Impresi Feminis: Kuntilanak Disimbolkan Sebagai Setan Betina Dalam Film Horor Indonesia

Dalam film horor Indonesia, kuntilanak selalu disimbolkan sebagai personifikasi dari setan betina yang pemarah dan pendendam. Padahal dalam perspektif feminis, kuntilanak ditempatkan sebagai representasi perempuan yang berjuang untuk bertahan hidup.

Riset yang dilakukan Justisio Adiprasetyo dan Annisa Winda Larasati dari Universitas Padjajaran menyatakan bahwa film-film horor Indonesia memiliki napas yang sama, yaitu cenderung menempatkan perempuan secara dominan sebagai hantu.

Dalam tulisannya di Theconversation.com Justisio dan Annisa menulis, ini disebabkan karena adanya ketimpangan representasi hantu perempuan oleh kentalnya budaya patriarki dan misogini.

Salah satu hantu perempuan adalah kuntilanak. Kuntilanak adalah tokoh perempuan yang sering sekali menjadi simbol kematian, menjadi mitos tentang makhluk yang mengantarkan kita pada tidur panjang yang tak akan pernah selesai.

Pada gambaran dalam budaya populer, simbol kuntilanak juga dilukiskan sebagai siluman berwujud perempuan yang antagonis, sebagai perempuan yang hamil dan punya anak sekaligus pendendam

Hal ini bisa dilihat dalam beberapa film yang dibintangi aktris Suzzanna dalam kisah legenda kuntilanak beranak dalam kubur yang kerap disadur menjadi tayangan drama seri di televisi dan film layar lebar, kuntilanak sering dipakai sebagai simbol antagonis dan mewakili tokoh perempuan dengan karakter pemarah, bengis, pendendam.

Dalam film versi terbaru Suzzanna beranak dalam kubur yang diperankan aktris Luna Maya , kuntilanak juga disimbolkan sebagai perempuan yang mencoba membalas dendam pada orang yang mencelakai nya dan berniat jahat pada suaminya. Kuntilanak digambarkan sebagai perempuan yang sangat mengerikan dan membuat banyak orang takut

Namun, sebaliknya, saya justru menangkap polemik pada karakter kuntilanak dengan mempertimbangkan ciri-ciri dari “kepintaran” kuntilanak, baik yang mitos maupun yang fakta, yang kerap dituliskan orang -orang dari perspektif patriarki

Kuntilanak dalam perspektif feminis yang saya saya akui adalah makhluk penyayang dan setia terhadap keluarganya, bukan sosok pendendam yang selama ini digambarkan dalam film-film nya. Kuntilanak bisa juga kita tempatkan sebagai perwakilan dari kehidupan perempuan yang berjuang untuk bertahan hidup. Ini bisa dilihat bagaimana ia mempertahankan hidup anak yang dikandungnya.

Ia juga merupakan representasi kehidupan perempuan yang kritis, tak mau menyerah dan mempunyai kemampuan episodik yang tak pernah dilihat orang pada umumnya

Kehidupan kuntilanak selalu dilukiskan sebagai subyek yang hidup dalam kegelapan. Muncul di malam hari yang gelap pekat yang mendominasi aroma gelap dalam atmosfir film. Temaramnya malam dan cahaya lampion di dalam film kuntilanak juga membuat saya melihat kembali posisi kuntilanak: perempuan dalam kehidupan gelap.

Cahaya selalu menjadi metafora kehidupan, sementara hitam gelap pekat selalu lekat dengan kematian. Kematian sendiri selalu dijauhi dan dihalau dari percakapan lantaran dianggap menakutkan. Kematian sendiri selalu identik dengan kemisteriusan seperti halnya kuntilanak yang berwatak susah ditebak, gelap, menyakitkan.

Melihat kuntilanak dalam gelap pekat dan tak ada cahaya ini semakin mengukuhkan kuntilanak sebagai sosok yang dibenci karena orang lebih suka terang dibanding gelap

Kuntilanak yang sedang hamilpun menyiratkan bahwa inilah sebenarnya potret perjuangan perempuan untuk mencari keadilan, karena perempuan dalam posisi hamil yang dibunuh tentu merupakan tindakan keji dari manifestasi budaya jahat patriarki.

