Uchikowati: Perjuangan Ayahku Tak Diakui karena Dia Bersimpati pada PKI

Sebagai anak dari seorang yang dicap PKI, Uchikowati harus menjalani kehidupan yang maha berat di era Orde Baru. Puluhan tahun ia menutup rapat kisahnya. Dengan dibantu Magdalena Sitorus, ia akhirnya membagikan kisah hidupnya di buku “Taburan Kebaikan di Antara Kejahatan”

Awalnya, Uchikowati Fauzia sangat lancar menceritakan kisahnya sebagai salah satu korban tragedi kemanusiaan 1965. Suaranya berubah parau ketika kisahnya memasuki masa sulit yang harus dialami keluarganya. Hingga akhirnya cerita perempuan yang kini berusia lebih dari 60 tahun itu terhenti, karena ia tak kuasa menahan tangis. 

Bilven Sandalista, moderator dalam acara diskusi Seri Warisan Ingatan 10 bertajuk “Mengenang Ingatan dan yang Terlupakan Melalui Tulisan” yang dihelat Warisan Ingatan via daring pada Jumat (29/1/2022) turun tangan. Ia memberikan kesempatan kepada pembicara lain agar ada jeda bagi Uchikowati

Uchikowati adalah putri bupati Cilacap periode 1958-1965, Djauhar Arifin Santosa yang ditahan pihak militer karena dituduh terlibat aksi Gerakan 30 September/ G30S. Ayah Uchi bukan satu-satunya anggota keluarga besar Uchi yang distigma sebagai anggota PKI. Setidaknya ada 15 orang paman/bibi Uchi dari sisi ayah yang oleh rezim Orde Baru dituduh terlibat gerakan itu.

Pasca kejadian itu, kehidupan yang maha berat harus dijalani Uchi dan keluarganya. Sejarah mencatat, bagaimana pada saat Soeharto masih berkuasa ribuan orang yang dituduh terlibat G30S dihukum tanpa diadili. Bagi mereka yang luput dari hukuman mati, hukuman yang harus dijalani tak kalah berat.

Peminggiran yang luar biasa harus ditanggung mereka yang dicap PKI sepanjang hidupnya. Hampir semua hak mereka sebagai warga negara dilucuti. Hukuman ini juga harus ditanggung keturunan yang tak tahu apa-apa.

Uchi dan keluarganya tak luput dari perlakuan itu, Mereka ‘dipaksa’ untuk menganggap semua perlakuan tak adil ini sebagai hal yang lumrah untuk diterima. Berbagai stigma dan perlakuan diskriminatif harus diterima Uchi sekeluarga. Uchi yang belakangan menikah dengan sesama keturunan tahanan politik Orba menutup rapat riwayat keluarganya.

Bahkan kepada kedua anaknya, kisah ini juga baru diceritakan ketika mereka akan kuliah di luar kota. Ini agar putranya yang saat itu beranjak dewasa bisa menempatkan diri dengan benar dan lebih berhati-hati bersikap. Mengingat mereka akan tinggal jauh dari keluarganya.

“Saya pernah merasa sangat ketakutan ketika ada tetangga yang bilang saya Bupati Cilacap. Karena saat itu ada stigma anak bupati PKI yang disematkan kepada saya,” ujarnya dalam diskusi itu.  

Meski sudah lama berkomunikasi dengan sesama keluarga Tapol 1965, Uchi dan suaminya  baru mengungkap masa lalu mereka secara terbuka pada tahun 2005. Keberanian itu tidak serta merta dimiliki, tapi harus diraih secara bertahap sehingga akhirnya ia memutuskan untuk berhadapan dengan trauma masa kecil dengan membagikan kisahnya.

Pendeta di gereja tempat Uchi dan keluarganya biasa beribadat menjadi orang pertama di luar lingkaran dekatnya yang mengetahui masa lalu Uchi. Ditambah pertemuan yang intens dengan rekan senasib, keberanian Uchi untuk mengungkap jati dirinya pun tumbuh.

Keputusan ini ternyata mampu membebaskan Uchi dari trauma masa lalu. Uchi hingga kini aktif di Yayasan Penelitian Korban Pembunuhan 1965/1966 (YPKP 65). Ia juga telah menjadi sosok yang sudah berdamai dengan masa lalunya. Tak ada lagi kepahitan dalam setiap tutur katanya, tapi ia tak kehilangan fokus dalam memperjuangkan kebenaran dan keadilan bagi para penyintas Tragedi 65.

“Dia sudah tak lagi menyimpan dendam. Jika kini ia mengungkapkan kisahnya, itu semua demi kebenaran. Bahwa ada kejadian yang sangat kejam terhadap keluarga Tapol 1965,” terang Miryam Nainggolan yang menjadi sahabat sekaligus kolega Uchi di KKPK (Koalisi Keadilan dan Pengungkapan Kebenaran).    

Narasi penting tapi juga berisiko

Kisah Uchi ini kemudian oleh Magdalena Sitorus dituangkan dalam buku “Taburan Kebaikan di Antara Kejahatan” yang diterbitkan oleh Ultimus.

Uchi mengaku harus menimbang berulang kali apakah dia benar-benar siap dan berani menanggung segala kemungkinan yang terjadi jika buku ini terbit. Karena, buku ini mengungkap sejarah hidupnya yang penuh dengan kekelaman. Makanya, sebelum buku ini terbit ia menghubungi keluarga besarnya untuk bersiap menghadapi kemungkinan yang terjadi.

