Menagih Janji-Janji Taliban: Perempuan Tak Bisa Sekolah, Sejarah Kelam Kembali Terulang

Tepat pada 23 Maret 2022, para perempuan Afghanistan dilarang bersekolah oleh Taliban. Taliban mengumumkan bahwa sekolah-sekolah yang terdapat anak perempuan libur sampai ada pemberitahuan berikutnya. Perempuan kembali kehilangan haknya persis ketika Taliban mengambil alih kekuasaan di Afghanistan pada 16 Agustus 2021.

Akhir bulan Maret 2022, Menteri Luar Negeri Indonesia, Retno Marsudi, menagih janji pada pemerintahan Taliban di Afghanistan untuk mengizinkan kembali perempuan Afghanistan bersekolah.  

Perempuan Afghanistan saat ini mengalami kondisi yang seolah mundur ke dalam masa kegelapan. Perempuan kembali kehilangan haknya persis ketika Taliban mengambil alih kekuasaan di Afghanistan pada 16 Agustus 2021. 

Banyak pihak di Indonesia yang kemudian mengatakan, sebaiknya kita semua memberi kesempatan Taliban untuk membangun negara Afghanistan, memberi kepercayaan pada kehadiran Taliban untuk menjalankan pemerintahan. Tentu ini seperti menggantang asap, karena bagaimanapun kita harus kembali melihat sejarah panjang Taliban, melihat kembali ideologi Taliban yang sesungguhnya.

Taliban dan Sejarah Kelamnya

Perempuan mengalami masa kelam di bawah rezim Taliban, perempuan ditindas habis-habisan, sehingga menimbulkan trauma yang luar biasa. Masa penguasaan Taliban tahun 1994-2001, seolah meninggalkan jejak luka bagi kaum perempuan Afghanistan. 

Seorang wartawan senior, Ahmed Rashid menuliskan dengan lantang dalam bukunya: Taliban: Militant Islam, Oil and Fundamentalism in Central Asia (2010), bahwa kelompok ini menerapkan interpretasi ekstrim terhadap Syariah atau hukum Islam yang mengejutkan banyak orang Afghanistan dan dunia Muslim. Taliban telah menutup semua sekolah perempuan dan perempuan jarang diizinkan keluar rumah, bahkan untuk sekadar berbelanja. Taliban juga melarang segala jenis hiburan termasuk musik, TV, video, kartu, menerbangkan layang-layang dan juga melarang sebagian besar olahraga dan permainan yang dilakukan perempuan. 

Taliban, menurut Rashid, menunjukkan sisi fundamentalisme Islam begitu ekstrim sehingga tampaknya merendahkan pesan Islam tentang perdamaian dan toleransi serta kapasitasnya untuk hidup dengan kelompok agama dan etnis lain.

Pernyataan Rashid tersebut awalnya tidak terbayangkan, hingga penulis memiliki pengalaman langsung saat berinteraksi dengan perempuan Afghanistan dari berbagai level, mulai dari pelajar, mahasiswa, petani, pedagang di pasar, ibu rumah tangga, dan juga kelompok aktivis perempuan. Semua menceritakan pengalaman yang penuh traumatis, dengan penuturan yang berbeda, namun isi pengalaman yang mereka sampaikan tak jauh berbeda. 

Tahun 2009 dan 2014, saya mendapatkan kesempatan ke Afghanistan, masing-masing selama sebulan untuk misi pemantauan penghitungan hasil pemilu Afghanistan. Tentu saja ada perbadaan nyata situasi Afghanistan pada kedua tahun yang berbeda itu. Pada tahun 2014, situasi sudah makin berubah, perempuan sudah lebih leluasa beraktivitas di luar rumah, tampak mereka mulai sembuh trauma dari penindasan Taliban. Optimisme tampak terlihat dari cerahnya retina mata mereka.

Perempuan Dirumahkan, Taliban Tidak Mewakili Islam

Namun apa yang terjadi ketika Taliban Agustus tahun 2021 lalu kembali berkuasa? Beberapa orang di Indonesia seolah mengalami euphoria atas posisi Taliban, dan seolah melupakan sejarah panjang dan kelam kelompok Taliban. Terutama atas janji-janji Taliban untuk berubah, menjadi Neo Taliban. Bahkan sebagian lagi seolah menggambarkan Taliban seolah mewakilkan nilai-nilai Islam yang sesungguhnya. 

