Bangkit dari Masa Lalu: Kisah Para Perempuan Korban Bom

Dilupakan dan terlempar dari akses pekerjaan adalah kondisi yang dialami para perempuan penyintas bom terorisme. Vanny El Rahman menemui 3 penyintas perempuan yang tengah berjuang untuk mengakses pekerjaan, minimnya pengakuan, penyembuhan dari rasa sakit dan mencoba menerima perlakuan pengeboman yang mereka alami

Perjuangan untuk merajut kembali toleransi yang terkoyak terjadi di pelosok Nusantara. Konde.co bersama The Asian Muslim Action Network (AMAN Indonesia) dan didukung UN Women mengangkat kisah perjuangan itu dalam edisi khusus #Memperjuangkantoleransi dalam Peace Innovation Academy. Tulisan ini akan tayang selama sepekan pada 28 April- 4 Mei 2022

Jakarta, 24 Mei 2017.

Selesai kuliah, Pipit bersama temannya mendatangi sebuah minimarket di Kampung Melayu untuk memesan tiket kereta.

Pipit akan pulang kampung. Posisi minimarket ini tepat di depan halte Kampung Melayu di Jakarta. Walau Pipit melihat banyak polisi di dekat minimarket, tapi ia tidak terlalu memikirkannya. Pipit berpikir, polisi biasa datang untuk berjaga-jaga.

Tiba-tiba: bum!

Tidak lama setelah ia keluar dari minimarket, terjadilah ledakan bom yang sangat dahsyat. Posisi Pipit waktu itu baru saja keluar dari minimarket dan akan menyeberang ke terminal. Tiba-tiba semuanya gelap, Pipit hanya mendengar suara orang-orang yang berteriak:

“Ada bom, ada bom.”

“Waktu itu kondisinya saya mau nyebrang ke terminal dari minimarket, tau-tau sudah ada ledakan. Itu sekitar jam setengah 9 malam. Tiba-tiba semuanya gelap tertutup asap. Bau gosong. Yang saya pikirkan cuma nyelametin diri, karena saya sempat denger teriakan ada bom, ada bom,” kata Pipit. 

Pipit adalah salah satu korban ledakan bom Jakarta yang dikenal sebagai bom Kampung Melayu. Saat itu ia sangat panik. Tubuhnya lemas. Dia hanya bisa berlari tanpa arah hingga terjatuh. Pipit jatuh di dekat seorang polisi yang kemudian membantunya 

“Saya diteriakin polisinya untuk bangun. Saya dibantu dicarikan kendaraan untuk dibawa ke rumah sakit. Sampai ke rumah sakit itu, darah saya ngucur terus di angkot,” kata dia.

Setibanya di rumah sakit, kondisi mental dan fisik Pipit hancur. Saat itu kondisinya kritis.

“Karena belum lama saya habis ditinggal ayah. Terus, susternya saya bilang kalau saya gak boleh tidur. Karena kondisi jantung saya lemah, kondisi sudah kritis. Kalau saya tidur, takutnya saya gak bisa bangun lagi,” ungkap Pipit.

Pipit menghabiskan waktu selama 10 hari di rumah sakit. Pasca keluar dari rumah sakit, ia diwajibkan menjalani rawat jalan setiap minggu. Lantaran tidak punya uang untuk membayar obat dan kontrakan, Pipit lalu memutuskan untuk pulang kampung dan minta dirujuk ke rumah sakit daerah.

Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) kemudian memberikan rekomendasi untuk pengobatan dan rujukan rumah sakit. Setelah menjalani pemeriksaan di rumah sakit di Tegal, Pipit disarankan untuk menjalani operasi saraf di Surabaya, namun Pipit takut melakukannya.

“Sekitar 2018 atau 2019, sempet ke Surabaya untuk menentukan jadwal operasi. Tapi saya takut operasi, takut dibongkar-bongkar lagi, akhirnya sampai sekarang belum dioperasi juga,” kata dia. 

