Saya Jadi PRT Sejak SD dan Selalu Berharap Ada Perubahan

Selama lebih 30 tahun saya bekerja menjadi PRT, tak banyak perubahan yang saya alami. Saya berharap pengesahan RUU Perlindungan PRT akan membuat kehidupan saya menjadi lebih baik

Perkenalkan nama saya Rubinem. Saya seorang ibu yang memiliki 4 orang anak. Saat ini saya sudah berpisah dengan suami. Sendirian saya tinggal dengan satu orang anak perempuan yang ikut dengan saya, sedangkan tiga anak lainnya ikut suami.

Hampir seumur hidup saya bekerja sebagai pekerja rumah tangga (PRT) karena kondisi ekonomi keluarga yang tidak baik. Saya mulai bekerja sebagai PRT sejak kelas 2 SD. Jadi, di saat teman-teman lain sedang bermain saya sudah bekerja membantu orang tua bekerja.

Saya bekerja sejak tahun 80-an, atau sudah lebih 30 tahun. Dari awalnya hanya membantu pekerjaan yang ringan hingga kahirnya benar-benar menjaid PRT. Dan, selama itu hidup saya belum banyak berubah.

Selama 30 tahun itu saya sudah berpindah-pindah di banyak majikan atau pemberi kerja. Dan, saat ini saya bekerja di dua majikan yang berbeda. Saya bekerja mulai pukul 08:00 waktu Indonesia barat (WIB) sampai dengan pukul 17.00 WIB.

Di salah satu majikan, saya melakukan pekerjaan cuci dan setrika. Sedangkan di majikan lainnya saya melakukan tugas bersih-bersih dan mencuci dan menyetrika pakaian. Lokasi bekerja saya berdekatan, sehingga saya tidak harus mengeluarkan uang untuk transport.  

Sejak beberapa waktu lalu saya diajak bergabung sengan sekolah PRT (SPRT) Sumut. Selama mengikuti dan menjadi anggota di SPRT Sumut kendala yang saya hadapi adalah persoalan menghadiri sekolah di sekretariat yang berbenturan dengan jam kerja.

Pengalaman yang berkesan dalam bekerja adalah saya pernah dituduh mencuri oleh majikan. Majikan menuduh saya mencuri gelang anaknya. Meski saya sudah mengatakan bahwa saya tidak mengambil gelang tersebut, majikan tetap ngotot dan akhirnya saya dipecat tanpa pesangon.

Saat itu saya belum ikut berorganisasi, sehingga tidak tahu apa yang harus saya lakukan untuk membela diri

Beruntung sekarang saya sudah tergabung dalam serikat. Dan selama mengikuti organisasi saya merasakan mengalami kemajuan dalam banyak hal. Keberanian saya meningkat, wawasan saya lebih terbuka lebar, saya menjadi bangga menjadi PRT, dan banyak bertemu teman-teman baru.

Selain bekerja sebagai PRT untuk mengurangi kejenuhan saya mengikuti kegiatan di sanggar ketoprak. Saya hobi berlakon dan bernyanyi. Di sanggar saya membantu melatih muda mudi disekitar rumah saya dan juga saya berlatih dengan anggota SPRT Sumut dibantu oleh teman-teman di grup ketoprak saya.

Bertemu banyak orang setiap minggunya membuat saya memahami bahwa bukan hanya saya saja yang mengalami nasib buruk dan kurang beruntung. Ternyata banyak teman-teman yang bernasib sama. Melalui organisasi kami juga saling menguatkan dan saling membantu.

Kedepannya saya berharap pemerintah lebih mendengarkan kami suara dari pekerja rumah tangga. Saya berharap pemerintah segera meratifikasi konvensi ILO dan segera mengesahkan RUU Perlindungan PRT yang mengakui PRT sebagai pekerja.

Agar tidak terjadi lagi kejadian yang menimpa saya, tidak ada lagi PRT yang dieksploitasi tenaganya, PRT mendapat upah layak, dan hak-haknya terpenuhi. Saya mohon sahkan segera RUU Perlindungan PRT.  

KEDIP atau Konde Literasi Digital Perempuan”, adalah program untuk mengajak perempuan dan kelompok minoritas menuangkan gagasan melalui pendidikan literasi digital dan tulisanTulisan para Pekerja Rumah Tangga (PRT) merupakan kerjasama www.Konde.co yang mendapat dukungan dari Jaringan Nasional Advokasi Pekerja Rumah Tangga (JALA PRT)

Rubinem

Pekerja rumah tangga, aktif di SPRT Sumut

Let's share!

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on email