Butet Manurung Jadi Model Boneka Barbie: Kita Butuh Cara Modern untuk Angkat Isu Masyarakat Adat

Butet Manurung, aktivis Sokola Rimba menjadi model internasional Boneka Barbie. Dalam wawancara khusus dengan Konde.co, Butet menyatakan alasannya menjadi model Barbie: “aku nggak mau dibayar, tetapi aku minta mereka membantu Sokola. Jika aku dibayar aku merasa mengambil untung dari apa yang aku lakukan bagi masyarakat adat. Jika aku dibayar untuk ini, aku akan merasa sangat tidak nyaman. Aku tidak se-low itulah!”

Saur Marlina (Butet) Manurung terpilih menjadi salah satu dari 12 Global Role Models boneka Barbie, yang dirilis pada Hari Perempuan Internasional pada 8 Maret 2022. 

Ke-12 tokoh perempuan dari berbagai negara ini dipilih karena kerja mereka yang dinilai memberikan sumbangan besar bagi perempuan dan kemanusiaan. 

Butet Manurung. Perempuan yang lama dikenal sebagai aktivis dan pendiri Sokola Rimba antara lain bersanding bersama Shonda Rhimes pendiri Shondaland (AS); Arie Horie pendiri dan CEO Women’s Startup Lab (AS/Jepang); Pac McGrath, make up artis dan pendiri Pat McGrath Labs; Jane Martino, Pendiri Smiling Minds (Australia) dan Lan Yu seorang desainer dari China.

Di web resmi Mattel Inc., mattel.com menyebut pemilihan Butet didasarkan pada kerja-kerjanya di Sokola Rimba, organisasi nirlaba yang didirikannya.

“Bersama Sokola Institute, Butet memberikan kesempatan pendidikan dan literasi bagi sekitar 15.000 orang dari kelompok marjinal dan warga daerah terpencil,” demikian tulis Mattel di web resminya.

Bagaimana Butet bisa terpilih dan bagaimana tanggapannya mengenai hal ini? berikut wawancara Konde.co dengan Butet yang saat ini sedang menuntut ilmu di Belanda yang dilakukan via Zoom pada Senin (14/3/2022) malam.

Bagaimana ceritanya bisa terpilih menjadi salah satu dari Global Role Models Boneka Barbie?

Aku pertama kali diberitahu soal itu dari Indit (Staf Sokola Rimba yang berada di Jakarta), awalnya aku bilang nggak lah, karena kita tahu nilai apa yang dibawa Boneka Barbie selama ini, yaitu perempuan sempurna secara fisik, dan ukuran fisiknya juga ala Barat. Jadi saya sempat berpikir nggak usah lah.

Tapi kemudian saat menerima WA itu saya sedang bersama seorang teman film maker dari Indonesia dan juga suami saya. Terus saya cerita saya setuju sama Indit untuk tidak terima tawaran itu. Terus mereka melihat dan bilang, “kenapa kamu bilang begitu, bukankah seharusnya kamu melihat ini sebagai kesempatan memberi tahu, ada perempuan yang nggak kayak gitu. Banyak perempuan yang punya pekerjaan yang bisa dibanggakan?.”

Terus aku pikir dan suami saya juga bilang, kenapa nggak kasih mereka kesempatan untuk minimal menjelaskan misi mereka. Karena terus terang saya nggak ngikuti sama sekali ya tentang Barbie dan nggak tahu kalau ternyata Barbie punya koleksi serie profesi. Yang role model atau apa, yang bunda Ana Avantie juga pernah jadi salah satu tokoh yang dipilih.

Jadi aku ngobrol lagi sama Indit, kita kumpul lagi, ingin tahu apakah sejalan dengan misiku. Kemudian, karena mereka mau ikutin apa aku mau, jadi misalnya aku yang akan menentukan baju, dan tampilanku seperti apa dan seperti apa aku mau digambarkan. Sampai diukur-ukur tinggi badan dan difoto-foto. Karena yang bikin itu kan pengrajin dari Amerika Serikat jadi harus banyak data.

Dan kemudian, walau aku menilai nggak mirip-mirip banget. Masih ada yang kurang, masih terlalu panjang. Aku kan nggak setinggi boneka-boneka yang lain, tapi mungkin itu semua kayak orang Asia. Nggak tahu juga sih, mungkin itu juga ukuran mereka, karena aku belum pernah pegang boneka Barbie.