Namun Uchi mengaku bangga dan tak menyesali apa yang dialami orang tuanya. Ayah saya bukan koruptor, lanjutnya, tapi ia orang yang turut mengangkat senjata untuk memperjuangkan kemerdekaan.

“Buku ini lahir berkat sebuah keberanian, karena saya mencintai mereka (orang tua dan mertuanya),” ujarnya.    

Buku “Taburan Kebaikan di Antara Kejahatan” yang lumayan tebal ini banyak dapat apresiasi karena sangat mendetail dan personal. Apa yang dituangkan Uchikowati sangat konkret karena berkaitan dengan manusia yang memiliki rasa dan emosi. Ada kisah-kisah penting yang luput dari teropong sejarah, tapi juga mengangkat kisah yang sangat personal yaitu soal kenangan Uchi akan ayahnya yang ganteng atau ibunya yang rajin turun ke bawah dan membantu banyak orang sebagai seorang bidan.  

“Narasinya sangat menyentuh, tapi di sisi lain merupakan memori yang sangat berharga tapi juga berisiko,” ujar Daniel Sihombing yang diminta menjadi pembedah buku ini.

Mengapa Daniel menggunakan istilah berbahaya? Karena apa yang dikisahkan di buku ini menyangkut sebuah regim yang sangat kuat yang hingga kini cengkeraman kekuasaanya masih kuat terasa.

Dijelaskan, saat itu posisi ayah Uchi adalah bupati wakil dari Parkindo (sekutu PKI). Ia dikenal sebagai pemeluk Kristen yang taat. Meski berdiri di bawah naungan Parkindo, Santosa adalah simpatisan PKI. Hal ini bukan masalah besar pada saat itu.

Juga dengan statusnya sebagai pemeluk agama yang taat, menurut Daniel itu juga jamak terjadi dalam politik baik nasional maupun dunia. Di masa lalu, kita mengenal adanya Haji Misbah anggota PSI yang simpatisan komunis. Di luar negeri, tidak sedikit pendeta ataupun tokoh agama yang secara terbuka mendeklarasikan diri sebagai pendukung atau bahkan menjadi wakil Partai Komunis.

“Jadi menggeneralisasikan komunis selalu ateis itu pendapat yang keliru,” ujar lelaki yang kini sedang mengambil program doktoral di ilmu teologi ini.

Sejarawan Asvi Warman Adam yang juga hadir dalam diskusi ini mengungkapkan apresiasinya. Buku “Taburan Kebaikan di Antara Kejahatan” ini penting untuk melengkapi catatan sejarah di balik G30S yang hingga kini masih menyimpan banyak misteri.

Menurutnya kisah-kisah yang dialami para keluarga Tapol 1965 penting untuk diungkap, agar generasi muda mendapatkan info dari kedua sisi. Karena selama ini masyarakat cenderung menerima informasi yang bersumber dari satu sisi, yakni informasi yang sejak dulu dibangun oleh rezim Orde Baru.

Monopoli informasi ini sering menghasilkan pemahaman yang keliru soal komunisme maupun organisasi di bawah PKI. Untuk meluruskan pemahaman ini, menurut Aswi, dibutuhkan upaya maraton.

“Berbicara Tragedi 1965 harus terus-terusan. Dan ini tidak hanya terkait G30S semata, tapi juga kejadian-kejadian di tahun selanjutnya,” ujarnya.

Catatan harian

Buku ini merupakan buku ke-16 yang dihasilkan Magdalena Sitorus dalam 10 tahun terakhir. Menurut Magdalena, menulis merupakan salah satu caranya untuk healing dari rasa kehilangan setelah suaminya meninggal.

“Semua buku saya berangkat dari catatan harian, semacam surat terbuka atau ungkapan perasaan saya saat itu,” terang istri mantan aktivis HAM, Asmara Nababan ini.

Khusus untuk buku “Taburan Kebaikan di Antara Kejahatan” ini, Magdalena melakukan wawancara mendalam dengan para penyintas Tragedi 1965. Awalnya dia mengalami kesulitan, selain tak tahu medan, banyak penyintas yang enggan membagikan kisahnya termasuk Uchi.

Namun, kegigihan Magdalena akhirnya melunakkan hati mereka. Dengan telaten Magdalena menggali masa lalu Uchi dan rekan-rekan senasibnya. Perempuan yang mengaku belajar menulis dari Putu Oka ini mengaku banyak hal yang dipelajarinya dari penulisan ini. Selain kisah pahit mereka, ia belajar keberanian dan keteguhan hati dari para penyintas Tragedi 1965.

“Kadang saya nangis sendiri saat menuliskan wawancara dengan mereka,” terangnya.

Kisah Uchi kian memikat minat Magdalena untuk lebih dalam menggali. Karena di tengah segala kepedihan yang dialaminya.

Uchi tetap membuat dirinya berguna. Selama puluhan tahun mendampingi para penyintas dan keluarga penyintas Tragedi 1965. Menurutnya, buku Taburan Kebaikan di Antara Kejahatan ini menyingkap banyak kisah kekelaman yang selama ini ditutup-tutupi.

Foto: Alinea.id

Mulat Esti Utami

Selama 20 tahun bekerja sebagai jurnalis di sejumlah media nasional, mencoba tetap setia di jalan yang dipilihnya dengan bergabung di Konde.co

Let's share!

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on email