Taylor Swift Raih Gelar Doktor untuk Kampanye Stop Kekerasan Seksual di Dunia Musik

Taylor Swift mendapat gelar doktor kehormatan di bidang seni rupa dari New York University (NYU). Ia  dianggap berjasa menjadi pionir (penggerak awal) dan inspirasi bagi advokasi hak-hak artis untuk stop pelecehan dan kekerasan seksual di industri musik.

Jumat, 18 Mei 2022. Taylor Swift mengenakan toga nuansa ungu. Pemenang Grammy, sekaligus penulis lagu perempuan yang lahir di Pennsylvania, Amerika Serikat itu menerima gelar doktor kehormatan dalam bidang seni rupa atau Doctor of Fine Arts dari New York University (NYU). 

Di atas podium, Jason King mulai menyampaikan pidato singkatnya sebagai sambutan untuk Taylor Swift. Dia menyebut Swift sebagai penyanyi-penulis lagu dengan penjualan album fantastis mencapai ratusan juta, yang begitu menakjubkan. 

Swift sebagai pemusik perempuan yang karyanya paling laris dalam sejarah, katanya telah membawa kegembiraan dan pada ratusan juta penggemar di seluruh dunia. Karyanya telah melintasi berbagai genre musik, demografi, kelompok usia hingga semua batas dari semua jenis keberagaman. Semuanya menyentuh kehidupan di seluruh dunia. 

Satu yang tak kalah penting, Taylor  Swift juga dianggap telah berjasa menjadi pionir (penggerak awal) dan inspirasi bagi advokasi hak-hak artis –stop pelecehan dan kekerasan seksual di industri musik, ini merupakan kegiatan filantropis yang berdampak luas

“Anda tanpa rasa takut menantang eksploitasi artis musik dan berhasil memperjuangkan hak mereka untuk mendapatkan kompensasi atas pekerjaan mereka,” ujar Jason King sebagai Chair & Associate Professor Clive Davis Institute of Recorded Music Tish School of the Arts, dalam momentum ‘NYU 2022 All-University Commencement, disiarkan langsung di kanal resmi youtube NYU (18/5/2022).  

Sebelumnya, Taylor Swift pernah menang di pengadilan atas kasus pelecehan seksual Mueller dalam sebuah sesi foto bersama pada tahun 2013. Mantan DJ (disc jockey) itu pernah dilaporkan Swift karena memegang bokong Swift—tanpa konsensual, dan dinyatakan bersalah oleh pengadilan dan harus membayar denda simbolis senilai USD 1. 

Jason melanjutkan, Swift juga telah banyak bekerja untuk kemanusiaan melalui kegiatan filantropis. Seperti, menyumbangkan secara signifikan kekayaan yang dimilikinya kepada korban banjir, angin puting beliung hingga berdedikasi untuk kontribusinya mendukung program literasi penelitian kanker untuk anak-anak dan pendidikan publik. 

“Anda telah menggunakan platform luar biasa yang Anda dapat untuk menggalang dukungan bagi upaya kesetaraan mencegah diskriminasi berdasarkan orientasi seksual dan identitas gender. Anda telah berbicara dan mendukung inisiatif untuk melindungi perempuan dan anak perempuan dari pelecehan dan kekerasan seksual,” lanjutnya. 

Pihak NYU menyatakan, Taylor Swift telah menjadi panutan di seluruh dunia untuk bakat dan pencapaiannya yang bersejarah. Termasuk, upaya advokasinya untuk perlindungan mereka yang menghadapi diskriminasi serta komitmennya berbicara dengan tegas, fasih dan efektif atas nama semua seniman. 

“Berdasarkan otoritas yang diberikan kepada saya, saya senang untuk menganugerahkan kepada Anda gelar Doktor Seni Rupa Honoris Causa,” ujar perwakilan NYU.

Sebagai salah satu kampus terbesar di AS, NYU memiliki reputasi sebagai universitas dengan riset terkemuka di dunia. NYU juga masuk sebagai anggota Asosiasi Universitas Amerika yang selektif yang memiliki kampus universitas pemberi gelar di New York, Abu Dhabi dan Shanghai. Salah satu bidang pendidikan yang bergengsi di NYU adalah musik dan seni studio, satu ekosistem dengan jurusan yang memberikan gelar kehormatan kepada Taylor Swift. 

Taylor Swift Menginspirasi Perempuan untuk Berdaya 

Taylor Swift tak hanya penyanyi perempuan yang bercerita lewat lagunya–seputar cinta dan patah hati kemudian bangkit– tapi dia juga inspirasi dalam banyak hal. Selama lebih 20 tahun dia berkarya, Taytay, panggilan akrab Taylor telah membuktikan pula bahwa konsistensi dan dedikasi bisa membawanya pada satu titik apresiasi yang bahkan tak terkira. Yaitu, gelar pendidikan. 

Taylor bercerita, dirinya tak pernah mengenyam pendidikan formal secara “normal”. Karir musiknya sejak usia belasan tahun, menjadikannya hanya bersekolah sampai kelas sepuluh SMA. Suka duka homeschooling juga pernah ditempuhnya dengan ujian di lantai terminal bandara. Hingga kini dia tak menyangka, secara tertulis, dia bisa meraih gelar doktor kehormatan dari universitas bahkan tanpa dia kuliah. 