Jadi sempat berpikir menolak?

Iyaa, tapi kemudian ngobrol. Dan aku suka dengan idenya soal breaking the ownrising. Akhirnya aku paham ketika mereka memilih tokoh semacam bunda Ana Avantie. Kan memang orang-orang seperti dia yang menabrak stigma anak perempuan yang harus gimana, yang mungkin dianggap harusnya nggak boleh atau nggak akan mampu, yang membayangkan bahwa ini hanya sekadar mimpi. Tapi ternyata kan Bunda Avantie pendidikannya nggak tinggi, dia bisa belajar sendiri dan kemudian mampu menjadi seseorang.

Kan breaking ownrising ya seperti itu kan, bukan yang sekadar mengandalkan privilege kan? Aku senang dengan idenya, dan aku pikir akan lebih banyak perempuan yang tahu tentang hal itu. Itu sih alasan akhirnya menerima. 

Proses hingga akhirnya memutuskan menerima itu butuh waktu berapa lama?

Yang banyak eksplore itu Indit sebetulnya, saya waktu itu sedang sibuk dengan proposal Phd saya. Jadi Indit yang banyak mencari tahu, jadi saya tidak ingat persis berapa lama waktu itu. Yang pasti saya mulai dihubungi sekitar November 2021. Tapi saya tanya balik, kenapa itu penting. Yang penting kan seberapa dalam info yang kita bawa. Saya berada di Australia, saya nggak ngerti yang ngobrol itu Indit. Tapi yang jelas, kita yang dikejar-kejar terus. Karena kita maju mundur juga.

Dan mereka bilang, dari Amerika maunya hanya Butet nggak bisa dialihkan kepada orang lain. Karena saat itu nggak ada yang diincar untuk tahun 2022 ini. Jadi mereka mau ikutin apa yang menjadi mau saya dan apa yang saya tidak mau.

Misalnya di MoU ada kata-kata, saya harus mengendorse produk Barbie. Saya bilang, saya nggak mau jadi endorser. Saya nggak mau dibayar, saya bukan endorser jadi saya nggak mau dibayar. Tapi mereka harus menyumbang Sokola, hehehe kayak gitu. Jadi seperti itu, kira-kira butuh waktu sebulan ya untuk menyakinkan kami untuk mengiyakan.

Selain pakaian dan ukuran, ada syarat lain yang diajukan Butet?

Saya nggak pasti, selama beberapa bulan itu ada banyak banget printilan yang aku juga susah. Banyak juga yang akhirnya mereka juga menyerah, misalnya aku biasanya rambut hanya digelung dan ditusuk pakai pensil aja gitu. Mereka berusaha keras, tapi tetap nggak bisa karena ini kan rambut palsu dan sebagainya. Akhirnya ya sudah.

Oh ya sebenarnya, ada tahapan setelah ini. Yaitu aku harus mentoring anak muda perempuan selama berapa lama persisnya aku lupa, tapi waktunya terserah aku, mau weekend atau hari kerja. Mau setiap bulan atau dua minggu sekali. Tapi aku bilang, aku nggak bisa lakukan itu karena sebuah alasan.

Aku nggak mau ada permintaan apa-apa, aku mau jadi role model ya udah, tapi aku nggak mau ngapa-ngapain. Akhirnya mereka bujuk-bujuk, bahwa anak-anak ini ingin bisa dimentori kak Butet, misalnya untuk menguatkan misinya. Jadi kebanyakan mereka sudah punya proyek di negaranya masing-masing, tapi aku belum tahu apa, tapi mereka ingin dikuatkan. Atau mau merelate dengan pengalamanku merintis sesuatu yang dihalangi banyak hal itu, seperti apa.

Terus ada satu hal lagi yang aku tanyakan, siapa penggalang dana untuk mentoring itu. Karena katanya mereka melibatkan lembaga penelitian atau lembaga mentoring lain, lantas kubilang kalau aku nggak mau kalau lembaga itu didanai oleh perusahaan yang nggak sejalan dengan visi Sokola. Misalnya lembaga yang berlatar politik, agama atau berlatar tambang/perkebunan yang punya riwayat nggak baik dengan hak ulayat rakyat. Jadi, saya bilang kalau nanti aku akhirnya mentoring hal itu harus dimasukkan dalam perjanjian kita.

