Google Sepakat: Kita Tidak Akan Kembali Bekerja dari Kantor Lagi

Google, yang awalnya sangat menentang sistem kerja dari rumah, menunjukkan perubahan sikap terhadap gaya kerja konvensional. Beberapa waktu lalu, raksasa teknologi dunia tersebut menghimbau karyawannya untuk kembali bekerja dari kantor pada awal April - namun cukup tiga hari saja tiap minggunya.

Ketika pandemi Covid-19 mulai mewabah pada awal 2020 lalu, berbagai perusahaan di dunia terpaksa bereksperimen dengan sistem “kerja dari rumah” atau “work from home”. Kini, dengan pemberian vaksin dan hadirnya obat terapeutik, wabah pun mulai terkontrol dan eksperimen baru dimulai: perusahaan mulai menerapkan sistem hibrida yang menggabungkan elemen terbaik dari kerja jarak jauh dengan waktu di kantor.

Dorongan untuk kembali ke rutinitas “normal” dan membawa pekerja ke kantor tentu saja ada. Akan tetapi, ide seperti penyediaan kupon makan siang dan diskon parkir lebih banyak berasal dari pemerintah daerah dan bisnis persewaan kantor yang ingin mempertahankan pelanggan lamanya.

Sebaliknya, sejumlah survei menunjukkan bahwa selama 18 bulan ke belakang, sebagian besar pekerja dan petinggi perusahaan tidak ingin kembali berangkat kerja lima hari dalam seminggu.

Bahkan Google, yang awalnya sangat menentang sistem kerja dari rumah, menunjukkan perubahan sikap terhadap gaya kerja konvensional.

Beberapa waktu lalu, raksasa teknologi dunia tersebut menghimbau karyawannya untuk kembali bekerja dari kantor pada awal April – namun cukup tiga hari saja tiap minggunya.

Fleksibilitas kerja baru yang ditawarkan Google ini memang masih jauh jika dibandingkan dengan perusahaan teknologi lainnya. Perusahaan asal Australia, Atlassian, misalnya, membolehkan karyawan untuk datang ke kantor hanya empat hari dalam setahun.

Walaupun demikian, kebijakan Google ini menunjukkan pergeseran paradigma besar jika dibandingkan dengan penolakannya terhadap kerja jarak jauh di masa sebelum pandemi.

Gaya kerja hibrida akan jadi model kerja baru. Perusahaan, mau tak mau, harus mengadopsi pendekatan ini atau tertinggal dari yang lain.

Google – di bawah tekanan – mulai bersikap lunak terhadap sistem kerja jarak jauh pada 2020. Pada Desember tahun itu, Kepala Eksekutif (CEO) Google, Sundar Pichai menyampaikan kepada para pegawainya:

“Kami menguji hipotesis bahwa model kerja yang fleksibel akan menghasilkan produktivitas, kolaborasi, dan kesejahteraan yang lebih besar.”

Keengganan Google untuk menerapkan sistem kerja jarak jauh berkaitan dengan upaya menjaga manfaat sosial yang muncul jika pegawai bekerja berdekatan secara fisik – sekaligus bisa menerapkan pengawasan pekerja.

Tetapi, kekhawatiran manajemen yang sudah mengakar bahwa sistem kerja dari rumah akan menurunkan produktivitas, terbukti tidak berdasar.

Bahkan sebelum pandemi, terdapat sejumlah riset yang menunjukkan bahwa tidak ada dampak penurunan produktivitas dari bekerja jarak jauh. Faktanya justru bertolak belakang.

Sebagai contoh, pada 2014, sebuah eksperimen dengan sampel acak yang melibatkan 250 pekerja pusat layanan telepon menemukan bahwa bekerja dari rumah meningkatkan produktivitas hingga 13%. Responden bekerja lebih banyak menit per jadwal kerja akibat berkurangnya interupsi, dan hal ini menimbulkan kenaikan produktivitas hingga 9%. Sementara, kenaikan 4% berasal dari peningkatan jumlah panggilan per menit karena lingkungan kerja yang lebih tenang dan nyaman.

Riset selama dua tahun ke belakang membuktikan hal ini.

Penelitian Raj Choudiry dan rekan-rekannya dari Harvard Business School di Amerika Serikat (AS) yang terbit pada Oktober 2020, menunjukkan bagaimana membiarkan pegawai untuk bekerja dari mana pun yang mereka mau berujung pada peningkatan hasil kerja hingga 4.4%.

