Tak Ada Lagi Aturan Wajib Jilbab: Perempuan Arab Saudi Kini Punya Pilihan

Minggu lalu ada aturan baru di Arab Saudi: tak ada lagi aturan wajib jilbab bagi perempuan disana. Ini merupakan salah satu perjuangan aktivis perempuan untuk memperjuangkan hak dan kebebasan perempuan disana

Safi, seorang dokter perempuan di Arab, tiba-tiba mengubah penampilan barunya. Ia memotong rambut panjang bergelombangnya, menjadi sangat pendek hingga leher. Gaya rambutnya itu populer disebut ‘boy’.

Tak hanya Safi, banyak perempuan Arab lainnya pun melakukan hal sama, memotong pendek rambutnya

Di sepanjang jalanan Riyadh, Saudi Arabia, kini banyak dilihat para perempuan yang berjalan dengan percaya diri dengan gaya rambut pendeknya. Situasi ini memang terlihat usai pencabutan aturan wajib jilbab bagi perempuan di Arab oleh Pemerintah Arab.

Reformasi sosial ini digerakkan oleh Putra Mahkota Saudi, Mohammed bin Salman, yang kini penguasa de-facto Saudi. Selama lima tahun terakhir, Mohammed memang mendorong banyak kebijakan reformatif di kalangan perempuan. Mulai aturan yang membolehkan perempuan menyetir, menggunakan paspor perjalanan tanpa perwalian, menonton konser dan acara olahraga hingga kebebasan perempuan dari kewajiban jilbab akhir-akhir ini. Sehingga, banyak perempuan kalangan pekerja yang kemudian memotong pendek rambutnya. 

Pelonggaran aturan-aturan yang mengekang perempuan itu, salah satunya bertujuan untuk membangun kembali ekonomi Arab dan tidak lagi bergantung pada minyak. Makanya, mendorong para perempuan untuk juga membangun perekonomian dengan masuknya ke berbagai dunia kerja. 

Dalam Rencana Reformasi Visi 2030 kepemimpinan Mohammed, pemerintah Arab awal mulanya menyerukan agar para perempuan bisa menyumbangan 30% dari angkatan kerja di akhir dekade ini. Menariknya, hal tersebut dengan cepat dapat dicapai. Bahkan data terbaru, sebanyak 42% UMKM di Arab dimiliki oleh para perempuan. 

“Kami melihat perempuan hari ini di setiap jenis pekerjaan,” ujar Putri Haifa, Asisten Menteri Pariwisata kepada Forum Ekonomi Dunia di Davos sebulan lalu. 

Tak muncul tiba-tiba, berbagai reformasi dan kemajuan atas kedaulatan perempuan di Arab saat ini, tak bisa dilepaskan juga dari perjuangan keras dan dorongan para aktivis perempuan dan masyarakat sipil yang menuntut adanya pemenuhan hak-hak perempuan. Di samping, juga adanya dorongan pemerintah Arab yang saat ini dipengaruhi oleh Mohammed bin Salman. 

Bagi Safi, potongan rambut pendek itu tak sebatas gaya, ini adalah semacam kekuatan, yang melindungi dari perhatian yang tidak diinginkan dari laki-laki. Rambut pendek juga menjadikannya lebih mampu berfokus pada pekerjaannya–menangani pasien-pasien. Dibandingkan sibuk mengurusi rambut panjang yang membutuhkan lebih banyak perhatian. 

“Orang lebih suka melihat feminitas dalam penampilan perempuan. Gaya ini menjadi semacam perisai yang melindungi saya dan memberikan saya kekuatan,” ujar Safi, bukan nama sebenarnya, dilansir dari AFP, beberapa hari lalu. 

Perempuan lainnya yang berprofesi pramuniaga sepatu di mall Riyadh, Rose, mengatakan hal sama. Rambutnya yang dipotong pendek juga sebagai caranya menegaskan kemandiriannya dari laki-laki. 

“Memberi saya kekuatan dan kepercayaan diri.. saya merasa berbeda dan mampu melakukan apa yang saya inginkan tanpa perwalian siapapun,” kata Rose. 

Pekerja perempuan di toko kosmetik, Nouf, juga sepakat bahwa potongan pendek pada rambutnya sebagai sebuah pesan bahwa dirinya sebagai perempuan punya hak dan peran yang setara dengan laki-laki. 

“Kami ingin mengatakan bahwa kami ada, dan peran kami dalam masyarakat tidak jauh berbeda dengan peran kami di masyarakat.. rambut pendek menunjukkan kekuatan perempuan,” kata Nouf. 

Kaitannya dengan gaya rambut ‘boy’ pada perempuan Arab di angkatan kerja. Banyak yang menggambarkan hal itu sebagai alternatif praktis dan profesional. Permintaannya pun kian meningkat saat ini, para perempuan yang memotong rambutnya di salon berkisar usia belasan tahun akhir hingga dua puluhan. 

“Tampilan ini sangat populer sekarang. Permintaan meningkat, terutama perempuan yang memasuki pasar tenaga kerja,” ujar salah seorang penata rambut di salon pusat kota Riyadh. 

Nurul Nur Azizah

Bertahun-tahun jadi jurnalis ekonomi-bisnis, kini sedang belajar mengikuti panggilan jiwanya terkait isu perempuan dan minoritas. Penyuka story telling dan dengerin suara hujan-kodok-jangkrik saat overthinking malam-malam.

Let's share!