Kayak misalnya, mereka bilang paling sedikit semua postingan Barbie tentang role model direpost kembali, aku bilang nggak mau. Saya mungkin me-repost jika isinya sesuai dengan nilaiku, jadi apapun yang aku posting sesuai dengan apa yang aku mau.

Ternyata cukup alot ya?

Ya begitulah, tapi aku bilang setiap kali aku akan posting akan tanya kepada Barbie dan aku bersedia contentku diedit. Terus mereka setuju-setuju saja, tapi kemarin ketika aku mau posting yang terkait penunjukan itu mereka bilang “terserah aja, bebas”. Ya udah akhirnya aku posting aja semua.

Jadi memang sedikit alot, karena kita nggak biasa bekerja sama dengan perusahaan yang sangat profit, apalagi perusahaan mainan mahal. Mereka pasti banyak legal-legalnya. Sementara aku harus berhati-hati.

MoU itu panjang banget, dalam Bahasa Inggris sementara akunya sedang sibuk siapin proposal jadi ya sudah.  Itu MoUnya banget baru jadi awal Februari, aku dikejar-kejar terus, Tapi saya bilang saya belum mau tanda-tangan. Jadi teman-teman saya bantuin cari orang legal, karena kita juga nggak mau salah langkah. Padahal mungkin nggak harus seberhati-hati itu, tapi saking kita sangat hati-hati dan ternyata mereka tidak terlalu rewel.

Butet menolak dibayar untuk menjadi role model ini, bisa dijelaskan apa alasannya?

Aku nggak mau dibayar, tetapi aku minta mereka membantu Sokola. Jika aku dibayar aku merasa mengambil untung dari apa yang aku lakukan bagi masyarakat adat. Jika aku dibayar untuk ini, aku akan merasa sangat tidak nyaman, saya tidak se-low itu. Dan, akhirnya mereka setuju. Dan, karena aku nggak dibayar aku bisa menentukan apa yang aku mau lakukan dan tidak mau aku lakukan donk.

Omong-omong, kontraknya akan sampai kapan?

Tidak disebutkan sih sampai kapan, nggak ada kontrak-kontraknya sih. Cuma mereka bilang tahun 2022.

Ada penilaian negatif Barbie yang mungkin kurang sejalan dengan misi yang diembang Sokola selama ini. Bagaimana Anda menyikapi hal ini?

Kekhawatiran kita sih takut direpresentasikan secara salah aja. Aku waktu itu juga nggak kebayang apa yang bakal salah, cuman waktu itu aku punya impresi bahwa Barbie itu agak buruk. Karena, setahu aku memang mengandalkan kecantikan fisik.

Jadi saat aku cerita ke mama dan teman-teman, mereka sempat bertanya, “Kamu nggak salah Tet?” Tapi aku pikir-pikir gimana kalau saling mutualisme saja. Maksudnya, aku dengan latar belakang aku bisa memanfaatkan ini untuk misiku dan Sokola. Itu sih mikirnya, yang penting jangan sampai mereka menggambarkan kita sebagai aktivis yang seolah-olah cuma bermodalkan hobi. Cuma sekadar berpetualang dan nggak punya tujuan dan misi. Saya nggak mau digambarkan seperti itu.

Harapan setelah terpilih ?

Harapannya, karena aku pernah mengalami waktu kecil itu banyak dilarang-larang atau didiscourage terus, jadi aku berharap ini mungkin bisa jadi contoh atau ide bagi anak-anak lain di seluruh dunia yang juga menemukan halangan untuk passion mereka untuk tetap melangkah maju. Kalau aku kan passionnya kan berpetualang, aku tuh inginnya orang tua bisa mengerti passion anak-anak mereka.

Selain itu, aku juga berharap bisa memanfaatkan fansnya Barbie ya, saya sama Sokola itu ingin kita mencari jalan yang nggak konservatif untuk menyampaikan isu terkait masyarakat adat secara luas, bukan lewat jalan yang klasik gitu loh. Saya ingin cara-cara kita harus ngepop, kita harus menggunakan bahasa yang bisa dipahami oleh komunitas yang selama ini belum kami jangkau.

Kalau selama ini kami bicara lewat jalur LSM terus, maka lewat Barbie kita ingin kampanye kita akan masuk ke dunia para fansnya Barbie. Tapi jangan salah ya, boneka Barbie ini nggak dijual loh!

