Suriatik Stroke dan Kehilangan Pekerjaan sebagai PRT

Bayangkan, bagaimana rasanya jika pekerja tak punya jaminan sosial lantas terkena sakit berat seperti stroke? Banyak Pekerja Rumah Tangga (PRT) yang bekerja tanpa jaminan sosial. Mereka bisa sakit, tak bisa kerja dan harus siap untuk kehilangan pekerjaan

Nama saya Wagini, saya mulai bekerja menjadi pekerja rumah tangga (PRT) sejak tahun 2000. Saya bekerja sebagai PRT demi membantu suami mencari nafkah karena kehidupan keluarga kami yang lumayan sulit.

Lantas pada 2010 saya bergabung menjadi anggota Sekolah PRT (SPRT) Sumut, dan sampai saat ini saya menjadi salah satu koordinator di organisasi tersebut.

Tahun 2011 saya menjadi single parent dan demi mencukupi kebutuhan hidup, tanpa sepengetahuan anak-anak sepulang dari bekerja saya menjadi pemulung. Memulung saya lakukan diam-diam karena saya khawatir anak-anak saya akan malu.

Tapi saya tidak akan menceritakan kisah saya. Dalam tulisan ini, saya akan menceritakan pengalaman saya selama aktif di SPRT Sumut, salah satunya membantu teman PRT yang dipecat oleh majikannya dan tidak diberikan pesangon.

Kejadian itu terjadi pada tahun 2018, saat salah satu anggota SPRT bernama Suriatik mendatangi saya dan mengatakan bahwa dia tidak bekerja lagi dan sedang kesulitan keuangan. Sedikit gambaran Suriatik hidup seorang diri dan menanggung hidup abangnya yang disabilitas.

Suriatik sendiri sejak lama tidak bisa berbicara dengan baik dan lancar karena stroke mengakibatkan bagian muka dan mulutnya mengalami kelumpuhan dan tidak bisa kembali normal. Selain itu kemampuan mendengar Suriatik juga kurang begitu baik. Ketiadaan jaminan kesehatan membuat Suriatik tidak mendapatkan pengobatan sebagaimana mestinya.

Ketika mendengar kisah Suriatik, saya langsung mengajak dua anggota SPRT lain untuk menjumpai majikannya dan melakukan negosiasi dengan majikan Suriatik.  Kami bicara dari hati ke hati supaya si majikan bersedia memberikan pesangon karena Suriatik sudah lama bekerja kepada beliau.

Saya berbicara dengan baik dan sopan dan menceritakan kondisi Suriatik, kemudian majikan menceritakan bahwa bukan dia bermaksud memberhentikan dan tidak mengingat semua kebaikan ibu suriatik tetapi dengan kondisi saat ini ibu suriatik tidak dapat bekerja efektif.

Suriatik yang saat itu sudah berumur sering tidak hadir karena sakit dan tidak bisa berjalan dengan lancar lagi. Akhirnya majikan Suriatik bersedia memberikan gaji berjalan ditambah satu bulan gaji sebagai pesangon.

Tak lama setelah kejadian itu, tepatnya pada 2019 Suriatik meninggal dunia. Kondisi kesehatannya tidak memungkinkan dia mendapatkan pekerjaan baru. Selain itu ketiadaan jaminan social membuat kondisi Suriatik makin sulit.

Saat pandemi Covid-19 seperti sekarang, banyak teman-teman PRT yang mengalami hal yang sama, tetapi tidak semua beruntung mendapat majikan yang bersedia memberikan tunjangan ketika PRT tidak lagi bekerja. Sebagai koordinator PRT saya berharap pemerintah memperhatikan kondisi pekerja rumah tangga yang semakin kesulitan di saat pandemi. Saya juga berharap pemerintah mengeluarkan kebijakan yang dapat menyentuh dan sampai pada sasarannya.

Selain itu, kami para PRT juga berharap agar RUU Perlindungan PRT bisa segera disahkan, sehingga ada payung hukum bagi pelindungan PRT. Supaya ke depan tidak ada lagi PRT yang mengalami kejadian serupa yang dialami Suriatik. Jangan ada Suriatik-Suriatik lain di Indonesia, PRT yang tidak punya jaminan sosial dan perlindungan kesehatan. Ketika mereka jatuh sakit dan tidak bisa bekerja, tak ada jaring sosial yang bisa melindungi mereka.

KEDIP atau Konde Literasi Digital Perempuan”, adalah program untuk mengajak perempuan dan kelompok minoritas menuangkan gagasan melalui pendidikan literasi digital dan tulisan. Tulisan para Pekerja Rumah Tangga (PRT) merupakan kerjasama www.Konde.co yang mendapat dukungan dari Jaringan Nasional Advokasi Pekerja Rumah Tangga (JALA PRT)

Wagini

Pekerja rumah tangga, aktif di SPRT Sumut

Let's share!

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on email