Valentine, Tak Sekadar Urusan Asmara, Ada Perjuangan Melawan Pemaksaan

Valentine bukan sekadar urusan asmara. Ada kisah pahit dan perjuangan melawan pemaksaan kehendak di balik perayaan hari kasih sayang ini, perjuangan untuk mendobrak larangan berelasi yang dinilai tidak selaras dengan kemanusiaan.

Dengan apa kamu merayakan Valentine? Setoples coklat? bunga mawar? Atau sekadar merayakan cinta untuk dirimu sendiri?

Ya, hingga kini hari Valentine sering diidentikkan dengan pengungkapan rasa cinta yang lantas dikomodifikasi untuk merayakannya. Padahal, jika menengok ke belakang, ada sesuatu yang lebih dalam di balik Hari Valentine. Ada kepahitan dan pemberontakan terhadap pemaksaan kehendak dari penguasa di balik perayaan hari kasih sayang ini.

3 Versi tentang Valentine

Dilansir dari history.com, perayaan hari Valentine dipercaya bermula pada abad ke-3, tepatnya pada tahun 270an Masehi. Memang ada 3 versi cerita tentang hari Valentine ini:

1.Laki-laki Harus ke Medan Perang, Tak Boleh Menikah

Semua bermuara ke masa itu, masa kekuasaan laki-laki pada saat Kaisar Claudius II yang memerintah Romawi tidak mengizinkan laki-laki muda untuk menikah.

Ia menggariskan, bahwa tempat laki-laki adalah di medan perang, ketimbang membina rumah tangga dan menghidupi keluarganya. Perkawinan dinilainya dapat mengganggu fokus para lelaki dalam militer dan agama Kristen pada saat zaman Romawi Kuno dianggap sebagai agama yang sesat.

Versi pertama sejarah lahirnya hari Valentine diwarnai dengan penghormatan untuk Santo Valentine. Santo Valentine pemimpin agama Katolik saat itu tidak percaya pada ideologi Claudius II. Lantas diam-diam, Valentine mengatur pernikahan dengan melawan perintah sang Kaisar.

Ketika akhirnya pernikahan rahasia ini diketahui, Valentine dijebloskan ke penjara dan dijatuhi hukuman mati. Santo Valentine dianggap seorang martir karena telah membantu menikahkan pasangan Kristen, Santo Valentine yang ingin membangun peradaban berdasarkan cinta-kasih dalam keluarga.

2.Santo Valentine Jatuh Cinta pada Sipir Penjara

Versi kedua bercerita, Santo Valentine jatuh cinta kepada putri sipir penjara ketika dia dipenjara. Santo Valentine memberikan surat untuk mengungkapkan perasaannya pada tanggal 14 Februari sebelum dieksekusi. Di surat itu ia menuliskan “Dari Valentinemu”.

3.Perayaan Mengenang Santo Valentine

Versi lainnya menyebut bahwa hari tersebut lahir dikarenakan adanya festival di Roma yang bernama Festival Lupercalla. Pada festival tersebut laki-laki akan mendapatkan seorang perempuan berdasarkan undian dan setelahnya mereka akan berkencan selama setahun untuk saling mengasihi bahkan ada yang sampai menikah. Gereja mengubah ini menjadi sebuah perayaan Kristen sekaligus untuk mengenang Santo Valentine.

Dari ketiga versi ini, cerita-cerita yang selama ini diyakini sebagai cikal-bakal lahirnya hari Valentine bahwa hari kasih sayang ini berasal dari penganut agama Kristen di Roma yang lantas menyebar ke seluruh dunia. Dalam perjalanannya, makna hari Valentine bergeser dan menjadi sempit hanya sebatas pengungkapan kasih sayang antara sepasang kekasih.

Komersialisasi Valentine

Sudah sering diulas bagaimana momen Valentine kemudian dijadikan komoditas. Hari Valentine dikomersialisasi dan dimanipulasi agar orang-orang mau dengan sukarela membelanjakan uangnya demi cinta. Seolah kemampuan mencintai itu bisa diukur dengan kemampuan untuk membelikan hadiah bagi orang yang dicintai.

Hari Valentine pun kini identik dengan pesta, harus dirayakan di hotel atau harus dengan coklat dan bunga berhias pita. Padahal, seperti yang sudah dipaparkan di atas sejarah Hari Valentine bukan melulu soal asmara. Tapi juga ada upaya untuk mendobrak norma yang dinilai tak selaras dengan kemanusiaan. Mengungkapkan kasih sayang di Hari Valentine bisa dilakukan oleh siapapun dan ditujukan pada siapapun.