Sejak kejadian tersebut, selama setahun, tangan kanan Pipit sama sekali tidak bisa digerakkan. Tangannya hanya bisa mengempit dengan badannya. Luka yang menyerang otot, tulang, dan saraf itu ternyata sangat mengganggu. Sebab, tangan kanannya kini tidak bisa diangkat ke atas. Tanpa bantuan atau ditopang oleh tangan kiri, tangan kanan Pipit hanya bisa diangkat sekitar 15 derajat. Itupun tidak bisa lama. Tidak jarang Pipit merasa ngilu jika memaksa mengangkat tangan.

“Setahun itu saya benar-benar gak bisa ngapa-ngapain. Keseharian saya dibantu sama orang tua. Waktu itu saya juga memutuskan cuti kuliah 2 tahun,” tutur dia. 

“Mama akhirnya kerja lagi. Jadi waktu itu saya tinggal di rumah nenek,” katanya mengungkapkan bagaimana ibunya harus menjadi tulang punggung keluarga sembari merawat anaknya yang sakit.

Pipit juga kehilangan kepercayaan diri karena hanya bisa beraktivitas dengan 1 tangan, seolah Pipit kehilangan masa depannya. 

“Saya malu sama kondisi saya. Saya sekarang cacat, gak kayak teman-teman. Selama itu saya ngurung diri di rumah,” kata dia.

Rasa minder Pipit akhirnya hilang setelah dia bergabung dengan organisasi disabel di Brebes, Jawa Tengah. Saat itu, Pipit sadar bahwa dirinya jauh lebih beruntung daripada anggota organisasi lainnya.

“Allah masih kasih saya tangan, sedangkan mereka kehilangan tangan. Allah hanya sedikit mengambil fungsi tangan saya, sedagkan mereka gak punya tangan. Sejak itu saya mulai bersyukur dan memutuskan untuk bergaul lagi,” kata dia.

Di satu sesi rawat jalan, Pipit sempat bertanya kepada dokter tentang pen yang berada di tubuhnya. Dia masih berharap satu waktu pen itu bisa dicopot. Tapi kata dokter, pen kalau bisa jangan diambil karena dia berfungsi sebagai penyangga. Akhirnya sampai sekarang masih ada pen.

Keterangan dokter itu menyayat hatinya. Sebab Pipit masih berharap jika suatu waktu dia dapat hidup kembali seperti dulu. Namun, lama-lama dia akhirnya bisa berdamai dengan diri sendiri. Ia kemudian memilih legowo dengan segala keputusan dokter dan tentunya takdir Tuhan.  

Sembari menjalani terapi pemulihan fungsi tangan, Pipit mulai mencari pekerjaan. Dia juga mulai mengumpulkan niat untuk meneruskan kuliah. Pada 2019, tatkala kondisi tangannya mulai membaik, Pipit memutuskan untuk melanjutkan kuliah. Setahun berselang, Pipit juga mendapat pekerjaan di salah satu perusahaan ekspedisi

Di saat-saat seperti ini, Pipit kemudian bersyukur karena dia tidak menyimpan dendam atas kejadian kelamnya. Alih-alih menyalahkan nasib, Pipit melihat seluruh rangkaian hidupnya sebagai suratan takdir yang telah ditetapkan oleh Tuhan

“Kalau dipikir-pikir, semua ini ya qodarullah. Belum tentu yang dipikiran orang buruk, itu hal buruk bagi saya. Mungkin ini yang terbaik bagi saya. Alhamdulillah juga saya sama sekali gak punya dendam dengan pelaku terorisme,” ungkap Pipit.

Pipit kemudian juga memutuskan untuk meneruskan kuliahnya.

“Saya bertanya ke kakak (kelas di kuliah) apakah saya harus melanjutkan kuliah atau tidak. Terus kata kakak itu saya harus lanjut kuliah. Kamu boleh cacat fisik, tapi jangan sampai kamu cacat ilmu,” kata Pipit meniru perkataan seniornya.

“Dari situ saya merasa tertampar, akhirnya saya bertekad untuk kuliah lagi,” sambung dia.

