Mengapa Hanya Pick Me Girl yang Disoal? Padahal Ada Pick Me Boy

Pick me girl, istilah yang digunakan untuk menggambarkan seorang perempuan yang mati-matian agar terlibat berbeda dinilai misoginis. Fenomena ingin jadi orang yang terlihat berbeda ini tak hanya dilakukan perempuan, banyak laki-laki yang juga melakukannya, istilahnya pick me boy. Tapi kenapa yang ramai dibahas hanya pick me girl?

Sekar, bukan nama sebenarnya, adalah perempuan menjelang 20 tahun yang memilih untuk tidak ikut arus besar yang diikuti mayoritas anak muda di usianya. Jalan beda yang dipilihnya dan sikap bahwa dirinya berbeda dengan anak muda pada umumnya itu dia tegaskannya lewat pilihan berbusana, cara bersikap maupun postingan di akun media-sosialnya. Lewat pernyataannya, Sekar secara terbuka menyatakan apa yang membuatnya berbeda dari teman-temannya atau remaja perempuan lain karena ia memiliki lebih banyak teman laki-laki.

Ada juga Hendra, juga bukan nama sebenarnya. Ia adalah laki-laki yang punya banyak teman perempuan dan sering gonta-ganti pacar. Dan kondisi ini menjadi kebanggaannya yang ia ceritakan terus-menerus pada sesama teman laki-lakinya agar ia terlihat beda dan menonjol.

Sering menjumpai orang-orang seperti Sekar atau Hendra? Ya, tidak sedikit orang-orang seperti mereka di sekitar kita. Dan, apa yang dilakukan oleh Sekar dan Hendra itu kini diistilahkan dengan fenomena pick me yang kini sedang menjadi trend.

Fenomena pick me sebenarnya sudah muncul di tahun 2016, tapi belakangan makin ngetren lewat lagu Lil Uzi Vert “Heavy Metal” yang berbunyi: “Pick me like, pick me like, pick me” yang diunggah di TikTok.  Fakta bahwa video ini ditonton 25 juta kali menjadi bukti bahwa pemirsa TikTok setuju dengan pilihan Lil Uzi ini. Perilaku ‘menjadi berbeda’ ini diperkirakan akan diikuti oleh para penontonnya dalam tindakan mereka.

Video ini memang sangat menghibur, apalagi jika mengingat fakta bahwa hampir semua orang di bangku sekolah menengah atau perguruan tinggi telah menemukan setidaknya satu perempuan atau laki-laki muda yang bertindak seperti itu.

Mungkin kamu bertanya-tanya mengapa ada orang memilih sikap demikian sehingga tren ini begitu fenomenal?

Mengutip Urban Dictionary, pick me adalah istilah bagi seseorang yang memiliki keinginan kuat untuk diterima oleh orang-orang di sekitarnya. Dan, untuk dapat diterima dan mempertahankan posisinya itu, ia secara sadar ataupun nggak sadar rela melakukan apapun demi menarik perhatian orang lain terutama dari lawan jenisnya.

Fenomena ini tak hanya terjadi pada perempuan, tetapi juga bisa dialami oleh siapa pun dengan jenis kelamin apapun. Jadi pick me juga bisa dialami laki-laki maupun gender lainnya. Jika kondisi ini terjadi pada perempuan, maka disebut “pick me girl”. Sedangkan jika terjadi digunakan istilah “pick me boy”

Jadi pick me girl adalah seorang perempuan yang berusaha keras untuk membuat laki-laki terkesan dengan memastikan bahwa dia “tidak sama dengan perempuan lain”. Hal yang sama juga bisa digunakan untuk menjelaskan istilah pick me boy.

Sejumlah perempuan menyikapi fenomena ini dengan khawatir. Karena perilaku ini akan mendorong para perempuan untuk saling bersaing dan menjatuhkan, Bukannya bergandeng tangan untuk saling mendukung dan menguatkan. Lebih dari itu, meski fenomena ini tak hanya terjadi di antara para perempuan, tapi masyarakat seolah menganggap bahwa fenomena ini sah saja jika terjadi pada laki-laki. 

