Selamat Jalan Wahidah Rustam, Pejuang Perempuan dan Kelompok Marjinal

Wahidah Rustam, aktivis perempuan Institute for Women’s Empowerment (IWE) yang sebelumnya lama bekerja di Solidaritas Perempuan, meninggal 4 Februari 2022. Dalam rasa sakit yang mendera hingga akhir hidupnya, Ida Rustam tak pernah beristirahat, selalu membela perempuan dan kelompok marjinal. Terakhir, Ida menuliskan cerita tentang pendampingannya pada komunitas kusta di Bone.

Kabar meninggalnya Wahidah Rustam kami dapatkan pertamakali pada 4 Februari 2022 malam dari Donna Swita, salah satu sahabat Wahidah Rustam atau Ida Rustam

Padahal beberapa hari sebelumnya, aktivis perempuan asal Jakarta, Evie Permatasari, sempat bertemu Ida di Makassar, tepatnya di 2 Februari 2022

“Kami bertemu di tanggal cantik, tanggal 2, bulan 2, tahun 2022. Kami bertemu saat kita ada di Makassar. Tadinya pertemuannya cuma sebentar, tapi Ida pengin sekali kami ada disana. Ida cerita tentang sakitnya dan semangatnya untuk berobat. Ida cerita tentang ibunya, tentang tanaman. Ia pulang ke Makassar karena ingin merawat ibunya, tapi malah ia yang sakit,” kata Evie pada Konde.co

Evie tidak menyangka Ida Rustam pergi secepat ini.  

“Aku harus tetap semangat, karena itu salah satu yang membuatku bisa sembuh,” kata Ida seperti ditirukan Evie.

Nafas Ida sudah terdengar pendek-pendek dalam pertemuan 2 Februari itu. Kemudian mereka berfoto. Itu pertemuan Evie Permatasari yang terakhir.

Wahidah Rustam adalah aktivis perempuan yang sejak 2018 menjadi anggota dari Institute for Women’s Empowerment (IWE), dan pada tahun 2019 hingga saat ini menjabat sebagai Kordinator Supervisory Board IWE.

Ketika Donna Swita bergabung di Solidaritas Perempuan di sekretariat Nasional, Wahidah kala itu sebagai Ketua Badan Eksekutif Nasional Solidaritas Perempuan yang beranggotakan 800 orang dan tersebar di 16 komunitas di seluruh Indonesia.

Ucapan serentak ramai di media sosial setelah para aktivis mengucapkan selamat jalan pada Ida, panggilan Wahidah Rustam. Salah satunya dari Organisasi Solidaritas Perempuan komunitas Sintuwu Raya, Poso.

“Terimakasih, pernah memimpin kami bergerak mewujudkan kedaulatan perempuan.”

Wahidah Rustam, aktivis perempuan asal Makassar lahir di Makassar pada 10 April 1974 dan meninggal pada 4 Februari 2022 setelah sakit komplikasi panjang yang dideritanya.

Wahida lama aktif di Solidaritas Perempuan dimulai sebagai Ketua Badan Eksekutif Komunitas Solidaritas Perempuan Anging Mamiri Makassar sampai menjadi Ketua badan Eksekutif Nasional Solidaritas Perempuan periode 2012-2015.

Selesai sebagai pimpinan di Solidaritas Perempuan, Wahidah bersama para aktivis lainnya seperti Titi Soentoro, Risma Umar, Marhaini Nasution, Wardarina dan Anita kemudian mendirikan Organisasi Aksi! for gender, social and ecological justice.

Selain IWE, Solidaritas Perempuan, dan Aksi!, ada beberapa organisasi seperti Koalisi Perempuan Indonesia, FPMP dan beberapa organisasi lain yang selama ini menjadi wadah bagi Wahidah melakukan pembelaan pada hak perempuan dan kelompok marjinal dan mendukung tindakan perempuan akar rumput untuk keadilan gender, sosial dan ekologi. Selain itu Wahidah juga mengajar di salah satu universitas Muhammadiyah di kota Makassar.

Selama ini Wahidah dikenal sebagai aktivis yang membela agar perempuan lepas dari pemiskinan perempuan karena terampasnya sumber daya alam oleh kekuasaan. Wahidah selalu berpandangan bahwa kekerasan terhadap perempuan tidak terbatas pada kekerasan fisik dan verbal oleh individu, tetapi juga oleh negara melalui kebijakan-kebijakan yang menghilangkan akses dan kontrol perempuan terhadap sumber daya kehidupannya, termasuk keluarga dan lingkungannya.

Ia pernah berulangkali melakukan aksi dan menyatakan bahwa  pemiskinan dan kekerasan terhadap perempuan di Indonesia, terjadi akibat intervensi pihak asing seperti WTO.

