Kamu Punya Pengalaman Organisasi? Kami Punya Pengalaman Mengorganisir PRT

Merekrut anggota baru atau dalam istilah para Pekerja Rumah Tangga (PRT) adalah ngerap, bisa dibilang susah-susah gampang. Kadang saat PRT bersedia bergabung, tapi majikannya tidak mengijinkan. Giliran, majikan mengizinkan, PRTnya tidak bisa gabung, tak punya cukup waktu karena sibuk bekerja

Sejak bergabung dengan Organisasi Serikat Pekerja Rumah Tangga (SPRT) Sapulidi, saya aktif dan tak pernah lelah mengajak teman-teman PRT untuk ikut bergabung ke SPRT. Hampir di setiap kegiatan yang saya lakukan, saya selalu memanfaatkannya untuk bisa menggaet anggota baru.

Saat belanja di pasar, saat menjemput anak di sekolah ataupun saat menghadiri acara hajatan, selalu saya manfaatkan untuk mensosialisasikan keberadaan organisasi yang menaungi PRT. Tak terkecuali, pada hari Minggu, 17 Juli 2022 lalu.

Hari itu saya diundang oleh salah seorang kawan yang tinggal di daerah Cilandak Tengah, Jakarta Selatan. Hari itu dia menggelar acara sunatan anaknya. Saya pun dengan semangat untuk bersiap untuk pergi ke rumah kawan yang punya hajat tersebut.

Sesampainya di lokasi saya agak canggung karena tidak ada satu orangpun yang saya kenal kecuali sang empunya rumah.  Karena si empunya rumah sibuk menyambut tamu yang lain, saya pun ditinggal sendirian. Untuk mengisi waktu, iseng saya membuka handphone. Saya pun membuka grup Whatsapp (WAG) SPRT dan melihat-lihat akun Facebook.

Kebetulan saat itu sudah agak siang yaitu pukul 14:00 waktu Indonesia Barat, jadi acara sudah agak sepi. Hari Minggu sekitar jam 13:00 adalah jadwal rutin kawan-kawan PRT dari 6 kota untuk secara bergantian mengkampanyekan tentang isu-isu PRT.

Kebetulan saya juga menjadi salah satu penanggung-jawab atau PJ tim kampanye di SPRT SAPULIDI. Tim Kampanye ini bertugas membuat poster dan caption harian untuk disebarkan di akun media social SPRT. Link ini kemudian secara estafet disebar ulang di akun media sosial para PJ.

Tengah asyik mengutak-atik HP, tamu yang duduk di samping saya mengajak ngobrol. Ternyata dia adalah salah satu kerabat, tepatnya sepupu nyonya rumah yang punya hajat. Kebetulan teman saya yang punya hajat itu adalah tetangga desa, sehingga saya cukup mengenal daerah asalnya.

Sehingga obrolan kami nyambung, dan kami berdua cukup antusias menceritakan kegiatan kami masing-masing. Ternyata dia juga bekerja sebagai PRT, sehingga saya langsung memanfaatkan kesempatan itu untuk memperkenalkan tentang SPRT Sapulidi dan juga Jala PRT.

Kepadanya saya jelaskan, tentang SPRT Sapulidi yang menaungi PRT di Jakarta dan Depok, fasilitas yang dimiliki serta manfaat bergabung dengan SPRT.  Secara gamblang saya jelaskan tentang sekolah wawasan yang kami dapatkan ketika kami bergabung disini, kami mendapatkan berbagai les yang digelar saat pandemi belum melanda, seperti les bahasa Inggris, les komputer, les memasak, les menulis dan sebagainya.

Mendengar penjelasan saya, rupanya dia tertarik. Apalagi saat saya jelaskan bahwa semua les tersebut bisa diikuti secara gratis, cukup membayar iuran sebesar Rp 10 ribu sebulan. Sedang seru-serunya ngobrol dia sudah dijemput suaminya, sehingga komunikasi kami lanjutkan via WA.

Karena dia sudah tertarik untuk bergabung dengan SPRT, maka saya mengirimkan formulir pendaftaran secara online kepadanya. Sayang, sampai sekarang belum ada kabar lagi dari dia. Tapi ini tak membuat saya patah semangat. Kita sebagai pengurus SPRT tetap semangat untuk merekrut anggota baru.

Merekrut anggota baru atau dalam istilah ngerap kawan-kawan PRT, bisa dibilang susah-susah gampang. Kadang saat sang PRT bersedia bergabung, eh majikannya tidak mengijinkan. Giliran, majikan mengizinkan ehh PRTnya enggan bergabung dengan alasan tak punya cukup waktu. Kami harus pintar-pintar membujuk dan memaparkan manfaat organisasi SPRT ini.

Dan, kondisi ini tak menyurutkan kami para PRT untuk terus mengembangkan organisasi. Karena kami sadar, kami tidak bisa berjuang sendirian. Kami harus berjuang bersama-sama, agar PRT tidak dipandang sebelah mata.

Sehingga semakin banyak PRT yang bergabung dalam SPRT, maka akan semakin kuat perjuangan kami agar PRT diakui sebagai pekerja. Berkat semangat ini juga, anggota SPRT Sapulidi saat ini sudah mencapai lebih dari 5000 orang. 

Meski tak semua anggota aktif, tapi jumlah ini cukup membesarkan hati kami. Kami yakin, perjuangan kami akan berhasil suatu saat nanti. Kami hanya berusaha agar suara kami bisa semakin lantang dan lebih didengarkan. Semoga!    

KEDIP atau Konde Literasi Digital Perempuan”, adalah program untuk mengajak perempuan dan kelompok minoritas menuangkan gagasan melalui pendidikan literasi digital dan tulisanTulisan para Pekerja Rumah Tangga (PRT) merupakan kerjasama www.Konde.co yang mendapat dukungan dari Jaringan Nasional Advokasi Pekerja Rumah Tangga (JALA PRT).

Moy Soewartini

SPRT Sapulidi

Let's share!