Dipertemukan dengan Pelaku Terorisme

Pipit kemudian bercerita bagaimana Aliansi Indonesia Damai (AIDA) mempertemukan dirinya dengan salah satu pelaku terorisme, hal-hal yang sebelumnya sangat ia hindari

“Waktu di acara AIDA saya bertemu keluarga napiter (narapidana terorisme). Awalnya saya gak tahu, kami bergaul saja. Terus pas mereka berbicara, di situlah saya tahu, oh ternyata dia mantan teroris. Tapi kok baik sekali orangnya,” ungkap Pipit.

Dia menambahkan, “sejak itu saya yakin kalau mereka sebenarnya orang-orang yang baik, cuma mereka punya cara pikir yang aneh saja.”

Meski tidak memiliki dendam, Pipit tidak berbohong bahwa dia masih menyimpan trauma. Setelah lima tahun berlalu, Pipit masih bergetar ketika mendengar suara petasan, ledakan, atau dentuman yang mendadak. Dia juga takut ketika melihat orang yang menggendong tas ransel.

“Karena sempat denger katanya pengebom itu menggunakan tas ransel. Jadi pikiran saya, kalau ada orang yang bawa ransel, bawaannya mau lari terus. Paling tidak jaga jarak,” ungkapnya.

Kini Pipit tinggal di kontrakan sederhana seharga Rp500 ribu per bulan bersama ibu dan anak perempuannya di Tangerang.  Pipit memutuskan untuk mengambil jurusan manajemen ekonomi di Universitas Azzahra. Selama kurang lebih 6 bulan, Pipit memainkan perannya sebagai mahasiswa dan tulang punggung keluarga. Setiap bulannya Pipit digaji sekitar Rp1,5 juta. Tentu hasil jerih payahnya tidak dinikmati sendiri.

“Gaji segitu alhamdulillah bisa buat kuliah, hidup di Jakarta, sama dikirim buat orang tua. Karena alhamdulillah, ibu-bapak tempat saya bekerja bener-bener mendukung saya kuliah. Jadi saya kadang dipinjemin kendaraan, dibantuin (beli) buku,” tutur Pipit.

Selang berapa lama, Pipit memutuskan untuk mencari pekerjaan baru. Sebabnya adalah jadwal tidur anak-anak yang tidak menentu.

“Kadang anak-anak itu tidur jam 3 malam. Waktu itu saya takut kalau nanti saya ngantuk, terus anak-anak jatuh dari tangga,” demikian pertimbangan Pipit untuk keluar dari rumah tersebut.

Pada awalnya permintaan itu ditolak. Salah satu alasannya adalah tidak mudah mencari baby sitter baru yang bisa akrab dengan sang anak. Terlebih, ikatan emosional antara keluarga tersebut dengan Pipit sudah sangat kuat. 

Setelah berdiskusi, akhirnya keinginan Pipit dituruti. Tapi, sang ibu meminta Pipit untuk mencari kontrakan yang tidak jauh dari rumah serta tetap menjaga komunikasi, termasuk memberikan kabar kalau Pipit membutuhkan sesuatu.  Akhirnya, babak baru kehidupan Pipit dimulai. Dia mendapati kontrakan tidak jauh dari tempat tinggal lamanya

Wartini dan Kepergian Syahromi

Wartini terlihat ngobrol dengan anak perempuan pertamanya, Sari Novriatin Putri. Mereka duduk di dekat pintu. Sari rebahan sambil memainkan gawainya.

 “Empok, ada yang nyariin nih,” seorang perempuan, adik kandung Wartini mengantarkanku untuk bertemu Wartini.

Tidak mudah menemukan rumah Wartini, sekalipun dia telah memberikan alamat lengkap. Wartini tinggal di kawasan pemukiman padat di Kampung Rawa, Johar Baru, Jakarta Pusat. Berjarak 5 menit dari Pasar Gembrong. Kendala klasik dari pemukiman padat adalah nomor rumah yang tidak urut. Rumahnya bersebelahan dengan terusan kali Sentiong. Lantai 1 ditempatin kalau mau kumpul keluarga sama kalau ada tamu. Lantai 2 sama 3 buat istriahat.

