Sosok Perempuan dalam Novel Pramoedya Ananta Toer: Kuat, Pendobrak, Revolusioner

Sastrawan, Pramoedya Ananta Toer mungkin tidak mengkhususkan diri menulis soal perempuan. Namun tokoh-tokoh perempuan dalam tulisannya selalu menggambarkan sebagai sosok yang kuat, punya prinsip, pembelajar dan pendobrak sistem yang tidak adil. Mereka cerdas, sosok pembelajar, dan revolusioner, tidak tunduk pada ideologi sang tuan dan pasangan mereka

Minggu, 6 Februari 2022 kemarin, pecinta sastra Tanah Air merayakan kelahiran salah satu sastrawan terbesar yang pernah dimiliki Indonesia, Pramoedya Ananta Toer. Kelahiran Pramoedya ini sempat wara-wiri ramai di media sosial

Jika masih hidup, penulis yang pernah menjadi tahanan politik Orde Baru ini akan berusia 97 tahun.

Pram –demikian ia biasa disapa—dikenal sebagai penulis yang sangat produktif. Laki-laki yang meninggal pada 30 April 2006 ini menghasilkan tak kurang lebih 267 tulisan, baik itu esai, cerpen, buku ataupun novel.  Ia antara lain dikenal lewat maha karya “Tetralogi Bumi Manusia’ yang lahir saat ia ‘dibuang’ ke Pulau Buru.

Dilansir dari deepublish.com, Pramoedya menulis sejak 1947 hingga 2014, dengan masa paling produktif pada periode  tahun 50 hingga tahun 60an atau saat ia berusia 30 tahunan. Dari 40 buku karya Pramoedya, 11 di antaranya telah diterjemahkan ke berbagai Bahasa.

Dalam tulisannya, Pramoedya hampir selalu menekankan pentingnya aspek manusia. Sastrawan H.B Jassin menilai Pram tidak pernah kehilangan kepercayaannya kepada manusia. Di banyak tulisannya Pramoedya mengisahkan proses dan perjalanannya para tokohnya menjadi ‘manusia’ yang sebenar-benarnya. 

Bagi laki-laki kelahiran Blora ini, manusia adalah akar dan sumber dari segala perubahan baik itu perubahan baik ataupun sebaliknya yang terjadi pada sebuah bangsa. Manusia adalah sumber kejahatan, sekaligus sumber kebaikan. 

Renungan tentang hakekat manusia mengantar Pram sebagai sosok yang selalu menekankan sikap penghormatan pada kebebasan dan keberagaman, keadilan sosial, peri kemanusian dan keberpihakan pada rakyat kecil.

Sebagai penulis, Pramoedya yang pernah dicalonkan sebagai pemenang Nobel Sastra ini, dikenal sangat detil mendokumentasikan kejadian di sekitarnya. Namun, tak sekadar mendokumentasikan kejadian yang disaksikan, ia mengamatinya dengan pandangan yang sangat kritis memotret ketidakberesan yang terjadi di sana. Dalam ketidakberesan itu, Pramoedya yang pernah aktif di Lembaga Kesenian Rakyat atau Lekra ini lantas menghadirkan tokoh yang berjuang mendobrak ketidak-adilan itu.

Perempuan dalam karya Pramoedya

Pramoedya Ananta Toer bukan sastrawan yang mengkhususkan diri menulis tentang perempuan. Namun, jika dijelajahi, akan banyak kisah dan tokoh perempuan yang ditemukan dalam karya-karyanya.

HA Munthaha Mansur dalam tulisannya “Citra Perempuan dalam Karya Pramoedya Ananta Toer” di Terakota.id menyebut ada banyak karya Pramoedya yang meramu masalah yang dihadapi perempuan dengan ideologi menjadi cerita fiksi yang mengagumkan. 

Contoh nyata bisa ditemukan lewat sosok “Nyai Ontosoroh” di tetralogi “Bumi Manusia”, atau Gadis Pantai dalam novel “Gadis Pantai”. Ia juga menulis buku yang membela perempuan, “Perawan Remaja dalam Cengkraman Militer” dan “Panggil Aku Kartini Saja”. Serta perlawanan perempuan di Cerita “Calon Arang”. 

Dalam tulisannya, laki-laki kelahiran Blora, Jawa Tengah pada 1925 ini hampir selalu menempatkan perempuan di posisi yang sangat tinggi, setara dengan laki-laki. Perempuan adalah makhluk yang kuat dan teguh memegang prinsip. 

