Di Balik Gemerlap Panggung Teater, Pelecehan Menimpa Para Aktrisnya

Mutiara dan Wulan pernah mengalami pelecehan seksual saat bermain teater. Mereka 'dipaksa' diam demi kelangsungan hidup grup teaternya karena pelecehan dianggap sebagai hal yang biasa.

Ingatan Mutiara (bukan nama sebenarnya, red) pada pelecehan seksual yang menimpanya puluhan tahun lalu tak bakal dilupakannya. Saat itu dirinya baru saja masuk dunia teater.

Berawal dari aktivitasnya di kampus dengan niat untuk membuka jaringan dan menambah kawan, siapa yang menyangka, Mutiara mengalami peristiwa tak mengenakkan. Ia mengalami pelecehan seksual yang dilakukan kawan se-grup teaternya di kampus.

Mutiara bercerita, kejadian itu terjadi sekitar tahun 2007.  Saat itu dirinya ada di dalam kamar mandi. Pelaku tiba-tiba mengambil gambar secara diam-diam melalui lubang kunci. Mutiara shock berat, saat itu ia tak tinggal diam. 

Ia kemudian melaporkan kejadian ini pada ketua grup teaternya, agar pelaku segera ditindak. Bukannya mendapat pembelaan, ia malah mengalami hal tak mengenakkan, ia justru disalahkan dan dikucilkan. Mereka membuat seolah Mutiara yang bersalah, meski sebenarnya ia adalah korban. Si pelaku tak pernah disalahkan dan tak pernah mendapatkan hukuman yang setimpal.

“Di situ saya shock berat. Karena saya sangat tidak menyangka kok ada ya keluarga makan keluarga sendiri, saya berpikir bahwa tidak mungkin itu terjadi, tapi itu terjadi pada saya,” ungkapnya penuh emosi ketika ditemui pukul 21.00 WIB saat latihan teater di Jakarta Selatan, Kamis (16/7/2022).

Ingatan itu terekam jelas, menjadi sakit hati yang tak terhingga bagi Mutiara. Hingga kini trauma itu kerap muncul sekelebat, apalagi ketika Mutiara bertemu pelaku di lingkungan yang sama berkali-kali. Hingga kini pelaku yang masih nyaman di panggung teater itu seolah tak menerima konsekuensi apa-apa, perilakunya seolah dianggap normal.

“Saya pun tidak tinggal diam. Saya melapor kepada kakak di grup teater saya, yang menurut saya dia bisa menyikapi permasalahan saya dengan sangat bijak. Kalau perlu orang seperti itu dikeluarkan karena sudah melecehkan perempuan dan tidak tahu dengan siapa dia berhadapan. Namun keadilan itu tidak saya dapatkan. Justru malahan saya yang disalahkan dan dikucilkan. Saya sangat sedih dan sangat kecewa pada saat itu. Sebegitunyakah perempuan dimata laki-laki. Seperti tidak ada harganya,” beber Mutiara

Namun begitu, peristiwa tersebut tak membuat surut cita-citanya untuk berkarya di atas panggung teater. “Saya ingin menjadi aktris atau pelaku teater yang dilihat karena prestasi dan kreativitas yang saya ciptakan, Saya ingin membawa nama Indonesia di luar negeri melalui pementasan teater.”

Harapan Mutiara, ia ingin lingkungan dalam panggung teater lebih manusiawi dan bermartabat walau perjuangan untuk ini masih jadi pekerjaan rumah yang panjang.

Wulan (Bukan nama sebenarnya, red), juga pernah mengalami pelecehan seksual. Namun ia harus memilih tak bersuara. Waktu itu ia menghadapi pilihan yang sulit, antara buka suara atau menyimpannya demi kelangsungan grup agar tak terjadi perpecahan demi teaternya tetap berdiri.

“Saya menyingkirkan pemikiran bahwa itu sebuah pelecehan, saya hanya ingin bertahan dan tak ingin grup menjadi bubar karena kasus pelecehan itu, dan saya anggap itu bentuk perlawanan saya terhadap pelaku pelecehan, saya mengajak pelaku untuk tidak melihat tubuh saya sebagai hal seksis, pelaku saya buat agar tidak nafsu saat melihat tubuh saya, maka saya sengaja tak membuat tabu tubuh saya, ” ungkap Wulan.