Wartini adalah janda dari Syahromi, seorang satpam yang menjadi korban bom Kedutaan Besar Australia pada 9 September 2004. Meski Syahromi berhasil selamat dari kejadian tersebut, bahkan dia sempat menyelamatkan korban lainnya, rupanya Tuhan menjemput Syahromi dua tahun kemudian. Syahromi meninggal pada 2006, meninggalkan Wartini yang waktu itu sedang hamil anak ketiganya.

“Bapak sempat dirawat di rumah sakit 2 minggu sebelum meninggal. Bapak sempat dilarikan ke ICU RS Cipto Mangunkusumo. Tapi karena ICU rame, akhirnya bapak dirujuk ke RS Abdi Waluyo. Waktu dirujuk itu kondisi bapak udah gak sadar. Sabtu-Minggu (sempat dirawat) di ICU RS Abdi Waluyo, terus tanggal 19 November (2006) bapak udah gak ada,” kata Wartini.

Perbincangan kami selama 40 menit dimulai dengan kisah setelah Syahromi terkena ledakan. Berdasarkan keterangan dokter, meskipun luka di badan Syahromi tidak terlalu parah, tapi rumah siput di telinga kirinya hancur. Syahromi harus dirawat di RS MMC selama satu minggu.

Nestapa Syahromi tidak menggugurkan kewajibannya sebagai kepala keluarga. Begitu keluar dari rumah sakit, dia kembali bekerja di tempat lamanya. Tentu saja kondisi Syahromi tidak sesehat sebelumnya. Dia harus rutin berobat jalan. Sesekali saat ngilu menyerang telinga, tidak jarang Syahromi harus menjalani rawat inap.

“Selama 2 tahun (sejak kedian sampai sebelum meninggal) saya ngurusin bapak keluar-masuk rumah sakit. Kadang dirawat Sabtu-Minggu gitu, kadang dirawat sampai satu minggu,” ungkap Wartini.

“Sebenarnya saya jualan udah dari dulu, tapi jualan makanan ringan, kayak otak-otak, mie rebus. Tapi sejak bapak kena bom, saya gak jualan lama karena ngurusin bapak,” sambung dia.

Semula, pasangan suami-istri itu tidak memusingkan soal biaya pengobatan, dengan harapan bahwa Syahromi akan diberikan fasilitas kesehatan sampai sembuh. Namun, harapan itu pupus tatkala rumah sakit mengabarkan bahwa pengobatan Syahromi sudah tidak lagi ditanggung negara.

“Berobat jalan selama 3 bulan (sejak kejadian) dibiayain pemerintah. Ke sananya, pas bapak kambuh sakit, mau berobat ke RS MMC, ternyata dikabarin harus biaya sendiri. Di situ saya bingung,” kata Wartini.

Wartini dan Syahromi tidak mengenyam pendidikan tinggi. Alhasil, mereka sama sekali tidak mengerti bagaimana cara memperjuangkan hak-hak korban. Mereka juga tidak memahami sejauh mana kewajiban negara bisa mengayomi masyarakat ekonomi lemah. Yang mereka pahami adalah kalau dapat bantuan Alhamdulillah, kalau tidak dapat ya berarti belum rezeki.

Syukurnya, masalah itu cepat terselesaikan karena Kedutaan Besar Australia mau menanggung biaya pengobatan. Tidak seperti pemerintah yang seolah lepas tangan begitu saja. 

“Karena kita bingung (biaya pengobatan), bapak terus nelpon kedutaan. Alhamdulillah kedutaan mau nanggung biaya pengobatan,” ujar dia.

Setelah dua tahun, rupanya Tuhan lebih mencintai Syahromi. Syahromi meninggal kala itu. Wartini juga dirundung kalut tatkala memikirkan perasaan anak-anaknya. Sari kehilangan sosok ayah di saat yang paling dia butuhkan. Lebih miris lagi, anak ketiganya bahkan harus dibesarkan tanpa kehadiran ayahnya.