Jadi ini nggak dijual, itu yang harus dicatat. Jadi boneka itu hanya dibuat satu untuk masing-masing role model dan orang-orang hanya akan melihatnya sebagai inspirasi. Jadi saya setuju juga, dengan keputusan untuk tidak dijual, karena mereka juga tidak mau menodai seolah-olah ini untuk menangguk untung.

Jadi boneka itu diberikan kepada masing-masing tokohnya. Mungkin mereka akan punya foto-fotonya, dan mereka akan selalu dipasang di website Barbie dan akan selalu menjadi inspirasi di sana. Jadi saya memanfaatkan itu, agar kampanye kami menjangkau masyarakat yang lebih luas.

Jadi akan banyak manfaat bagi masyarakat adat yang selama ini didampingi Sokola?

Iya betul, masyarakat adat, dan juga anak-anak perempuan, mereka akan mendapatkan model yang tak biasa. Maksudnya, nggak ada masalah anak-anak akan mengidolakan boneka Barbie yang pirang dan kurus. Tetapi, menurut saya, nggak adil kalau kita hanya menyediakan satu keidealan seorang perempuan. Harus disediakan berbagai pilihan dan saya mendukung itu. 

Karena Barbie juga sudah move on, sudah tersadarkan bahwa ada banyak perempuan yang keberhasilannya tidak saja dari kecantikan, kemashsyuran atau kekayaannya saja.

Dan mereka memutuskan ini tidak komersil, saya juga senang dan itu menjadi salah satu alasan mengapa saya setuju.  

Gimana rasanya menjadi yang terpilih dari miliaran perempuan di dunia?

Terus terang kaget, kenapa kok orang heboh banget. Ini kan hanya dijadiin role model, ya udah gitu ajah. Aku heran dan nggak nyangka, apalagi saya sedang sibuk-sibuknya bikin proposal S3. Jadi aku benar-benar overwhelmed, banyak terima pesan dari politikus, KBRI di banyak negara, akademisi, professor, artis pada nginbox. Pokoknye keren banget, kamu memberi aku harapan, Kamu mewakili aku.

Ada yang bilang, aku akan mencoba untuk lebih mengikuti passion aku. Itu bikin aku haru, tapi nggak nyangka juga.  Jadi aku benar-benar nggak nyangka, dan baru tersadar sebenarnya dampak yang saya rasakan lebih besar dari itu.

Jadi bukan sekadar untuk aku dan lembagaku saja, ternyata orang-orang juga merasa terwakili. Kalau dalam Bahasa Sunda istilahnya mahiwal. Itu bisa diartikan kamu jangan merasa aneh kalau kamu merasa berbeda.

Dulu aku pernah dapat Ramon Magsaysay yang oleh banyak orang disebut sebagai Nobelnya Asia. Itu responnya nggak seheboh sekarang. Itu bisa dibilang yang tahu dan mengontak aku paling hanya 10 orang. Salah satunya Riri Riza yang kebetulan mengidolakan Mochtar Lubis yang juga meraih penghargaan serupa.

Jadi sampai sekarang aku belum balas semua. Ada yang nanya belinya di mana, padahal bonekanya kan Cuma satu dan tidak dijual ya. Hahaha.

Terkait baju yang dipilih, bisa dijelaskan apa pertimbangannya?

Oh itu baju ala rimba, atasnya dan bawahnya kain batik Jambi. Dan orang Rimba itu paling suka warna merah. Itu kain batik tulis Jambi yang aku sayang-sayang. Aku banyak kain-kain lain, tapi kalau batik Jambi hanya punya satu itu, karena memang nggak mampu beli banyak. Kalau yang bawah itu punya Indit.

Aku nggak pakai itu terus difoto. Aku hanya kasih foto-foto saat aku di Jambi dan foto kainnya, lantas aku jelaskan dan mereka yang membayangkan.  Dan, itu para pembatik Jambi juga nyariin aku untuk konfirmasi apakah itu benar kain batik Jambi. Waktu aku bilang iya, mereka senang banget karena merasa dipromosikan.

Pakai kalungnya juga pakai kalung rimba yang dibuat dari biji-bijian.