Wulan merasa secara emosional tak bisa lepas dari teater karena merasa bisa menjadi apapun di atas panggung teater, bahkan Wulan sempat bekerja menjadi guru dan digaji bulanan, namun ini tak membuatnya menjadi bahagia. Ia tetap mau menjadi aktris teater. “Waktu itu sempat bekerja sebagai guru, tetapi saya menangis, tak betah menjadi seseorang yang harus manis dan menjilat atasan hanya untuk mendapatkan gaji bulanan,” akunya.

Teater punya sudut yang luas, dirinya bisa memerankan diri di manapun, baik di atas maupun di balik panggung. “Saya merasa hidup di teater, saya bisa mengekspolrasi kemampuan saya, bahkan saya bisa menunjukkan sisi terbaik dari diri saya,” ujar Wulan.

Maskulinitas Panggung Teater

Ketua Komite Teater Dewan kesenian Jakarta (DKJ) Bambang Prihadi mengakui kemaskulinitas di dunia teater memang terasa kental.

“Perempuan yang ingin meraih cita-citanya sebagai seniman maka dibutuhkan kerja keras sebagaimana laki-laki, kesempatan saat ini terbuka luas untuk perempuan memosisikan diri sebagai profesional dalam kesenian teater,” jelasnya.

Banyak yang menyatakan bahwa sejatinya perempuan sangat ditunggu karyanya di dunia teater atau dunia panggung, namun di satu sisi maskulinitas di panggung teater justru kerap tak disadari.

Terkait dengan kasus kerentanan di panggung teater terutama pelecehan seksual, Bambang menilai pelecehan ini tak hanya terjadi di panggung teater, namun pelecehan juga terjadi di manapun.

“Dalam panggung teater setidaknya ada kesadaran dan tanggung jawab moral organisasi kelompok agar mengadvokasi bila terjadi pelecehan seksual, melindungi perempuan dari hal yang merugikan diri dan mencemarkan nama organisasi,” ungkap Alumni fakultas Adab UIN Syarif Hidayatullah ini.

Namun pada kenyataannya, panggung teater telah menyimpan begitu banyak sudut-sudut diskriminasi dan pelecehan yang tidak disadari.

Wakil ketua Koalisi Seni, Heru Hikayat membenarkan jika diskriminasi gender masih terjadi dibalik gemerlap panggung kesenian. Ia mengungkap kenyataan perspektif gender belum jadi hal yang dianggap penting bagi sebagian besar pelaku seni.

“Perspektif gender menjadi objek penelitian kami, kondisi kekinian pekerja seni perempuan masih perlu terus bersuara dan menekan kebijakan agar kondusif bagi perempuan berbakat di dunia seni,” ujarnya.

Heru mengungkap dari hasil riset Koalisi Seni pada 2021 lalu, kerja seni masih punya titik buta, misalnya dalam UU Ketenaga-kerjaan, pekerja seni mengalami bias formal dan bias manufaktur dan perempuan pekerja seni punya beban berlipat ganda.

Koalisi Seni menemukan pekerja seni perempuan dibelakang layar semakin minim perlindungan karena sebagian bentuk-bentuk kerja mereka yang tak kasat mata. Di antara 7 dimensi kerja, dimensi intensitas kerja dan aspek kerja emosional perempuan pekerja seni merupakan aspek paling buruk yang kerap mereka alami.

Kerja seni, banyak dilakukan secara paruh waktu, di luar jam kerja umum, berdurasi panjang dan sering di malam hari. Hanya sebagian kecil yang memiliki akses dalam proses pengambilan keputusan, hanya sebagian kecil mendapat pembekalan khusus untuk meningkatkan kapasitas. Pekerja seni punya jam kerja yang relatif panjang dan mereka sering bekerja di akhir pekan. Terkadang pekerja seni perempuan kerap menyampingkan perasaan pribadi demi kelangsungan grup atau kru panggung.

Motivasi kerja dengan keinginan pribadi sering tidak didukung oleh kondisi kerja yang memadai dan bisa berdampak pada pemakluman hingga pelanggengan eksploitasi dan pensiun dini. Masa depan suram membuat pekerja seni diminta oleh keluarga untuk tidak meneruskan cita-citanya menjadi seniman.

