Setelah Live Perkawinan, Kini Welcome Baby Lesti-Billar: Frekuensi TV Itu Milik Publik

Selama bertahun-tahun, ruang publik di televisi selalu dijejali dengan tontonan secara live urusan privat: perkawinan artis, tunangan artis, sunatan anak artis, dan kini kelahiran anak artis. TV cenderung tak mau repot dan hanya berorientasi keuntungan, lupa bahwa ada banyak fungsi lain yang harus dilakukan TV sebagai penyewa frekuensi publik. 

Pernah gak sih, kamu ngerasa gerah dengan acara TV yang menayangkan pernikahan seleb selama belasan jam? Atau acara tujuh bulanan kehamilan artis? Atau prosesi melahirkan bayinya yang berjam-jam diputar menjadi program di stasiun TV? 

Beberapa dekade ini, penayangan acara semacam itu memang masih mondar-mandir di layar TV yang biasa kita tonton. 

Media TV yang semestinya menjadi ruang siar untuk kepentingan publik seperti memberikan informasi, pendidikan dan hiburan sehat, justru hanya berkutat pada kepentingan mengejar rating dan “laris-manis” tayangan bersifat privat yang menjadi konsumsi khalayak ramai.  

Baru-baru ini, sebuah stasiun TV swasta Indosiar menggelar program untuk menyambut kedatangan bayi pasangan seleb yang belakangan ramai menjadi trendsetter yaitu pasangan Lesti Kejora dan Billar atau Lesti-Billar. Tajuknya, Welcome Baby L, yang disiarkan (8/1/2022) dalam acara yang sangat meriah lengkap dengan penampilan para artis tanah air. 

Acara yang juga disiarkan di youtube channel Indosiar itu, menampilkan isi acara mulai dari mengukur panjang badan Baby L hingga momen Lesti yang menyanyikan lagu Anakku dengan tampilan layar Billar yang sedang menggendong bayi mereka. 

Sejak prosesi melahirkan, acara Welcome Baby L ini, memang menjadi momen Leslar pertama kali mempublikasi secara terang bayinya ke publik. Baik terkait wajahnya, kondisi tubuhnya hingga momen-momen yang “dramatis” tentang peran baru Leslar sebagai orang tua Baby L. 

“Insha Allah kelak, kamu bisa menjadi anak yang membanggakan orang tua, menjadi anak berbakti, menjadi anak yang bermanfaat di sekitar kamu dan orang banyak,” ujar Billar dalam acara TV yang juga menjadi trending #19 youtube itu. 

Tak tanggung-tanggung, tayangan di youtube ini telah ditonton lebih dari 1,2 juta penonton dengan jumlah 50 ribuan disukai dan 4 ribu lebih komentar dari warganet. 

“Jangan nangis bunda L…..

Bikin kita mewek

Doa yang TERBAIK untuk keluarga LESLAR” ujar salah seorang warganet bernama Dwi Dewi. 

Sementara Jumi, warganet lainnya mengomentari, “Jadi ikut menitiskan air mata.  Air mata bahagia dn do’a yg indah untuk beby L”

Jika ditilik ke belakang, Leslar, sebutan fans pasangan Lesti-Billar ini memang memiliki rating TV   (TVR) yang tinggi di tanah air yakni tembus 10 besar. Rangkaian akad Leslar beberapa waktu lalu, sempat menempati posisi 7 dengan TVR 3 dan audience share 32,5%. Sementara pada program sebelumnya, Hot Kiss pukul 09.30 WIB kala itu, rating Leslar menempati peringkat 4 dengan TVR 4,6 dan audience share 41,8%.

Kesuksesan semua program tentang Leslar tersebut, kemudian mengantarkan Indosiar ke posisi teratas kedua dengan raihan 21,7%, hanya selisih 1,5% dari RCTI yang bertahan di puncak. Raihan rating yang tinggi ini, sudah pasti berdampak pula pada minat beriklan yang juga berdatangan pada stasiun TV tersebut. 

Tingginya animo masyarakat pada seleb seperti Leslar memang tak bisa dipungkiri. Salah satunya, melalui eksistensi para fans yang sangat loyal dan kompak. Pasangan penyanyi dangdut asal Cianjur itu misalnya, memiliki penggemar bernama Leslar Lovers World yang pernah meraih penghargaan Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI). 

Tak mengherankan, Leslar dengan kepopulerannya begitu “laris manis”. Termasuk, ketika keduanya baru saja melewati fase melahirkan dan memiliki Baby L. Media TV swasta yang pertama melambungkan nama Lesti di D’Academy pun, memanfaatkan peluang itu. 

