuan.

Padahal, perempuan dan laki-laki sebenarnya sama-sama lahir dalam kondisi yang tidak berdaya, dan tiap individu, terlepas dari jenis kelaminnya, akan berusaha mengatasi ketidakberdayaannya ini. Namun, bedanya, kepada perempuan, masyarakat patriarkal tidak memberikan dukungan, melainkan semakin membuat perempuan tidak berdaya dengan praktik-praktik yang diskriminatif dan merendahkan (Halaman 126).

Lalu, bagaimana melepas kerangkeng masyarakat patriarkal ini? 

Inilah pertanyaan yang diharapkan Ester dilontarkan pembacanya di pertengahan buku. Ia sudah mengantisipasinya, menduga bahwa kita selaku pembaca mencari setitik jawaban dan sebarisan arahan terkait ketidakadilan gender ini. 

Oleh sebab itu, Ester mengelaborasi penjelasannya ke pembahasan yang tidak seabstrak bab pertamanya. Di bab kedua dan terakhir, Ester mulai menyentuh isu-isu yang terjadi pada perempuan dewasa ini.  

Satu yang paling menonjol, Ester membelokkan persepsi kita terhadap frasa lain, yakni perempuan-perempuan penyihir. Kalau kita mengaminkan anggapan bahwa frasa ini sebagai produk masa lalu yang mendiskreditkan perempuan, kita mesti sepakat. 

Namun, alih-alih memakainya sebagai perpanjangan bentuk-bentuk mendiskreditkan para perempuan di zaman ini, Ester “meniupkan ruh” lain dalam frasa tersebut. Ruh itu masih berhubungan dengan istilah Serigala Betina tadi, dan lebih dalam, menggambarkan semangat perempuan-perempuan yang berani mengambil langkah tegas untuk menentang konstruksi dan nilai-nilai patriarkis di tengah masyarakat.

Lebih jauh lagi, “perempuan penyihir” adalah lambang kecerdasan dan kemandirian. Ia merupakan senyatanya ikon feminis abad ke-21. 

Kesadaran ini mungkin belum dimiliki seluruh perempuan di dunia, tetapi bukan berarti mereka tidak memiliki kekuatan untuk mengambil keputusan yang bertentangan dengan nilai-nilai masyarakat, atau keputusan yang sepenuhnya mengikuti suara hati. 

Di situlah, sekali lagi, Ester menggarisbawahi bahwa kuncinya ada dalam diri kita, sebab tidak seharusnya kita membiarkan kebisingan dari nilai-nilai yang merugikan itu membungkam suara hati kita.

Namun, sebelum melangkah ke sana, Ester menganjurkan untuk mengenali diri kita dan membuka mata atas keadaan di sekitar kita terlebih dahulu. 

Proses ini bisa saja dengan memahami serentetan luka yang masih mendera kaum perempuan di masyarakat, praktik-praktik ketidakadilan, pengekangan, dan bentuk-bentuk tindak ketidakadilan lainnya. Lalu, dengan memahami bahwa kata “baik-baik saja” belum dimiliki oleh seluruh lapisan masyarakat, semangat perubahan itu bisa ditumbuhkan.

Dari diri ke orang lain, Ester telah menunjukkan kesadaran dan kepeduliannya melalui buku ini. Dari situ, gema Serigala Betina tidak diharapkan teredam begitu saja, atau para Perempuan Penyihir terus diburu dan dikerangkeng oleh masyarakat dan nilai-nilai yang tidak berkeadilan gender. 

Dan tentu, suara itu meminta terus digaungkan, kepada kita, pembaca, baik laki-laki ataupun perempuan. Suara itu sedemikian jelas: bahwa kita membutuhkan lebih banyak lagi orang-orang berani dan tersadarkan.  

Wahid Kurniawan

Penikmat buku, mahasiswa Sastra Inggris di Universitas Teknokrat Indonesia

Let's share!

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on email