Rumah Tak Mau Lagi Menampungnya: Kisah Haraa, Perempuan dengan Gangguan Jiwa

Haraa, adalah perempuan dengan gangguan jiwa. Ia harus berlama-lama di rumah sakit karena keluarganya sulit menerimanya kembali ke rumah. Jika bukan keluarga atau orang dekat yang memperjuangkannya, lalu siapa yang mau berjuang untuk Haraa dan Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ)?

Sepertinya memang nafas terakhirku  akan ku hembuskan di rumah sakit ini. Jangan lupa jemput jasadku, lalu kubur dengan layak dan manusiawi jika sudah tiba waktunya nanti, kata Haraa, pasien Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ). Ucapan itu dilontarkannya ketika ia meninggalkan rumah tetangga karena frustasi pasca rumahnya terbakar. 

Rumah tetangga  itu sempat ditinggali Harra selama 4 hari pasca kebakaran hebat yang telah melalap rumahnya awal Januari 2022.

Haraa adalah perempuan dengan gangguan jiwa (ODGJ). Awalnya ia merasa sangat tentram tinggal berdua bersama ibunya di rumah itu, di kawasan Tamanggapa, salah satu kelurahan yang ada di Kecamatan Manggala bagian barat Kota Makassar. Wilayah ini berbatasan dengan Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan.

Namun setelah insiden kebakaran pada Senin, 9 Januari dini hari yang menghabiskan seluruh isi rumah Hara dan dua rumah milik kakaknya hangus, tidak ada lagi yang ingin menampung Haraa. 

Haraa oleh saudara dan keluarga kemudian dianggap sebagai dalang yang menyebabkan kebakaran terjadi. Dalam hati, Haraa hanya mampu merangkul nasib hidupnya sebagai ODGJ yang justru makin merampas kewarasannya untuk hidup layak seperti pada umumnya orang-orang.

Sore sebelum malam rumah Haraa terbakar, salah satu tetangga yang baru mengontrak di rumah kakak Haraa, merasa takut karena mereka merasa ada keanehan dari sikap Haraa. Tetangga lalu menanyakan kondisi Haraa kepada keluarga yang tidak lain adalah kakaknya. Karena kesalahpahaman itu, Haraa malah kena batunya.

Pukulan demi pukulan dari kepalan tangan kakaknya begitu saja melayang ke tubuh Haraa lantaran dituduh mengganggu tetangga. Kekerasan yang dialami Haraa bukan kali pertama itu dia terima. Sejak dulu, ketika sakit gangguan jiwanya kambuh, meski dalam kondisi tertekan, memorinya tetap mengenang kalau dia kerap diperlakukan tidak manusiawi. Meski ada juga keluarga dan tetangga yang baik, peduli dan menyayanginya ketika neurotransmitter dalam tubuhnya tidak bekerja dengan baik.

Haraa lalu banyak dikurung sendiri di dalam rumah, pintunya dikunci dari luar agar Haraa tidak berkeliaran dan mengganggu orang. Ibunya yang tengah sakit dibawa ke belakang rumah kakaknya karena dikhawatirkan Haraa akan menyakiti ibunya.

Malam itu luka batin Haraa makin teras pedih. Seperti bara api, percikannya membesar lalu menjadi api yang siap melahap semua benda di sekelilingnya. 

“Saya yang bakar, orang bilang saya gila. Mereka tidak tahu saya juga manusia yang bisa sakit kalau diperlakukan kasar,” seketika air mata Haraa berlinang menceritakan kejadian malam itu.

Haraa tidak menampik, ia menyesal melakukan itu. Karena sakit hatinya ini sudah menyebabkan ia menyakiti ibunya, dan menanggung rindu karena harus berpisah  dari ibunya. Kini Haraa hanya bisa menunggu di rumah sakit, tinggal agak lama sampai rumahnya bisa kembali ditinggali.

Rumah panggung ukuran 6×4 meter yang ditempati berdua bersama sang ibu itu tinggal menyisakan tembok kolom rumah yang menghitam karena bekas api. Bagian depan rumah, pintu dan jendela serta bagian sisi kiri bangunan yang sehari-hari ditempati Hara memasak masih utuh.

Namun tidak bisa ditinggali, sebab atap rumah dan papan rumah tinggal puing-puing. Pakaian sehari-hari pun tidak tersisa, uang tabungan Rp1 juta yang disimpan sang ibu untuk keperluan hari kematian, jika sewaktu-waktu ajal menjemput, sudah jadi abu. Untung nasib baik masih berpihak, Haraa dan ibunya selamat dari insiden kebakaran.

