Terpaksa Pakai Jilbab Walau Bukan Muslim: Hidup Memang Penuh dengan Kompromi

Kalau keluar rumah, Anisa (bukan Muslim) tidak pakai jilbab. Kalau ke sekolah, ia juga tidak pakai jilbab. Tapi di momen tertentu ketika semua orang menyorotinya, Anisa akan pilih pakai jilbab. Sebagai perempuan yang bukan Muslim dan harus mengenakan jilbab, hidup rasanya campur aduk. Anisa harus meyakini bahwa ini ia lakukan semata-mata hanya untuk berkompromi dengan tempat dimana ia tinggal. Aceh.

Perjuangan untuk merajut kembali toleransi yang terkoyak terjadi di pelosok Nusantara. Konde.co bersama The Asian Muslim Action Network (AMAN Indonesia) dan didukung UN Women mengangkat kisah perjuangan itu dalam edisi khusus #Memperjuangkantoleransi dalam Peace Innovation Academy. Tulisan ini akan tayang selama sepekan pada 28 April- 4 Mei 2022

Aceh, sebuah daerah di ujung barat Indonesia yang sering masuk dalam pemberitaan nasional karena banyaknya intoleransi di sana, ini sepertinya akan jadi cerita yang tidak pernah ada habisnya.

Yang paling baru adalah riset yang dirilis Setara Institute  soal 3 wilayah di Aceh, yaitu Banda Aceh, Langsa dan Sabang yang masuk dalam daftar 10 kota paling intoleran di Indonesia.

Tulisan ini merupakan salah satu cara untuk menjawab rasa penasaran terhadap kelompok minoritas yang memutuskan untuk tinggal di Aceh: kenapa mereka masih bisa bertahan padahal harus berkompromi dengankondisi, ditolak oleh lingkungannya karena bukan Muslim?

Untuk menjawab ini, Khalida Zia menjumpai 5 orang dengan latar belakang berbeda untuk tahu pandangan mereka tentang Aceh dan problem intoleransi yang mereka hadapi.

Baca : Perempuan Tentena, Dulu Berhadapan Kini Menyemai Damai di Kebun Perdamaian

Baca : Aku Dipoligami Karena Suamiku Terpapar Paham Radikal

Anisa, Kamu cantik kalau pakai jilbab

Anisa (bukan Muslim), bukan nama sebenarnya. Ia sering menerima lontaran ini, “kamu cantik kalau kamu pakai jilbab.”

Lontaran ini sering Anisa terima, padahal Anisa bukan Muslim. Tapi karena ia sesekali memakai jilbab untuk beradaptasi dengan kebiasaan tempat tinggalnya di Aceh, maka orang-orang di sekitarnya mulai membanding-bandingkan wajah Anisa: antara cantik atau tidak cantik jika pakai jilbab.

Sejak dulu memang ada banyak sekali pertanyaan yang ditujukan pada Anisa soal ini, juga pertanyaan tentang bagaimana rasanya menjadi minoritas agama di Aceh karena Anisa bukan Muslim, sedangkan di Aceh hampir semuanya Muslim. Tentu saja jawabannya tidak bisa dijelaskan dengan mudah.

Ketika SMP dan SMA, Anisa sering jadi bahan pembicaraan karena dinilai berbeda. Kalau keluar rumah ia nggak pakai jilbab, kalau sekolah juga tidak. Tapi ada momen di mana ia merasa risih karena terus diperhatikan di lingkungan sekitarnya, karena itu ia memutuskan sesekali akan pakai jilbab. Hingga SMA dan kuliah, Anisa lalu memilih untuk lebih sering menggunakan jilbab.

Anisa mengira, setelah lebih sering memakai jilbab, maka masalahnya akan selesai. Tapi ternyata tidak. Pernah pada suatu ketika ada yang mengajaknya  shalat karena mereka melihat Anisa pakai jilbab, Anisa bilang jika ia bukan Muslim. Tapi jawaban ini malah menimbulkan banyak pertanyaan baru bagi mereka.

“Tapi kamu kok menggunakan jilbab, itu kan menutupi identitas aslimu?”

Jadi Anisa semakin bingung, karena kadang harus memberikan jawaban seperti apa untuk menjelaskan dua identitas yang berbeda ini.

