Mengemis Cinta Thor, Mengapa Marvel Sulit Hadirkan Posisi Perempuan yang Setara?

Meningkatnya jumlah perempuan yang menggemari film superhero tampaknya mudah saja terjadi. Tapi, menghadirkan penggambaran karakter feminis yang dapat menantang maskulinitas genre sepertinya masih menjadi tantangan.

Ketika pertama kali terungkap bahwa Natalie Portman akan menjadi “Thor perempuan” dalam film superhero Marvel terbaru, Thor: Love and Thunder (2022), banyak penggemar yang sontak mengeluh di media sosial.

Portman dianggap tidak cukup “kekar”, terlalu mungil, dan secara umum bukan sosok yang diharapkan akan memerankan karakter tersebut. Setelah latihan fisik intensif dan diet tinggi protein selama 10 bulan, Portman berhasil “mendapatkan” tangan yang “mampu melempar palu raksasa ke kepala penjahat”.

Namun, reaksi awal terhadap peran Portman tersebut membuktikan bagaimana kesulitan yang dihadapi para pembuat film dalam merepresentasikan superhero perempuan ketika sebagain besar penontonnya yang adalah laki-laki, usia muda, kulit putih, dan cisgender.

Meningkatnya jumlah perempuan yang menggemari film superhero tampaknya dianggap biasa. Tapi, menghadirkan penggambaran karakter feminis yang dapat menantang maskulinitas genre sepertinya masih menjadi tantangan.

Apa artinya ini bagi Portman dan para superhero perempuan yang telah atau akan dihadirkan? Jawabannya: sepertinya para pembuat film superhero mau tidak mau harus mendobrak sebagian pemahaman stereotip gender sambil tetap mempertahankan stereotip gender itu sendiri.

Singkatnya, mereka menawarkan simbol representasi perempuan hanya agar terlihat inklusif. Kini, Portman memang lebih berotot, tapi dalam karakter tersebut ia masih disubordinasikan kepada Thor – yang diperankan Chris Hemsworth – dengan menekankan bahwa Thor adalah cinta pertama dan utamanya.

Jumlah superhero perempuan masih sedikit

Memang, Marvel Cinematic Universe (MCU) setidaknya telah mencoba untuk menampilkan perempuan sebagai karakter utama sebagai upaya mengadvokasi isu-isu perempuan.

Film Black Widow (2021), misalnya, ikut berkontribusi mendukung gerakan #Timesup dan #MeToo. Film Thor terbaru juga menyajikan eksplorasi nilai-nilai persahabatan perempuan, dibuktikan dengan karakter Valkyrie – diperankan oleh Tessa Thompson – yang merasa “senang telah menemukan saudara perempuan baru”.

Tidak diragukan lagi bahwa para penonton perempuan pasti tertarik dengan karakter dua perempuan kuat ini dan cerita mereka, yang kemudian akan membangun penilaian positif terhadap genre superhero secara umum. Tapi, itu berarti lebih banyak film superhero yang perlu dibuat dengan mempertimbangkan penonton perempuan.

Namun, penyajian karakter perempuan semacam itu masih sangat sedikit dan jarang. Jangan lupa bahwa Marvel butuh sepuluh tahun sampai akhirnya merilis film Black Widow, terhitung sejak karakternya pertama kali diperkenalkan di Iron Man 2 (2010).

Dalam banyak hal, film-film Marvel terus merepresentasikan perempuan sebagai pemeran pembantu – disajikan sebagai karakter yang menderita, budak cinta, atau disubordinasikan kepada karakter laki-laki dalam film. Aktris Scarlett Johansson sempat mengkritik karakternya sendiri dalam Black Widow yang ia rasa terlalu diseksualisasi.

Demikian pula dengan Scarlet Witch, salah satu anggota Avengers terkuat, karakternya dilekatkan dengan hubungan dengan laki-laki dalam hidupnya. Dalam film Dr Strange: The Multiverse of Madness (2022) yang rilis baru-baru ini, ia ditampilkan sebagai karakter perempuan antagonis yang merugikan, tidak bisa mengontrol emosi, dan sosok ibu yang mengerikan.