“Waktu itu anak pertama saya pas kelas 3 SMK, pas mau ujian, bapaknya malah gak ada. Itu juga lagi butuh-butuhnya uang. Makanya waktu itu saya bener-benar marah sama teroris-teroris itu,” ungkap Wartini.

Kedutaan Australia kemudian bersedia menanggung biaya sekolah anak-anaknya. Bahkan hingga perguruan tinggi. Untuk ke sekian kalinya, bantuan ini bukan datang dari negara. Dan lagi-lagi, tidak terpikirkan dalam benaknya untuk menagih apapun dari pemerintah.

Hidup terus berlanjut. Wartini sadar bahwa dia tidak bisa menggantungkan nasib anak-anaknya dari belas kasih kedutaan, masyarakat, apalagi pemerintah. Sebagai perempuan tua dengan keterbatasan kemampuan dan tidak memiliki latar belakang pendidikan yang memumpuni, satu-satunya pilihan pekerjaan bagi Wartini adalah berjualan.

Wartini memilih untuk berjualan nasi bungkus dengan lauk yang matang, seperti jamur atau kepala ayam. Setiap bungkusnya dibandrol dari harga Rp5 ribuan.

“Penghasilannya ya gak tentu, kadang bisa Rp50 ribu sehari. Ya bisalah untuk transportasi anak-anak ke sekolah Rp25 ribu per hari. Kalau ditanya cukup atau gak, ya dicukup-cukupin aja. Kalau sebelum COVID, lumayan banyak yang beli. Tapi pas COVID begini, banyak yang gak kerja, akhirnya pada buka usaha, jualan, yang ada makin sedikit yang beli,” sambung dia.

Sejak ditinggal Syahromi, Wartini memilih untuk tidak melanjutkan kontrakan karena tidak memiliki uang. Dia memutuskan untuk tinggal di rumahnya sekarang, yang merupakan warisan dari ibunya. Tidak besar memang. Tapi cukup untuk melindungi dari terik matahari atau rintik hujan. 

Setiap bulannya, di luar uang makan, minum, dan jajan anak-anak, Wartini setidaknya harus menyisakan uang Rp300 ribu untuk tagihan listrik dan air.

“Waktu itu sempat dapat subsidi, jadinya bayar listrik Rp200 ribu per bulan. Terus subsidi gak dapat lagi, jadi bayarannya naik. Uangnya ya dari hasil jualan. Kalau gak cukup, ya pokoknya dicukup-cukupin,” ungkapnya.

Kepergian Syahromi tidak bisa diterima begitu saja oleh Wartini. Perempuan berusia 54 tahun itu tidak menampik bahwa dirinya menyimpan dendam dan rasa marah kepada para pelaku terorisme. Wajar saja, perjalanan hidup Syahromi-Wartini bukanlah kisah kacangan.

Wartini mendampingi Syahromi sejak bekerja sebagai pegawai di museum di Taman Mini, kemudian menuruti permintaan mertua untuk pulang dan mencari pekerjaan di Riau, kembali lagi ke Jakarta untuk menjadi satpam di kedutaan, hingga akhirnya mendampingi kepergian Syahromi ke pangkuan Tuhan.

“Waktu itu orang tua (Syahromi) nelpon terus nyuruh pulang ke Pekanbaru, suruh resign. Katanya dijanjiin pekerjaan di sana. Eh Taunya selama 5 bulan bapak nganggur. Akhirnya saya minta balik ke Jakarta,” kata Wartini.

“Di Jakarta barang nyari duit Rp10 ribu pasti dapat insyaallah, yang penting gak makan pake uang mertua, kan saya malu,” sambung dia. Bagiku, ungkapan ini mengandung pesan yang sangat kuat, betapa Wartini mencintai Syahromi bahkan pada titik terendahnya.