Lantas, apa sih yang sebenarnya terjadi pada mereka yang mengalami syndrome pick me ini dan apa yangmenyebabkan seseorang berperilaku seperti ini? 

Amy Rosenbluth, pakar Ilmu Politik dan Pembangunan Internasional dari McGill University yang banyak mengamati fenomena pick me girl di TikTok mengatakan, fenomena pick me girl terjadi karena adanya keinginan untuk menjauhkan diri dari stereotip perempuan tradisional yang selama ini dianggap buruk dan negatif.

Dikutip insidehook.com, Amy mengatakan, kondisi ini tak lepas dari faktor internalized misogyny yang sering tidak disadari oleh banyak orang. Internalized misogyny adalah cara untuk menggambarkan perempuan yang juga bisa memiliki pemahaman seksisme dan perilaku kebencian terhadap sesamanya.

“Sebagian besar dari kita mungkin telah menunjukkan perilaku ini setidaknya sekali dalam hidupnya, sama halnya dengan diri kita yang memiliki keinginan untuk terlihat unik dan berbeda dari orang lain,” tambahnya.

Pada perempuan, fenomena ini ditunjukkan dengan perempuan yang percaya apabila mereka menjauhkan diri dari gambaran perempuan tradisional yang feminin dan lemah lembut, maka mereka akan terlihat lebih menarik. Sedangkan pada laki-laki ini bisa ditunjukkan dengan sikap mereka yang sok gagah dan beda

Ciri-ciri para penganut Pick Me

Tanpa disadari, kamu mungkin pernah melakukan tindakan ini atau pernah menjadi korban dari para penganut jalur pick me ini. Agar kamu tak terjebak terlalu jauh dalam fenomena yang sebenarnya tak bagus ini, berikut adalah beberapa ciri umum seseorang yang dikategorikan sebagai pick me sebagaimana dilansir satupersen.com.

1.Suka mempermalukan sesama jenis

Demi mendapatkan  pengakuan dari lawan jenis, seorang penganut pick me tak segan merendahkan gendernya sendiri sekaligus menyombongkan diri agar dirinya terlihat lebih baik dari sesama jenisnya. Dalam hal ini, seorang pick me girl merasa dirinya lebih keren karena nggak mengikuti standar sosial atau stereotip perempuan pada umumnya. 

Sedangkan pada laki-laki pick me boy, menganggap dirinya lebih tangguh dan macho dibanding laki-laki lainnya. Jadinya,  para pick me girls dan pick me boy akan dengan mudah mengolok-olok sesama jenisnya.

2.Suka melakukan hal yang berkebalikan

Seorang pick me girl ataupun pick me boy akan selalu ingin kelihatan berbeda dari yang lain agar membuat lawan jenisnya terkesan. Untuk perempuan mereka akan mengaku nggak suka pakai kosmetik, dandan ataupun menggunakan perawatan tubuh di antara sesama teman-teman yang jelas-jelas menggunakannya. Sementara laki-laki mungkin akan menunjukkan dirinya nggak slebor dan sebagainya.

3.Lebih suka bergaul dengan lawan jenisnya

Seorang pick me girl juga kebanyakan lebih memilih berteman dengan lelaki dibanding perempuan. Ini karena mereka menganggap perempuan adalah makhluk yang emosional dan terlalu banyak drama. 

Sebaliknya seorang pick me boy akan lebih suka berteman dengan perempuan dan sok beda dengan laki-laki pada umumnya untuk bisa diterima perempuan.

Bagaimana Cara Mengatasinya?

Faktanya, tiap-tiap orang mungkin memiliki sifat pick me dalam kadarnya masing-masing, erlepas dari apakah kita menyadarinya atau tidak. Dirilis insidehook.com, dalam diri setiap orang, pasti selalu ada keinginan untuk diterima. Namun, ini nggak menjadi alasan pembenar untuk menjelekkan preferensi orang lain agar kamu terlihat lebih baik dibanding kawan-kawan kamu.