Bagaimana Butet menanggapi kritik yang muncul bahwa ini adalah akal-akalan Barbie untuk create pasar yang sekarang cenderung berubah?  

Aku pikir senang juga dikritisi, bahwa aku harus lebih hati-hati. Tapi mungkin itu karena mereka belum tahu bahwa boneka ini tidak untuk dijual. Apalagi ditambah dengan citra Barbie di masa lalu. Terus kebetulan aku kurus. Kemarin aku sempat bertanya, kalau misalnya aku gemuk, berkaki satu atau disable lainnya apakah aku akan tetap dipilih? Ternyata mereka bilang, ya tetap terpilih.

Jadi aku senang dengan semua kritik itu, dan menurutku itu sudah benar. Bahwa kita harus melihat sesuatu itu dari sisi berlawanan. Tapi bisa aku katakan, Barbie jelas tidak mendapatkan uang dari sini. Tapi mereka diuntungkan dalam hal kredibilitas atau image, dengan memberikan penghargaan yang namanya “One of The Kind”.

Mereka membuat itu dengan sangat detail, memperhatikan dengan detail. Mukanya harus mirip, sinar matanya harus sama. Itu luar biasa, dan aku tahu ini juga akan menjadi apa namanya, marketing terselubung. Tapi secara halus, karena secara uang mereka tidak mendapatkan untung kan?

Jadi mereka memanfaatkan ini untuk marketing produk mereka yang lain. Meski tidak dijual, tapi minimal orang jadi baca, Jadi menurut aku kita sama-sama diuntungkan. Tentu saja mereka diuntungkan bukan dalam hal kapital, tetapi semacam CSRnya mereka untuk mengkampanyekan filosofi Barbie atau filosofi feminisme kepada anak-anak perempuan.

Jadi tetap ada pengaruhnya dalam membangun persepsi anak perempuan tentang perempuan ideal?

Ya, ideal dalam konsep si anak itu sendiri. Jadi anak lah yang memaknai arti sukses, bukan hanya cantik dan kaya. Aku mendukung itu dan memanfaatkan ini untuk misi kami mendukung masyarakat adat. Lewat Barbie ini kami bisa menjangkau audience yang lebih luas yang selama ini tak tersentuh oleh isu kami.

Jadi untuk para perempuan muda, ketika kita memiliki minat di waktu kecil itu pasti ada alasannya, sehingga harus diikuti. Menurutku tidak ada orang yang bodoh, yang ada adalah orang yang tak mengikuti kata hatinya.

Karena itulah kita dilahirkan dengan keunikan masing-masing yang akan menuntun kita ke jalan di masa yang akan datang.  Jadi ikuti kata hatimu. Apapun mimpimu, apapun profesi yang kamu bayangkan, itu semuanya baik. Yang penting kamu menyukainya.

Aku juga banyak teman yang bilang, dulu aku juga suka hutan Tet, dan ada yang bertahan di tempat yang diakuinya tidak disukai.

Ya maaf kata, kalau buat saya, orang yang paling sial di dunia adalah orang yang tidak mencintai pekerjaannya. Nggak ada profesi yang lebih baik dibanding profesi yang dijalani dengan sepenuh hati. Aku kasihan sama orang yang ngeluh-ngeluh I hate Monday, berarti kan dia tidak mencintai pekerjaannya. Dan itu fatal.

Bayangkan kalau kita sudah usia 80 tahun, saat maut sudah akan menjemput, kita baru ingat mimpi kita. Ini sudah telat kan? Kalau kita dengar orang-orang yang sebelum meninggal, banyak kan yang menyesali apa yang tidak dia coba dalam hidupnya ketimbang apa yang sudah dia lakukan.

Jangan sampai anak-anak nggak mengikuti mimpinya, karena itu dianggap nggak baik oleh semua orang. Aku contoh yang sebaliknya nih, hampir nggak ada orang yang menyebut baik apa yang aku lakukan. Sampai dirapatin keluarga besar, putus sama pacar, berantem sama tempat aku bekerja karena memilih jalan yang berbeda. Tapi kalau aku berhenti justru aku merasa salah. Zona nyaman aku ya mempertahankan mimpiku itu.

Mulat Esti Utami

Selama 20 tahun bekerja sebagai jurnalis di sejumlah media nasional, mencoba tetap setia di jalan yang dipilihnya dengan bergabung di Konde.co

Let's share!

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on email