Pertemuan Wartini dengan mantan napiter difasilitasi oleh AIDA. Kala itu, dia bertemu dengan Ali Fauzi yang merupakan adik dari Amrozi dan Ali Imron, dalang Bom Bali 1. Pertemuan terjadi di Solo, saat Wartini dan Ali Fauzi diminta untuk jadi pembicara di salah satu lembaga pemasyarakatan.

Ketika menyinggung Ali Fauzi, nada bicara Wartini mulai berbeda. Suaranya meninggi. Matanya mulai berkaca-kaca. Wartini tampak meyembunyikan sesenggukan yang hampir tak bisa ditahan.

“Itu kok enak banget hidupnya pak Ali Fauzi. Gaya-gaya gitu. Kok bisa. Padahal gara-gara dia (merujuk pada pelaku terorisme secara umum) suami saya gak ada. Itu saya marah banget,” kata Wartini, sembari mengusap matanya yang sudah mulai berlinang air. 

Bagaimana akhirnya Wartini memutuskan untuk berdamai dengan diri sendiri?

“Terus, dia (Ali Fauzi) nyamperin saya. Dia juga nangis-nangis minta maaf ke saya. Ya siapa yang tak terenyuh ya, saya gak tega juga. Pas ke Tasik juga dia gitu, sampai nangis-nangis sama korban. Ya akhirnya saya maafkan,” ungkap Wartini.

Di tengah pembicaraan, Wartini menunjukkan salah satu warisan dari sang suami, yaitu klip heroisme seorang Syahromi. Sebelum meninggal, Syahromi masih sempat membuat kliping koran dan majalah tentang bom Kedutaan Besar Australia. Dia menggunting semua berita dan ditempelkan ke dalam satu album. Tidak ketinggalan satu dua foto media ketika Syahromi masih sempat membantu menyelamatkan korban.

Di halaman awal kliping, ada tajuk utama Koran Tempo berujudul ‘Teror Datang Lagi’. Tajuk tersebut memperlihatkan foto Syahromi sedang menggendong seorang korban yang berlumuran darah dengan dua orang orang lainnya.

“Sampe udah gak kuat nolongin, udah lemes, itu bapak baru ngomog ke komandannya Akhirnya dia dibawa ke rumah sakit,” kenang Wartini.

Saat membicarakan kliping tersebut Wartini tampak senang. Nada bicaranya tidak memelas. Dia memberikan keterangan tambahan untuk setiap halaman kliping yang aku lihat. Termasuk foto ketika Syahromi terkapar lemas di atas kasur rumah sakit.

Selain kliping, pada awalnya Syahromi juga menyimpan seragam satpam yang ia kenakan pas hari kejadian. Namun, kata Wartini, seragam itu akhirnya dibuang karena amis darah yang mengganggu.

“Waktu itu kata bapak ini foto-foto buat kenang-kenangan. Biar anak-anakya tahu ini bapak gitu,” ujar dia.

Cerita Erniati, Korban Bom Bali

Korban lainnya bernama Erniati. Erni merupakan salah satu korban tidak langsung Bom Bali I yang terjadi pada 2002. Dia kehilangan suaminya. Meninggalkan dua anak yang masih sangat belia, satu berusia 9 tahun dan satunya berusia 1,5 tahun.

“Saat suami saya meninggal, saya harus jadi single parent. Mencari nafkah untuk mereka sekolah, tempat tinggal. Saya harus menyembuhkan diri dari trauma. Saya juga harus menjelaskan kepada anak-anak apa yang menimpa ayahnya. Karena mereka masih sangat kecil. Itulah titik terendah dalam hidup saya,” sambung Erniati.

Ungkapan Erniati menunjukkan bahwa terorisme adalah kejahatan yang bisa menyerang siapa saja, kapan saja, di mana saja. Tak hanya menyerang korban, tapi juga keluarganya. Kumar Ramakrishna, dalam bukunya ‘Islamist Terrorism and Militancy in Indonesia’, menyatakan bahwa esensi dari terorisme adalah menyebarkan rasa takut. Kelompok sosial yang paling mudah merasakan takut dan trauma adalah masyarakat dengan ekonomi lemah.

