Bagaimana Atasi Stigma di Komunitasmu Sendiri? Stigma Tak Hanya Dari Luar, Tapi Juga Di Dekatmu

Mendapat stigma atau label negatif dari masyarakat karena dianggap berbeda tentu tak mengenakkan. Bagaimana jika stigma justru datang dari lingkaran terdekatmu?

Sebagai manusia yang memiliki hal spesial yaitu orientasi seksual yang memang berbeda dari mayoritas, perlu perjuangan untuk penerimaan diri dan mendapatkan dukungan dari sesama. Penerimaan diri tidak hanya butuh waktu yang sebentar, tetapi juga proses mendamaikan pertengkaran dan perdebatan dengan diri sendiri. Berkomunitas pun perlu untuk mendapatkan dukungan. Karena komunitas sejatinya adalah tempat untuk saling mendukung.

Tersebutlah seorang perempuan yang dianugerahi oleh Semesta. Ia memantapkan hati untuk memilih pasangan atas dasar cinta dan kenyamanan. Tidak lagi melihat seseorang hanya dari dua warna saja dan meyakini bahwa orientasi seksual apapun itu merupakan anugerah.

Dia sudah menerima dirinya seutuhnya, merayakan apa adanya dan berkomunitas juga menjadi salah satu pilihannya. Tidak menutup mata, dia mendapatkan dukungan dari komunitas untuk menerima orientasi seksualnya.

Komunitasnya seru sekali, ada beraneka ragam karakter dan keahlian. Salah satu keahlian mereka adalah dapat mencairkan suasana dengan canda tawa. Iya, perempuan ini mendapatkan dukungan dari komunitas tersebut tetapi di sisi lain, komunitas ini selalu menormalkan bully dalam candaan.

Awalnya, ini tidak jadi masalah, tidak apa-apa, toh guyon. Namun, lama-kelamaan perempuan ini merasakan sakit hati yang begitu dahsyat. Dia hanya mengutarakan bahwa dirinya memiliki mimpi untuk meraih sesuatu yang indah. Akan tetapi, ada teman-temannya yang berbisik-bisik, “Nggak waras, kasihan!”

Perempuan ini sudah berupaya dan menghindar agar tidak mendapatkan stigma dari luar. Minimal, ya cuek dan tidak mendengarkan stigma dari luar itu. Kalaupun akhirnya mendengar alhasil jadi risih. Wow, ternyata stigma itu tidak hanya dari luar saja. Stigma juga bisa datang dari dalam lingkaran kita sendiri, dari komunitas kita sendiri.

Komunitas yang seharusnya merupakan ruang aman, adalah tempat untuk saling mendukung, bukan saling menjatuhkan. Di sini setiap individu dihargai sebagai manusia yang utuh, dengan segala keunikan dan kekhasan yang dimiliki masing-masing. Perbedaan dari setiap individu justru dapat memperkaya komunitas. Bukan sebaliknya, menempatkan individu sebagai sosok yang penuh dengan kekurangan.

Perempuan ini pun sedikit takjub, teman sendiri mempunyai dua sisi. Di satu sisi bisa mendukung sedang di sisi lain sekaligus bisa menjatuhkan. Ia sesungguhnya sosok yang selalu memiliki rasa percaya diri yang begitu cukup. Namun kali ini hanya dengan satu kalimat dari temannya sendiri, dunianya pun seakan runtuh.

Dia kemudian bertanya pada temannya yang benar-benar mendukungnya. Apakah aku begitu jelek? Apakah aku tidak pantas bahagia? Apakah aku tidak boleh bermimpi dan memiliki cita-cita?

Teman-temannya pun kaget. Ada yang berkata, “Tidak ada manusia yang jelek, kamu tidak jelek. Jelek atau cakap pun relatif tergantung pada siapa yang memandang. Kalaupun ada yang bilang kamu jelek berarti dia iri denganmu. Kamu sempurna kok, kamu sangat pantas untuk bahagia. Bahagia itu kamu yang ciptakan, bukan berdasarkan omongan orang lain. Boleh sekali kamu bermimpi, kamu boleh bercita-cita setinggi langit.”

Aku yang bertemu langsung dengan perempuan ini mencoba menguatkan. Aku ingat ada lagu dengan judul “Tutur Batin” dari Yura Yunita yang terasa  relate sekali dengan curhatannya. Aku coba sodorkan, untuk menghiburnya. Dia mulai meresapi liriknya dan tangisnya pun semakin meledak-ledak. Aku memeluknya.

Bagaimanakah kabar diriku? Baik-baik saja.

Sedikit ku takjub, namun, nyatanya sudah kuduga.

Kau yang ke sana-kemari, kau anggap aku tak cukup.

Semua kesempatan dan langkahku coba kau tutup.

Tutur batinku tak akan salah.

Silakan pergi, ku tak rasa kalah.

Namun, percayalah, sejauh mana kau mencari.

Takkan kau temukan yang sebaik ini.

Kau yang ke sana-kemari, kau anggap aku tak cukup.

Semua kesempatan dan langkahku coba kau tutup.

‘Kan kubuat jalanku sendiri.

Tutur batinku tak akan salah.

Silakan pergi, ku tak rasa kalah.

Namun, percayalah, sejauh mana kau mencari.

Takkan kau temukan yang sebaik ini.

Aku tak sempurna.

Tak perlu sempurna.

Akan kurayakan apa adanya.

Muhammad Rizky

Pegiat Keberagaman, Tinggal di Surabaya

Let's share!