Akhirnya Saya Berani Jadi Pembicara: Kisah Perempuan dengan Gangguan Pendengaran 

Bagi perempuan dengan gangguan pendengaran seperti saya, menjadi pembicara di depan umum menjadi sesuatu yang meresahkan: apakah saya bisa berbicara dan orang-orang mengerti apa yang saya katakan? Pikiran-pikiran negatif ini selalu muncul dan menjadi momok atas keterbatasan saya ini. Tapi akhirnya saya berani melakukannya!

Sebagai seseorang yang mempunyai masalah pendengaran, berbicara di depan khalayak ramai seringkali jadi hal yang meresahkan. Oleh karena itu, sudah lama saya tak pernah mau ketika diminta mewakili berbicara atau menjadi pembicara di sebuah acara. 

Pikiran-pikiran negatif selalu muncul menjadi momok atas keterbatasan saya ini. Apakah saya bisa memahami dengan baik jalannya acara? Apakah pada saat sesi tanya jawab sata bisa memahami pertanyaan peserta sekaligus menanggapinya dengan baik? dan banyak hal lainnya. 

Bertahun-tahun kondisi itu menghantui saya. Tapi, belum lama ini saya berhasil memecahkannya. Saya baru saja menaklukkan ketakutan saya yang membelenggu. Saya merasa sangat senang dan bahagia. Momen saya sebagai salah satu pembicara perempuan di sebuah acara pada Sabtu 5 Februari 2022 lalu, tak akan pernah terlupakan.  

Semua itu bermula dari sebuah pesan singkat yang muncul di WhatsApp/ WA saya. Seorang teman lama, Imelda Astari, menginformasikan bahwa baru saja ada yang meminta nomor WA saya. 

“Mba, masih ingat Bang Jafar? Sekarang dia dosen di Universitas Teknokrat. Tadi dia nanyain nomor WA mbak Karin”, Kata Melda dalam WA-nya (Rabu, 2/2/2022). 

 Ya, saya masih ingat. Dulu kami pernah satu kantor di sebuah media online Kota Bandar Lampung. 

Tak berapa lama, benar masuk WA dari Bang Jafar yang menanyakan kabar sekaligus waktu luang. Saya dibuat penasaran. Tapi langsung saja, ia meminta saya untuk menjadi narasumber di acara yang akan dipandunya pada Sabtu, 5 Februari 2022.

Tumben memang, teman lama saya ini menghubungi saya. Namun, tawarannya saya iya-kan akhirnya. Meski sebenarnya, saya agak deg-degan karena sebelumnya tidak pernah menjadi pembicara atau narasumber yang bicara di depan banyak orang. Lagi pula, tentu saja ini ketakutan saya selama ini. 

Mengenai acaranya, saya belum tahu detail. Bang Jafar hanya menjelaskan bahwa ini adalah diskusi santai di mana para pesertanya ialah para mahasiswa program pertukaran pelajar di Universitas Teknokrat Indonesia, Bandar Lampung. Wah!

Pada akhir perbincangan, dia kemudian meminta Curicculum Vitae (CV) saya, yang nantinya ditampilkan saat acara diskusi, tepatnya perkenalan narasumber.

Menjelang Kali Pertama, Saat yang Menegangkan

Selama dua tahun masa pandemi, banyak aktivitas diskusi memang dilaksanakan secara daring. Saya berterima kasih sekali kepada para ahli IT termasuk Eric Yuan, yang telah menciptakan aplikasi meeting online zoom– salah satu aplikasi meeting ataupun diskusi yang paling populer dan lazim digunakan.

Berkenaan itu, Bang Jafar pun mengabarkan bahwa diskusinya nanti juga akan berlangsung daring. Disebabkan situasi pandemi sekaligus para peserta diskusinya yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia. 

Berbagai acara seminar, workshop, diskusi berbasis daring memang tak asing bagi saya. Saya sering mengikutinya. Bisa dibilang, saya pun sedikit banyak bisa memahaminya. Dengan amunisi sebuah ponsel pintar dan earphone, saya biasanya bisa mendengar cukup jelas apalagi jika diskusinya menyediakan bahasa isyarat.   

Namun kali ini, saya akan menjadi pembicaranya. Itu yang membuat pengalaman pertama bagi saya. Maka dari itu, saya pun perlu melakukan berbagai persiapan. Baik secara mental maupun teknis. 

Sehari menjelang acara, tak dipungkiri hati saya gundah gulana. Meski sudah mencoba bersikap biasa saja, tapi kepikiran juga. 

Saya mulai untuk menghubungi Bang Jafar untuk menanyakan perihal teknis pengiriman CV yang saya lakukan sempat mengalami kendala. Laptop saya masih di service center, makanya saya tak bisa menambahkan foto. Dia pun bisa memaklumi dan memberikan respons baik. 