Dosen Universitas Pendidikan Ganesha dan Seniman Teater Kadek Sonia Piscayanti mengungkap jika teater sebenarnya adalah kesenian yang sangat luas, teater langsung menyentuh penontonnya, namun sayangnya ada banyak realitas yang tak terlihat di panggung. “Sayangnya, ada realitas yang tidak terlihat di panggung,” ungkap Sonia dalam sebuah diskusi di tahun 2020 yang dihelat Sekolah Pemikiran Perempuan melalui chanel Youtube ‘Perempuan Menawar Panggung’

Jika Kadek merasakan panggung yang kurang ramah, Agnes Serfozo, seorang peneliti dan pesinden asal Hongaria yang bekerja di Indonesia merasakan ia melihat pelecehan yang kadang dilakukan oleh dalang laki-laki. Dalang laki-laki ini dalam pertunjukannya kadang menggunakan joke-joke yang melecehkan perempuan dan kadang perempuan sinden juga ikut dilecehkan. 

”Seorang dalang sempat mengajak saya jalan agar pekerjaan berjalan lancar dan berlanjut, saya menolak dengan tegas, keesokan harinya, oknum ini tak berani lagi mengganggu atau melecehkan. Saya mengamati, ternyata kita harus berani menolak jika tidak sesuai dengan tujuan kita ada di panggung itu, ” ungkapnya.

Dalang perempuan Sri Harti atau Kenik Asmorowati  punya pengalaman yang tak kalah beratnya. Awalnya ia dipandang sebelah mata sebagai dalang perempuan, masyarakat bertanya apa menariknya dalang perempuan itu? Intinya masyarakat masih memandang rendah dalang perempuan karena biasanya dalang identik dengan laki-laki. 

“Ketika itu saya melihat bahwa ada beberapa dalang perempuan yang belum begitu menggerakkan panggung dan soal kebiasaan masyarakat yang hanya terbiasa melihat dalang laki-laki saja. Pertunjukan wayang itu adalah pertunjukan lakon atau tutur dan jarang menampilkan tokoh perempuan, jika ada dalang perempuan maka mereka hanya jadi pelengkap, tokoh perempuan di wayang juga akan diberikan peran kecil bahkan mereka hanya diminta untuk bilang: iya atau setuju dalam naskah.”

Maka Kenik kemudian menawarkan cerita-cerita tentang perempuan melalui panggung pertunjukannya, melalui tokoh wayang perempuan agar  tak dipandang sebelah mata   

Dalam diskusi ini juga diceritakan bahwa dalam seni tari di sejumlah daerah di Indonesia misalnya, ada penari perempuan yang jika menari syaratnya harus perawan, ada penari yang syaratnya harus sudah menopause dan ada penari perempuan yang syaratnya harus belum menstruasi.  Ini menjadi salah satu prasyarat untuk perempuan penari yang menarikan sejumlah tarian tertentu.

“Ini merupakan hal yang patriarkal yang menimpa perempuan karena ada kepercayaan bahwa jika tidak perawan maka akan ada gangguan atau hal gaib yang terjadi dalam ritual tersebut,” kata Agnes Zerfozo

Diskusi ini menggambarkan banyaknya tantangan yang harus dihadapi para perempun pekerja seni, yaitu dari harus membuktikan sesuatu hingga melawan pelecehan. Juga harus punya taktik dan strategi baru untuk memberikan ruang yang lebih besar bagi perempuan ketika di panggung

Menukil sebuah makalah berjudul ‘Dongeng Teater Perempuan’ yang ditulis oleh Yudiaryani, teater ketika sejarah awal eksis di dunia dalam konteks festival Dionesia di Atena merupakan intitusi kekuasaan laki-laki dalam sistem patriarki yang bercermin pada ‘perang gender’. Teater identik dengan laki-laki dan meniadakan peran perempuan, perempuan hanya punya tempat diruang pribadi, sebagai tuan putri yang lemah, ibu atau pelacur yang binal.

Sementara perempuan hasil jelmaan sistem patriarki cuma boleh menari menujukkan lekuk tubuh dan Langkah kemayunya tanpa menunjukkan identitas asli. Sedangkan laki-laki harus menjadi tokoh utama. Inilah penciptaan awal seni akting yang mempunyai karakter gender. Dalam karya satir, bahkan saat tokoh perempuan harus ditampilkan,  laki-laki yang menjadi tokoh perempuan.

Sementara dalam sejarah teater Indonesia yang sempat memasuki masa keemasan pada rentang 1968-1988, tak ada satupun nama pegiat teater perempuan. Setidaknya 102 lakon Indonesia yang satupun tak ada naskah dengan torehan pena perempuan.

