Menolak Mengeluh, Perempuan Bali Memilih untuk Berpeluh

Kedudukan laki-laki di Bali sering dipandang sebagai raja dalam keluarga. Mereka tidak diperbolehkan mengerjakan pekerjaan domestik, hanya dituntut belajar serius. Sebaliknya, perempuan Bali harus memikul tanggung jawab berlipat ganda dalam keluarga.

Novelis Bali, Oka Rusmini, dalam novelnya Tarian Bumi pernah menuliskan soal perilaku laki-laki di Bali yang banyak merugikan perempuan. Coba simak kalimat ini:

“Laki-laki yang memiliki Ibu adalah laki-laki paling aneh. Dia bisa berbulan-bulan tidak pulang. Kalau di rumah, kerjanya hanya metajen, adu ayam, atau duduk-duduk dekat perempatan bersama para berandalan minum tuak, minuman keras. Laki-laki itu juga sering membuat ulah yang sangat memalukan Nenek, ibunya sendiri”.

Demikian salah satu kutipan dari novel Tarian Bumi yang ditulis oleh Oka Rusmini yang dengan gamblang mengisahkan soal adat dan budaya Bali. Kalimat-kalimatnya kental menggambarkan pergolakan batin, dan kebencian seorang perempuan bernama Telaga kepada sang ayah yang terus-terus bicara soal kasta dengan merendahkan ibunya.

Telaga, Harus Menurut Apa Kata Ayahnya

Novel Oka Rusmini ini bercerita tentang Telaga. Pernikahan beda kasta antara ayah dan ibunya berdampak terhadap kehidupan ibunya yang menyebabkan pernikahan ibunya penuh derita tidak terelakkan. Budaya patriarki yang mengakar kuat, berujung kepada pembangunan manusia dalam cakupan daerah tidak berjalan mulus.

Fakta di lapangan, adat dan budaya Bali membuat ruang gerak perempuan Bali menjadi terbatas. Posisi perempuan yang dinomorduakan melanggengkan budaya patriarki. Perintah suami harus didengarkan oleh istri.

Ketiadaan ruang untuk berekspresi menjadikan perempuan Bali berada di sisi subordinat, penindasan pun tidak terhindari. Penindasan terjadi karena pola asuh orangtua terhadap anak laki-laki justru sangat ‘diistimewakan’.

Bisa dikatakan, kedudukan laki-laki dipandang sebagai raja dalam keluarga. Mereka tidak diperbolehkan mengerjakan pekerjaan domestik. Mereka dituntut untuk belajar dengan serius sehingga bisa menjadi tampuk atau andalan keluarga. Kelak, saat anak laki-laki menikah, mereka hanya menerapkan apa yang diajarkan oleh orangtua. Sifat empati tidak terasah dengan baik.

Sebaliknya, perempuan Bali harus memikul tanggung jawab berlipat ganda, tanpa sedikitpun mendapat bantuan dari pihak laki-laki. Penindasan pun terjadi karena adanya beban berlipat yang harus ditanggung oleh perempuan Bali.

Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Udayana, Dr. Ni Made Ras Amanda Gelgel, S. Sos, M.Si menyatakan bahwa perempuan Bali mengalami triple burden. Perempuan Bali, ujarnya, tak hanya dituntut untuk mengurusi urusan domestik tetapi juga urusan pekerjaan di ranah profesional atau publik serta urusan adat. Secara tidak langsung, beban yang yang ditanggung oleh perempuan Bali berujung kepada dampak psikis.

Aku yang terlahir sebagai perempuan Bali, dan beragama Hindu turut merasakan kesenjangan gender ini. Bapak dan Ibu yang merupakan orang Bali asli, mengajarkan saya bagaimana seharusnya menjalankan tanggung jawab baik urusan laki-laki maupun perempuan.

Dan, itu juga yang dicontohkan oleh ibu. Ia bisa mengerjakan tanggung jawabnya dengan ikhlas, meski diakuinya kalau budaya patriarki telah menjadi bagian dari kehidupan.

“Ini sudah menjadi kewajiban Ibu, dan Ibu merasa tidak terbebani,” tandasnya.

Sedari kecil, aku sering mempertanyakan budaya ini. Perasaan kesal dan kecewa membebani diri, tapi aku tak bisa berbuat apa-apa. Ini adalah garis yang harus kujalani sebagai perempuan Bali, meski dalam hati aku bertekad untuk mengubahnya.

Aku sadar bahwa pola asuh orangtua berperan penting untuk mengentaskan ketidaksetaraan gender yang menempatkan perempuan sebagai korban yang cenderung menanggung derita. Aku yakin, jika kesadaran dilakukan sejak dini berkait dengan pola asuh, maka ketimpangan gender sedikit demi sedikit bisa berkurang.

Sekali lagi aku mengutip novel Tarian Bumi yang menggambarkan betapa tangguhnya perempuan Bali.

Perempuan Bali itu, Luh, Perempuan yang tidak terbiasa mengeluarkan keluhan. Mereka lebih memilih berpeluh. Hanya dengan cara itu, mereka sadar dan tahu bahwa mereka masih hidup. Keringat mereka adalah api. Dari keringat itulah, asap dapur bisa tetap terjaga. Mereka tidak hanya menyusui anak yang lahir dari tubuh mereka. Mereka pun menyusui laki-laki. Menyusui hidup itu sendiri”.

