Hari Ayah Tak Populer di Indonesia Karena Belenggu Toxic Masculinity

Tak banyak yang tahu jika tanggal 19 Juni diperingati sebagai hari Ayah internasional, atau 12 November diperingati sebagai hari Ayah nasional. Padahal hari Ayah sudah diperingati dari awal abad ke-12 sebagai penghormatan pada ayah, tapi hari itu tak pernah populer di Indonesia.

Seberapa banyak dari kamu yang tau, jika tanggal 12 November itu diperingati sebagai Hari Ayah Nasional di Indonesia?

Beberapa teman laki-laki yang saya tanya, mereka menjawab tidak tau. Ada yang tau, tapi selama ini mereka tak pernah membuat selebrasi atau merayakannya. Meski semisal, sebatas mengunggah ucapan-ucapan manis di sosial media mengucapkan selamat hari Ayah—layaknya di hari-hari spesial lainnya

Seorang karyawan swasta, Anto (30) mengaku tak begitu familiar dengan peringatan Hari Ayah. Di lingkungan keluarga atau pertemanannya, dia tak biasa merayakannya. Laki-laki domisili Jakarta ini tipikal orang yang tak begitu suka dengan seremonial-seremonial, apalagi seperti Hari Ayah yang selama ini tidak pernah dikenalnya.

“Buat aku pribadi, yang paling penting bukan seremonialnya itu sih. Tapi, posisi laki-laki sebagai ayah itu bisa hadir dalam keluarga. Semisal jadi pasangan yang berbagi peran dalam domestik dan pengasuhan,” ujar Anto saat berbincang dengan Konde, Senin (27/6). 

Serupa dengan Anto, pekerja yang berdomisili di kawasan Tangerang, Banten, Iqbal (28), juga tak tahu tepatnya kapan Hari Ayah biasa diperingati. Dia bilang, jarang sekali ada peringatan, diskusi ataupun seminar yang mengangkat tema spesifik ke Hari Ayah. 

Pun di lingkungan sekitarnya, Hari Ayah memang kalah populer dibanding dengan peringatan pergerakan perempuan pada tanggal 22 Desember—yang banyak dikenal dengan Hari Ibu. 

Sebagai seorang ayah, Iqbal bilang, peringatan Hari Ayah baginya tak begitu penting bila sekedar seremonial. Tapi paling penting, ruh perjuangan Hari Ayah seperti cuti melahirkan bagi ayah sampai pendidikan peran ayah dalam tumbuh kembang anak harus dihadirkan. 

“Kalo secara seremonial doang diperingatinya nggak perlu lah. Laki-laki mah nggak terlalu peduli diperhatiin kayak gitu,” katanya. 

Hari Ayah, Apakah Itu?

Di Indonesia Hari Ayah nasional diperingati setiap 12 November 2006 yang dideklarasikan oleh Perkumpulan Putra Ibu Pertiwi. Deklarasi tersebut digabung dengan hari kesehatan dengan mengambil semboyan ‘Semoga Bapak Bijak, Ayah Sehat, Papah Jaya.’

Sedangkan, di beberapa negara Eropa dan Timur Tengah Hari Ayah disebut sebagai Hari Laki-laki atau International Men’s Day (dalam bahasa Inggris) yang diperingati setiap 19 November.

Sedangkan Hari Ayah Internasional diperingati setiap tanggal 19 Juni. Dilansir dari Media Indonesia, Hari Ayah Sedunia diawali dengan kisah pada bulan Mei 1909, saat seorang anak bernama Sonora Smart Dodd mendengarkan pidato Hari Ibu di Gereja. Setelah itu, Ia ingin menetapkan sebuah hari untuk Ayahnya, William Jackson Smart.  Ibu Dodd meninggal saat melahirkan. Oleh karena itu, sang ayah yang mengurus Dodd beserta lima saudara lainnya. Ayah Dodd adalah seorang veteran Perang Sipil. 