Jadi, ada baiknya kamu hindari sikap-sikap itu. Dan, jika bertemu orang-orang dengan sifat pick me, ada baiknya kamu nasehati mereka karena berteman dengan mereka bisa berdampak buruk bagi kesehatan mental, jadi penting bagi dia untuk berubah

Menurut Khelsey Jensen, pemeran Amber tokoh utama di film Chill Girl yang juga memiliki perilaku pick me menjelaskan, sikap ini karena ada banyak kebencian terhadap perempuan yang terinternalisasi di karakter yang diperankannya.

“Ia tumbuh di sekitar laki-laki atau menginginkan pengakuan mereka. Ada dinamika kekuatan yang aneh di sini yang terjadi di mana  mereka merasa harus berada di atas angin. Dan sejujurnya, saya merasa itu berasal dari perasaan tidak aman,” terangnya.

Jensen melanjutkan, perannya di Chill Girl telah mengajarinya, bahwa seseorang tidak bisa begitu saja membenci orang-orang ini. Kita, ujarnya, harus berbelas kasih, karena ada alasannya. Mungkin mereka hanya jahat. Tapi saya pikir ada sesuatu yang jauh lebih dalam dari itu.

Sementara Amy berpendapat kritik konstruktif dibutuhkan untuk menyikapi fenomena pick me ini. Satu hal penting lainnya adalah mendidik laki-laki tentang pola dasar bermasalah ini dan akar misoginis. Tapi Amy tak yakin hal ini dapat dicapai di platform yang tumpul semacam TikTok.

Istilah #PickMeGirl mungkin awalnya ditujukan untuk menyebut perilaku toksik, tapi perlahan stigma ini juga digunakan perempuan pengguna TikTok untuk melabeli perempuan lain sebagai pick-mes untuk perilaku apa pun yang mungkin menarik perhatian laki-laki.

Dalam tulisannya, Amy menyebut tuduhan pick-me-ism sekarang sudah mengarah kepada mereka yang “bertubuh pendek, menikmati olahraga, tidak memakai riasan, atau memakai penyangga kaki di depan umum. Ironis memang, orang-orang yang menyebut perilaku pick-me mungkin telah berubah menjadi seorang pick-me juga.

“Dalam meneliti kepribadian dan perilaku teman-temannya, perempuan yang mencela pick-me memposisikan dirinya sebagai gadis ‘nyata’ dan ‘tanpa filter’, diadu dengan pick-me yang dianggap palsu dan hambar. Karena itu, dia mendefinisikan dirinya lebih unggul daripada perempuan pick-me,” tulis Amy.

Dalam pengamatannya Amy menemukan banyak laki-laki/perempuan mempermalukan laki-laki/perempuan lain di depan umum dengan dalih mereka menjadi pick-me’s, karena berpikir mereka memiliki moral yang lebih tinggi. Mereka, ujarnya, menempatkan perilaku pick me di bawah lensa pseudo-feminis dan mereka menganggap dirinya sebagai perempuan saleh yang mengingatkan adanya perilaku berbahaya yang bisa menjatuhkan para perempuan.

“Dan ya, mereka pikir itu memberi mereka berhak untuk menghancurkan kita semua dan mengawasi perilaku perempuan lain,” pungkasnya. 

Yang jelas, pick me ini tak hanya terjadi pada perempuan, tapi juga laki-laki. Jangan melabeli dan membenci perempuan gara-gara perilaku pick me ini, karena perilaku ini juga banyak dilakukan laki-laki.

Mulat Esti Utami

Selama 20 tahun bekerja sebagai jurnalis di sejumlah media nasional, mencoba tetap setia di jalan yang dipilihnya dengan bergabung di Konde.co

Let's share!

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on email