Bagi teman-teman yang Muslim, Anisa merasa, kadang mereka senang kalau Anisa sering pakai jilbab, mungkin mereka merasa jika Anisa akan mulai jadi muallaf suatu saat nanti, dan ini bukan masalah buat Anisa. Namun banyak temannya dari agama minoritas yang merasa nggak nyaman dengan melihat Anisa memakai jilbab. Walau seperti Anisa, mereka juga terkadang harus memakai jilbab dan menggunakanya untuk kebutuhan tertentu.

Ada banyak yang punya pengalaman serupa tapi mereka memilih untuk diam. Jilbab mereka gunakan untuk beradaptasi di lingkungan mereka.

Tapi Anisa juga kadang dijauhi oleh teman dari kelompok minoritas agamanya karena mereka berpikir jika Anisa sudah mulai luntur keyakinannya karena sesekali sudah memakai jilbab.

“Kalau kami bisa memilih, tentu kami akan memilih untuk tinggal di tempat di mana kami bisa diterima dan menjadi diri kami sendiri tanpa harus dipandang berbeda. Tapi tentu tidak semua orang bisa memilih ini, ada tuntutan pekerjaan, ada keluarga dan mungkin ada juga yang terpaksa tinggal di sini untuk cari makan. Yang paling aneh juga pernah terjadi ketika ada teman yang bercanda, kamu lebih cantik ya kalau pakai jilbab.”

“Sebagian menganggap ini candaan biasa karena Anisa dianggap minoritas, tapi jika kondisinya dibalik misalnya, kamu cantik ya kalau buka jilbab, kalau Anisa mengatakan ini kepada mayoritas disini, apakah ini juga akan dianggap sebagai candaan yang biasa ?” kata Anisa

Jadi akhirnya Anisa akan pakai jilbab kapan ia suka dan tidak menggunakannya ketika ia tidak suka. Jilbab bagi Anisa lalu menjadi fashion, bukan soal hati atau keyakinan.

Anisa juga senang bisa mencocokkan warna dan sekarang punya 1 lemari koleksi jilbab, dan pernah membuat keluarga kaget karena mereka lihat koleksinya ini.

“Kalau aku tinggal di lingkungan yang tidak pakai jilbab, aku mungkin akan nyaman menjadi seperti mereka, karena aku tinggal di sini, aku kadang nyaman menggunakan jilbab. Tapi aku senang sekarang aku memilih ini karena diri sendiri dan bukan karena dipengaruhi oleh orang lain,” kata Anisa

Fitri, Tersingkir Dari Akses Tempat Tinggal

Fitri (bukan Muslim), bukan nama sebenarnya, umur 45 tahun. Ia adalah perempuan Kristiani yang bersuamikan bule atau warga negara asing. Maka secara aturan hukum, ia tidak akan mendapatkan pengakuan atas pemilikan lahan di Indonesia. Lantas selama tinggal di Banda Aceh sejak 2015 hingga 2022, ia kemudian memilih untuk menyewa rumah.

Namun jika tinggal di Aceh dan akan menyewa rumah, identitas agama akan menjadi salah satu hal yang dipertanyakan.  Saat akan menyewa rumah, seperti biasa Fitri lebih dulu melakukan survei, melihat wilayah yang cocok dan bertemu pemilik jika tertarik.

Tapi di sini, ketika kita mengatakan bahwa kita Kristen, ternyata tidak semua orang, bahkan banyak di antara mereka menolak menyewakan rumahnya. Padahal sebelumnya rumah itu disewakan.

“Jelas aku tahu itu karena identitas agamaku,” tuturnya.

Mawar, bukan nama sebenarnya mengalami hal yang sama. Ia baru saja membeli tanah di Surin, jalan Pemancar dan sudah melakukan transaksi jual beli dengan pemilik rumah. Namun setelah pemilik rumah tahu jika Mawar beragama Kristen, warga setempat tidak jadi mengizinkan mereka untuk tinggal di situ dan sekarang ia sedang bermasalah karena alasan ini.

