Curhat PRT: Saya Titipkan Harapan Hidup yang Lebih Baik di Organisasi PRT

Sekolah PRT tak hanya menjadi tempat bagi kami, para PRT untuk mengadu jika menemukan masalah baik dalam pekerjaan maupun kehidupan pribadi. Di SPRT ini kami juga belajar dan menyemai harapan untuk kehidupan yang lebih baik.

‍Perkenalkan, nama saya Metty. Saya lahir dan besar di sebuah desa di Jawa Tengah. Saat usia beranjak dewasa saya merantau ke Jakarta untuk bekerja menjadi Pekerja Rumah Tangga ( PRT). Semua ini saya lakukan demi untuk membantu perekonomian keluarga.

Kini, setelah lebih 10 tahun saya bekerja sebagai PRT, banyak suka duka yang saya alami. Inilah cuplikan kisah hidup saya.

Saya mendapatkan pekerjaan melalui sebuah yayasan penyalur PRT di Jakarta. Saat awal bekerja menjadi PRT atau jauh sebelum saya mengenal organisasi PRT, yang saya tahu hanya bekerja. Saya hanya mengikuti apa yang dikatakan pengurus yayasan.

Saya hanya berusaha bekerja sebaik-baiknya, saat disalurkan ke rumah pemberi kerja atau majikan. Yang saya tahu saat itu, begitu pihak yayasan deal dengan majikan, saya diantar ke rumah majikan, dan langsung bekerja. Saya tidak boleh membantah ataupun menanyakan apa hak dan kewajiban saya.

Saya bekerja sejak subuh hingga malam tiba. Sempat istirahat memang di siang hari, tetapi saya harus selalu siaga, kalau-kalau majikan memerintahkan saya mengerjakan sesuatu. Hampir semua pekerjaan rumah harus saya kerjakan sendiri.  

Setiap hari saya harus masuk kerja, tak pernah ada hari libur. Majikan memberi libur hanya saat lebaran, itupun biasanya dijatah hanya satu minggu. Saat libur itulah biasanya saya manfaatkan untuk pulang kampung melepas rindu dengan keluarga.

Saat itu, saya tidak pernah tahu apa itu perjanjian kerja, jam kerja, dan yang berkaitan dengan tempat kerja layak sebagaimana diatur di  Konvensi ILO 189.

Baru pada tahun 2019, melalui Facebook, saya bertemu kawan baru yang juga bekerja sebagai PRT di Jakarta. Darinya saya baru tahu bahwa ada organisasi yang menaungi PRT di Jakarta. Namanya Serikat PRT (SPRT) SAPULIDI di bawah naungan JALA PRT.

Karena kami berkenalan lewat Facebook, kami belum pernah bertemu muka. Tapi lewat informasi yang diberikan teman saya, akhirnya kami bertemu muka. Saat itu saya belum punya tempat tinggal di Jakarta, karena dari awal saya selalu tinggal di rumah majikan.

Akhirnya, setelah mendengar penjelasan panjang lebar darinya saya memutuskan untuk ikut gabung menjadi anggota SPRT Sapulidi. Setelah bergabung, saya baru tahu jika SPRT menyediakan rumah serikat. Rumah ini menjadi tempat tinggal bersama oleh para PRT yang bekerja di Jakarta.

Rumah Serikat ini difasilitasi oleh mbak Lita Anggraeni yang merupakan Koordinator JALA PRT. Sesekali saya datang ke Rumah Serikat ini. Di rumah serikat inilah, perlahan saya mulai belajar tentang organisasi dan bagaimana menjadi pekerja yang profesional.

Ilmu itu saya dapatkan lewat pertemuan rutin yang digelar setiap hari Minggu dan biasa disebut dengan sekolah PRT. Di sekolah PRT ini saya juga mulai menimba ilmu, bagaimana mencari kerja, bagaimana negosiasi dengan calon majikan saat interview.

Di sekolah ini, kami para PRT juga belajar berbagai keterampilan yang menunjang pekerjaan kami sebagai PRT. Seperti memasak, menyetrika atau bahkan bahasa Inggris. Pokoknya banyak ilmu yang bermanfaat dan berguna bagi saya dari organisasi PRT ini.

Sebelum pandemi, pertemuan rutin ini diselenggarakan secara tatap muka. Tetapi kini, pertemuan ini dilakukan secara daring melalui internet. Terus terang, saya merindukan untuk bisa kembali bertemu langsung dengan teman-teman sesama PRT. Karena ini juga menjadi salah satu hiburan bagi saya, setelah menghabiskan waktu sepekan untuk bekerja.   

Sekolah PRT ini juga menjadi wadah bagi kami, para PRT untuk curhat dan mengadu jika menemukan masalah baik dalam pekerjaan maupun kehidupan pribadi. Jadi dalam kesempatan ini saya ingin mengungkapkan rasa terimakasih saya kepada mbak Lita dan kawan kawan.

Saya berharap dan berdoa, semoga JALA PRT ini semakin kokoh dan terus menjadi wadah bagi kami untuk meningkatkan kemampuan. Lewat organisasi ini, kami juga bersama-sama berjuang untuk pemenuhan hak-hak kami. Hingga satu hari nanti, harapan kami bahwa kami para PRT juga diakui sebagai pekerja seperti pekerja lainnya bisa terwujud.  

KEDIP atau Konde Literasi Digital Perempuan”, adalah program untuk mengajak perempuan dan kelompok minoritas menuangkan gagasan melalui pendidikan literasi digital dan tulisanTulisan para Pekerja Rumah Tangga (PRT) merupakan kerjasama www.Konde.co yang mendapat dukungan dari Jaringan Nasional Advokasi Pekerja Rumah Tangga (JALA PRT).

Metty

Pekerja rumah tangga, aktif di SPRT Sapulidi

Let's share!

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on email