Namamu Puan dan Kau Seorang Pekerja Seks 

Orang menyebutmu sebagai pelacur atau pekerja seks. Kau dipanggil Puan, dan kau seorang pelacur. Kau sadar kau melacur karena kau seperti tak punya takdir untuk menentukan garis hidupmu. Peduli setan dengan hinaan orang.

Seperti biasa, setelah selesai mandi kamu berkaca, bayanganmu di kaca selalu mengingatkanmu pada salah satu tokoh kartun: putri salju.

Kamu dipanggil Puan, dan entah kenapa kau tak menyukai nama itu. Bukan karena kau bervagina.

Namamu Puan, ketika berkaca kau melihat ada lekukan tubuh yang berbeda dengan laki laki. Itu disebut payudara, kau takjub dengan bentuknya, namun di sisi lain kau malu karena payudara itu sering dilirik oleh lelaki.

Namamu Puan, kadang emosimu ikhlas karena kau melihat nenek setengah renta yang meminta di jalanan dekat lokalisasi, kadang kau marah hanya karena mengantri dan antrian diserobot namun banyak yang berteriak dasar puan! Sukanya marah-marah.

Namamu Puan, kau memiliki lubang kenikmatan sekaligus lubang nista, keduanya disematkan kepadamu kenikmatan karena kau dapat membangkitkan birahi laki laki, kenistaan karena dari sanalah kau selalu disalahkan karena takdirmu.

Namamu Puan, kau selalu menjadi korban, pikiranmu sederhana, ketika kau memiliki prakarsa yang baik itu hanya dianggap angin lalu bahkan tidak dipercayai. 

Namamu Puan, kau selalu menjadi korban, kau dituntut untuk terus menjaga standar moralitas.

Namamu Puan, kau memiliki tiga kehidupan sebagai seorang gadis, menantu, dan ibu.

Kegadisanmu akan selalu menjadi pertanyaan banyak orang karena itu hal yang suci bagi banyak anggapan orang, seorang perempuan yang diwajibkan menunduk ketika berjalan, tidak boleh membantah, mengatupkan bibir, dan tidak boleh bersendawa ahh, bagimu itu kutukan.

Namamu Puan, pengalamanmu sebagai seorang perempuan akan banyak menuntutmu menjadi perempuan “baik-baik” di rumah. Meski sebetulnya kau punya cita cita mengunjungi tempat-tempat yang indah.

Namamu Puan, ketika kau menjadi menantu kau akan lepas dari keluargamu dan menjadi anak keluarga suamimu, kau dituntut melayani mereka dengan senyuman.

Namamu Puan, kau akan menjadi ibu yang tak pernah kau bayangkan. Kau akan siang malam mendengar tangis bayi, kau juga akan merasakan bagaimana rasanya menyusui dan melelahkan ketika tersadar oleh tangisan bayi di tengah malam. Kalbumu semakin peka dengan perasaan manusia karena kau seorang yang melahirkan manusia.

Namamu Puan, dan kau seorang ibu. Kau harus mengorbankan dirimu demi kepentingan manusia lain yaitu anakmu. Entah itu paksaan atau naluri, kau lakukan dan terus lakukan, seperti halnya darah yang menyatu dalam daging.

Namamu Puan, dan kau akan menjadi istri. Kau selalu harus tersenyum dengan bakal lelaki yang menjadi suamimu meskipun kau lelah. Karena konon katanya surga di bawah telapak kakinya. Ahhhh…kau semakin tak mempercayai semua bualan tentang puan.

Seiring berjalannya waktu kau tidak tercipta sebagai puan-puan pada umumnya. Kau puan pemberontak. Kehidupan menggilasmu pada pelacuran.

Namamu masih tetap Puan, kau menjadi pekerja seks entah karena takdir atau pilihan, kadang kau merasa bingung batasan itu, bahkan kau sering bingung untuk mengatakan tidak dan sering bingung untuk mengatakan iya.

Namamu Puan dan kau masih melacur, kupu-kupu malam menjadi sebutan binatang bagimu. Tapi sebutan sebagai perempuan yang menjijikkan membuatmu menangis berdarah dan tak berhenti. Kau semakin tersudut sebagai puan.

Namamu Puan dan kau pelacur, kau sadar kau melacur karena kau yang menentukan sendiri garis takdirmu, kau yang bertanggung jawab atas tubuhmu. Peduli setan dengan semua hinaan orang, kau makan atas dasar menjual tubuhmu sendiri. Kau puan dan butuh cinta. 

Namun terkadang lelaki yang menjamah pelacur sering kebingungan membedakan bersetubuh dan bercinta. Kadang ketika mereka bersetubuh denganmu, mereka gampang mengatakan kata cinta. Namun di sisi lain ketika mengatakan cinta kepadamu mereka tak ikhlas karena kau memilih menjadi pelacur. 

Kau memilih menjual tubuhmu dengan cinta terhadap satu orang. Namun cinta memang rumit serumit benang kusut dari pemintal.

Namamu Puan, dan kadang kau tertawa dan menangis bersamaan menghadapi kehidupan. Karena tak selamanya kehidupan menghadirkan kebahagiaan namun juga ada kesedihan yang mendalam.

Namamu Puan, dan kau berjanji pada dirimu sendiri untuk terus kuat menatap kehidupan. Meskipun dibelakangmu ada bisikan setan yang membuatmu rapuh

Namamu Puan, dan selamanya kau tetap puan karena ketika kau menjadi pelacur kau menyadari keperempuananmu begitu berarti.

Namamu Puan, dan kau membawa sifat kasih dan sayang karena kau puan yang percaya akan Tuhan maka kau membawa nama Tuhan di setiap napasmu.

Namamu Puan, dan kau ingin mandiri suatu saat, mengetahui ketamakan menjadi kelemahan manusia mengajarkanmu untuk terus mengasah sifat berbagi dan memberi.

Namamu Puan, dan kau mendamba pernikahan dengan lelaki yang mencintaimu. Ada kelembutan dalam dirimu yang mengakar dan kau menjaganya agar tak tercerabut dari sana.

Ada kemarahan yang berkobar-kobar namun kadang dalam renungan dan diam kau menemukan kedamaian. Ada kebahagiaan yang terpancar dalam matamu karena kau optimis akan hari depan.

Namamu Puan, dan kau saling menjaga dan membantu sesama puan, kau menyadari penindasan terhadap puan masih terjadi, kau tumbuhkan rasa kebersamaan dan saling mendukung kepada sesama puan.

Namamu Puan, dan kau tidak akan pernah menyerah oleh ambang masalah, kau akan menghadapinya!

Kau menyanyikan nyanyian puisi itu di depan kaca sambil menangis kau pandangi dirimu telah cantik dan sesegera mungkin kau menuju lokalisasi untuk terbang menghirup kehidupan malam bersama bintang bintang. 

Setelah kau taburkan make up dan lipstick, kau meyakinkan dirimu bahwa malam itu kau akan mendapatkan tamu langganan yang banyak. Agar kebutuhanmu terpenuhi esok hari. 

Jessica Ayudya Lesmana

Penulis Waria Autodidak dan Kontributor Konde.co

Let's share!

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on email