Cerita lainnya juga muncul dari seorang perempuan minoritas agama yang akan kuliah di Banda Aceh,  tepatnya di wilayah Darussalam. Di sini tedapat 2 kampus negeri terbesar di Aceh, namun ternyata minoritas agama asal Manado yang sedang mencari kos ini menyatakan tentang sulitnya mencari kos di daerah sekitar kampus. Bahkan ada yang memasang plang besi bertuliskan: rumah hanya untuk Muslim.

Bagi mahasiswi dengan kondisi keuangan yang cukup, persoalan ini bisa saja diatasi. Tapi bayangkan jika mereka dengan kondisi keuangan yang tidak stabil, maka mereka harus bekerja dan berkompromi dengan lingkungan sekitar yang tak mudah.

Dari cerita ini, beberapa orang semakin sering bertanya, sepertinya memang ada sebuah ketakutan besar yang sering dibungkus atas nama agama di sini, entah ketakutan apa itu?

Fitri ingat, sering kali ketika akan bepergian keluar dari Aceh untuk pekerjaan atau liburan, banyak yang seperti lepas dari beban itu. Tapi ketika kembali ke sini, ia seperti orang yang mendapat beban yang kadang membuatnya tidak bisa berpikir lagi. Maka kadang ia berpikir tentang beginilah rasanya jika menjadi minoritas

Walau sebagai seorang yang punya kemampuan ekonomi yang cukup, Fitri justru merasa Aceh adalah daerah yang cukup nyaman untuk ditinggali, karena kehidupannya yang tidak terlalu komlpeks, harga kebutuhan pokok relatif lebih murah dibandingkan kota besar lain. Walaupun Fitri tidak berharap untuk menghabiskan masa tua di sini. Ia berpikir kota toleran seperti Salatiga lebih ia inginkan sebagai tempat masa tuanya nanti.

Tari, Kami bukan pendatang, Transgender juga bagian dari Aceh

Kondisi ini juga dihadapi transgender yang hidup di Aceh yang sudah pasti lebih banyak stigma negatif yang melekat bagi mereka.

Pada 2015, saat Tari, bukan nama sebenarnya memutuskan untuk mengubah identitas maskulinnya menjadi feminin, Tari percaya bahwa semua orang punya kesempatan yang sama untuk memilih identitas ini.

Awalnya orang tuanya terkejut, tapi ketika adiknya bilang ke keluarga, “gak apa-apa, dia hanya ingin menjadi dirinya sendiri biarkan saja,” Setelah mendengar itu akhirnya perjuangan Tari untuk menjadi dirinya sendiri bisa dimulai.

Tari lahir dan tumbuh besar di sini, berbeda dengan banyak kondisi yang sering menyangkal bahwa mereka bukanlah orang Aceh. Banyak dari mereka mengatakan bahwa transgender seperti Tari datang dari Medan, dan ini jadi rumor yang seringkali muncul di kalangan masyarakat.

“Mungkin itu bagian dari cara mereka untuk menghilangkan identitas kami dari Aceh,” kata Tari

Dalam aktivitas sehari-hari, Tari  harus menghadapi cemoohan, diteriaki waria, terjaring razia wilayatul hisbah.

“Ini adalah keseharian yang sudah menyatu dengan hidup kami dan itu tidak masalah bagiku. Aku belajar untuk memberi waktu kepada masyarakat untuk berproses mengenal kami. Karena kami dulunya juga memiliki proses yang panjang sebelum menjadi diri kami yang sekarang.”

Namun stigma paling buruk yang beredar adalah ketika terjadi bencana, itu sering kali dikaitkan dengan keberadaanTari dan teman-temannya sesama waria. Waria diidentifikasi sebagai pembawa bencana.

“Bencana terjadi karena waria mendatangkan bencana, lalu apakah sehebat itu waria bisa mengatur bencana? pikirku dalam hati.”

Selama ini keberadaan mereka tidak diterima, pekerjaan mereka diusik dan tidak ada satu aturan hukumpun yang berpihak

“Aku tetap ingin bertahan di sini, karena Aceh adalah identitasku, aku tidak berharap diperlakukan istimewa, aku hanya ingin diterima di tempat aku lahir dan besar di sini,” kata Tari

Anis, Harus Bersekolah di Sekolah Swasta

Anis (bukan Muslim) adalah seorang atlet Taekwondo, sudah belajar Taekwondo sejak SD, dan sering menang di banyak pertandingan Taekwondo.