“Sejak WTO berdiri dan Indonesia menjadi anggotanya, bukannya memperbaiki kehidupan perempuan dan warga negara Indonesia, WTO justru memperburuk kehidupan mereka,” ujar Wahidah, yang dikutip dari website Solidaritas Perempuan pada 24 November 2013

Di Aksi!, Wahidah juga memperjuangkan wacana kebijakan pembangunan dan perubahan iklim (pendanaan iklim dan keadilan ekonomi bagi perempuan) untuk memastikan perlindungan dan pemajuan hak asasi manusia dan hak-hak perempuan dari masyarakat yang terkena dampak; dan untuk mendukung tindakan perempuan akar rumput untuk keadilan gender, sosial dan ekologi.

Di kalangan aktivis perempuan, Ida dikenal sebagai aktivis yang menggelorakan semangat pembelaan terhadap para perempuan yang terdiskriminasi dan termarginalkan akibat politisasi agama serta perempuan yang kehilangan sumber penghidupannya bahkan menjadi buruh di negeri orang lain sebagai buruh migran.

Mike Verawati, Ketua Koalisi Perempuan Indonesia (KPI) di Facebook menyatakan kesedihannya

“Walau selama sakit kita jarang bertemu, karena kamu dalam masa perawatan sakitmu. Tetapi sepanjang itupun aku mengenalmu sebagai kakak perempuan yang selalu ceria, positif dalam banyak hal, menguatkan. Juga, semangatmu luar biasa. Tak terhitung jalan kenang baik akan dirimu, aku sedih kamu pulang Kak. Tapi aku tahu ini adalah jalan pembebasan bagi jiwamu yang baik dan cantik, dari rasa sakitmu selama ini. Selamat jalan Kak Ida Rustam terkasih, kenangan akan dirimu akan menguatkan aku dan para sabahatmu menjalani perziarahan kami di dunia ini. Selamat jalan kak Ida, lepas sudah sakitmu. Terima kasih atas dedikasimu selama ini pada jalan keadilan bagi perempuan. Kami akan meneruskan cita-citamu.”

Doa pemakaman Ida juga dilakukan secara online pada 5 Februari 2022, banyak yang menyampaikan rasa duka dalam doa pemakaman online karena tak bisa datang ke Makassar.

Zakia Nisa, salah satu aktivis perempuan memimpin doa pemakaman Ida melalui online yang dipenuhi aktivis perempuan dan teman-teman Ida di berbagai kota.

“Kesedihan hari ini bukannya karena ketidakrelaan kita untuk melepaskan kak Ida, namun ketidakpercayaan karena kita ditinggalkan oleh keluarga kita sendiri yang selama kita hidup banyak hal yang telah ditanamkan kak Ida pada kita. Tentu kita semua punya kenangan pada hidup kita, bagaimana hangatnya, cerianya beliau yang sudah memenuhi rongga dada kita, pikiran kita hari ini,” kata Zakia Nisa

Bagi Donna Swita, Ida adalah seorang aktifis perempuan yang konsisten memperjuangkan hak perempuan.

“Dia tidak pernah patah semangat meski sudah sejak lama harus berjuang dengan sakitnya. Di saat akhirnya dia juga mendedikasikan dirinya untuk membantu keadilan hak-hak kawan disabilitas. Buat saya pribadi, dia juga sudah seperti kakak sendiri yang selalu mengingatkan saya menjaga kesehatan saya yang memang sejak lama kami sering saling menjaga ketika saya atau dia sakit. Dia selalu menebarkan keceriaan bila bertemu banyak kawan aktivis terutama aktifis perempuan. Dia saudara.”

Lusia Palulungan adalah salah satu aktivis perempuan yang selama ini banyak memberikan support bagi Ida saat sakit. Lusia menyatakan tentang buku yang ditulis Ida  yang berjudul “Menghapus Jejak Stigma di Lerang Dua.”

Lerang Dua adalah sebuah desa di Bone yang terdapat komunitas penyandang kusta disana. Ida kemudian menuliskan pengalaman pendampingan penyandang kusta dalam bukunya

“Ini yang banyak Ida lakukan semasa sakit, pendampingan bagi penyandang kusta di Lerang Dua dan Jeneponto, lalu menuliskannya.”

Lusia Palulungan dan Evie Permatasari menyatakan ini pada Konde.co sesaat setelah mengantar kepergian Ida Rustam di pemakaman di Makassar

Ida telah meninggalkan semangat bahwa penindasan terhadap perempuan tak bisa dibiarkan, harus diperjuangkan. Dalam rasa sakit yang menderanya selama beberapa tahun terakhir, Ida terus menyuarakan semangat ini di Makassar, di Jakarta, Bone, Lerang Dua,  sampai jauh.

(Foto: Facebook dan Evie Permatasari)

Luviana

Setelah menjadi jurnalis di media mainstream selama 20 tahun, kini menjadi chief editor www.Konde.co dan menjadi dosen pengajar paruh waktu di Jakarta. Pedagoginya dalam penulisan isu media, perempuan dan minoritas

Let's share!

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on email