Bukan Dapur-Sumur-Kasur: Kodrat Perempuan Itu Haid, Hamil, Melahirkan dan Menyusui

Sejatinya, kodrat perempuan yang tak bisa dilakukan laki-laki hanyalah menstruasi, mengandung, melahirkan dan menyusui. Yang lain-lain, bahkan termasuk mengasuh dan membesarkan anak, bisa dilakukan laki-laki dan perempuan.

Urusan perempuan adalah dapur, sumur kasur! Demikian anggapan banyak orang tentang peran perempuan dalam kehidupan sehari-hari dan bermasyarakat. Ini jelas salah besar!

Ya, peran gender tradisional atau anggapan bahwa perempuan sebagai satu-satunya pihak yang bertanggung jawab atas semua pekerjaan domestik (urusan rumah tangga dan mengasuh anak) dan laki-laki adalah pencari uang dan penentu kebijakan sebagai hasil kontruksi sosial yang telah berlangsung ratusan tahun itu hingga kini masih mengakar di benak masyarakat.

Padahal sejatinya, kodrat perempuan yang tak bisa dilakukan laki-laki hanyalah menstruasi, mengandung, melahirkan dan menyusui. Yang lain-lain, bahkan termasuk mengasuh dan membesarkan anak, laki-laki juga bisa melakukannya. Seperti halnya perempuan juga bisa mencari nafkah.

Yang pasti, konstruksi sosial yang salah kaprah ini kerap menyebabkan perempuan, terutama seorang ibu, harus menanggung beban ganda dan mengemban berbagai peran; misalnya sebagai ibu rumah tangga yang harus mengerjakan pekerjaan domestik, sebagai istri, sebagai orang tua bagi anak, dan peran sebagai pencari nafkah untuk membantu meringankan beban ekonomi keluarga.

Merespon hal ini, Campaign bersama Asha Puan, komunitas yang bergerak di isu kesetaraan gender, bekerja sama dengan Yayasan Pulih sebagai salah satu penggerak utama kesetaraan gender di Indonesia meluncurkan kampanye social  #BerbagiPeran.

Asha Puan, melalui kampanye di mesia sosial, lantas hadir untuk memberi dukungan dan kesempatan yang sama tanpa memandang gender untuk menghilangkan stereotip peran gender tradisional. Yasmin Afifah, Founder Asha Puan mengungkapkan, kampanye sosial ini digagas karena terdorong oleh peningkatan intensitas pekerjaan rumah tangga akibat pembagian pekerjaan rumah tangga yang tidak merata yang dialami oleh perempuan sejak pandemi Covid-19 melanda Indonesia sejak 2020.

“Dengan adanya kampanye ini diharapkan terlahirnya kebiasaan baru laki-laki yang tidak segan dalam melakukan peran domestik dan tidak ada lagi stigma ‘kewajiban’ untuk perempuan mengerjakan pekerjaan domestik karena peran itu bisa dikerjakan bersama-sama.” ungkap Yasmin.

Pada dasarnya, tiap anggota keluarga memiliki peran serta tanggung jawabnya masing-masing yang tidak terbatas pada peran gender tradisional; pekerjaan rumah itu bukan hanya kewajiban yang hanya dilakukan oleh perempuan. Menurut Dian Indraswari, Direktur Yayasan Pulih, “pembagian peran di pekerjaan domestik merupakan salah satu cara untuk menciptakan/mengusung isu kesetaraan gender.

Melalui #BerbagiPeran, kita akan belajar caranya untuk menciptakan kemitraan yang sehat dan setara antara perempuan dan laki-laki, menantang bias persepsi mengenai peran gender yang kita miliki selama ini, termasuk juga saling mendukung satu sama lain untuk menciptakan kesetaraan.

Peran perempuan dan laki-laki dalam ranah domestik sama-sama penting dan setara; tidak ada yang lebih penting ataupun kurang penting.”

Lingkungan sosial dan rumah tangga yang menerapkan norma gender tradisional kerap memaksa perempuan tetap melakukan tugasnya sebagai penanggung jawab pekerjaan domestik, sekalipun ia telah memiliki tanggung jawab sebagai pencari nafkah/bekerja.