Tokoh perempuan dalam tulisan berasal dari akar rumput tapi memiliki prinsip yang kuat, berpikiran maju, sosok pembelajar, cerdas dan revolusioner. Meski berada di posisi yang direndahkan, sebagai nyai dan sebagai selir, mereka tidak tunduk pada ideologi yang dibawa sang tuan (pasangan mereka).

“Tokoh perempuan dihadirkan dalam buku Pramoedya untuk menyoal relasi kuasa yang lebih luas, misalnya kolonialisme dan feodalisme. Bukan secara khusus atau terbatas bicara tentang identitas perempuan dan relasi gender,” tulis Munthaha mengutip Katrin Bandel, kritikus sastra asal Jerman yang telah lama menetap di Indonesia.

Dalam Bumi Manusia, ketertindasan perempuan terwujud dalam sosok Nyai Ontosoroh yang tidak punya hak apa-apa sebagai Nyai, dan bahkan dianggap tidak berhak atas anak yang dilahirkannya sendiri. Demikian juga dengan Gadis Pantai yang harus menerima kenyataan dipisahkan dari bayinya.

Berikut tokoh-tokoh perempuan dalam karya-karya Pram, yang Konde rangkum dari berbagai sumber.

1.      Nyai Ontosoroh di tetralogi Bumi Manusia

Salah satu tokoh perempuan dalam tulisan Pram adalah Nyai Ontosoroh, perempuan pribumi yang dipaksa menjadi gundik pengusaha Belanda tapi kemudian mampu bangkit melawan nasibnya.

Nyai Ontosoroh adalah mertua Minke (tokoh utama di tetralogy Pulau Buru: Bumi Manusia-Jejak Langkah- Rumah Kaca-Anak Semua Bangsa). Perempuan itu dulunya bernama Sanikem. Ia ‘dijual’ ayahnya kepada Herman Mellema dengan tujuan mendapatkan kekayaan.

Sanikem yang lugu, kemudian bertransformasi menjadi Nyai Ontosoroh, perempuan pembelajar dengan pendirian yang sangat kuat. Ia tak limbung di tengah mata sinis kolonialisme, tapi juga tak menanggalkan identitasnya sebagai perempuan lokal. Pram menuangkan pemikirannya tentang perempuan lewat kekaguman Minke pada perempuan yang mengaku tidak pernah bersekolah itu

“Maka malam itu aku sulit dapat tidur. Pikiranku bekerja keras memahami wanita luar biasa ini. Orang luar sebagian memandangnya dengan mata sebelah karena ia hanya seorang nyai, seorang gundik. Atau orang menghormati hanya karena kekayaannya. Aku melihatnya dari segi lain: dari segala apa yang ia mampu kerjakan, dan segala apa yang ia bicarakan,” (Bumi Manusia hal. 105).

2.      Gadis Pantai

Dalam novel Gadis Pantai ini, Pram juga menampilkan sosok perempuan yang tidak biasa. Hal ini dimulai dari penamaan tokoh dengan nama Gadis Pantai tanpa menyebut nama lainnya. Si Gadis merupakan putri dari seorang nelayan yang dinikahi oleh seorang bangsawan. Ia rakyat jelata yang hanya bergeser status sebagai istri bangsawan. Lambat laun ia menyadari, bahwa ia tak lebih dari perabot rumah tangga. Justru di gubuk reyot milik orang tuanya, Si Gadis dapat merasakan dirinya sebagai manusia.

Sampai akhirnya, feodalisme memaksanya menelan kegetiran. Ia diceraikan dan dikembalikan oleh suaminya. Bahkan, ia dipaksa berpisah dengan bayi yang baru ia lahirkan. Bagi kalangan bangsawan, menikah dengan perempuan jelata adalah sarana latihan sebelum pernikahan yang sesungguhnya: pernikahan sesama bangsawan.

Di sini, Pramoedya menggambarkan keteguhan Gadis Pantai untuk tak tergoda pun bangga karena dirinya ‘naik kelas’. Gadis Pantai justru merindukan dan membela nelayan, kalangan dari mana dia berasal. Tapi Katrin menilai penggambaran yang dilakukan Pramoedya terlalu kuat. Ia antara lain mempertanyakan bagaimana bisa seorang gadis nelayan bisa sekuat dan semandiri itu dalam pemikiran dan pendiriannya.

3.      Panggil Aku Kartini Saja

Di novel ini, Pramoedya menggugat penilaian terhadap Kartini. Sebagaimana ditulis Savitri Scharer, menurut Pramoedya, Kartini justru merupakan korban kebijakan “etis” pemerintah kolonial. Ide-ide progresif Kartini, menurut Pram, lebih disebabkan oleh tanggapan Kartini sendiri. Yaitu tanggapan terhadap hierarki dan adat diskriminatif lingkungan feodalnya. Bukan oleh pertukaran ide dengan teman-teman progresif Eropanya.

