Obyektifikasi Tubuh Perempuan Terjadi Pada Konten Video Porno

Industri film porno yang memberikan fantasi soal seksualitas tidak hidup di ‘ruang hampa’. Film porno melanggengkan obyektifikasi terhadap perempuan, perempuan dianggap obyek, bukan subyek yang penting, baik dari sisi konten hingga perlakuan.

Obyektifikasi tubuh perempuan terjadi di indutri pornografi. Obyektifikasi yang terus-menerus ini menyebabkan komodifikasi yang makin menjadi-jadi.

Jelas, tubuh perempuan jadi obyek, dan laki-laki subyek. Saya melakukan pengamatan dan wawancara terhadap perempuan yang mengamati konten-konten video porno yang menyertakan laki-laki dan perempuan, jawabannya makin jelas: bahwa perempuan hanya dianggap sebagai daging yang diobyektifikasi.

Endang Kusniati di Jurnal Perempuan pernah menuliskan: walau menurut kacamata feminis liberal dalam konteks gerakan feminis, wacana pornografi seolah menjadi titik pembelah antara kelompok liberal yang menganggap bahwa pornografi merupakan hak perempuan untuk mengekspresikan diri secara bebas, sedangkan berbeda dengan kelompok radikal yang menganggap pornografi sebagai bentuk dehumanisasi. Namun praktek industri pronografi di Indonesia yang saya amati jelas banyak mengekploitasi tubuh perempuan.

Permintaan Terjadi, Obyektifikasi Terjadi

Permintaan film porno memang selalu tinggi. Inilah yang kemudian menjadikan industri pornografi, terus merawat segmen-segmen pasarnya, yaitu dengan melalui inovasi dan bintang-bintang baru yang ditampilkan dalam industri ini. 

Tapi kamu juga perlu ingat, industri pornografi yang memberikan fantasi soal seksualitas ini nyatanya tidak hidup di ‘ruang hampa’. Ada banyak hal yang perlu kita kritisi bahwa film porno melanggengkan obyektifikasi terhadap perempuan, perempuan dianggap obyek, bukan subyek yang penting. 

Dalam soal konten misalnya, saya mengamati dalam website X video, setidaknya, ada 28.897 video untuk kata kunci “punished”, 254.645 video untuk kata kunci “Japanese Bus Sex”, 250.383 pada kata kunci “Teen Neighbour”, dan 141.516 video dengan kata kunci “Spying on neighbour”

Ribuan video dengan kata kunci tersebut, tak satupun yang menunjukkan plot cerita sex by consent atau hubungan seks dengan persetujuan. Hampir semuanya dengan pemaksaan, dan perilaku kekerasan digambarkan secara nyata. Tentu hal ini sangat berbahaya bagi konsumen, apalagi jika konsumen video porno adalah anak-anak atau orang dewasa yang tidak mendapatkan literasi baik tentang seksualitas.

Tak jarang, promosi perilaku seks tidak aman juga silih berganti muncul pada laman-laman website porno. Hal ini kerap berdampak pada pengalaman perempuan, yang memiliki pasangan dengan obsesi seks yang dilakukan agar seperti adegan-adegan pornografi di film.

Kontribusi film porno kebanyakan kemudian melanggengkan obyektifikasi perempuan itu. Saya mewawancarai Dewi Mayasari yang banyak mengamati konten pornografi. Menurut Dewi, ini juga tampak pada adegan seksual yang seringnya dilakukan secara non-konsensual alias kekerasan seksual yang juga misoginis. Misalnya saja, pelecehan hingga pemerkosaan pada tokoh perempuan. Perempuan bisa dipaksa berhubungan seksual dimana saja, konten seperti ini jika dikonsumsi terus-menerus akan mempengaruhi cara berpikir publik bahwa kita layak memperlakukan perempuan secara buruk.

“Kadang sebel ya, kalau di bokep Asia misalnya, itu figure perempuan yang digambarkan sangat muda, terus, plot cerita yang disajikan sangat violence (kekerasan), kayak melecehkan anak sekolah di bis, atau memperkosa tetangganya,” kata Dewi. 

Tidak hanya dalam adegan, Dewi bilang, kekerasan seksual dan juga diskriminasi juga banyak terjadi selama proses pembuatan film porno itu. Semisal, manipulasi terhadap perempuan hingga perdagangan manusia (human trafficking) untuk dijadikan bintang porno. Menurutnya, itu menjadi catatan kelam di balik industri film porno saat ini. 

“Agak guilty juga tiap abis nonton porno, karena ya dibalik itu kan banyak banget kasus human trafficking, kekerasan seksual, dan diskriminasi ke perempuan,” katanya. 

Fantasi ke Bahaya Kekerasan Seksual Perempuan

Bukan hanya problem di tingkat produksi, film porno juga bisa berdampak pada langgengnya kekerasan seksual terhadap perempuan. Betapa banyak kita jumpai di tengah masyarakat, tontonan porno tanpa literasi yang baik justru bisa menciptakan dampak negatif. Seperti, memerkosa atau melakukan pelecehan seksual karena melihat referensi dari film porno.

Sebut saja Mira, pekerja seks di Yogyakarta, yang menyatakan pernah mendapat pengalaman tidak menyenangkan dari pelanggan yang mendapatkan layanan jasanya. Ini bermula, saat kliennya datang tanpa pengaman bahkan berisiko yang membahayakan keselamatan saat melakukan aktivitas seksual seperti fantasi yang mereka tonton dari film porno. 

“Wah repot sih kalau ketemu klien yang gak mau pakai pengaman, alasannya pengen nyoba rasanya gimana gitu, tapi ya pasti selalu berusaha kasih tau kalau itu berisiko,” kata Mira. 

Menurut Mira, industri film porno sama sekali tidak akan memberikan keuntungan bagi perempuan. Pada praktiknya perempuan lagi-lagi akan menjadi pihak yang paling dirugikan dan terdiskriminasi. Sementara itu, uang akan terus mengalir pada pemilik rumah-rumah produksi porno yang profesional, amatir hingga berbasis website di gelanggang internet. 

Dari titik industri, Endang Kusniati juga menuliskan, dalam sebuah industri tidaklah mungkin dilandasi tanpa adanya motif atau kepentingan di dalamnya,  mustahil hal itu terjadi tanpa ada sebab. Begitu juga dengan produk yang ingin dipasarkan, tidak mungkin jika tidak ada motif profit atau keuntungan yang diinginkan. Sehingga dengan keinginan meraup keuntungan maka produksi pasar disesuaikan dengan permintaan pasar, sehingga industri dalam sebuah berita, iklan, film, ataupun produk lainnya ia akan mengklasifikasikan (mengelompokkan) dengan jenis-jenis yang berbeda.

Dari sini jelas, ada banyak persoalan di industri video atau film porno ini, yaitu dari konten yang selalu menafikkan konsent perempuan, memandang perempuan sebagai obyek seksual, juga industri yang dijalankan dengan nilai-nilai patriarki yang melakukan komodifikasi pada tubuh perempuan.

Reka Kajaksana

Penulis dan Jurnalis. Menulis Adalah Jalan Ninjaku

Let's share!

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on email