Sehingga para pembela Taliban di Indonesia ini yakin, bahwa Taliban akan berubah lebih baik. Tapi apa yang terjadi? Saya yang masih berkontak dengan beberapa teman di Afghanistan, baik laki-laki dan perempuan, rata-rata mereka menunjukan sikap pesimis atas janji-janji Taliban. Sikap skeptis mereka terbukti benar. 

Perempuan kembali dirumahkan oleh Taliban, penyiar televisi perempuan tidak lagi diizinkan tampil bekerja, demikian juga jurnalis perempuan. Tak hanya itu, perempuan juga tidak diperbolehkan bekerja di pemerintahan. Ruang kuliah untuk perempuan pun katanya sementara tidak dibuka lagi, karena belum ada pembatasan ruang kuliah untuk laki-laki dan perempuan, dan juga alasan ketersediaan dosen perempuan, sungguh alasan yang makin tak masuk akal. Perempuan mulai dipinggirkan, tak diberi ruang. Kementerian urusan perempuan dan anak pun ditutup oleh Taliban.

Skeptis saya menguat ketika Gubernur perempuan di Afghanistan, Salima Mazari, kemudian ditangkap oleh Taliban.  Sementara itu Walikota Perempuan Pertama di Afghanistan, Zarifa Ghafari, sempat bersembunyi karena dikejar-kejar oleh Taliban, dan akhirnya bisa mengungsi ke Jerman dengan keluarganya. Sementara itu memang ada beberapa aktivis perempuan yang mencoba bertahan, termasuk Farhat Popalzai, yang sempat melakukan demonstrasi menuntut hak-hak perempuan. Tentu saja demonstrasi ini dibubarpaksakan oleh Taliban, bahkan karena demonstrasi tersebut, Taliban mengeluarkan aturan bahwa setiap demonstrasi di Afghanistan harus terlebih dahulu mendapatkan izin dari Taliban. 

Saya masih sempat kontak dengan Farhat, membahas situasi dan kondisi Afghanistan, khususnya dampak yang dirasakan oleh kelompok perempuan, dan tentu intimidasi Taliban pada para aktivis perempuan terus dijalankan.

PBB Bertahan di Afghanistan?

Rasa khawatir saya pada nasib seluruh perempuan di Afghanistan, rasanya akan terus terjadi. Meskipun PBB (Persatuan Bangsa-Bangsa) menjanjikan akan mendampingi perempuan Afghanistan, namun itu tampaknya tak semudah membalik telapak tangan. Rashid juga membahas hal ini dalam bukunya, bahwa PBB juga tetap bertahan di Aghanistan semasa penguasaan Taliban (1994-2001), namun situasi seolah makin tak kondusif, terutama atas kecurigaan Taliban pada kehadiran PBB di sana. 

Juni, 1998, Taliban menghentikan semua pekerja perempuan di rumah sakit umum dan memerintahkan semua staf perempuan PBB yang beragama Islam, saat bepergian ke Afghanistan untuk dikawal oleh seorang muhrim atau saudara laki-laki- permintaan yang tidak mungkin dipenuhi, terutama karena badan-badan PBB telah meningkatkan jumlah pekerja perempuan muslim di Afghanistan. Persoalan ini pun tampaknya akan kembali hadir di Afghanistan.

Penulis membaca buku Rashid edisi tahun 2000, dan kemudian membaca edisi 2010, masih terasa menggetarkan. Buku yang ditulis seorang jurnalis  berdarah Pakistan, yang puluhan tahun meliput perang di Afghanistan. 

Penuturannya sangat khas seorang jurnalis senior yang sangat menjunjung tinggi nilai kemanusiaan. Bahkan buku yang versi 2010 ini bisa memprediksi apa manfaat yang didapatkan oleh Amerika, China, India dan Pakistan, apabila Afghanistan “damai”. Artinya jelas, kehadiran Amerika di Afghanistan, bisa dipastikan sebagai bagian dari kepentingan politik Amerika Serikat. 

Sejarah juga mencatat, keberadaan kelompok Taliban ini awalnya juga mendapat dukungan penuh dari Amerika Serikat untuk melawan Rusia yang menduduki Afghanistan pada 1979-1989. 

Sehingga tak aneh bila kemudian Amerika pun seolah dengan begitu saja meninggalkan Afghanistan, dan meninggalkan bom waktu bagi masyarakat Afghanistan, khususnya bagi perempuan Afghanistan. Bom waktu itu bernama Taliban.

(Sumber gambar: Instagram Afghan Women Association)

Lestari Nurhajati

Dosen dan Researcher Komunikasi London School of Public Relations (LSPR) Communication & Business Institute. Memantau Pemilu di Afghanistan pada 2009 dan 2014

Let's share!

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on email