17 Mei Hari IDAHOBIT, Negara Harus Melindungi Hak Asasi Manusia LGBT

Setiap tanggal 17 Mei seperti hari ini, seluruh dunia memperingati hari International Day Against Homophobia, Biphobia, Intersexism and Transphobia (IDAHOBIT) agar setiap orang termasuk LGBTIQ+ bebas dari kebencian, kekerasan dan diskriminasi

Setiap tanggal 17 Mei seluruh dunia merayakan International Day Against Homophobia, Biphobia, Intersexism and Transphobia (IDAHOBIT) atau Hari Internasional melawan Homofobia, Bipobia dan Bifobia, hari dimana seluruh dunia memperingati agar semua menjamin martabat setiap orang untuk bebas dari segala bentuk kebencian seperti kekerasan, diskriminasi dan pelecehan.

UN Women dalam pernyataan sikapnya pada 16 Mei 2022 dalam peringatan Hari IDAHOBIT menyatakan menentang Homofobia, Bifobia, Interseksfobia, dan Transfobia sesuai dengan tema Tubuh Kita, Hidup Kita, Hak Kita.

UN Women berdiri dalam solidaritas dengan semua orang dari beragam orientasi seksual, identitas gender, ekspresi gender dan karakteristik seks (SOGIESC).

“Kami menyadari bahwa hak-hak LGBTIQ+ bergantung pada pengambilan keputusan otonom atas masalah tubuh dan kesehatan seseorang. Dalam banyak konteks, hak-hak ini tetap di luar jangkauan.”

UN Women dalam pernyataan pers nya mencatat, di seluruh dunia, LGBTIQ+ secara rutin mengalami pelecehan, penargetan, dan pemolisian, dari tingkat interpersonal hingga politik. Meningkatnya tindakan keras dan erosi ruang sipil, bersama dengan kebijakan diskriminatif telah secara efektif membuat bahkan visibilitas orang-orang LGBTIQ+ menjadi korban kejahatan. Konflik bersenjata dan dampak berkelanjutan dari pandemi COVID-19 dan perubahan iklim telah semakin memicu ketidakadilan ini.

Selama setahun terakhir, semakin banyak undang-undang dan kebijakan yang mengkriminalisasi dan menstigmatisasi keragaman gender. Bagi LGBTIQ+ yang berpenghasilan rendah, muda, cacat, hitam, pribumi, atau orang kulit berwarna, ancaman terhadap otonomi tubuh tersebut dialami bersama dengan bentuk-bentuk diskriminasi dan marginalisasi lainnya.

“Diperkirakan dua miliar orang saat ini tinggal di lingkungan di mana orang-orang LGBTIQ+  diperlakukan sebagai penjahat. Hanya sepertiga negara yang melindungi orang dari diskriminasi berdasarkan orientasi seksual, hanya sepersepuluh yang melindungi orang trans dari diskriminasi berdasarkan identitas gender, dan kurang dari satu dari 20 melindungi orang interseks dari diskriminasi.”

Pada saat yang sama, ada kemajuan penting di seluruh wilayah. Ini termasuk akses ke layanan kesehatan seksual dan reproduksi untuk orang-orang LGBTIQ+, pelarangan “terapi konversi”; pengenalan penanda gender non-biner dan prosedur seleksi mandiri gender untuk dokumen resmi, penghapusan lanjutan pembatasan hubungan sesama jenis, kesetaraan pernikahan, dan referensi perintis untuk orientasi seksual dan identitas gender dalam perjanjian multilateral.

“Kami didorong oleh kemajuan ini dan meminta semua Negara anggota untuk berbuat lebih banyak untuk melindungi dan mempromosikan hak asasi manusia yang mendasar ini. Yang penting yaitu menegaskan kembali komitmen multilateral terhadap otonomi tubuh LGBTIQ+.”

UN Women akan terus mendukung para pembuat komitmen dalam pekerjaan mereka untuk meningkatkan akses orang-orang LGBTIQ ke layanan kesehatan seksual dan reproduksi, pendidikan seksualitas yang komprehensif dan kebebasan dari segala bentuk paksaan, kekerasan dan diskriminasi.

Ketika LGBTIQ+, khususnya perempuan LGBTIQ+, anak perempuan dan orang-orang yang beragam gender dapat membuat keputusan tentang tubuh dan kehidupan mereka – bebas dari kekerasan, diskriminasi atau paksaan – mereka dapat menyadari potensi penuh mereka dan hidup bebas dan bermartabat.

“Pada Hari Internasional Melawan Homofobia, Bifobia, Interseksfobia, dan Transfobia, kami menekankan kepada semua orang LGBTIQ+ bahwa UN Women mendukung Anda untuk mempromosikan hak-hak Anda, dan merayakan keragaman, keberanian, dan ketahanan Anda.”

Peringatan IDAHOBIT pertama kali dilakukan secara internasional pada tahun 2004 untuk mendapatkan perhatian dari para pengambil kebijakan, politisi, pemerintah dan masyarakat agar menghilangkan atau menghapuskan rasa kebencian terhadap LGBTIQ.

Di Indonesia sendiri, IDAHOBIT mulai diperingati sejak tahun 2007 dan dilakukan secara serentak di kota-kota besar Indonesia seperti Jakarta, Yogyakarta, Surabaya dan Purwokerto.

Kebencian terhadap kelompok LGBTI atau Lesbian, Gay, Biseksual, Transgender-Transeksual, dan Interseks menjadikan peringatan ini menjadi peringatan yang sangat penting dilakukan. Kondisi LGBTIQ selama ini kerap mendapatkan kekerasan, penangkapan dan pembubaran kegiatan atau forum yang diadakan oleh kelompok LGBTIQ. Kebencian dan kekerasan ini dilakukan terhadap kelompok LGBTIQ di ranah privat maupun publik, dalam bentuk kekerasan dalam rumah tangga, kekerasan domestik, bullying yang mengakibatkan drop out sekolah, pemecatan dari tempat kerja hingga perkosaan. 

Homophobia tidak hanya ada di Indonesia saja tetapi juga terjadi di semua belahan dunia. Oleh sebab itu setiap tanggal 17 Mei selalu diadakan perayaan IDAHOBIT. Tanggal 17 Mei 1990 tersebut WHO (World Health Organization) sebagai badan kesehatan dunia secara resmi juga menyatakan bahwa homoseksual bukan penyakit/gangguan kejiwaan.

Peringatan IDAHOBIT merupakan refleksi bagaimana kita diingatkan bahwa masih banyak LGBTIQ yang mendapakat perlakuan sangat tidak manusiawi, sering mendapatkan diskriminasi,danmendapatkan kekerasan karena identitas mereka.

Tim Konde.co

Konde.co lahir pada 8 Maret 2016 untuk mengelola ruang publik dari sudut pandang perempuan dan minoritas sebagai bagian dari kesadaran dan daya kritis, menghadirkan penerbitan artikel di website, produksi video/ film, dan informasi/ pengetahuan publik. Kini dikelola oleh individu-individu yang mempunyai kesamaan dalam memandang perempuan dan minoritas.

Let's share!