Stereotip yang terlalu diseksualisasi

Menyajikan karakter perempuan yang punya kekuatan super namun tetap ketergantungan pada laki-laki mungkin bisa meyakinkan para laki-laki penggemar Marvel bahwa kehadiran superhero perempuan bukanlah ancaman bagi maskulinitas genre, tetapi hal itu jelas merugikan penonton perempuan.

Dalam satu studi, responden yang hampir semuanya perempuan diminta untuk menilai film dan novel grafis superheroes. Sebagain besar responden mengatakan mereka tidak menyukai dan menghindari karakter Catwoman, salah satu karakter fiksi dalam DC Comics, karena dia ditampilkan sebagai perempuan yang manipulatif dan emosional.

Penelitian lain menunjukkan bahwa paparan karakterisasi ketidakberdayaan dapat menyebabkan perempuan merasa bersalah secara moralitas dan menjadi tidak puas dengan identitas mereka sendiri. Ditambah lagi, representasi seksualitas dalam karakter superhero perempuan juga dapat menurunkan kepercayaan diri perempuan terhadap tubuhnya.

Di sisi lain, sudah ada sejumlah protes terhadap stereotip gender dalam karakterisasi superhero perempuan. The Hawkeye Initiative, misalnya, memparodikan sudut pandang laki-laki dalam buku komik dengan menggambarkan laki-laki mengenakan kostum dan dengan pose tubuh yang identik dengan karakter perempuan.

Reaksi laki-laki dan risiko box office

Masalah sebenarnya adalah apakah perempuan bahkan harus menantang pola representasi seperti itu. Seandainya lebih banyak film dan komik dibuat oleh perempuan untuk perempuan, mungkin representasi gender yang toksik tidak akan sebanyak sekarang.

Marvel terang-terangan membantah kritik terhadap karakter fiksi perempuan yang ditampilkannya. Presiden Marvel Studio, Kevin Feige, mengatakan studio Marvel akan selalu menyajikan karakter “perempuan kuat versus perempuan single yang menderita” dan merujuk pada beberapa film dan tayangan TV superhero yang rilis baru-baru yang karakter utamanya adalah perempuan, seperti She-Hulk dan Ms Marvel.

Sayangnya, memang kita tidak bisa membahagiakan semua pihak. Marvel telah merasakan reaksi keras dari para penggemar laki-laki fanatiknya terhadap agenda feminis yang diarahkan oleh Studio Marvel.

Film Captain Marvel (2019), misalnya, disebut-sebut mengakomodasi suara feminisme ke dalam Marvel Cinematic Universe, tetapi ulasan buruk dan peringkat rendah oleh penontonnya masih dikaitkan dengan persepsi dan narasi politik yang tetap saja tentang tokoh perempuan.

Peneliti gender seperti Stephanie Orme pernah mengkritik keras bahwa dominasi laki-laki dalam genre superhero telah membuat banyak penggemar perempuan merasa terasingkan dan tidak mampu mengubah stereotip gender, karena mereka tidak dilihat sebagai target audiens utama.

Sepertinya, tanpa adanya lebih banyak film dan komik superhero perempuan yang menceritakan kisah-kisah perempuan, genre yang berpusat pada laki-laki ini akan terus mengasingkan penonton perempuan – dan lambat laun akan kehilangan kreativitas dan potensi komersial mereka.

(Sumber gambar: Marvel Studio)

Artikel ini terbit pertama kali di The Conversation. Baca artikel sumber.

Angelique Nairn

Senior Lecturer in Communication Studies, Auckland University of Technology
Republikasi artikel ini, klik tombol di bawah

Creative Commons License

1. Silakan lakukan republikasi namun tidak boleh mengedit artikel ini, cantumkan nama penulis, dan sebut bahwa artikel ini sumbernya dari konde.co, tautkan URL dari artikel asli di kata “konde.co”. Anda bebas menerbitkan ulang artikel ini baik online maupun cetak di bawah lisensi Creative Commons.

2. Artikel kami juga tidak boleh dijual secara terpisah atau menyebarkannya ke pihak lain demi mendapatkan keuntungan material.

Let's share!