Cantik atau Tidak Cantik, Itu Bukan Urusanmu

Dituntut harus cantik dan mengikuti beauty standar, ini yang membuat perempuan sering 'dipaksa' untuk mengikuti standar kecantikan yang seragam. Padahal cantik atau tidak cantik, itu bukan urusan orang lain.

Kapan sebenarnya perempuan tak lagi dilekatkan pada standar kecantikan? Dari masa revolusi industri, pasar seolah memegang peran standarisasi cantik bagi perempuan.

Standarisasi itu berupa penilaian dari ujung kaki sampai kepala perempuan, selalu ada standarisasi cantik atas itu. Rambut yang harus lurus panjang, kulit yang mesti putih, sampai jempol dan jari warna-warni yang mesti sesuai standar kecantikan. Padahal semua standar ini menjerat perempuan dan tak membebaskan pilihan perempuan

Apakah perempuan pernah ditanya: sebenarnya apa keinginan hidupnya? Maukah jika standar kecantikan ini kita hilangkan biar tidak meresahkan perempuan?

Padahal semua standar ini cuma semu. Contohnya, ketika seseorang masuk kategori “cantik” sesuai standar yang dibangun pasar atau produsen produk kecantikan, maka otomatis ia akan mendapatkan sederet perlakuan istimewa. Orang akan memujinya, dan dia akan yang mempunyai gelar sebagai beauty privilege. Namun di sisi lain, ia juga akan menjadi orang yang sibuk mengejar standar itu. Betapa melelahkannya hidup para perempuan!

Sebaliknya ketika seseorang tidak masuk kategori “cantik”, maka privilege itu akan begitu sulit diraih. Orang-orang akan mencibirnya, menghina fisiknya hanya karena dia dinilai tidak memenuhi standar kecantikan yang ada di masyarakat. Selalu saja ada orang yang mencemooh bahkan sampai berkata kejam, “kamu itu jelek”

Menjadi salah satu perempuan yang bisa dibilang tidak memenuhi standar kecantikan yang ada di masyarakat memang sangat berat rasanya. Bahkan ketika kita memiliki teman yang kita anggap orang dekat, malah terasa sangat jahat ketika dia mengatakan bahwa kita perempuan yang tidak cantik. Padahal kita sudah berusaha untuk menerima, sudah mulai nyaman dengan bentuk tubuh atau warna kulit kita, tapi karena penilaian orang terhadap kita bertubi-tubi dan seperti menyerang tiap hari, akhirnya aku menjadi tidak percaya diri dan selalu merasa kurang. Padahal semuanya cukup dan akupun sudah bisa menerima dan berdamai,  berusaha untuk tetap menjadi diriku sendiri. 

Padahal standar kecantikan itu tidak pernah seragam, selalu berganti-ganti. Menjadi cantik sesuai kategori yang selama ini digadang-gadang oleh pasar, pasti merupakan sesuatu yang meresahkan. Perempuan selalu disuguhkan dengan kekhawatiran. Ketika dia cantik tidak hanya privilege saja yang akan didapatkannya, tetap ada rasa khawatir bakal  mendapatkan pelecehan seksual atau perlakuan seksis dari lingkungan. Padahal yang bermasalah adalah perilaku pelecehan itu, bukan pada tubuh yang “cantik.”

Begitupun menjadi perempuan yang dibilang jelek karena tidak memenuhi standar kecantikan di masyarakat juga menjadi kekhawatiran, karena dia akan bertemu dengan hinaan seumur hidup nya. Maka dari itu cantik atau tidak seorang perempuan selalu disuguhkan dengan rasa tidak aman. Padahal semua perempuan patut diapresiasi.

Menjadi perempuan itu berat, selalu dituntut harus ini harus itu, beauty standar yang diciptakan masyarakat membuat kita selalu terobsesi dan harus mengikuti standar kecantikan yang ada, agar di terima di masyarakat, sampai akhirnya kita lupa bahwa standarisasi ini harus dilawan karena menjerat perempuan

Teori feminis mengenai kecantikan mendeskripsikan kebutuhan perempuan untuk menjadi cantik berarti objek diri semu karena mengobjektifikasi perempuan tampil agar menjadi selera orang lain atau selera industri dan laki-laki.

Feminis kulit hitam menyatakan bahwa penilaian tentang makna cantik selalu didasarkan pada nilai laki-laki dan kulit putih. Ini yang membuat kulit hitam selalu dianggap tidak menarik, tidak pernah mengakomodir sejarah kulit hitam dan budaya kulit hitam. Karena kenyataannya tak ada yang menyatakan bahwa yang cantik itu: hitam, keriting. Semua standar dilekatkan pada penilaian kulit putih

Menambahkan kalimat bahwa walau tidak cantik, maka perempuan harus menampilkan kelebihannya, misalnya: perempuan harus bisa masak, lemah lembut, sederhana, ini sama saja seperti menjebakkan diri kita ke lubang yang sama: yaitu perempuan harus hidup seperti yang orang lain mau.

Lubang patriarki selalu mengatakan bahwa perempuan harus melakukan sesuatu seperti yang diinginkan orang lain, harus menjalani hidup seperti keinginan orang lain.

Kondisi ini tak akan mengubah apa-apa, bahkan membuat hidup perempuan tambah tak nyaman, karena musuh kita yang sebenarnya adalah patriarki

Rispa Widiawati

Mahasiswi jurusan jurnalistik di sebuah perguruan tinggi di Indonesia.

Let's share!

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on email