Awalnya, Dodd ingin merayakan Hari Ayah Sedunia pada 5 Juni sesuai dengan ulang tahun ayahnya. Ia juga mengajukan petisi agar hari tersebut diakui di kotanya dan menjadi hari libur.  Butuh waktu banyak untuk mewujudkan keinginan Dodd. Akhirnya, Hari Ayah Sedunia pertama kali dirayakan pada  19 Juni 1910 menurut Konvensi Regional Spokane dan Biro Pengunjung. 

Pada perayaan Hari Ayah Sedunia yang pertama, sejumlah anak perempuan memberikan bunga mawar kepada ayah mereka selama kebaktian Gereja. Bunga mawar merah sebagai apresiasi kepada ayah mereka yang masih hidup, sedangkan mawar putih untuk ayah mereka yang sudah meninggal. 

Hari Ayah Sedunia resmi dijadikan hari libur untuk perayaannya. Presiden Amerika Serikat Lyndon Johnson mengeluarkan Proklamasi Presiden pertama untuk mengapresiasi Hari Ayah pada 1966.  Peresmian hari libur dalam rangka Hari Ayah Sedunia dilakukan oleh Presiden Richard Nixon pada 1972. Ia menandatangani Undang-Undang Publik yang menjadikan Hari Ayah Sedunia sebagai hari libur. 

Domestifikasi Peran

Aktivis Aliansi Laki-laki Baru, Eko Bambang Subiantoro tak menampik: Hari Ayah memang tak populer di Indonesia.

Padahal di berbagai negara seperti Amerika Serikat (AS), Hari Ayah sudah diperingati dari awal abad ke-12 sebagai penghormatan pada ayah. Sementara di Indonesia, Hari Ayah Nasional pertama dideklarasikan kurang dari dua dekade lalu, sekitar tahun 2006. 

Dalam konteks di Indonesia, Eko Bambang berpandangan, Hari Ayah memang berbeda dengan peringatan tanggal 22 Desember sebagai Hari Ibu menurut versi Pemerintah atau dikenal sebagai Hari Pergerakan Perempuan menurut para aktivis perempuan.

Sejak zaman Orde Baru, peringatan bersejarah atas Kongres Perempuan Indonesia itu direduksi menjadi peringatan “Hari Ibu.”  Sejak masa orde baru, “Hari Ibu” itu ditetapkan sebagai Hari Nasional melalui Keputusan Presiden No. 316 Tahun 1959. 

Peringatan pergerakan perempuan pada 22 Desember itu juga dikuatkan oleh pengalaman senasib perempuan atas penindasan dan diskriminasi selama berabad-abad lamanya. Sehingga, peringatan 22 Desember itu mempunyai kekuatan dan pengaruh besar. 

“Ada perlawanan, proses penting perempuan untuk lebih berdaya. Ada proses-proses sejarah politik, perlawanan pergerakan di hari ibu itu, sehingga hari ibu dimaknai sebagai nilai historis untuk tonggak perjuangan perempuan terkait kesetaraan di Indonesia,” ujar Eko dihubungi Konde.co, Senin (26/6). 

Sedangkan hari Ayah tidak. Di Indonesia Hari Ayah tidak populer dan berlalu begitu saja, tak banyak orang yang tahu atau merayakannya.

Eko menekankan, tak bisa pula kita menutup mata dari realita sekitar di Indonesia yang masih begitu maskulin. Maskulinitas beracun (toxic masculinity) masih sangat kental yang menyebabkan peringatan Hari Ayah justru bisa mengganggu konstruksi sosial yang selama ini menguntungkan laki-laki sebagai laki-laki perkasa atau laki-laki yang berkuasa

Ambil contoh, Hari Ayah seharusnya diperingati sebagai hari dimana laki-laki memperjuangkan kesetaraan dan keadilan, jadi peran ayah harusnya hadir dalam peran domestik dan pengasuhan. Tentu saja kontras dengan konstruksi yang selama ini diyakini bahwa laki-laki hanya bekerja di ruang publik, sementara urusan domestik dan pengasuhan merupakan bagian perempuan. 