Berdasarkan data dari bps.go.id, angka perempuan menikah atau ibu rumah tangga sambil bekerja pada tahun 2020 mencapai 28,74 persen dan naik signifikan dari tahun 2019 yang persentasenya mencapai 26,77 persen.

Yayasan Pulih berpendapat jika terjadi ketimpangan, maka tidak ada kesetaraan di rumah. Ketimpangan ini dapat mengarahkan pada munculnya konflik yang berkepanjangan dan tidak selesai, sehingga berdampak pada seluruh anggota keluarga.

Dampaknya bisa sangat beragam, baik dampak psikologis, emosional, fisik, ekonomi dan sebaginya. Da, kondisi ini tak hanya berdampak di rumah saja tapi juga akan berdampak dalam lingkungan yang lebih luas termasuk sekolah, tempat kerja, maupun komunitas karena kita bagian dari sistem masyarakat.

Kampanye sosial ini dijalankan seluruhnya secara digital lewat aplikasi Campaign #ForChange, sebuah platform aksi sosial garapan startup Campaign.com, Asha Puan mengajak publik untuk melakukan empat aksi dan setiap aksi yang terselesaikan akan dikonversi menjadi donasi sebesar Rp10.000 oleh Yayasan Dunia Lebih Baik dan Kampus Merdeka.

Donasi ini nantinya akan digunakan untuk pelaksanaan lokakarya (workshop) gratis seputar pembagian peran anggota keluarga di dalam rumah tangga bersama Yayasan Pulih. Keterlibatan Asha Puan dan dua sponsor ini juga diharapkan dapat menginspirasi generasi muda dan masyarakat umum untuk sadar akan perjuangan perempuan menghadapi kerasnya peran gender dan beban ganda.

Di Indonesia, tak sedikit aksi-aksi sosial yang digelar oleh berbagai organisasi dan individu demi mencapai tujuan tersebut. Salah satu platform yang cukup banyak dimanfaatkan oleh anak muda adalah aplikasi Campaign #ForChange, wadah bertemunya organisasi/komunitas sosial, suporter yang mendukung kampanye, dan sponsor yang mengkonversi aksi-aksi tersebut menjadi donasi.

Dalam aplikasi yang digarap oleh startup sosial Campaign.com ini, hingga saat ini ada 426 organisasi/komunitas sosial yang bergabung dan meluncurkan kampanye sosial dengan lebih dari 413 ribu aksi dari para suporter, dan lebih dari 1,52 miliar rupiah donasi yang disalurkan. Kampanye sosial yang berjalan, membawa fokus pada isu perempuan dengan tujuan yang beragam, seperti persoalan sosial seputar gender yang memiliki banyak dimensi dan lapisan.

Salah satunya, kampanye yang diusung MotherHope Indonesia, sebuah organisasi yang bertujuan menciptakan ruang aman bagi ibu baru untuk berbagi tanpa dihakimi. Organisasi ini tengah menjalankan #SayangiIbuCegahDepresi di aplikasi Campaign #ForChange yang mengajak masyarakat untuk memberikan dukungan emosional dan praktikal kepada ibu hamil dan pasca melahirkan.

Campaign juga bekerjasama dengan Konde.co, untuk kampanye stop bias pada perempuan dan kelompok marjinal di Bulan Maret 2022

Masih banyak lagi kampanye sosial tentang isu perempuan lainnya dalam aplikasi Campaign #ForChange. Bagi publik yang ingin merayakan Hari Perempuan Internasional dengan cara yang berbeda dan beraksi nyata bagi masyarakat, mengambil aksi sosial di aplikasi Campaign #ForChange bisa menjadi salah satu alternatif

Tim Konde.co

Konde.co lahir pada 8 Maret 2016 untuk mengelola ruang publik dari sudut pandang perempuan dan minoritas sebagai bagian dari kesadaran dan daya kritis, menghadirkan penerbitan artikel di website, produksi video/ film, dan informasi/ pengetahuan publik. Kini dikelola oleh individu-individu yang mempunyai kesamaan dalam memandang perempuan dan minoritas.

Let's share!

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on email