Tidak ada barang berharga lain selain surat-surat berupa KTP, KK dan BPJS Kesehatan yang dibiayai pemerintah juga terbakar, membuat Haraa dirundung cemas. Sebab jika tidak ada itu, ia khawatir tidak bisa lagi mendapatkan pelayanan dan obat gratis untuk penyakit yang diidapnya selama puluhan tahun bisa ia kontrol.

Bertahun-tahun Haraa kemudian menanggung stigma, dicap gila dan dianggap perempuan tidak waras. Jika ada hal-hal lain yang aneh keluar dari tingkahnya, seketika orang-orang di sekelilingnya menjadi awas, sebab itu artinya penyakit Haraa dianggap lagi kumat.

Itu pernah terjadi ketika Haraa kehabisan obat, dan di Puskemas tempatnya untuk menebus obat secara gratis tidak punya stok. Dua tiga hari saja ia putus menelan pil, maka ia akan sulit mengontrol dirinya. Sebab, neurotransmitter di dalam tubuhnya sebagai penyampai pesan dari sel saraf yang satu, ke sel saraf yang menjadi targetnya tidak berfungsi dengan baik.

Hanya dengan obatlah kadar serotonin Haraa bisa stabil agar suasana hatinya bisa lebih terkendali. Tanpa obat fungsi-fungsi serotonin dimana mengatur pembekuan darah, nafsu makan, aktivitas tidur, serta ritme sirkadian tidak akan bekerja dengan baik. Itulah mengapa raut muka Haraa akan berubah pucat, muram dan orang menganggap aneh ketika sakitnya kambuh. Ini kemudian yang menjadi sebab Haraa ditakuti. Orang-orang di sekitarnya menganggap kalau roh jahat tengah merasukinya, jin-jin peliharaan leluhurnya dulu datang menagih tumbal, dan segala macam mitos-mitos yang sudah lama mapan di pikiran dan persepsi umumnya masyarakat tentang ODGJ. Itulah stigma yang dipikul Haraa selama berpuluh-puluh tahun.

Ketika situasinya seperti itu, Haraa memandangi tajam orang-orang di sekelilingnya yang menaruh curiga. Bagi mereka yang baru melihat Haraa, ada yang lari menjauh. Saat itulah Haraa merasa orang-orang menjauhinya, dan karena penasaran ia bisa mengekor dari belakang orang-orang yang berusaha menghindarinya.

Tinggal di Rumah Sakit Jiwa

Haraa kini tinggal di Rumah Sakit (RS) Khusus Daerah di Sulsel (Rumah Sakit Jiwa Dadi Makassar). Ia harus menahan rindu, matanya kosong berurai air mata saat menanyai kondisi ibunyapada tetangga yang membesuknya, Senin 7 Februari 2022 lalu. Harapan untuk keluar dari tempat itu masih besar, ia ingin rumahnya bisa secepatnya diperbaiki dan ditinggali lagi bersama ibunya.

Keinginan untuk berjumpa dengan sang ibu, kembali memasak dan menghidangkan makanan kepada perempuan yang melahirkannya saat pagi datang, ingin lekas-lekas ia lakukan. Tapi apa daya, stigma sebagai ODGJ mengurungnya di balik tembok rumah sakit, “kewarasannya’ sering dipertanyakan untuk ia bisa diterima kembali oleh saudara-saudaranya.

Hati ibu Haraa, Daeng Singara kalut, disaat Haraa dimasukkan lagi ke dalam RS jiwa. Ia merasa anaknya tak perlu dirujuk ke RS karena kondisinya baik-baik saja. Tapi sayang kakak-kakak Haraa tidak memperbolehkan Haraa untuk ikut bersama ibunya di rumah miliknya.

“Tidak ada yang mengambil kalau dia (Haraa) ikut dengan saya tinggal sementara di rumah kakaknya,”rintih ibu Haraa.

ODGJ Butuh Kasih dan Sayang

Psikiater RS Dadi Makassar, dr.Irma Santi mengatakan, pasien ODGJ adalah orang yang kondisinya sama dengan umumnya manusia yang tidak memiliki gangguan pada jiwanya. Mereka punya perasaan, dan penghargaan diri dimana ketika disakiti akan merasa terluka dan merespon balik rangsangan yang mereka terima dari lingkungannya.

“Misalnya orang yang melakukan pembakaran, tindakan seperti itu kan bahkan orang waras pun bisa melakukannya karena berada di bawah pengaruh emosi,” tutur Irma. 

Menurutnya masyarakat dan keluarga perlu diberikan edukasi yang baik bagaimana memperlakukan ODGJ dengan lebih manusiawi.

Sentuhan kasih dan sayang dari keluarga dan orang terdekat kata Irma justru akan membantu menenangkan mereka ketika sakitnya kambuh. Itulah yang mestinya dilakukan orang-orang kepada ODGJ.