Pernah ada momen waktu itu Anis akan masuk pemberitaan di koran karena baru saja memenangkan pertandingan. Tapi karena membawa nama sekolah, Anis kemudian disuruh pakai jilbab. Anis tidak mau karena Ibunya tidak mengizinkan.

Akhirnya, besoknya yang masuk koran bukan Anis, tapi orang lain karena orangnya diganti, dan itu tanpa persetujuan Anis.

Pernah juga waktu PON (Pekan Olahraga Nasional) Anis berkali-kali menang dalam proses seleksi, tetapi ketika akan mengikuti pertandingan PON, Anis sempat akan diganti karena Dispora Aceh waktu itu tidak mau mengirimkan Anis yang non-muslim mewakili Aceh tanpa menggunakan jilbab. Tapi upaya mereka gagal karena pelatih Anis dari Korea memperjuangkannya

“Aku bertanding sampai bonyok dan mengeluarkan darah di matras, tapi Aceh tidak mengakui keberadaanku waktu itu.”

Di jam pelajaran agama biasanya Anis ikut mendengarkan, walaupun boleh juga keluar kalau mau. Anis ingat pernah ada moment guru agama itu bertanya:

“Kalau di agama kamu ada gini? jadi kadang perlakuan itu membuat tidak nyaman karena dipertanyakan di depan siswa lainya. Dan kami punya jam agama sendiri yang kami akan pergi ke gereja. Jadi nilai agama kami di kasih ke sekolah oleh gereja.”

Anis juga ingat, di tahun 2012 waktu Anis masih di kelas 1 SMA, ia diwajibkan berjilbab di sekolah. Dan nilai agamanya yang ia tahu diberikan gereja, ia mendapatkan nilai 9. Tapi di rapor sekolah, tiba-tiba angkanya berubah jadi 6,5, jadi nilai agamanya waktu itu merah di rapor.

“Setelah itu aku memutuskan pindah ke sekolah Budidharma, walaupun pas mengutarakan ingin pindah sempat ditahan oleh kepala sekolah karena ingin aku tetap bersekolah disitu, tapi aku tetap memilih pindah. Dan di sekolah yang baru itu aku mendapat dukungan yang sangat baik. Tapi mungkin situasinya sudah berbeda sekarang karena dulu minoritas lebih sedikit jumlahnya dan rasanya sekarang lebih ramai,” kata Anis.

Baca: Dulu Mereka Berseberangan Lantas Bertemu di Kebun Perdamaian

Vina, Guru Agama Kristen

Sekolah Kristen Metdhodis Banda Aceh dekat dengan nilai keberagaman yang dibangun bersama siswa dan guru di sini.

Pernah, seorang siswa SMP yang sedang minum air, dan sontak kaget melihat kedatangan orang yang menggunakan jilbab, dia spontan berhenti minum dan menutupi botol minumnya.

Disana, Vina bukan nama sebenarnya yang adalah seorang guru, bercerita tentang pengalamanya pertamakali datang ke Aceh. Awalnya ia masuk ke Aceh di tahun 2017 untuk menjadi penyuluh agama Kristen bagi pelajar SMP, SMA dan yang kuliah di Aceh. Sebelum Covid-19 melanda, ada seorang siswa laki-laki beragama Budha pindah ke sini, padahal saat itu siswa ini sudah kelas 3, ia pindahan dari sekolah negeri karena merasa sering mendapat ejekan di sekolah lamanya.

“Menariknya kalau dilihat sekilas, siswa itu bukan mendapat ejekan dari teman-temannya, tetapi kadang juga dari guru mereka. Pernah ada momen di mana siswa ini ditanyai oleh gurunya dalam pelajaran agama di sekolah negeri. Kenapa ya Tuhanmu mau ditunjuk begitu dan itu ditanyakan di depan umum, seperti menjatuhkan siswa. Jadi ya akhirnya banyak yang tidak nyaman di beberapa sekolah negeri di sini,” kata Vina

Tapi makin ke sini makin tidak banyak masalah, menurut Vina bisa jadi karena sekolah sudah banyak online dan tidak lagi banyak interaksi langsung

Dalam momen-momen lomba olahraga misalnya, sekilas dilihat, siswa masih saja mendapatkan perlakuan diskriminasi ketika ada lomba yang mengharuskan proses seleksi. Dalam seleksi ini kadang mereka mendapat perlakukan yang menyulitkan minoritas.