Pada April 2021, ekonom Nick Bloom dan para koleganya dari Stanford University, AS, menghitung bahwa dengan beralih ke sistem kerja jarak jauh, produktivitas meningkat hingga 5%. Meski kajian yang dipublikasikan oleh Biro Nasional Penelitian Ekonomi (NBER) ini belum melalui proses ulasan sejawat (peer review), penelitian mereka dibuat berdasarkan survei terhadap 30.000 pekerja di AS – jumlah sampel yang besar.

Hubungan dengan pekerjaan telah berubah

Ada alasan bagus mengapa sebagian besar dari kita tidak ingin kembali ke kebiasaan lama: kerja dari kantor nyatanya tidak senyaman itu.

Bekerja dari rumah memang membawa tantangannya sendiri, seperti menentukan kapan sebaiknya berhenti bekerja. Meski demikian, bekerja di kantor dapat meningkatkan stres, memperburuk suasana hati (mood), dan mengurangi produktivitas.

Penelitian saya mengukur efek khas gangguan suara di kantor dan menemukan 25% kenaikan mood negatif bahkan ketika terpapar dalam waktu singkat.

Belum lagi waktu yang terbuang untuk pulang dan pergi ke kantor. Padahal, waktu berjam-jam yang habis tersebut dapat dimanfaatkan untuk melakukan hal-hal lain. Pada musim hujan atau musim dingin, misalnya, sangat menyenangkan untuk bisa tetap diam dan bekerja dari rumah.


Preferensi jumlah hari bekerja di rumah, berdasarkan pekerjaan

Hasil survei tempat kerja di Australia selama karantina wilayah tahun 2020. Institute of Transport and Logistic Studies, University of Sydney, CC BY

Pentingnya pergeseran ini tidak boleh dipandang sebelah mata.

Pada Juni 2021 lalu, penelitian oleh konsultan global McKinsey terhadap 245 pegawai yang kembail bekerja di kantor menemukan bahwa sepertiga dari responden merasa kondisi kesehatan mental mereka menurun.

Pengalaman dalam era pandemi ini telah menurunkan tingkat kesediaan pekerja untuk menggunakan sistem kerja konvensional.

Tidak ada yang bisa menggambarkan situasi ini lebih baik dari pertumbuhan tren “rebahan”, yang bermula di Cina dan kini menjadi fenomena global. Fenomena ini menunjukkan bagaimana orang-orang menolak cara berpikir yang mendewakan karir di atas segalanya.

Mereka tidak ingin menghabiskan hidup mereka menjadi roda penggerak kapitalisme dan memilih untuk bekerja lebih sedikit atau bahkan tidak sama sekali.

Bekerja kerap dianggap sebagai pencarian makna hidup dan pemenuhan diri. Akan tetapi, struktur terkait bagaimana kita menyelenggarakan pekerjaan selama ini justru membuat banyak orang diam-diam putus asa.

Pandemi membawa peluang tak terduga untuk mengubah narasi ini dan memikirkan kembali cara kita bekerja dan peran pekerjaan dalam hidup kita.

Bagi sebagian orang, tidak bekerja lebih baik daripada terjebak dalam pekerjaan yang tidak menyenangkan. Bagi sebagian yang lain, fleksibilitas yang kita miliki selama dua tahun terakhir rasanya sudah cukup.

Hal ini bukan berarti bekerja dari rumah secara penuh dapat menyelesaikan semua masalah. Bekerja jarak jauh membuat kita merindukan rekan di tempat kerja dan kehilangan manfaat dari percakapan-percakapan spontan.

Seberapa waktu yang perlu kita habiskan bersama di kantor untuk membuahkan hal positif seperti kreativitas, rasa memiliki, pembelajaran, dan pembangunan hubungan sangat berbeda-beda tergantung individu, tim, dan jenis pekerjaan.

Yang jelas, kita tidak memerlukan lima hari dalam seminggu untuk mendapatkan hasil ini. Dengan jumlah pekerja yang menyusut dan meningkatnya kompetisi untuk mengamankan tenaga kerja, pengusaha yang tidak memberikan fleksibilitas akan menjadi pihak yang merugi.

Artikel ini terbit pertama kali di The Conversation. Baca artikel sumber.

Elizabeth Sander

Assistant Professor of Organisational Behaviour, Bond Business School, Bond University.

Let's share!

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on email