Sulitnya Menjadi Pemimpin Perempuan di Media: Pelajari Hambatan Dan Lika-likunya

Riset Perhimpunan Pengembangan Media Nusantara (PPMN) menunjukkan, terdapat 6 hambatan yang harus dihadapi pemimpin perempuan di media. Hambatan itu antaralain, hambatan sosial budaya, kondisi struktur organisasi, proses internal organisasi yang menyulitkan perempuan, latar belakang individu, soft skill yang dimiliki individu, dan rencana karir individu.

Menjadi pemimpin perempuan itu seperti mendayung perahu berlubang ditengah ombak yang sewaktu-waktu bisa menerjang. Barangkali pepatah ini yang paling pas untuk menuliskan bagaimana posisi pekerja perempuan di media. 

Data menunjukkan, perempuan yang bekerja di media  harus menjadi pemimpin yang ideal di kantor dan di rumah, sembari melawan stigma-stigma di sekitar yang siap menyerang. 

Ini merupakan temuan riset Perhimpunan Pengembangan Media Nusantara (PPMN) di tahun 2021 dalam melihat perjalanan naik-turunnya kepemimpinan perempuan. PPMN dalam risetnya mengenai kepemimpinan perempuan di Media di Indonesia, memotret bagaimana selama ini pemimpin perempuan media massa tak hanya harus berhadapan dengan kompetensi, tapi juga dari stigma yang mungkin saja bisa menghantuinya.

Perempuan selalu dinilai sebagai bukan orang yang capable karena dinilai lebih banyak memiliki sisi emotional, tak rasional, dan mudah menggerutu. Hal-hal seperti itu kerap dihadapi perempuan, padahal di institusi media, perempuan mengemban tugas yang sama seperti jurnalis laki-laki, ia juga mengalami beban pekerjaan yang sama persis dengan laki-laki.

Seorang perempuan bahkan menghadapi hambatan bukan hanya karena ia akan naik tingkat, perempuan cenderung akan lebih banyak menemui hambatan pada tiap level perjalanan karirnya. Dalam penelitian tersebut, para peneliti PPMN, Ika Karlina Idris, Rini Sudarmanti, Ratna Ariyanti dan Ika Krismantari menulis bahwa ada dua pandangan terkait bagaimana posisi pemimpin perempuan di media.

Penelitian ini bertujuan untuk memetakan permasalahan apa saja yang harus dihadapi oleh perempuan di dunia media. Penelitian yang dilakukan dalam Mei-Maret 2021 ini PPMN berhasil menghimpun banyak cerita. Dari 258 responden penelitian ini berhasil mengumpulkan banyak sekali cerita dan data dari jurnalis perempuan baik Junior, Madya, maupun Senior dari 30 provinsi yang tersebar di Indonesia.

Hasil penelitian ini menunjukkan, bahwa jurnalis perempuan adalah korban sekaligus agen perubahan. Dalam budaya patriarki, menjadi jurnalis perempuan tidaklah mudah. Mereka mendapatkan banyak hambatan baik dalam tatanan masyarakat maupun organisasi. Namun, pengalaman ketidakadilan tersebut membuat mereka peka terhadap pentingnya sebuah keadilan. Sehingga, meskipun dihadang oleh berbagai stigma dan ekspektasi domestik, mereka terus berjalan menapaki karir mereka, yang pada akhirnya berhasil menjadi seorang pemimpin yang sedang memperjuangkan keadilan untuk perempuan-perempuan lain.

Namun bukan berarti hal tersebut tak mengorbankan sesuatu, para pemimpin perempuan di media, mereka sukses dalam menyelesaikan tugas di ranah domestik dan di ruang publik, pun ia bisa mempunyai karir cemerlang. Ini membuktikan bahwa perempuan sebenarnya memiliki karakter yang kuat dan berkompeten.

