Melukai Kepercayaan dan Traumatis: Selingkuh Itu Menyakitkan!

Dampak selingkuh itu bukan perkara sepele. Tak hanya menyebabkan rasa sakit, seseorang yang menjadi korban perselingkuhan juga bisa bisa jadi tak punya kepercayaan diri: minder, selalu merasa bersalah, dan merasakan trauma. Inilah kenapa, ada orang yang tak bisa memaafkan pasangannya yang telah berkhianat padanya

Dalam hubungan, persoalan bisa tiba-tiba saja muncul. Salah satu yang paling menyakitkan adalah perselingkuhan. Penampilan pasangan yang dianggap menarik atau sikap baik pun, bukan jaminan seseorang tak berselingkuh. Sebab selingkuh, adalah perkara tak bisa menjaga komitmen dari individu. 

Perselingkuhan bisa terjadi dalam relasi pacaran ataupun pernikahan. Komitmen pada relasi relasi misalnya, menunjukkan adanya keterikatan secara psikologis dan motivasi dalam menjalani hubungan yang lebih serius. 

Setidaknya ada tiga elemen penting dalam sebuah komitmen, diantaranya, kepuasan, kualitas alternatif (dengan siapa saja hubungan akan menjadi lebih menarik), dan penanaman atau kemungkinan-kemungkinan yang akan hilang jika komitmen tersebut dilanggar. 

Dampak dari selingkuh itu tak bisa dianggap sepele. Bukan saja akan menghadirkan rasa sakit seseorang yang menjadi korban perselingkuhan, namun juga bisa menimbulkan kebencian. Inilah kenapa, ada orang yang tidak bisa memaafkan pasangannya yang telah berkhianat padanya. Bahkan, tanpa memikirkan apa alasan di baliknya. 

Semakin rumit, jika pasangan yang bertengkar akibat selingkuh mengalami sakit hati. Lantas, membalas sakitnya dengan hal yang tak kalah ekstrem dengan perselingkuhan balik. Ini tentu bisa menjadi “lingkaran setan” yang tidak berdampak baik. 

Selingkuh Itu Merusak!

Belakangan, topik perselingkuhan memang banyak dibicarakan di ruang publik. Bukan saja sosial media hingga pemberitaan. Terbaru, kita mendapati kabar seorang figur publik yang banyak digandrungi anak muda yang memiliki kekasih, namun ternyata dia berselingkuh dengan lawan mainnya di sebuah series film. 

Sebuah program TV digital yang menayangkan serial Layangan Putus bertemakan perselingkuhan juga tengah “laris manis” ditonton khalayak, bahkan menjadi parodi dan meme di berbagai lini masa. Semakin menarik dikarenakan cerita yang ditulis ini terinspirasi dari kisah nyata terjadi pada seorang perempuan. 

Sebuah akun Facebook bernama Mommy ASF, yang juga seorang penulis Layangan Putus itu mengatakan, bahwa ‘layangan putus’ itu ibarat kejadian yang dialami perempuan setelah berpisah dengan suaminya. 

Suaminya itu berselingkuh dan menikah secara diam-diam setelah tidak bisa dihubungi selama berhari-hari. Ternyata, suami itu malah pergi bulan madu di Cappadocia, Turki bersama istri barunya. 

Jika ditilik, keduanya ini mempunyai pola yang sama, bahwa laki-laki berselingkuh bukan karena perempuannya kekurangan suatu hal. Namun, karena memang dia ingin berselingkuh. Laki-laki dalam konteks itu seolah tak pernah puas dengan satu perempuan yang tulus mencintai dan menyayanginya. Atau dia akan selalu mencari “hal yang tampak baru” karena entah bosan atau pun penasaran. 

Tapi, tahukah jika menjadi korban perselingkuhan itu sungguh menyakitkan? 

Perempuan yang diselingkuhi itu, akan mengalami rasa sakit fisik dan batin hingga menimbulkan trauma dalam dirinya. Bahkan, dia juga bisa mengalami trust issues (ketidakpercayaan) pada pasangan dalam hubungan romantis.

Ini bisa berlangsung bukan hanya sebulan dua bulan, namun bisa bertahun-tahun lamanya meskipun keduanya telah berpisah. Bukannya tidak mungkin, bahkan saat perempuan itu ingin membuka hati untuk pasangan baru atau dalam jenjang pernikahan dia masih menyimpan trauma itu. 

Jika tak dipulihkan, trauma itu bahkan bisa menyeret adanya korban baru dalam sebuah relasi. Entah akibat hubungan toksik yang ditimbulkan ataupun trauma yang kemudian muncul (triggering) dan dampaknya terhadap hubungan yang baru. 

Ada lagi dampaknya, perempuan yang mengalami trauma atas hubungan toksik perselingkuhan itu, jadi mengisolasi diri. Kepercayaan yang terluka itu, akan membuatnya tidak bisa percaya pada orang lain. Bahkan jika orang tersebut itu benar-benar tulus mencintainya. 

Lalu, apa yang bisa dilakukan untuk mencegah perselingkuhan? 

Pertama pasti komitmen, jika tak bisa berkomitmen, sudah saja! Namun bisa juga saling perbaiki komunikasi. Jika ada yang ingin disampaikan kepada pasangan, entah itu kritikan dan kesalahannya, maka sebaiknya diungkapkan secara terbuka. Beri tahu apa yang bisa dilakukan untuk memperbaikinya. Tanpa menghakimi, tapi saling mengerti kondisi dan mau bersama-sama membantu proses perbaikan hubungan. 

Jangan sungkan untuk melakukan tiga hal seperti mengucapkan maaf, minta tolong dan terimakasih. Hargailah pasangan. Sekecil apapun. 

Bunga Savira Aristya

Tinggal di Jawa Barat, penikmat mie instan, coklat, novel, dan musik

Let's share!

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on email