Welcome Baby L pasangan Lesti-Billar yang ditayangkan di Indosiar ini bukan yang pertama. Beberapa tahun silam RCTI juga sempat menayangkan berjam-jam prosesi persalinan istri Anang Hermansyah, Ashanty. Selama berjam-jam ruang publik dijejali dengan tontonan urusan privat ini. 

Penayangan Anak: Komodifikasi Baru di Dunia Media

“Acara mitoni, baby shower, dan sekarang first launch (atau apapun bahasanya yang muncul ke publik pertama kali -red) adalah bentuk baru komodifikasi anak di televisi,” ujar Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Diponegoro, Lintang Ratri kepada Konde,co, Senin (10/1/2022). 

Jika kemudian program-program tersebut “menjual”, kata Lintang, maka akan semakin banyak komodifikasi anak di media TV. Komodifikasi di media TV ini mengarah kepada acara yang dilakukan oleh media, baik pimpinan atau bawahan, dengan menempatkan nilai fungsi sebuah acara pada media yang diubah menjadi nilai komoditas (barang dagang).

Komodifikasi ini lantas melanggengkan acara-acara yang mengangkat ruang privat kehidupan seleb termasuk anaknya ke dalam ruang publik dengan porsi yang besar. Hingga cenderung mengabaikan kepentingan publik yang ideal. 

Namun begitu, kenapa hal privat laris manis? 

Pengamat penyiaran itu menjelaskan, secara kultur masyarakat Indonesia memang tergolong masyarakat kolektif. Di kondisi ini, urusan privat dan publik yang ada di tengah masyarakat seolah-olah memang hampir tak ada batasan. Cenderung kepo dan terlibat, dan turut andil (jika tak boleh dibilang ikut campur) dalam urusan orang lain.   

“Mengintip kehidupan pribadi menjadi kebutuhan dan keasyikan tersendiri, untuk dikomentari, sebagai standar kehidupan impian, dan tentu beberapa dinyinyiri sebagai katarsis kehidupan pribadi yang mungkin tidak baik,” kata Lintang. 

Dirinya juga mengkritisi terkait pola “jualan” di media TV yang terus berulang berupa ranah privat. Menurutnya, lembaga penyiaran tanah air cenderung tak mau repot dan hanya berorientasi keuntungan. Mereka lupa bahwa ada banyak fungsi lainnya sebagai penyewa frekuensi publik. 

“Melupakan fakta bahwa tidak semua orang membutuhkan info tentang Leslar, bahwa masih banyak isu penting lainnya yang mestinya jadi concern, bahwa Jakarta bukan Indonesia dan hal lainnya,” lanjutnya. 

KPI menurutnya sampai saat ini, juga belum terlihat berpihak pada publik. Bahkan, tak jarang pihak KPI justru memberikan argumentasi pada penyelenggaraan penyiaran yang tidak etis tersebut.

“Harusnya kembali pada fitrahnya sebagai representasi publik. Berpihak pada publik, larang tayangan serupa, kan sudah ada aturannya di P3SPS,” tegasnya. 

Anggota Koalisi Nasional Reformasi Penyiaran (KNRP) itu juga melihat adanya konsistensi pelanggaran yang ada dalam P3SPS yakni menggunakan ruang publik namun tidak mengisinya dengan isu kepentingan publik.

Seringkali kata dia, perusahaan media TV yang bersembunyi di balik acara “kebudayaan” dan “sosialisasi prokes” atau yang klise ” selera masyarakat”. 

“Mungkin kami tidak selalu bersuara, reaktif di setiap pelanggaran, tapi kami tekun mencatat, dan tentu saja akan membagikannya kepada publik amatan yang kami lakukan, karena sekali lagi frekuensi milik publik, publik layak mendapatkan program siaran yang baik,” terangnya. 

Lintang menekankan, media memang seharusnya proporsional. Yaitu dengan memberikan porsi tayangan yang tidak mencederai janji moral lembaga penyiaran terhadap publik. Publik pun menurutnya juga harus bersuara. 

“Jika memang tidak menonton ya speak up, jangan mau disuruh ganti channel atau matikan TV atau ganti nonton yang lain… karena itu hak kita. TV itu menyewa frekuensi, jangan lupa, jadi mereka yang harus berubah lebih baik, bukan publik yang diminta matikan TV,” pungkasnya.

Nurul Nur Azizah

Bertahun-tahun jadi jurnalis ekonomi-bisnis, kini sedang belajar mengikuti panggilan jiwanya terkait isu perempuan dan minoritas. Penyuka story telling dan dengerin suara hujan-kodok-jangkrik saat overthinking malam-malam.

Let's share!

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on email