Band Transgender ‘Amuba’: Perjuangkan Nasib Waria Lewat Seni

Amuba disebut sebagai band transgender pertama yang dibentuk di masa reformasi di Indonesia. Amuba dibentuk dari keresahan, ketidakadilan yang dialami para waria atau transpuan dalam segala aspek kehidupan hingga menghasilkan karya performance art. Ia harus  bertahan di dunia seni suara yang belum mau melihatnya secara setara.

Amuba adalah salah satu band transgender pertama yang dicatat membawakan lagu sarat makna, mewakili keresahan kelompok waria yang ini menjadi minoritas.

Saat membaca kata Amuba, banyak orang sering mengasosiasikannya sebagai kuman. Kuman yang bertahan hidup dengan mengindung dan memiliki cara hidup parasit. namun Amuba dapat bertahan hidup membelah diri, di segala musim, di tempat apa saja, Amuba dapat bertahan hidup. 

Amuba memang tampak tak mengenal kata menyerah. Amuba juga tak akan mudah melihatnya karena sangat kecil. Amuba adalah binatang atau tumbuhan (bahkan sempat bingung dikategorikan yang mana) yang memiliki struktur kehidupan yang unik mirip identitas transgender.

Barangkali dengan narasi inilah saya memaknai band Amuba. Band transgender di Indonesia yang lahir di Yogya. Amuba sebenarnya adalah singkatan dari Amukan Banci. Banci adalah singkatan dari bahasa Jawa yang berarti “bandule cilik” atau berzakar kecil. Menyedihkan, tapi ini dijadikan sebagai bahan candaan sampai sekarang. 

Banci atau yang biasa disebut transpuan, memang mengalami banyak sekali perundungan Namun itu semua cukup untuk membuat kita merenung, apa arti kemanusiaan sesungguhnya? 

Sebagai anggota band Amuba termuda, saya memiliki cita-cita agar pada suatu saat Amuba dapat mencetak prestasi yang gemilang. Perjalanan Amuba, secara personal memang penuh dinamika. Berawal dari pertemuan-pertemuan kecil hingga mengalir menjadi persahabatan                                                     

Hingga akhirnya ada rasa kebersamaan sebagai orang-orang yang beridentitas sama, yakni sesama  transgender. Tak dapat dipungkiri di dalamnya juga ada percikan pertengkaran, ada kesuksesan dan kegagalan. Air mata sering tumpah saat mengingat segala upaya mencoba peruntungan di dunia seni suara yang tidak mudah. 

Amuba dibentuk atas dasar keresahan atas ketidakadilan yang dialami waria dalam segala aspek kehidupan. hingga menjadi suatu karya performance art. Amuba berhasil diliput di media international Vice dengan tajuk band waria pertama di indonesia.

Waria sendiri yang kuamati banyak memproduksi wacana seni, wacana gerakan hingga wacana kriminalisasi. Di dunia kesenian banyak teman waria yang berpraktik sebagai seniman jalanan, Juga seni lipsync di sebuah kafe ternama di Yogyakarta, Raminten. Mereka yang naik pentas dengan beraksi kesenian lipsync tetap disebut ‘waria’ karena memakai atribut seperti memakai gesture dan mimik wajah serta laku gerak mirip artis yang akan ditiru hingga menghadirkan sesuatu yang menghibur. 

Kesetaraan di dunia seni

Bisa dilihat, di setiap kesenian ada saja tokoh waria yang menjadi ahlinya. Di seni rias merias misalnya, ada ibu Chenny Han, Di seni memotong rambut, bahkan ada semacam mitos bahwa jika transpuan yang memberikan jasa potong rambut akan terlihat lebih bagus, indah dan natural, 

Di sektor hiburan ada kesenian lenong yang diperankan kenes oleh teman transgender. Namun, di panggung musik di Indonesia baru ada bunda Dorce –pernah menjadi personil  The Golden Boys– yang memiliki kesempatan berkesenian di dunia seni suara. Sementara personil yang lain seperti mami Mirna tetap menggunakan teknik lipsync. 

Sampai di era sekarang masih ada diskriminasi dalam dunia tarik suara untuk transgender bisa bernyanyi. Kaum transgender tidak diperbolehkan tampil di televisi karena dikhawatirkan akan menjadi contoh tidak baik bagi masyarakat. 

Padahal sudah terbukti jika transgender tidak menular dan bukan penyakit. Ini telah disetujui oleh Organisasi Kesehatan Dunia, WHO. Namun industri hiburan tetap memandang transgender tidak layak sensor di televisi dengan penampilannya yang feminin dan cenderung mendapat stigma rendah karena menurunkan status ciri maskulin lelaki menjadi kemayu, kenes dan ini dianggap tidak sesuai dengan norma yang ada. 

Lewat tulisan ini saya ingin menyampaikan aspirasi kepada semua musisi bahwa transgender punya hak untuk berkesenian. Kami ingin dilihat dan didengar. Bahwa banyak transgender berbakat yang kehilangan kesempatan. Bagai mutiara dalam lumpur, mereka  hilang begitu saja tidak terdengar sarinya. 

Tujuan saya menyampaikan ini kepada sesama musisi dan seniman agar tercipta gerakan saling bantu. Mengingat transgender sudah tidak memiliki kuasa lagi untuk berbicara kepada pemangku kekuasaan. Kepada teman yang ramah terhadap media perempuan dan minoritas agar semakin dapat membantu advokasi untuk mengubah kebijakan yang adil dalam berkesenian.

Ekosistem seni Tanah Air memang masih terus bernafas di tengah lelahnya menghadapi pandemi. Dan seperti yang kita ketahui jalur yang paling inklusi dan ibu dari semua profesi yang inklusi untuk teman transgender adalah kesenian. Namun di sektor inipun, transgender belum sepenuhnya mendapat kesetaraan. 

Kami belum bisa bermusik secara profesional, walau tema tema lagu yang dibawakan oleh Amuba berbicara tentang kehidupan, bagaimana cara menghadapi keterpurukan, kesenian yang membebaskan juga ada satu lagu tentang religiusitas. 

Saya berharap semua segera pulih dari ketidak adilan. Kesetaraan juga harus ada dalam semua, termasuk dalam berkesenian. 

Apakah ini bisa dicapai? jawabannya ada dalam nurani masing masing. Pada mereka yang mampu melihat realita secara empati. 

Jessica Ayudya Lesmana

Penulis Waria Autodidak dan Kontributor Konde.co

Let's share!