“Sehingga kalau ada gerakan Hari Ayah yang ujungnya untuk melucuti peran-peran laki-laki dalam ruang publik dan harus peduli dengan ruang domestik, ini dianggap bisa jadi ancaman, makanya sebaiknya hari ayah tidak dipopulerkan. Ada psikologis sosial seperti itu yang berkembang.”

Padahal, menurutnya perjuangan Hari Ayah semestinya juga penting disuarakan. Bersama para rekan di organisasi gerakannya, Aliansi Laki-Laki Baru mengajak para laki-laki termasuk ayah untuk memerankan peran-peran kemanusiaannya. 

Hal terpenting, persepsinya tentang maskulinitas laki-laki yang sehat dan tidak toksik. Bahwa laki-laki sama halnya dengan gender lainnya, punya nilai kemanusiaan dan rasa peduli. Laki-Laki Baru juga berupaya mendobrak konstruksi sosial yang selama ini toksik seperti laki-laki gengsi ketika mengerjakan tugas domestik sampai mengasuh anak. 

“Perubahan paradigma gimana laki-laki harus mendefinisikan ulang dirinya. Maskulinitas yang didorong itu lebih produktif, positif dan kepedulian ke sesama. Kalau nilai-nilai itu ada pada Hari Ayah atau apapun, memandang anak, keluarga, domestik, pasangan itu pasti adalah sejajar (setara). Itu paradigma pola pikir yang harus dibangun,” kata dia. 

Lalu, apa yang selanjutnya didorong? 

Eko menegaskan, gerakan-gerakan seperti Laki-laki Baru harus lebih diperbanyak. Dukungan-dukungan atas peran laki-laki dalam menciptakan ruang yang adil gender juga dikuatkan. 

“Kita harus lebih banyak gaungkan, biar lebih banyak yang bicara soal konsep maskulinitas (sehat),” katanya. 

Selain upaya membangun kesadaran diri dan jaringan, dia bilang, dorongan terhadap sistem kebijakan juga harus dilakukan. Misalnya saja regulasi kebijakan yang mendukung keterlibatan laki-laki dalam aspek sosial yang selama ini cenderung dikonstruksikan untuk perempuan seperti pengasuhan. 

Laki-laki pekerja misalnya juga ada kebijakan cuti melahirkan istri. Sehingga, laki-laki secara sosial juga mendapatkan dukungan untuk mengaplikasikan peran pengasuhan dan domestiknya. Namun tentu, mesti ada edukasi terkait perspektif feminis. 

“Tantangannya memang harus ada panduan, laki-laki ketika dapat cuti, tapi peran gendernya tidak berubah (toxic masculinity), dia malah bisa membebani istri. Karena istri dapat beban ganda bukan hanya mengurus anak, tapi juga suami. Ini yang harus kita kawal, yaitu membongkar level tata pikiran tidak hanya praktis tapi perilaku,” pungkasnya. 

Eko Bambang menambahkan, padahal peran pengasuhan dari ayah itu tidak cuma bermanfaat bagi anak, tetapi bagi ayah sendiri. Sebagai orangtua, ayah bisa dekat dengan anak dari anak masih kecil. Jika sudah semakin besar, ayah jadi tahu kesulitan anak dan anak juga menjadi tahu kesulitan ayah.

Dalam proses inilah kedekatan diantara keduanya lalu dibangun,  karena relasi selalu dibangun oleh kedua pihak, bukan oleh satu pihak saja.

Jika ayah punya peran pengasuhan, maka kedekatan ini bisa dibangun sejak dini, ketika anak sudah dewasa, anak menjadi tahu kebutuhan ayah. Konsep berbagi ini harus sudah dimulai sejak anak masih kecil melalui relasi dan kedekatan-kedekatan yang dibangun.

(Artikel ini merupakan kerjasama Konde.co dan ID COMM yang mendapat dukungan dari Investing in Women)

Nurul Nur Azizah

Bertahun-tahun jadi jurnalis ekonomi-bisnis, kini sedang belajar mengikuti panggilan jiwanya terkait isu perempuan dan minoritas. Penyuka story telling dan dengerin suara hujan-kodok-jangkrik saat overthinking malam-malam.

Let's share!