Girl’s Ambassador For Peace: Pameran Karya Perempuan Muda Untuk Gender dan Perdamaian

Konde.co bersama AMAN Indonesia didukung UN Women mengadakan sebuah pameran karya perempuan muda secara online pada 15-22 Desember 2021. Para perempuan muda berkesempatan menyuarakan pandangan, perhatian dan pemahamannya terhadap perdamaian dan keamanan melalui pameran karya

Perubahan ke arah yang lebih baik. Mungkin frasa itu paling pas untuk disematkan pada 70 perempuan muda dari berbagai daerah di Indonesia yang mendedikasikan waktu juga tenaganya bagi perdamaian 

Mereka tergabung dalam Girl’s Ambassador for Peace 2021 dan mencoba mengambil peran dalam menyuarakan kesetaraan dan perdamaian di Indonesia dalam sebuah karya yang digelar Konde.co bersama AMAN Indonesia didukung UN Women. Semangat inilah yang kemudian menjadi motor penggerak ke 70 perempuan muda ini untuk menorehkan jejaknya dengan karya-karya mereka melalui film, artikel dan infografis.

Banyaknya persoalan yang muncul di tengah perempuan membuat mereka tergerak untuk ikut melakukan perubahan, berkampanye melalui karya, dengan tujuan menyampaikan pesan damai

Pameran karya secara daring ini dilakukan pada 15-22 Desember 2021 secara online. Lebih dari 20 karya, terdiri dari karya tulis, infografis dan video ditampilkan ke publik dengan judul “Pameran Virtual Girl’s Ambassador for Peace 2021: Let’s Talk About Peace and Security”. 

Dalam pameran kolektif ini, perempuan-perempuan muda berkesempatan menyuarakan pandangan, perhatian dan pemahamannya terhadap isu perempuan, perdamaian dan keamanan

Seperti salah satu karya yang berbicara soal hak perempuan atas tubuhnya sendiri. Peraturan pemaksaan penggunaan jilbab di sekolah negeri disorot. Karya kelompok menulis yang dinahkodai oleh Shohibatul Husna dan kawan-kawan itu dengan apik mengupas mengapa peraturan tersebut layak dikritisi, karena memicu pembatasan dan diskriminasi bagi perempuan.

Tulisan ini menguak benak perempuan sebagai orang pertama yang mengalami dampak dari pengaturan cara berpakaian atas pembatalan Surat Keputusan Bersama/ SKB 3 Menteri oleh Mahkamah Agung (MA). Bagaimana pemaksaan busana memang benar telah merenggut hak perempuan atas tubuhnya.

Dalam laporan tersebut, Shohibatul Husnah dan kawan-kawan juga menjelaskan, bagaimana ajaran Islam mengatur hal ini dan bagaimana aturan ini ditafsirkan dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. 

Kisah perempuan penyintas yang sempat terjebak pada lingkar radikalisme juga terkemas apik dalam karya grafis milik Lena Sutanti dan Aniati. Cerita Ara (bukan nama sebenarnya) yang terlena dengan iming-iming di media sosial tentang kehidupan negara Islam yang damai, adil, dan sejahtera di tempat yang jauh, ternyata tak lain adalah sebuah jebakan, yang tak pernah ia duga sebelumnya.

Ara pun membawa serta keluarganya pindah ke Suriah demi menjalani kehidupan ideal yang dimimpikannya itu. Namun sayang, alih-alih mendapat kehidupan seperti yang ia dambakan, Ara dan keluarganya justru terjerumus pada getasnya kehidupan kelompok garis keras di Suriah.

Nasibnya yang terlunta-lunta di negeri orang semakin parah dengan kehidupan yang penuh kekerasan yang dijejalkan di hadapannya. Negeri yang damai dan adil tak ditemukannya. Apa yang ia lihat di media sosial hanya tipu daya. Pembaca dibawa masuk dalam suasana duka, dengan gambar yang begitu dramatis. Lena dan Aniati berhasil menyajikan visual dan energi yang pas pada karya mereka.

Pameran ini secara tidak langsung mengajak pengunjung untuk kembali berpikir, tentang nilai kemanusiaan dan perdamaian. Masing-masing karya memiliki pesan yang tentu memiliki urgensitasnya sendiri-sendiri. 

Dari delapan tulisan dan sejumlah infografis yang dihasilkan menunjukkan, kemanusiaan dan perdamaian beririsan erat dengan gagasan-gagasan feminisme. Karenanya pemikiran feminis perlu menjadi landasan utama dalam menyelesaikan berbagai problematika yang saat ini dihadapi Indonesia, termasuk menguatnya konservatisme beragama.

Melalui karyanya, para peserta mencoba untuk memberitahu, bilamana feminisme ini dijadikan landasan berfikir untuk menyelesaikan masalah yang menimpa kebanyakan perempuan, maka usaha itu tak akan sia-sia. Sebab, bicara soal perdamaian dan keamanan, tak akan pernah terlepas dari perempuan yang sering menjadi korban pertama karena mereka diabaikan.

 

Perspektif feminis melihat, ancaman terhadap perdamaian dan kemanusiaan banyak disebabkan karena fundamentalisme agama sebagai ideologi. Ideologi ini lantas  mengendalikan perempuan sebagai bentuk kontrol sosial. Mereka lantas hanya mempercayai interpretasi ajarannya sebagai satu-satunya sumber kebenaran, dan menggunakan kekerasan dalam menerapkan ideologinya.

Perlu ada transfer energi, dan ilmu pada setiap gerakan perdamaian, begitulah yang disampaikan oleh Direktur AMAN (The Asian Moslem Action Network) Ruby Kholifah  saat membuka pameran. 

“Perlu adanya sinergi dan upaya untuk meneruskan gerakan ini di antara generasi muda, agar perjuangan bisa tetap dilanjutkan,” ujarnya.

Ditegaskannya, perbedaan generasi tak jadi soal, perubahan zaman tentu tak bisa dihindarkan, maka dalam banyak hal, pergerakan juga harus melihat pola-pola yang terus berubah ini. Tak lain hanya agar perjuangan masih bisa diteruskan, pada generasi-generasi berikutnya.

Pemimpin Redaksi Konde.co juga mengatakan bahwa kampanye perdamaian di media sosial menjadi salah satu motor penggerak yang paling efektif.

“Karena media sosial dan media massa, memiliki kekuatan yang luar biasa untuk membangun opini publik akan isu-isu penting seperti keamanan dan perdamaian,” kata Luviana.

Maka, inilah alasan terbesar Girl Ambassadors for Peace menggelar pameran karya yang bisa dinikmati tanpa batas ruang dan waktu. Harapannya, pameran ini tak hanya menunjukkan dedikasi luar biasa perempuan muda terhadap isu-isu perdamaian tapi juga menunjukkan, bahwa Indonesia tak kehabisan perempuan muda yang ingin membuat perubahan.

Pameran ini adalah salah satu wujud komitmen yang tak putus dari Girls Ambassador for Peace, UN Women, AMAN Indonesia dan Konde.co untuk terus maju menyuarakan pesan damai.

Reka Kajaksana

Penulis dan Jurnalis. Menulis Adalah Jalan Ninjaku

Let's share!

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on email