“Korban (yang terdata di YPI) tidak ada pejabat. Sedikit yang kerja kantoran. Korbannya justru warga sipil yang kerja atau beraktivitas di jalan, bukan orang (dengan kedudukan atau jabatan) yang mereka cari. Jadi bisa saya katakan kalau para teroris itu salah sasaran,” jelas Erniati.

Kompensasi yang datang terlambat

Hidup Wartini dan Pipit praktis berubah 180 derajat. Wartini kini menjadi kepala keluarga. Sedangkan Pipit, terpaksa cuti dari perannya sebagai tulang punggung keluarga. Pada titik inilah negara seharusnya hadir memberikan jaminan kesejahteraan kepada para penyintas ledakan bom.

Faktanya, berdasarkan laporan Institute for Criminal Justice Reform (ICJR), yang mengutip dari catatan Yayasan Penyintas Indonesia (YPI), hingga Mei 2016 ada 544 korban terorisme yang tercatat di Indonesia yang belum menerima kompensasi.

Kendati data di atas terbilang usang, dan mungkin tidak relevan untuk digunakan di tahun 2022, keterangan di atas setidaknya mengonfirmasi keresahan Wartini.

Bisa dibayangkan, Wartini yang sejak 2006 telah kehilangan suaminya harus menanggung sendiri biaya hidup lima anggota keluarganya selama bertahun-tahun. Wartini mengaku baru menerima kompensasi dari negara pada 2021. Artinya, dia baru menerima haknya sebagai korban setelah 15 tahun ditinggal Syahromi.

Padahal, kompensasi merupakan kewajiban negara akibat kelalaiannya dalam melindungi keamanan fisik warganya. Korban terorisme bisa dikatakan sebagai korban kesalahan negara dalam mengelola fungsinya. Karena hampir selalu ada keterkaitan, baik secara langsung atau tidak, antara tindakan terorisme dengan kebijakan negara. 

“15 Tahun itu bukan lama lagi, lama banget itu mah. Saya cuma bisa besarin anak-anak dari hasil jualan ini aja,” demikian tanggapan Wartini terkait kompensasi yang setahun silam dia terima.

“Itu juga pas akhir 2021 baru saya terima. Hampir setahunan saya nyiapin, ngisi ini itu. Untungnya dibantu sama YPI untuk ngurus dokumen,” sambung dia, seraya mengonfirmasi besaran kompensasi yang diterima sekitar Rp210 juta.

Dalam kasus Pipit, 2 tahun setelah kejadian Pipit sudah menerima kompensasi.

“Setahu saya, saya itu kloter pertama yang menerima bantuan. Kompensasi dari LPSK saya terima tahun 2019,” tutur Pipit.

Pipit menyambung, “saya sih gak pernah nagih (kompensasi). Bagi saya kalau ada ya rezeki, kalau tidak dapat ya berarti belum rezeki.”

Ihwal posisi negara terkait pemenuhan hak-hak korban, Presiden Joko Widodo telah menerbitkan Peraturan Pemerintah (PP) No. 35 Tahun 2020 tentang Pemberian Kompensasi, Restitusi, dan Bantuan kepada Saksi dan Korban. Harapannya beleid ini mencegah para korban terorisme merasakan penderitaan berganda. Jangan sampai mereka yang sudah terlanjur menderita luka fisik dan mental akibat terorisme, turut menderita akibat negara yang lalai terhadap tanggung jawabnya. Di samping itu, jangan sampai negara mengambil ‘keuntungan’ dari cara berpikir Pipit dan Wartini yang menyamakan kompensasi dengan rezeki.

“Padahal korban merupakan subyek yang paling terzalimi akibat kejadian aksi terorisme,” demikian penekanan ICJR dalam naskah daftar inventarisir masalah (DIM) ihwal revisi Undang-Undang No. 15 Tahun 2003 tentang Tindak Pidana Terorisme, yang kini telah menjadi Undang-Undang No. 5 Tahun 2018.