Hal lain, kuntilanak juga perempuan yang suka tertawa melengking, ini juga seakan mengisyaratkan bahwa perempuan dengan tertawa melengking adalah perempuan yang tak disukai karena tidak sesuai norma, sedangkan yang disukai adalah yang tertawa dengan lirih dan tak terdengar.

Sekali lagi, kuntilanak selalu disimbolkan sebagai personifikasi dari setan betina, yang memiliki luka dan kesedihan, padahal inilah realita kehidupan yang banyak dialami perempuan sebagai orang yang kehidupannya pedih, seperti halnya peristiwa hidup traumatik yang dialami perempuan-perempuan ketika ia mengalami pelecehan seksual, pemerkosaan yang membuatnya tak bisa sepenuhnya hidup karena sebagai perempuan nyatanya jiwanya sudah mati.

Kuntilanak juga berada dalam wilayah emosi emosi manusia yang mampu melihat segalanya dengan holistik. Saya membayangkan bagaimana ekspresi luka itu dibawakan oleh tokoh kuntilanak dengan begitu dalam. Ada semacam kekuatan penjagaan yang begitu kuat seperti halnya ibu pertiwi yang mampu bertahan dalam situasi ketidakpastian. Namun, juga ada ketulusan yang dibungkus dengan luka-luka yang dalam. Luka-luka itu terpancar ekspresif lewat penampilan aktris yang begitu dramatis, ada beberapa luka yang berada dalam film itu yang menampilkan makna tersendiri

Luka yang pertama adalah luka yang selalu bersembunyi, luka ini ada dalam jiwa namun ditutupi hingga akhirnya dapat dirasakan juga, luka ini mampu bertahan , namun juga ada kepedihan yang begitu dalam. Dan bentuk luka yang bersembunyi ini ditampilkan dalam bentuk sinematografi yang begitu mencekam pada kuntilanak di film. Luka kedua yang sangat dalam dan berwatak binatang, luka ini menimbulkan emosi hingga setiap manusia yang terluka ia akan memetaforakan dirinya seperti binatang. Ada sisi kebinatangan dalam dirinya yang terpaksa ditunjukkan dengan bermacam-macam keluh kesah dan ekspresi binatang mengerikan. Sisi luka kebinatangan itu juga terlihat.

Luka yang ketiga adalah luka yang dikendalikan. Luka ini tidak mau diidentifikasi dengan apa pun sekaligus luka ini juga bisa diidentifikasi dengan macam-macam peristiwa. Bisa jadi, luka ini dalam sekejap sembuh namun akan kembali terbuka lagi hingga mengalami sakit yang luar biasa.

Jika kembali membawa ingatan, peristiwa performativitas kuntilanak dalam film tentu saja dapat membawa luka itu dengan penuh dendam untuk dibalaskan. Namun, jika kita melihat luka dalam perspektif feminis disini kita bisa melihat bersama bahwa perspektif feminis sebagai sumber rasa keindahan, meskipun luka itu akan pasif, tidak bergerak, dan akan disembuhkan oleh berbagai cara.

Dalam cara yang paling nyata, luka biasanya akan sembuh dengan waktu. Dalam sejarah masa lalu tentu saja banyak luka-luka luar biasa yang bisa kita ceritakan, dari ketidakadilan, gelap-pekat suatu peristiwa yang mengandung provokasi, dan pertarungan ambang antara pahlawan dan penjahat. Luka-luka itu hadir dan membawa pilu. Dalam pandangan saya, kuntilanak berusaha menghadirkan beragam luka lewat performativitasnya dalam bingkai wacana feminis , kemudian jika dibaca lewat seni pertunjukan  ia berupaya menghadirkan cara-cara menyembuhkan luka yang dalam, salah satunya bertahan lah dengan luka itu.

Dengan luka, manusia membawa berbagai macam emosi dan praktik penyembuhan, peran kuntilanak dalam film beranak dalam kubur adalah karya dengan kekuatan  untuk pulih dengan cara memulihkannya lewat perjuangan mencari siapa pembunuhnya.

(Foto: Wikipedia)

Jessica Ayudya Lesmana

Penulis Waria Autodidak dan Kontributor Konde.co

Let's share!

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on email