Merayakan Valentine dengan Teman atau Siapa Saja Yang Kamu Mau

Jadi kamu dapat merayakan Hari Valentine dengan cara baik-baik tanpa harus terjebak dalam komersialisasi ataupun hal-hal negatif lainnya. Dan, hari Valentine juga dapat dirayakan oleh semua gender, baik yang heteroseksual maupun yang homoseksual. Tidak hanya ungkapan kasih sayang antara laki-laki dan perempuan, namun untuk semua orang, dari saudara, teman, adik, kakak, orangtua.

Yang punya pasangan maupun yang sendirian, kamu tetap bisa merayakannya dengan tidak melakukan kekerasan atau membiarkan hubungan yang toksik, pun tidak melakukan hal-hal yang sebaiknya tidak dilakukan seperti: seks bebas atau mabuk-mabukan.

Ada banyak valentine yang bisa kita rayakan dengan cara berbeda. Sian Ferguson dalam everydayfeminism.com menuliskan pernyataan dan harapan-harapannya tentang valentine:

1. Merenungkan Relasi dengan Pasanganmu

Hari valentine bisa dimanfaatkan dengan melakukan refleksi tentang relasi kamu. Apakah ada penindasan di dalam relasi dengan pasanganmu? Apakah ada pemaksaan-pemaksaan atau pengekangan yang membuat kamu merasa tidak nyaman? Valentine bisa jadi momen untuk perenungan untuk itu semua.

2. Valentine, Saatnya Kamu Mencintai dan Merawat Dirimu

Ini hal yang sering kita lupakan, yaitu mengurus diri sendiri. Padahal memperhatikan diri sendiri adalah sesuatu yang penting untuk membuatmu merasa dicintai dan merasa lebih berarti. Maka gunakan momen Valentine untuk kebahagiaanmu sendiri, bahwa kamu berhak mendapatkan perawatan yang layak.

Kamu bisa menghadiahi diri sendiri dengan membeli sesuatu yang kamu sukai dan sangat kamu inginkan. Kamu juga bisa mengambil waktu untuk melakukan hal-hal kecil yang membuat kamu merasa baik, seperti mencoba beberapa makanan lezat, membaca, atau praktek membuat kerajinan sendiri. Atau kamu bisa mengambil waktu untuk merencanakan dan berkomitmen untuk secara rutin merawat diri sendiri di masa yang akan datang.

3. Rayakan Valentine dengan hadiah buatan sendiri

Jika kamu ingin memberikan hadiah untuk orang yang kamu sayangi pada hari valentine, kamu bisa membuat hadiah sendiri. Hadiah handmade seperti kartu, rajutan, barang-barang rumah tangga bisa kamu berikan sebagai hadiah yang manis. Dan, dijamin mereka akan senang menerimanya apalagi jika mereka tahu kamu telah meluangkan waktumu untuk hadiah itu.

4. Valentine, ungkapkan kasih sayang pada sesama

Komunitasmu adalah orang-orang yang selama ini berada di sekelilingmu. Mereka adalah orang-orang yang selalu mendukungmu. Kamu bisa melakukan ini bersama-sama komunitasmu, misalnya menyediakan buku-buku untuk anak-anak secara gratis di hari Valentine ini, mengunjungi panti jompo bersama-sama, atau sekadar membersihkan sampah secara bersama-sama. Keterlibatan komunitas selalu harus datang dari tempat cinta yang berpusat pada kebutuhan bersama.

5. Rayakan Valentine dengan semua cinta

Hari valentine bisa menjadi waktu yang tepat untuk merayakan persahabatan, hubungan keluarga dekat, dan hubungan yang penuh kasih. Kirimi saudaramu email atau ucapan untuk mengingatkan mereka betapa kamu sangat menghargai mereka. Pergi keluar untuk makan malam dengan teman-teman terbaikmu, kunjungi kakek-nenekmu untuk minum teh adalah hal yang bisa kamu lakukan. Jika kamu memiliki anak-anak, mungkin kamu bisa membawa mereka ke pantai, taman, atau menonton film. Bisa juga kamu memberikan hadiah kecil untuk rekan kerjamu atau tetanggamu.

6. Valentine, luangkan waktu special untuk teman atau saudara yang tinggal di tempat jauh

Apakah ada seseorang yang kamu jadikan teman dekat atau tempat untuk curhat, tapi kamu tidak pernah sempat untuk meminta mereka datang atau bertemu? Mungkin ada temanmu yang belum banyak kamu temui selama ini . Mengapa tidak menggunakan hari Valentine untuk menemui mereka?

Mulat Esti Utami

Selama 20 tahun bekerja sebagai jurnalis di sejumlah media nasional, mencoba tetap setia di jalan yang dipilihnya dengan bergabung di Konde.co

Let's share!

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on email