Harapan para penyintas

Pipit dan Wartini masih menyamakan kompensasi dengan rezeki, padahal ini merupakan hak mereka sebagai korban atau penyintas. Bagi para penyintas, situasi yang serba keurangan memaksa mereka untuk memetik hikmah atas musibah yang mereka derita. Seperti penuturan Wartini misalnya, “lagian kalau saya gak maafin korban, bapak juga gak mungkin balik (hidup) lagi.”

Sebagai seorang ibu dan ayah, satu-satunya hal yang dipikirkan Wartini saat ini adalah anak-anaknya bisa hidup jauh lebih baik. Dia bersyukur karena anak keduanya bisa menuntaskan studi di STEI Rawamangun. Dia juga berharap anak ketiganya memiliki minat untuk terus belajar hingga perguruan tinggi.

Wartini turut berharap, semoga negara menyediakan lapangan pekerjaan yang layak bagi keluarga penyintas terorisme, sehingga mereka bisa mendapatkan hidup yang lebih layak.

“Kalau bisa anak saya dibantu cari pekerjaan yang layak aja. Biar gak kayak gini-gini terus hidupnya,” kata dia.

Bantuan ekonomi, kata Erniati, menjadi sangat penting bagi para penyintas yang menderita luka fisik jangka panjang.

“Saya berharap ada bantuan modal usaha. Karena siapa sih yang mau mempekerjakan kami yang kondisi fisiknya begini. Jadi harapannya kami bisa buka warung, usaha, atau bekerja mandiri,” ujar dia.

Harapan serupa juga disampaikan oleh Pipit, yang mengaku kesulitan mencari kerja sebagai seorang perempuan difabel. Bahkan, tidak jarang dia memperoleh stigma buruk atas keterbatasannya. 

“Kata-kata kurang enak juga sempat saya terima. Tangannya udah patah gitu, bisa kerja apa emang. Yang kayak begitu justru mematahkan semangat saya,” ungkap Pipit.

“Harapan saya seharusnya ada lapangan pekerjaan untuk para penyintas. Karena kalau itu tidak dijembatani, akan sangat sulit bagi saya yang cacat gini mendapat pekerjaan,” harap Pipit, yang kini menjadi ibu rumah tangga sembari berjuang menamatkan studinya yang sempat tertunda di Universitas Azzahra. 

Korban terorisme yang terdata di Yayasan Penyintas Indonesia (YPI) semuanya setara secara ekonomi, menengah ke bawah,” kata Ni Luh Erniati, salah satu pengurus YPI.

Realita bahwa sistem patriarki yang masih mengakar di Indonesia menjadikan perempuan penyintas terorisme mengalami tekanan berganda. Di satu sisi, mereka harus menyambung hidup dan memberi makan keluarganya. Di sisi lain, dampak terorisme menjadikan mereka tidak memiliki akses terhadap pekerjaan yang layak.

“Banyak teman-teman yang kondisi fisiknya tidak lagi memungkinkan kerja untuk maksimal. Ada juga yang mau mulai usaha tapi gak punya modal, gak punya skill. Umpamanya yang jadi korban suaminya, istrinya harus jadi tulang punggung keluarga. Itu juga gak mudah,” terang Erniati.

Fakta-fakta di ataslah yang mendasari lahirnya tulisan ini. Untuk mendapatkan gambaran utuh tentang bagaimana perempuan penyintas bom terorisme melanjutkan hidup di tengah keterbatasan, bersamaan dengan negara yang hampir mengabaikan kewajibannya.

(Pandangan yang disampaikan dalam karya artikel yang ditampilkan di Peace Innovation Academy adalah milik peserta dan tidak mewakili pandangan dari UN Women, Perserikatan Bangsa-Bangsa, atau organisasi yang terafiliasi dengannya).

Vanny El Rahman

Bekerja sebagai Jurnalis idntimes.com di Jakarta

Let's share!

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on email