Dia kemudian menginformasikan bahwa acara diskusi yang dijadwalkan pukul 09.00 WIB, kemudian bergeser ke pukul 15.30 WIB. Saya sedikit lega, karena artinya saya mempunyai tambahan waktu untuk melengkapi CV. 

Namun lagi-lagi, soal bagaimana menjadi pembicaranya nanti, masih menjadi pikiran saat itu. Bagaimana ya diskusinya nanti? Apakah saya bisa dan akan baik-baik saja? Tetap menjadi pikiran.

“Diskusinya santai kok, tenang saja. Kan saya yang memandu,” ucap Bang Jafar, yang seolah mampu membaca keraguan saya saat itu. 

Ternyata Saya Bisa, Kamu Juga!

Kegiatan diskusi sebentar lagi tiba. Saya saat itu, tidak memikirkan apa-apa lagi. Pokoknya stand by. Hp terpasang di tripod atas meja dan earphone tersambung ke lubang di hp. 

Perlu waktu sekitar 10 menit untuk menunggu hingga peserta diskusi online hadir semua. Jumlah pesertanya tak banyak. Kalau tak salah ingat, ada 15 orang. Tapi yang menarik, mereka berasal dari beberapa universitas di Indonesia.

Saya baru tahu saat Bang Jafar membuka acara dan memberi pengantar. Acara diskusi santai ini rupanya sebagai bagian dari perkuliahan di Universitas Teknokrat yang Bernama Modul Nusantara. Para peserta diskusi ialah mahasiswa/i yang sedang menjalani program pertukaran pelajar di sana. 

Makanya para pesertanya berlatar belakang dari berbagai universitas di Indonesia. Tidak semua universitas di Indonesia. Beberapa yang saya ingat, ada yang dari Universitas Jember, Universitas Ibnu Khaldun, UGM, Universitas Teknokrat, dan lain-lain.

Dalam diskusi Modul Nusantara ini, saya diminta untuk sharing atau berbagi cerita seputar perjalanan kepenulisan dari sisi penulis yang berasal dari etnis Tionghoa. 

Setelahnya ada sesi tanya jawab dengan para peserta diskusi, acara yang dimulai pukul 15.30 WIB itu, akhirnya berakhir sekitar pukul 17.00 WIB. Selesai acara, saya baru menyadari bahwa diskusi santainya berlangsung dalam durasi cukup lama. Tapi seolah tak terasa, saya begitu menikmatinya. 

Ada kegembiraan karena bisa berbagi cerita dan sedikit ilmu yang saya miliki dengan para peserta diskusi. Kegembiraan lain, sekaligus kelegaan bahwa saya bisa “menjadi narasumber diskusi”. Saya bisa menaklukkan ketakutan dan keresahan yang selama ini membelenggu saya: menjadi pembicara. 

Momen ini mungkin hanya sepersekian persen dari upaya mengikis ketakutan tersebut. Tapi setidaknya, saya telah berani memulai atau menghadapinya. 

Apa pelajaran yang bisa saya ambil dari pengalaman ini?

Ada beberapa hal yang bisa saya catat mengenai cara mengatasi ketakutan saya menjadi pembicara. Pertama, kita perlu menggali informasi mengenai acara diskusi tersebut. Apa tujuan dari diskusi, apa tema atau topik diskusi perlu dicari tahu sehingga kita punya gambaran yang jelas atau pasti.

Kedua, dalam mencari informasi tersebut kita bisa bertanya kepada panitia atau moderator acara. Tak salah juga kalau kita mencari tahu mengenai bagaimana format acara, siapa-siapa yang hadir seperti narasumber lain dan para peserta diskusinya nanti. 

Khusus kepada moderator, boleh dilakukan komunikasi lebih intensif. Semisal, saya yang mempunyai masalah pendengaran, maka bicarakan hal ini kepada moderator sehingga sedikit banyak ia bisa memahami kondisi dan pada saat pelaksanaan acara bisa mendukung kondisi kita.

Ketiga, berusaha berpikir positif. Bisa dengan melakukan afirmasi yang baik secara berulang. 

Keempat, tentu saja jangan lupakan berdoa dan berserah. Terlebih pada hari H acara, berusahalah untuk rileks dan fokus. Tak perlu memikirkan bagaimana hasilnya. Lakukan saja yang terbaik, yang kita bisa.

Kelima, ini sederhana namun kerap dilupakan jangan terlalu banyak khawatir. Bahwa seringkali apa yang kita takutkan atau khawatirkan dalam pikiran, pada kenyataannya saat dilakukan ternyata tidak semengerikan seperti yang kita pikirkan.

Semoga kamu juga bisa mendobrak keterbatasan dan ketakutanmu ya!

Karina Lin

Jurnalis dan Penulis

Let's share!