Surat Atalia Ridwan Kamil: Perjuangan dan Kasih Ibu yang Tak Pernah Mati

Atalia Praratya menulis surat untuk putranya, Eril Ridwan Kamil yang tenggelam di sungai Aare di Swiss. Ia memutuskan mengikhlaskan kepergian Eril dan melanjutkan kehidupan keluarga. Suratnya menyiratkan cinta seorang ibu yang tak akan pernah mati: doa terbaik untuk anak dalam setiap helaan nafas seorang ibu.

Atalia Praratya akhirnya memutuskan meninggalkan Swiss meski putranya, Emmiril Khan Mumtadz atau biasa dipanggil Eril Ridwan Kamil belum ditemukan. Seutas suratnya menjadi insipirasi di media sosial. Menggambarkan betapa berat hati dan perasaan seorang ibu yang kehilangan anaknya:

Ril… mamah pulang dulu ke Indonesia, ya.. Mamah titipkan kamu dalam penjagaan dan perlindungan terbaik dari pemilikmu yang sebenarnya, Allah swt, dimana pun kamu berada… Insya Allah kamu tidak akan kedinginan, kelaparan atau kekurangan apapun.

Bahkan kamu akan mendapatkan limpahan kasih sayang, karunia dan kebahagiaan yang tak pernah putus. Disini, di sungai Aare yang luar biasa indah dan cantik ini, mamah lepaskan kamu, untuk kita bertemu lagi cepat atau lambat.

Seperti yang pak walikota sampaikan, “The city of Bern will forever be deeply connected to us…”

Doa terbaik mamah dalam setiap helaan nafas, Atalia Aare River, Juni 2022

Pesan pendek ini diunggah Atalia Praratya Ridwan Kamil di akun Twitter dan Instagramnya, ketika memasuki hari ke-7, pencarian putranya Eril tak kunjung membuahkan hasil.

Bersama pesan ini Atalia juga mengunggah foto dirinya bersama suaminya yang adalah Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil dan putri mereka, Camillia Laetitia Azzahra. Mereka bertiga sedang merenung di dermaga Sungai Aare, Swiss

Atalia memutuskan kembali ke tanah air bersama keluarga, meski putra sulungnya belum ditemukan. Atalia memutuskan untuk menitipkan Eril kepada ‘Penjaga’ Sungai Aare.

Bukan sebuah keputusan yang mudah bagi seorang Atalia untuk meninggalkan anaknya yang masih hilang dan belum diketahui keberadaannya. Kita tak tahu persis bagaimana perasaan Atalia saat meninggalkan Swis, satu hal yang pasti adalah seorang ibu tak pernah bermimpi harus melepas kepergian anak-anak mendahului dirinya.

Seorang ibu selalu mengupayakan yang terbaik dan menginginkan anaknya menjadi lebih baik dari dirinya. Dan, itu sudah dilakukan Atalia. Sejak Eril hilang pada 26 Mei 2022, Atalia dan Ridwan Kamil telah mengupayakan semua yang terbaik dalam pencarian Eril. Atalia juga telah berhasil mengantarkan Eril menjadi yang terbaik, sebelum akhirnya ia hilang di Sungai Aare.

Perjuangan Ibu untuk anaknya yang tak pernah mati

Apa yang dilakukan Atalia ini sama dengan yang banyak dilakukan para ibu lainnya, bahwa kasih sayang seorang ibu yang tak akan pernah putus. Maria Katarina Sumarsih, ibunda Bernardus Realino Norma Irawan atau Wawan korban Tragedi Trisakti I (1997) juga melakukannya.

Di hari penembakan Wawan, Sumarsih tengah menyaksikan berita demonstrasi mahasiswa melalui televisi dan mendengar ada mahasiswa tertembak. Tak lama kemudian dia menerima informasi bahwa Wawan putranya turut menjadi salah seorang korban. Wawan adalah mahasiswa Universitas Atmajaya yang tergerak bersama teman-temannya untuk melawan pemerintahan Orde Baru

Bergegas ia langsung ke tempat Wawan tertembak. Sampai di Rumah sakit, Sumarsih diminta ke lantai bawah, di sana dia mendapati tiga keranda yang terbuka, salah satunya terbaring jenazah Wawan. Sumarsih mendekati jasad putranya.

“Wawan pakai kaos putih, matanya terpejam seperti orang tidur,dua jempol kakinya diikat pakai tali putih, saya meraba seluruh tubuhnya, sampai di perut saya katakan ‘kamu lapar ya perutmu tipis’,” ungkap Sumarsih.

Saat melihat lubang kaos putih di bagian dada putranya, Sumarsih mengatakan, “Wan, kamu ditembak”.