Bertahan dari rintangan dan mencari celah demi sebuah cita-cita. Meskipun beban ganda telah ia pikul, ia masih belum dihargai sebagai pemimpin, karena dalam budaya patriarki, sifat pemimpin itu belum lekang dengan peran laki-laki. Sehingga perempuan membutuhkan kerja tiga kali lipat untuk menunjukkan bahwa dia adalah seorang pemimpin yang mumpuni.

Stigma tidak kompeten, sensitif, emosional, dan mudah frustasi yang selama ini menempel pada pimpinan perempuan tidaklah benar. Para jurnalis perempuan dalam penelitian ini menunjukkan bahwa mereka menjalankan agensi kepemimpinan dalam konteks keluarga dan organisasi, sembari membuktikan bahwa mereka adalah pemimpin yang cakap dalam memperjuangkan kebebasan perempuan di dalam organisasi dan di masyarakat.

Mereka memprakarsai kebijakan berbasis gender, memberikan lebih banyak kesempatan bagi perempuan, serta mendidik semua anggota organisasi tentang pentingnya memahami kesetaraan gender. Oleh karena itu, memang benar bahwa perempuan dalam organisasi media masih menghadapi ketidaksetaraan, tetapi kondisi seperti itu telah memberdayakan mereka untuk mencari solusi di dalam untuk keluar dari lingkaran marginalisasi.

Hasil survei pada penelitian ini juga menunjukkan bahwa setidaknya ada enam hambatan yang harus dihadapi kepemimpinan perempuan di media, yaitu hambatan sosial budaya, kondisi struktur organisasi, proses internal organisasi, latar belakang individu, soft skill yang dimiliki individu, dan rencana karir individu. 

Pola-pola hambatan pada kepemimpinan perempuan ditempatkan hambatan di level organisasi sebagai hambatan utama, diikuti dengan hambatan individu, dan sosial budaya. Oleh karena itu, intervensi utama dalam mengurangi hambatan terhadap kepemimpinan perempuan mesti dilakukan pertama kali di level organisasional.

Perempuan tidak semata menjalankan business as usual, namun juga berperan menyuarakan ketidakadilan dan emansipasi. Mereka juga aktif membuat kebijakan yang ramah terhadap perempuan, meski masih dominan di level insidentil, ketimbang di level program dan institusional.

Namun ini juga bukan hal yang tidak mungkin, karena dengan adanya banyak perubahan dan perlawanan dari dalam, perempuan akan memiliki bargaining power yang bisa dipertimbangkan dalam kancah media.

Label seperti risiko dari pekerjaan juga harus kembali dipertanyakan. Dalam hasil penelitian ini PPMN menjelaskan sisi lain gaya kepemimpinan berkesadaran gender kaitannya dengan berpihak dan mendorong secara sadar peran perempuan tergolong sedang hingga tinggi (94.5%).

Tarik menarik isu perempuan ini membuat posisi jurnalis perempuan lemah dalam bargaining power. Kurangnya amunisi pemahaman tentang perspektif gender ketika berbicara dengan jurnalis laki-laki membuat mereka menjadi sulit untuk mengembangkan bahasan dan berujung dianggap baper.

Oleh karena itu mereka seringkali mendapatkan umpan balik sebaliknya seperti keraguan atasan atau dianggap pemberontak, atau mendapat perlawanan. Ada partisipan yang bahkan langsung melabeli dirinya sebagai “bukan” negosiator yang baik karena sering  tidak percaya diri atau tampak terlalu maskulin sehingga bisa jadi dipersepsi terbalik, dianggap berkompetisi dengan laki-laki.

Kondisi seperti ini mungkin tak hanya dijumpai pada media massa, pada profesi lain resiko di-subordinasi kerap dihadapi perempuan. Hingga hari ini menjadi pemimpin perempuan di media ternyata masih sulit rasanya karena banyak sekali tantangannya

Reka Kajaksana

Penulis dan Jurnalis. Menulis Adalah Jalan Ninjaku

Let's share!