“Kalau ada lomba kedinasan atau lomba kampus dan kami sering diundang, tapi perlombaan itu justru membuat perbedaan itu terasa. Misalnya untuk lomba debat, siswa perempuan biasanya diharuskan menggunakan rok panjang, nah sementara kadang tidak semua mereka punya rok panjang, lalu seringnya latihan kegiatan itu dilakukan di hari minggu, padahal itu hari peribadatan kami,” kata Vina

Di sini, di sekolah Metdhodis Banda Aceh, sekolah Kristen untuk jenjang SD, SMP dan SMA tapi saat ini 80 persen gurunya adalah muslim, dan 70 persen siswa adalah Budha. Bagi sekolah yang terpenting guru bisa memahami dan memberi pembelajaran yang dibutuhkan siswa, maka persoalan agama bukan jadi persoalan utama.

Dan yang menarik juga saat ini ada 2 siswa, 1 perempuan dan 1 laki-laki adalah muslim, mereka ada di kelas 7, menurut orang tua mereka, mereka sekolah di sini karena dinilai lebih disiplin.

“Dengan banyaknya perbedaan di sekolah ini dan keberadaan mereka sebagai minoritas di Aceh, kami mengajarkan siswa untuk toleran bukan hanya dalam pelajaran agama dan pelajaran PPKN tetapi juga dalam keseharian kami di sini. Jadi kalau bulan puasa seperti ini kan sebagian guru berpuasa, siswa biasanya sudah mengerti untuk tidak makan dan minum di depan gurunya, seperti tadi karena mereka lupa dan melihat orang muslim di depan mereka, mereka sedang minum lalu kaget dan refleks langsung akan menjauh. Jadi itu adalah proses kami belajar tentang keberagaman. Kalau ada guru yang merayakan Lebaran kami akan datang, kalau ada perayaan Imlek kami juga berkunjung, begitupun Natal, jadi sangat beragam.”

Begitu juga dengan siswa yang Muslim, mereka memegang Alkitab kami di sini, dan itu dibolehkan.

“Yang menarik sekarang sudah sudah ada siswa yang mengatakan “Bu, tahun depan saya mau lanjut di sekolah negeri. Saya kaget itu artinya mereka sudah lebih siap dibandingkan dulu. Kalau dulu ada yang sampai ketakutan kalau akan bersekolah di negeri, sekarang sudah lebih berani. Tapi tidak tahu juga apakah faktornya karena sekolah daring sehingga interaksi antar siswa berkurang atau ada faktor lainnya mungkin karena lomba-lomba relatif lebih sedikit sekarang ini.”

Harapan minoritas

Toleransi itu bukan hal besar, tetapi memang harus dimulai dari dari hal kecil, dari dirimu sendiri. Bagaimana kamu melihat dan menerima perbedaan di sekitarmu. Dan, ini bukan hanya cerita soal agama. Jika kita adalah minoritas yakinlah suara kita penting dan sudah saatnya cerita kita didengar.

Jika kita ingin diperlakukan dengan baik, perlakukanlah orang lain dengan baik. Jika kamu adalah minoritas di sini, bisa jadi setelah berpindah kamu adalah mayoritas di tempat yang baru. Apa salahnya menerima perbedaan tanpa harus disamakan. Apakah saya harus membeli tanah dan membangun kos atau rumah bagi kami minoritas agar kami bisa diterima?

Banyak yang berharap Aceh pada suatu saat nanti akan menjadi lebih terbuka terhadap perbedaan dan melibatkan semua lapisan masyarakat tanpa pengecualian dalam pengambilan kebijakannya, sehinga tidak ada lagi kebijakan diskriminatif bagi siapapun.

(Pandangan yang disampaikan dalam karya artikel yang ditampilkan di Peace Innovation Academy adalah milik peserta dan tidak mewakili pandangan dari UN Women, Perserikatan Bangsa-Bangsa, atau organisasi yang terafiliasi dengannya)

Khalida Zia

Direktur Eksekutif The Leader

Let's share!