Perempuan Bali menghidupi baik diri sendiri, anak maupun suami. Meski berat, banyak perempuan Bali merasa tidak terbebani. Mereka melakukan itu dengan penuh tanggung jawab karena yakin apa yang mereka lakukan adalah bentuk bakti kepada Tuhan.

Budaya Patriarki, Bertolak Belakang dengan Ajaran Hindu

Sebenarnya budaya patriarki sangat bertolak belakang dengan ajaran agama. Dalam agama Hindu, perempuan sangat dimuliakan, dan dipandang sebagai “sakti” (memiliki kekuatan) bagi laki-laki. Laki-laki dan perempuan memiliki kedudukan yang setara, saling mendukung serta saling melengkapi satu sama lain.

Bisa dikatakan, ajaran agama Hindu mengenai kedudukan perempuan dan laki-laki sangat kontradiktif dengan tradisi masyarakat Bali di mana perempuan memiliki beban yang jauh lebih berat ketimbang laki-laki.

Dalam ajaran agama Hindu dikenal adanya konsep purusa (laki-laki), dan pradana (perempuan). Pradana (perempuan) memiliki peran yang berbeda dengan Purusa (laki-laki). Kekeliruan dalam memahami konsep ini menimbulkan kesalahpahaman.

Mengacu kepada standard Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA) kesenjangan gender diukur dari empat indikator seperti, partisipasi dan peluang ekonomi, pencapaian pendidikan, kesehatan dan keberlangsungan hidup, serta pemberdayaan politik.

Dari empat indikator tersebut, ada dua indikator yang belum sepenuhnya dicapai oleh perempuan Bali yakni partisipasi dan peluang ekonomi serta pencapaian pendidikan. Satu hal yang disebut terakhir punya peran penting untuk mengatasi kesenjangan gender.

Partisipasi dan peluang ekonomi perempuan Bali masih tergolong rendah. Perempuan Bali lebih banyak bekerja di sektor informal karena jam kerjanya tidak terikat. Fenomena ini terjadi karena adanya kewajiban rumah tangga serta adat yang harus dikerjakan perempuan secara beriringan.

Dalam kondisi seperti ini, perempuan Bali tetap berusaha untuk mencari penghasilan seperti berjualan sarana sembahyang seperti, canang baik di rumah maupun di pasar ataupun membangun usaha kecil-kecilan.

Pekerjaan sektor informal ini turut dilakukan oleh keluarga besarku, salah satunya dilakukan Nenekku. Setiap harinya, beliau harus mejejaitan (menjahit bahan dari janur untuk membuat sarana persembahyangan)banten kalau ada orang yang mau memesan. Sambil menyelam minum air, beliau juga berjualan baju anak-anak di samping rumah.

Tak jarang usahanya sepi pengunjung. Tetangga juga melakukan hal demikian. Sejak subuh, perempuan telah sibuk mejejaitan.

Lain hal dengan kakak ipar. Ia sibuk berbisnis kue sekalian mengurus anak. Dengan cara demikian, perempuan Bali bisa memperoleh penghasilan untuk membantu perekonomian keluarga.

Dilihat dari indikator pencapaian pendidikan, pola asuh orangtua lebih dominan mengistimewakan anak laki-laki ketimbang perempuan. Anak laki-laki dituntut untuk mengenyam pendidikan setinggi-tingginya karena anak laki-laki dianggap sebagai penerus keturunan dan kepala keluarga demi keberlangsungan hidupnya kelak.

Ibu Berpikiran Maju

Budaya yang masih melekat di kalangan masyarakat Bali membuat pola pikir tersebut susah diubah. Sedari kecil, anak perempuan diajarkan untuk mengerjakan hal yang menjadi tanggung-jawabnya. Tak jarang anak perempuan juga dituntut untuk mengerjakan pekerjaan yang seharusnya dilakukan laki-laki. Partisipasi dan peluang ekonomi serta pencapaian pendidikan merupakan dua hal yang berkaitan.

Keluarga besarku yang merupakan orang Bali asli, turut memperhatikan budaya patriarki ini. Bisa kukatakan, kakek dan nenek baik dari pihak Bapak maupun ibu berpikiran maju.

Walaupun kakek dan nenek dulunya tidak sekolah, mereka memahami bahwa anak perempuannya harus menempuh pendidikan setinggi-tingginya. Mereka menuntut anak perempuannya untuk menamatkan jenjang pendidikan minimal Strata Satu (S-1).

“Anak perempuan bisa berdaya dalam bidang ekonomi jika indikator pendidikan telah terpenuhi,” demikian mereka suatu kali pernah mengatakan.

Tante dari pihak Bapak merupakan tokoh yang menginspirasi. Ia berhasil menamatkan jenjang Strata Tiga (S-3), dan memberdayakan petani di sekitar tempat tinggalnya.

Jujur, aku bangga dengan kakek nenekku. Aku bersyukur bahwa masih ada orangtua yang tidak mengabaikan anak perempuannya. Dengan cara ini, aku berharap, satu saat perempuan Bali bisa memiliki kedudukan setara dengan laki-laki. 

Ni Putu Eka Budi PWD

Penulis perempuan yang akrab dipanggil Wulan. Sedang menempuh pendidikan S2 di Jurusan Ilmu Komunikasi UNAND.

Let's share!