Bahkan teater di masa keemasan itupun kerap ditampilkan tanpa setitikpun ada  perspektif perempuannya. Parahnya kondisi ini berlanjut hingga era Orde Baru, masuk masa Reformasi, barulah perempuan punya suara meski lirih dan jauh, kekinian, suara perempuan dan karyanya sudah mulai terlihat.

Teater dan maskulinitas menjadi terlalu identik, bahkan seperti dilansir dari penastri.org, dari media panggung tradisi, di pertunjukan wayang, perempuan berada di koor sinden yang terbatas gerak dan ekspresinya

Media panggung teater, terlalu fasih pada nama besar Arifin C. Noer, WS Rendra, Teguh Karya dan Putu Wijaya. Itulah mengapa panggung teater punya ‘ruang hitam’ yang tak terjamah oleh perempuan. Teater Indonesia begitu maskulin dan jauh dari sentuhan perempuan.

Pekerja Seni, Pekerja Lepas, Kesejahteraan Minim

Problem pekerja seni perempuan tak hanya soal berjuang untuk lepas dari pelecehan dan diskriminasi, namun juga problem lain, seperti banyaknya pekerja seni yang bekerja sebagai pekerja lepas dengan kesejahteraan yang minim.  Pendapatan pekerja teater seperti kata Bambang Prihadi kebanyakan tidak banyak “menguntungkan.”

”Jaminan kesejahteraan tidak ada, teater bukan entitas industri yang bisa segera menguntungkan orang banyak atau sebuah perusahaan, teater masih hidup di masyarakat sebagai bagian dari kebutuhan ruhani dan intelektual,” jelasnya.

Untuk bertahan di dunia teater, kebanyakan pelaku teater kemudian mencoba mencari sumber pendapatan bukan dari teater itu sendiri.” Ada banyak jalan dan sumber pendapatan yang tidak rutin yang dapat mensupport kebutuhan penghidupan pelaku teater. Dengan bekerja paruh waktu untuk subsidi silang, seperti mengajar tidak tetap, bekerja di rumah makan, event organizer, jualan online dll,” ungkap Bambang

“Atau malah ada banyak pelaku teater yang tetap bertahan walau pas pasan dengan tetap membuat karya yang dapat diapresiasi orang banyak dan sekali waktu mendapat sponsor besar.  Poinnya adalah, ketika teater belum sepenuhnya dapat membiayai hidup pelaku terbukti banyak jalan atau strategi yang dapat ditempuh untuk mencukupi kebutuhan primer mereka,” lanjutnya.

Padahal seni di negara maju, Disadari bagian dari strategi kebudayaan. “Kesenian tidak dibiarkan saja tumbuh seperti rumput, lumut dan alang-alang.  Artinya selama produks kebudayaan dan kesenian hanya dilihat di hilir saja hari ini, maka sesungguhnya negara hanya memeras keringat seniman. Sebagaimana yang sering dilakukannya pada karya karya seniman masa lalu,” beber Bambang.

Soal perjuangan kesejahteraan pekerja teater, Bambang mengungkap, saat ini DKJ ingin mendorong Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) segera menyelenggarakan sertifikasi profesi. “Ini telah dirumuskan dalam 5 tahun terakhir paling tidak bermanfaat untuk menstandarkan pendapatan pelaku teater berhadapan dengan instansi lain, ketika mereka berkarya atau mengajar, juga mendorong para pelaku untuk berkarya lebih baik lewat jalur kurasi untuk mendapat tempat pertunjukan yang ideal dengan akses publik yang mudah. Selebihnya membuat forum forum yang mempertemukan mereka dengan berbagai stakeholder dan jejaring internasional,” ungkapnya.

Bambang juga mengakui semakin hari terjadi penyusutan jumlah grup. “Bisa dimahfumi tidak mudah mempertahankan sebuah grup teater apalagi bila tidak disadari visi yang jangka panjang dan pengelolaan potensi anggota grup yang terencana dengan baik dan bekerja keras menghadapi dinamika kelompok,” tukas dia.

Artikel ini telah ditayangkan di Law and Justice.com dan merupakan hasil dari program Training dan Fellowship Kesetaraan Gender dan Inklusi Sosial (GESI) yang didukung VOICE dan Konde.co.

Devi P. Wiharjo

Beberapa tahun jadi jurnalis, sempat menyerah jadi manusia kantoran, dan kembali menjadi jurnalis karena sadar menulis adalah separuh napas. Belajar isu perempuan karena selama ini jadi perempuan yang asing pada dunia perempuan, eksistensialis yang hobi melihat gerimis di sore hari.

Let's share!