Berdasarkan observasi sistematis terhadap surat, nota, artikel dan seluruh berkas otentik yang berkaitan dengan Kartini yang dapat dikumpulkannya, Pramoedya mengungkap peran sesungguhnya Kartini untuk perempuan Indonesia. Pembelaan Pramoedya pada Kartini yang dianggap menyerah pada poligami, Pramoedya menyatakan Kartini sudah melakukan perlawanan, tak semua yang dilawan itu dimenangkan oleh Kartini

“Pramoedya dengan tegas menekankan kemuliaan pikiran dan jiwa Kartini, dan ‘menyepelekan’ asal kebangsawanan Kartini. Evaluasi Pramoedya mengenai peran Kartini dalam masyarakat Indonesia sangat maju,” tulis Savitri sebagaimana dikutip Terakota.id.

4.      Terjemahan Ibunda karya Maxim Gorki

Karya monumental sastrawan Rusia, Maxim Gorki yang berbicara ihwal keterlibatan perempuan dalam revolusi memikat Pramoedya muda. Baginya, karya Gorki ibarat orang mengguncang tiang-tiang sebuah rumah sampai goyah.

Pramoedya pun menerjemahkan novel Ibunda dari versi Belandanya. Sebagaimana dinarasikan ulang oleh Melani Budianta, penerjemahan dan penerbitan ulang novel Ibunda punya arti tersendiri bagi diri Pramoedya. Yaitu memberikan penghargaan pada seorang Ibu yang selama ini tidak pernah dihargai.

“Novel ini tidak saja bisa menjadi inspirasi bagi para perempuan Indonesia untuk menolak bersikap pasrah terhadap kemandegan, kemiskinan, dan ketidakberdayaan,” terang Melani Budianta dalam pengantar novel Ibunda (2002) sebagaimana dikutip Terakota.id.

5.      Cerita Calon Arang

Dalam novel ini, Pramoedya seolah menggugat dominasi patriarki dalam kehidupan perempuan. Dalam tulisannya berjudul “Perempuan dalam Cerita Calon Arang Karya Pramoedya Ananta Toer Perspektif Feminis Sastra” Vallentina Edelwiz Edwar dkk. mengungkap bagaimana Pramoedya memotret sikap perempuan terkait dominasi yang dialaminya. Status sosial, kondisi inferior, dan relasi masing-masing perempuan dengan tokoh perempuan dalam Cerita Calon Arang membentuk sikap berbeda.

“Calon Arang sebagai tokoh utama dalam Cerita Calon Arang telah menjadi ikon yang menggugat masyarakat dan pihak kerajaan atas kondisi inferior yang dialaminya. Lain halnya dengan Ratna Manggali yang mewakili perempuan dengan penerimaannya atas status dan kondisinya di dalam masyarakat,” tulisnya.

Gugatan lain ditunjukkan oleh Wedawati yang memilih untuk tidak menikah dan menjadi pertapa perempuan. Sikap berbeda ditunjukkan tokoh ibu tiri Wedawati yang turut melanggengkan kondisi inferior perempuan dengan mengamankan posisinya dalam keluarga.

6. Larasati

Novel ini mengangkat kisah percintaan di masa revolusi kemerdekaan. Larasti adalah salah satu tokoh perempuan pejuang revolusi yang tangguh berhati lapang. Sosok Larasati ditampilkan sebagai perempuan yang sangat bersemangat untuk mendukung revolusi walaupun tidak secara langsung terjun ke medan perang tetapi dengan menggunakan apapun yang bisa dia pergunakan.

Dia adalah seorang seniwati, seorang artis yang memakai status pekerjaannya untuk menyebarkan semangat revolusi kepada orang-orang yang dia temui. Di novel ini, Pramoedya memberikan gambaran dan pengertian kepada para pembacanya akan apa sebenarnya arti cinta di masa-masa Revolusi.

7.      Perawan Remaja dalam Cengkraman Militer

Di bukunya Perawan Remaja dalam Cengkraman Militer, Pramoedya menyuguhkan kekejaman fasisme Jepang yang menjadikan perempuan-perempuan Indonesia sebagai budak seks.

Perempuan-perempuan Indonesia layaknya barang. Mereka dikirim sebagai jugun ianfu kepada para tentara Jepang di garis peperangan sebagai alat pemuas.

(Foto: kibrispdr.org dan Pwnu.co)

Mulat Esti Utami

Selama 20 tahun bekerja sebagai jurnalis di sejumlah media nasional, mencoba tetap setia di jalan yang dipilihnya dengan bergabung di Konde.co

Let's share!

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on email