Memukul, mengurung lebih parah, dan memasung ODGJ kata Irma hanya membuat psikologi mereka makin terpuruk dan tertekan. Sehingga kondisi seperti itulah yang membuat ODGJ mengamuk dan marah kepada orang-orang di sekitarnya.

“Selama minum obatnya teratur, mereka tidak disakiti maka semua pikiran, perasaannya akan lebih terkontrol karena ada yang mengimbangi. Neurotransmitter yang berlebihan di otak akan terjaga. Tapi meskipun mereka minum obat tapi karena mendapat perlakukan yang tidak manusiawi, dipukul atau disiksa yah pasti akan ngamuk juga,” begitu Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa (PDSKJ) Cabang Makassar itu memaparkan.

Butuh Panti Sosial Khusus ODGJ

Haraa adalah satu dari puluhan ODGJ di RS Dadi Makassar yang mestinya bisa menjalani obat jalan tanpa harus tinggal di RS. Perawat di Kamar Kenanga tempat Haraa berada, mengaku Haraa selama berada di RS lakunya terkontrol dengan baik.

Haraa bahkan direkomendasi sudah bisa pulang dan menjalani obat jalan di rumah. Walau begitu, belum ada tanda-tanda keluarga dalam waktu dekat akan menjemputnya. Apalagi sedari awal kakak-kakak Haraa memang tidak menampung Haraa.

Andai memungkinkan, Haraa hanya ingin ditampung di panti sosial, mendapat pelatihan seperti halnya anak-anak jalanan(Anjal), gelandangan yang tidak punya tempat tinggal tetapi dibina oleh pemerintah. Sehingga setelah kelak keluar ia bisa punya skill dan keterampilannya dibayar dan mendapat uang.

“Saya mau juga punya penghasilan. Membeli kebutuhan sehari-hari dengan uang hasil keringat sendiri,”harap Haraa. 

Sejak ayahnya menua lalu akhirnya ajal menjemputnya, Haraa bersama ibunya memang hanya mengandalkan belas kasih dan pemberian dari saudara dan orang-orang sekitarnya. Kondisi itu ternyata menjadi beban sendiri bagi Haraa karena harus tergantung secara ekonomi pada orang lain.

Balai Rehabilitas Sosial Penyandang Disabilitas Fisik (BRSPDF) Wirajaya di Jl. A.P. Pettarani Makassar juga tidak berani menampung. Sebab Haraa dianggap masih tergantung pada obat, sehingga khawatir kalau-kalau penyakitnya kambuh dan bikin onar.

“Kalau masih minum obat tidak berani kita, harus dilihat obat apa dulu yang dia konsumsi. Sebaiknya memang dibawa ke RS,”kata Petugas Balai, Kalsum saat keluarga hendak membawanya kesana.

Direktur RS Khusus Daerah Dadi Kota Makassar, dr. Arman Bausat, Sp.B,Sp.OT mengungkapkan, ODGJ tidak bisa selamanya ditutup akses dan hak-haknya hanya karena persoalan mereka masih mengonsumsi obat. Sebab ODGJ kata Arman akan selamanya minum obat untuk mengontrol dirinya.

“Jadi ODGJ itu akan selamanya minum obat, sama seperti penyakit-penyakit lain yang diidap orang. Mereka hanya bisa tetap sehat, tetap produktif kalau minum obat. Inilah yang harus dipahami oleh pemerintah,”kata Arman.

Menurut Arman, wilayah Sulawesi Selatan sebagai representatif bagian Indonesia Timur sudah seharusnya memiliki panti sosial khusus ODGJ. Sebab panti sosial yang ada sekarang sangat sulit menerima ODGJ, meski jiwa mereka sudah sembuh namun karena tergantung pada obat menjadi alasan balai tidak ingin menampung.

Sementara ODGJ berdasarkan rekam medis sudah dianggap sembuh tidak bisa terus selamanya berada di RS. Menjadi problem jika pihak keluarga pun tidak lagi peduli dan tidak kunjung menjemputnya. Maka mau tidak mau RS lah yang akan menjadi tempat terakhir ia bisa ditampung

“Yah mau diapa, masa kita mau usir dari RS dan membiarkannya tinggal di jalan jadi gembel. Tapi bagaimana pun inikan membebani RS. Makanya sudah seharusnya ada panti sosial khusus ODGJ untuk menampung mereka, membuat mereka berdaya dan produktif,”katanya.

Arman menyebut ada sekitar 30 an pasien yang masih tetap berada di RS walau sudah bisa rawat jalan di rumah. Hanya saja karena tidak memiliki rumah sendiri dan keluarga enggan menjemput, RS lah yang harus menanggung kebutuhan makan minumnya. Meski diakuinya anggaran RS sangat terbatas.

Rahma Amin

Jurnalis dan Penulis, Aktif di Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Makassar

Let's share!

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on email