Setelah Wawan dimakamkan, Sumarsih sejak tahun 1999 hingga sekarang, tak pernah lelah berupaya mencari kesaksian dari sejumlah teman-teman putranya. Dari kesaksian tersebut, Sumarsih mengetahui bahwa Wawan yang selama ini aktif di Tim Relawan Kemanusiaan tertembak ketika menolong korban penembakan lainnya.

Sampai bertahun-tahun setelah Wawan meninggal, Sumarsih masih menyediakan makan layaknya Wawan masih hidup. Ini merupakan salah satu cara Sumarsih untuk menghidupkan semangat perjuangan Wawan. Setiap Sabtu, Sumarsih selalu datang ke makam Wawan, menengok dan mengajaknya bicara, salah satu hal yang menunjukkan meski tak lagi bertemu, komunikasi, ikatan batin ibu dan anak tak pernah putus.

Sumarsih juga tak henti melanjutkan perjuangan Wawan. Sejak 18 Januari 2007 hingga kini, Sumarsih dan keluarga korban pelanggaran HAM tak pernah absen menggelar aksi Kamisan di depan Istana Presiden menuntut penuntasan berbagai kasus pelanggaran Hak Asasi Manusia/ HAM di tanah air.  

Kisah Atalia dan Sumarsih juga mengingatkan saya pada Ibunda dalam novel “Ibunda” karya Maxim Gorky, penulis kenamaan asal Rusia. Ruh novel yang ditulis sebagai pemberi semangat bagi para revolusioner proletar di era kekaisaran Rusia ini masih relevan hingga saat ini. Bahwa seorang ibu selalu anak-anaknya berhasil dengan pilihan hidupnya.

Inti dari novel Ibunda adalah menceritakan tentang semangat revolusioner yang dilakukan oleh Pavel, Ibunya (Pelagia Nilovna) dan teman–temannya untuk menuntut keadilan dan hak para pekerja di pabrik. Dalam novel Ibunda, Gorky mengungkap bagaimana Nilovna sebagai tokoh perempuan utamanya, seorang pekerja perempuan sederhana menghidupkan semangat revolusi yang tumbuh di hati anaknya.

Pada awal kemunculannya, Nilovna adalah seorang ibu rumah tangga seperti perempuan Rusia saat itu. Tetapi setelah kematian suaminya dan ketika anaknya’, Pavel memutuskan untuk menjadi pemimpin gerakan kelas pekerja yang menggerakkan revolusi, ia mendukung Pavel dan memberikan kewajibannya sebagai salah satu dari kelas pekerja dan mendukung sebagai ibu.

Nilovna akhirnya dianggap sebagai ibu dari para pemuda revolusioner ini. Bagaimana Nilovna yang buta huruf turut menjadi motor penggerak dan menghidupkan perjuangan yang dilakukan Pavel, anaknya dan teman-temannya.

Tokoh Ibu kemudian ‘menjelma’ menjadi Ibu Rusia dan Ibu Tanah yang telah lama menderita di bawah tindasan autokrasi. Ibu Rusia dan Ibu Tanah dianggap sebagai sumber dari segala sumber kehidupan, dan oleh karena itu Rusia sebagai perwujudan ibu yang harus diselamatkan.

Kehadiran Ibu seolah membantah anggapan Pavel bahwa perempuan dan anak hanya akan mematikan semangat revolusi. Pavel beranggapan bahwa pernikahan dapat merusak impian seseorang untuk menjadi revolusioner. sehingga ini menjadi alasan mengapa Pavel belum mau menikahi Sashenka karena beranggapan menikah akan mematikan semangat revolusi

Jika menikah, dia hanya akan bekerja lebih giat lagi untuk dapat menafkahi istri, anak dan  membayar biaya sewa apartemen. Semangat revolusioner inilah yang diperlihatkan oleh sang penulis agar kita tetap fokus terhadap satu tujuan yaitu terciptanya revolusi dan mengesampingkan kepentingan pribadi di atas semangat revolusi.

Lewat Pavel, penulis ingin menegaskan pemahaman bahwa revolusi merupakan sesuatu yang diperlukan untuk beralih dari kapitalisme ke sosialisme. Namun lewat sosok Nilovna, diingatkan bahwa revolusi tidak harus berupa pemberontakan keras melalui adu fisik. Revolusi diartikan sebagai perebutan kekuasaan politik oleh gerakan massa kelas pekerja sehingga negara secara langsung dikendalikan oleh kelas pekerja, bukan kelas kapitalis dan antek-anteknya dan juga bagaimana memperjuangkan perempuan terlibat dalam keputusan-keputusan politik. Dan, semangat itu ditemukan dalam diri Nilovna sebagai Ibunda.

Foto: Twitter @ataliapr

Luviana dan Esti Utami

Pemimpin Redaksi dan Wakil Pemimpin Redaksi Konde.co

Let's share!

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on email