“Kalian mendapatkan apa yang dikejar. Kalian seharusnya bangga dengan apa yang telah kalian lakukan,” ujar Taylor kepada para mahasiswa NYU, yang dua tahun ini berkuliah di masa pandemi dengan segala pembatasannya. 

Di momen itu, Taylor juga menyampaikan beberapa pesan penting dari perjalanan hidupnya. Kita bisa belajar bahwa perempuan dengan segala pencapaian sepertinya, tak lepas dari dukungan (support system) dari orang-orang terkasih. Mulai dari orang tua, kakek-nenek, guru, penasihat dan orang-orang sekitar yang mencintai. 

“Kita adalah patchwork quilt –red selimut yang disulam, dari mereka yang mencintai kita.. Saya berharap kita akan menemukan cara tersendiri untuk mengucapkan terimakasih atas semua langkah yang membawa kita ke tujuan bersama ini,” kata Taytay.

Pesan penting Taylor lainnya, perlu pula kita belajar menerima dan melepaskan. Termasuk, kaitannya dengan relasi toksik yang bisa mempengaruhi banyak hal dalam kehidupan kita seperti kekerasan hingga luka masa lalu. 

“Mengetahui hal-hal yang harus disimpan, dan apa yang harus dilepaskan,” imbuhnya. 

Perempuan kelahiran tahun 1989 itu juga mengingatkan bahwa kita perlu merangkul dan berdamai dengan masa lalu. Tak perlu juga merasa malu atas kesalahan dan kebodohan yang pernah dilakukan. Sampai-sampai terus menerus menyalahkan diri sendiri. 

Padahal menurutnya, tiap orang pasti punya ‘fase memalukan’ dalam hidup yang semestinya bisa diterima dan dinikmati. Dia mencontohkan dirinya pernah memiliki fase sepanjang 2012 dia berpakaian seperti gaya ibu-ibu rumah tangga 1950-an, yang terkesan kuno jika dipakai pada tahun itu. 

“Tapi apa? Saya bersenang-senang. Tren dan fase itu menyenangkan. Melihat ke belakang dan tertawa itu menyenangkan,” kata Perempuan dengan lagu terbaru berjudul ‘All too Well’ ini. 

Pemilik nama lengkap Taylor Alison Swift ini,  juga mendorong termasuk para perempuan untuk berani mencoba dan mengambil kesempatan yang ada. Di samping, terus berupaya untuk memperbaiki kesalahan sebagai pembelajaran berharga. Alih-alih terus berkubang dalam rasa bersalah dan tak bertindak apa-apa. 

Di akhir pidatonya, sahabat karib dari penyanyi Selena Gomez ini bilang, tetap tenang saat kita menghadapi kegagalan. Terus bersyukur dengan apa yang terjadi dan perlahan belajar dari kegagalan itu. 

“Kita masih cukup beruntung bisa bernapas, kita perlu menghadapinya dengan tenang. Tarik napas dalam-dalam dan hembuskan,” ujarnya. 

Penulis novel perempuan AS, Christina Wyman, berpendapat Taylor membuktikan bahwa perempuan bisa memaksimalkan pendidikan dengan banyak cara. Bagi Taylor, dirinya bisa menempuh pendidikan dengan menavigasi industri musik yang seolah mustahil di usia mudanya hingga pengorbanannya dalam kasus pelecehan dan kekerasan seksual yang dia hadapi. Sampai akhirnya, bisa memberikan inisiasi perubahan bagi perlindungan perempuan utamanya di industri musik. 

“Swift adalah definisi dari pengaruh, pekerja keras, dan pencapaian di bidang pilihannya,” ujar Christina dalam tulisannya ‘Rolled Eye Taylor Swift Honorary Degree NYU Change Heart’ di NBC News.

Rekam jejak Taylor Swift memang dikenal berkarir sejak usia 14 tahun. Dia terjun ke dunia musik usai lulus dari Sekolah Menengah. Hingga kini dia bisa menjual lebih dari 25 juta album dan 96 single album di AS. Taylor juga bisa dibilang sebagai penyanyi muda paling sukse dengan penjualan 170 juta rekaman. 

Di usia 20 tahunan, Taylor adalah musisi muda pertama yang memenangkan penghargaan Album of the Year dalam sejarah Grammy. Dia juga satu-satunya musisi yang bisa merilis empat album dengan penjualan lebih dari 1 juta eksemplar di minggu pertama rilis yaitu Speak Now, Red, 1989, dan Reputation. 

Sukses dengan ‘Love Story dan ‘We Are Never Ever Getting Back Together’ tahun 2012, Taylor juga menginspirasi dengan menjadi perempuan pertama dalam sejarah 56 tahun Billboard Hot 100 dengan lagu ‘Blank Space’ yang dibawakannya. Dia juga telah dua kali menjadi musisi perempuan pertama yang memperoleh gelar ‘Woman of the Year’ versi Billboard. 

Ilustrasi gambar: https://www.instagram.com/p/CdtUuBgODBe/

(Dari berbagai sumber)

Nurul Nur Azizah

Bertahun-tahun jadi jurnalis ekonomi-bisnis, kini sedang belajar mengikuti panggilan jiwanya terkait isu perempuan dan minoritas. Penyuka story telling dan dengerin suara hujan-kodok-jangkrik saat overthinking malam-malam.

Let's share!

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on email