Riset Human Rights Watch: LGBT Jadi Sasaran Kekerasan Kelompok Bersenjata di Irak

Riset terbaru Human Rights Watch (HRW) mengungkap tentang kelompok-kelompok bersenjata di Irak yang melakukan kekerasan terhadap LGBT. Mereka melakukan penganiayaan hingga pembunuhan

Human Rights Watch (HRW) menuduh kelompok-kelompok bersenjata di Irak menculik, memerkosa, menyiksa, dan membunuh orang-orang lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT) tanpa dikenai sanksi atau hukuman.

HRW, Organisasi HAM yang berkantor pusat di New York ini mengatakan, pemerintah Irak telah gagal meminta pertanggungjawaban para pelaku.

Dalam laporan terbarunya yang dirilis Rabu (23/3), HRW membeberkan sejumlah cerita memprihatinkan terkait LGBT. Seorang perempuan transgender mengatakan sekelompok laki-laki memukulinya, melemparkannya ke tempat sampah, menusuknya dan membakarnya sebelum ia diselamatkan.

Seorang laki-laki gay mengatakan pacarnya dibunuh di depan matanya. Seorang perempuan lesbian ditikam kakinya dan mengatakan ia diperingatkan untuk menghentikan “perilaku tidak bermoralnya”.

Laporan hasil kerja sama HRW dan kelompok hak-hak LGBT Irak IraQueer itu juga menuduh polisi Irak dan pasukan keamanan sering terlibat kekerasan anti-LGBT dan menangkap orang-orang yang berpenampilan tidak sesuai dengan jenis kelamin.

Menurut laporan tersebut, orang-orang LGBT dikepung dari berbagai arah. Keluarga mereka sering memberi perlakuan keras yang ekstrem, dan mereka kerap dilecehkan di jalanan. Orang-orang LGBT juga sering menjadi target pelecehan di media sosial dan aplikasi kencan sesama jenis.

”Serangan terhadap LGBT Irak muncul dalam berbagai bentuk, dan meluas,” kata Rasha Younes, peneliti hak-hak LGBT di Timur Tengah dan Afrika Utara HRW yang terlibat dalam penulis laporan tersebut, sewaktu menanggapi pertanyaan yang dikirim Associated Press melalui email.

“Banyak orang LGBT mengatakan mereka merasa terpaksa menyembunyikan siapa mereka sesungguhnya untuk tetap hidup,” kata laporan itu.

Di sebagian besar Timur Tengah dan Afrika Utara, orang-orang dan organisasi-organisasi yang mengadvokasi hak-hak LGBT menghadapi kekerasan dan diskriminasi. Sebagian besar negara di kawasan itu, kata Younes, memiliki undang-undang yang mengkriminalisasi hubungan sesama jenis.

Di Irak khususnya, “budaya impunitas dan relatif tidak adanya aturan hukum memungkinkan kelompok-kelompok bersenjata lolos dari hukuman atas aksi kekerasan terhadap warga Irak biasa, termasuk orang-orang LGBT,” katanya.

Kelompok-kelompok bersenjata yang diduga terlibat dalam pelanggaran terhadap orang-orang LGBT, menurut laporan itu, sebagian besar berada di bawah naungan Pasukan Mobilisasi Rakyat, gabungan kelompok-kelompok milisi yang didukung pemerintah Irak. [ab/uh]

Voice of America

Let's share!

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on email